Minggu, 12 Desember 2010

Mewawancari seorang ‘alim-mujahid Palestina di tengah berkecamuknya Perang Gaza sungguh tidak mudah. Apalagi tokoh yang hendak diwawancarai adalah seorang yang pernah berkali-kali dipenjara dan disiksa oleh Israel, sampai buta total kedua matanya. Sampai sekarang, ia masih “mengantongi” vonis hukuman mati dari pengadilan militer Israel.

Majalah Suara Hidayatullah harus menyicil wawancara sampai tiga kali di tiga tempat berbeda, karena begitu padatnya kesibukan Syaikh Abu Bakar al-‘Awawidah (49). Namun, begitu wawancara sudah mengalir, suasana berubah menjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Pengawal dan asistennya yang setia menemani dengan senjata, juga ikut hanyut dalam suasana yang akrab dan bersahabat.

Ditemui di beberapa lokasi di Damaskus, ibukota Republik Arab Suriah, Syaikh Abu Bakar berkali-kali meminta maaf karena wawancara harus terpotong-potong. Anggota Rabitatul ‘Ulama Filistin (Perhimpunan Ulama Palestina) ini harus bergerak terus untuk menjelaskan kepada masyarakat luas pentingnya berjihad harta untuk membantu Gaza.

“Waktu untuk keluarga saja sudah hampir tidak ada, apalagi untuk Anda,” katanya kepada Suara Hidayatullah sambil tersenyum.

Sejak 1992, bersama istri dan delapan anaknya, Syaikh Abu Bakar terpaksa hidup di Damaskus, 200 km dari Dora, Khalil-Hebron, kota kelahirannya yang juga tempat bersemayamnya jasad Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihis-salam.
Tubuhnya yang jangkung selalu menunduk, bicaranya lembut, murah senyum, dan ke mana-mana lengannya harus dituntun karena matanya buta akibat dipukuli dan disetrum serdadu Zionis selama 54 hari berturut-turut, pada 1981.

Namun begitu, gelapnya dunia di mata Abu Bakar sama sekali tak mengurangi keteguhannya memberi penerangan ruhiyah dan ilmiyah kepada rakyat Palestina yang terusir dan harus bermukim di Suriah, jumlahnya sekitar setengah juta orang.

Perjalanan hidup Syaikh Abu Bakar adalah simbol ketangguhan dan kesabaran bangsa Palestina menghadapi penindasan dan perampokan Zionis Israel.

Silakan menyimak wawancara wartawan Suara Hidayatullah, Muhammad ‘Isa di tengah musim dingin Suriah yang menggigit.

Dari sudut pandang seorang ulama Palestina di luar daerah pendudukan, apa yang Anda rasakan selama hari-hari penyerangan terhadap Gaza tempo hari?

(Syaikh Abu Bakar memulai jawabannya dengan bismillah, alhamdulillah, dan shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (SAW)). Saya merasakan bahwa peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Gaza adalah akibat dari kelalaian umat Islam sedunia, termasuk para ulama, pemerintah Muslim, dan tentara Muslim di seluruh dunia..

Mereka mendiamkan embargo dan berbagai kejahatan terjadi atas Gaza dan Palestina, dan kemudian terjadilah penyerangan besar-besaran itu di depan mata mereka dan mereka tidak bisa berbut apa-apa.
Saya dan kawan-kawan di Rabithah Ulama Palestina akan terus menyerukan ajakan lewat pertemuan-pertemuan dalam bentuk apapun, agar tidak terjadi lagi apa yang telah terjadi di Gaza. Tidak ada jaminan bahwa ini tidak akan terjadi di tempat lain atas umat Islam.

Kezaliman seperti di Gaza terjadi juga di Somalia, Sudan, bahkan Myanmar. Mengapa jihad di Palestina dianggap lebih penting daripada di negeri lain?

Kedudukan jihad di dalam syariat Islam, di manapun terjadinya, memiliki kemuliaan yang sama. Ketika umat Islam diserang dan dizalimi karena keimanannya, maka kaum Muslimin yang ada di tempat itu atau yang terdekat dari tempat itu wajib berjihad. Pahala yang dijanjikan Allah Subhanu wa Ta’ala (SWT) juga sama mulianya.

Namun, Palestina adalah tanah di mana semua konflik yang terjadi berakar dari perselisihan akidah, bukan karena yang lain. Hal ini dimaktubkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an, juga di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah SAW melalui Hadits-haditsnya.

Selain itu, sepanjang sejarah, al-Aqsha adalah barometer kemenangan umat Islam sedunia. Ini adalah masjid ketiga yang disucikan dan terminal penting peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa yang diabadikan di dalam al-Qur’an dan berpengaruh besar atas akidah kita. Saya juga sedih setiap kali mendengar kaum Muslimin ditindas di Iraq, di Afghanistan, di Chechnya, di Kashmir, di Somalia, di Pattani, dan di Mindanao.

Namun, pada saat yang sama, berbagai peristiwa itu membuktikan bahwa umat ini sedang bangkit pelan-pelan melawan kebatilan. Semoga Allah SWT membimbing kita meniti tangga kemenangan lewat ketakwaan kita kepada Allah SWT. Tidak ada kemenangan tanpa ketaatan kepada Allah SWT.

Seandainya apa yang terjadi di Gaza menimpa bangsa Indonesia, belum tentu mereka sesabar Gaza. Apa yang telah diajarkan ulama Palestina sehingga lahir Gaza yang begitu tangguh?

Rahasianya, para ulama Gaza dan Palestina mengokohkan Masjid al-Aqsha sebagai bagian dari agama. Kalau Masjid al-Aqsha sampai dijajah musuh, maka umat Islam dalam keadaan terhina. Kalau umat Islam berhasil membebaskannya, maka ‘izzah (wibawa dan kemuliaan) umat Islam juga akan terangkat.
Nyawa adalah harta yang kami siapkan untuk membebaskan Masjid al-Aqsha. Ketika penjajahan atas Palestina dimulai tahun 1947, lalu diperluas tahun 1967, jutaan orang Palestina terus-menerus mengungsi meninggalkan Masjidil Aqsha dan Palestina. Waktu itu kami berjuang atas nama kebangsaan atau ke-Arab-an kami.

Alhamdulillah, sejak Intifadhah pertama, 21 tahun yang lalu, kami berjuang atas nama Islam, jihad fii sabiilillah, semata-mata mencari ridha Allah SWT, tak peduli apakah kami tetap hidup atau mati.
Sejak itu, tidak pernah tercatat ada orang Palestina yang kabur dari Palestina. Justru sekarang ribuan orang mengantri di Rafah untuk masuk ke Gaza, padahal mereka tahu masuk ke Gaza berarti masuk ke dalam lubang kematian.

Begitu banyak ulama, ustadz, dan murabbi di Indonesia, tapi kekuatan aqidah yang seperti itu belum terlihat. Belakangan malah ada kecenderungan berkompromi pada hal-hal yang syubhat, bahkan haram. Apa yang bisa diserukan oleh para ulama Palestina kepada para ulama Indonesia untuk diajarkan kepada umatnya?

Sebenarnya, tarbiyah yang diajarkan sama-sama bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah, namun ada titik perbedaan yang signifikan, yaitu keberkahan. Allah SWT hanya akan menurunkan keberkahan kepada suatu bangsa kalau bangsa itu hidup dengan al-Qur`an.

Al-Qur`an harus menjadi bacaan yang dicintai oleh semua orang dari taman kanak-kanak sampai para pejabat pemerintahan. Bukan saja mempelajarinya harus menjadi kegiatan terpenting, tetapi semua orang harus bergegas menghidupkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Ibu-ibu mengurus rumah dengan al-Qur`an. Anak-anak sibuk menghafal al-Qur`an. Pedagang berbisnis dengan cara al-Qur`an. Pejabat melayani masyarakat dengan akhlaq al-Qur`an. Polisi menjaga keamanan dan ketertiban dengan ketaatan kepada al-Qur`an.

Bagaimana ulama Palestina membangun kekuatan al-Qur`an itu di Gaza?

Kami mulai dari yang sederhana. Diusahakan di setiap rumah di Gaza harus ada minimal satu orang anak yang menghafal al-Qur`an. Jika ada satu rumah yang tidak ada satu orang pun yang menghafal al-Qur`an akan menjadi aib.

Dengan begini, otomatis, orangtuanya akan mendorong semua anaknya menghafal al-Qur`an. Bahkan orangtuanya sendiri juga mulai menghafal al-Qur`an.

Lalu di setiap masjid harus selalu ada daurah al-Qur`an, yang memberikan pemahaman yang benar mengenai isi al-Qur`an yang hebat itu.

Tahun lalu, para ulama mengadakan daurah al-Qur`an selama liburan musim panas dua bulan. Hasilnya, di akhir daurah itu diwisuda 5.000 orang hufazh al-Qur’an. Mudah-mudahan tahun ini juga bisa dilaksanakan.

Di Indonesia juga ada banyak ulama dan pesantren yang menghasilkan hufazh al-Qur’an, tetapi mengapa belum terasa ketangguhan generasi baru seperti di Gaza?

Di atas semua itu, yang paling penting, para ulamanya jangan hanya menceramahkan al-Qur`an. Tumpahkan darah kalian untuk al-Qur`an. Jangan berkompromi kepada kemaksiatan dan kemusyrikan. Jangan berkompromi pada kejahatan yang diarahkan musuh-musuh kepada umat yang Anda bimbing. Hanya dengan darah ulama keberkahan akan diturunkan Allah SWT.

Kami merasakan sendiri, bagaimana keberkahan perjuangan umat Islam di Palestina bertambah-tambah justru sesudah tertumpahnya darah Syaikh Ahmad Yasin, dr Abdul Aziz ar-Rantissi, begitu juga Dr Abdullah Azzam di Afghanistan. Termasuk dua ulama dan pemimpin kami di Gaza yang kemarin syahid, Sayyid Siyam dan Nizar Rayyan (Menteri Dalam Negeri Palestina di Gaza dan salah satu ulama dan Panglima Hamas).
Mereka tidak cuma membicarakan al-Qur`an, mereka mengorbankan darah mereka agar umat yang dibimbingnya bisa hidup dan mati selamat dengan al-Qur`an.

Di Indonesia, musuh yang secara terang-terangan menyerang umat Islam dengan senjata belum ada lagi. Mungkinkah ulama Palestina mengundang ulama Indonesia untuk menyaksikan langsung perjuangan di Gaza?

Undangan atau ajakan terbuka jangan hanya untuk ulama Indonesia, tetapi untuk semua unsur bangsa Indonesia. Para ulama Indonesia wajib mendatangi para pengambil keputusan di semua tingkat pemerintahan dan masyarakat. Beritahukan mereka bahwa terjadi kezaliman besar di Palestina, dan ini sudah berlangsung 60 tahun.

Apa yang terjadi di sini sama persis, dan bahkan lebih parah lagi, dari apa yang pernah dialami bangsa Indonesia selama 350 tahun. Tanah bangsa Indonesia dirampok dan dikuasai Belanda.
Seluruh tanah yang sekarang diakui sebagai negara Israel adalah tanah Palestina. Tanah orang Palestina dirampok. Para ulama kami dibunuhi dan disiksa di berbagai penjara.

Kebun-kebun kami dirusak. Pemuda-pemuda kami diculik dan dipenjara tanpa proses hukum. Lalu Israel mengumumkan kepada dunia bahwa orang Palestina adalah pengganggu keamanan negerinya.
Mereka sedang berusaha menghapus kejahatan mereka. Seakan-akan yang terjadi adalah konflik antara dua bangsa yang bertetangga, Israel dan Palestina.

Bukan! Ini bukan konflik dua bangsa yang bertangga. Ini adalah perampokan. Tanah dan rumah kami dirampok. Lalu perampoknya mengajak berdamai, dan menyuruh kami hidup di salah satu sudut tanah yang sempit bernama Gaza dan Tepi Barat. Sedangkan mereka ingin berkuasa atas seluruh tanah, air, laut, dan udara Palestina.

Apakah Indonesia mau menerima diperlakukan begitu oleh Belanda? Demi Allah, dan demi kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, kami juga tidak akan pernah menerima perlakuan seperti ini.

Hamas masuk sistem demokrasi dan ikut pemilu. Di Indonesia, masyarakat menyaksikan gerakan dakwah yang ikut pemilu banyak melakukan kompromi yang bersifat syubhat. Bagaimana Hamas menjaga agar tidak terjadi seperti ini di kalangan para kadernya yang terlibat demokrasi?

Tidak ada kata cukup untuk tarbiyah. Sebelum masuk parlemen kami mematangkan diri dengan 40 tahun tarbiyah di bidang dakwah dan tanzim dengan hanya berasaskan al-Qur`an dan as-Sunnah.
Bagi sebuah kekuatan tarbiyah yang sudah mengakar, kemenangan pemilu itu bukan barang istimewa. Itu mudah, dengan izin Allah SWT, dan jika memang diperlukan diambil.

Tapi, kemenangan pemilu bukan kemenangan sesungguhnya. Karena itu, kemenangan pemilu tidak boleh menjadi tujuan yang menghalalkan segala yang syubhat apalagi haram.

Misalnya, kami tidak pernah berkompromi mengenai tujuan Hamas untuk mengajak seluruh bangsa Palestina hidup mulia dengan syariat Islam, atau mati Syahid karena membela Islam. Ini harga mati.
Tidak mungkin kami berkompromi untuk menang pemilu dengan mengatakan, bahwa tujuan kami adalah membangun sebuah negara Arab Palestina yang sekular.

Kalau itu kami lakukan, perjuangan kami menjadi nisbi. Seperti debu yang langsung hilang begitu tertiup angin. Kelihatannya besar, padahal keropos di akar-akarnya. Kami bisa jadi banci.
Tarbiyah yang benar melahirkan para laki-laki sejati, yang ciri utamanya tidak akan berkompromi sejengkal pun bila sudah menyangkut syariat Islam. Apapun risikonya.

Dia boleh bekerja di bidang apapun, militer, media, parlemen, semua bergerak bersama tampil sebagai lelaki mukmin. Yang halal dikatakan halal. Yang haram dikatakan haram. Hanya dengan cara itu Allah SWT akan membantu.

Meskipun demonstrasi besar untuk mendukung Palestina sering terjadi di Indonesia, namun dukungan keuangan maupun politik belum seberapa. Apa usul Anda untuk meningkatkan dukungan itu?

Kami selalu berbesar hati melihat kecintaan rakyat Indonesia yang turun ke jalan membela Palestina. Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah pendekatan kepada media massa. Kalau lewat media massa bisa kita sebarluaskan informasi yang benar bahwa masalah Palestina adalah masalah akidah, bukan politik dan militer semata, maka akan sangat baik sekali.

Jadi lemahnya dukungan bangsa Indonesia kepada perjuangan membebaskan Masjidil Aqsha dan Palestina menunjukkan lemahnya ke-Islam-an mereka?

Saya tidak mengatakan agama umat Islam di Indonesia itu lemah. Yang terpenting bagaimana bangsa Indonesia semakin faham akan kebaikan-kebaikan al-Islam, sehingga tertarik hidup dan mati di atasnya.
Jika itu terus kita lakukan dengan segala cara, insya Allah akan banyak masalah bangsa Indonesia yang akan teratasi dengan sendirinya.

Tadi Anda katakan, sejak Intifadhah 1987 lebih banyak orang yang kembali masuk ke dalam Palestina, khususnya Gaza. Dalam situasi ekonomi yang berat, apakah para pendatang itu menjadi beban atau justru meringankan kesusahan rakyat Gaza?

Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita, “Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi hubbud-dunya wa karahiyatul maut (cinta kepada dunia dan benci kepada mati). Maka berlomba-lomba mendapatkan kekayaan dunia itu akan membinasakan kalian.”
Berapapun banyaknya orang datang ke Gaza, tidak akan membuat kita khawatir karena dua hal. Pertama, orang yang berani datang ke Gaza di saat negeri itu sedang dizalimi hanyalah orang yang benar-benar memahami masalah dan datang untuk membantu.

Kedua, sedangkan rakyat Gaza yang memang sudah berada di sana, mereka sudah begitu tangguh ditempa berbagai kesusahan dan kezaliman. Mereka makan apa yang mereka tanam, dan pakai apa yang mereka jahit. Yang terpenting, jari telunjuk mereka selalu terangkat ke atas (menunjukkan keyakinan dan prasangka baik kepada Allah Ta’ala). Jalan ke surga memang susah, dan rakyat Gaza yang ikhlas ada di depan kita beberapa langkah (tersenyum).

Jadi kalau ada bantuan untuk Gaza, akan diprioritaskan untuk apa?

Penting untuk kita catat bersama-sama, yang memenangkan perjuangan ini adalah ridha Allah SWT, bukan uang yang datang. Sedangkan ridha Allah SWT hanya turun karena ruhul ibadah dan ruhul jihad kita yang suci.

Jadi bagi kami, yang terpenting adalah, bagaimana mengubah semua dana bantuan yang datang menjadi pendorong semakin tingginya kualitas ruhul ibadah dan ruhul jihad. Itu prioritas.
Tidak boleh ada dana bantuan yang menyebabkan rusaknya ruhul ibadah dan ruhul jihad. Karena itu, kami tak pernah mempermasalahkan besar kecilnya bantuan. Meskipun bantuan dari rakyat Indonesia tidak sebesar dari saudara-saudara negeri lain, yang kami tunggu adalah keberkahan Allah SWT yang turun karena keikhlasan kalian (tersenyum). Dana yang datang ke Gaza diprioritaskan untuk membeli senjata, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

Langkah besar apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan di Gaza?

Sebagaimana dinyatakan oleh saudara kita, Khalid Misy’al (Kepala Biro Politik Hamas), perjanjian apapun yang tidak menyentuh soal dibukanya semua pintu perbatasan ke Gaza, pembebasan semua tahanan Palestina di penjara Israel, serta hak pulang rakyat Palestina ke tanah Palestina yang terjamin, akan kami tolak.

Jika perbatasan Gaza-Rafah dibuka saja, akan sangat meringankan beban rakyat Gaza. Waktu tahun lalu dinding pemisah dihancurkan rakyat, tidak satu pun dari mereka kemudian menetap di Mesir. Mereka hanya menyeberang sebentar membeli berbagai keperluan harian, lalu kembali ke Gaza. Meskipun menderita, mereka akan tetap menjaga ‘izzah-nya dengan tinggal di Gaza.

Secara ekonomi, kami sedang memulai Ekonomi Perlawanan (Iqtishadul Muqawwamah), di mana di setiap rumah di Gaza harus ada sedikit banyak barang yang dihasilkan untuk bisa dijual. Seberapapun kecil. Sebisa mungkin para pemimpin membantu permodalannya.

Ada kalangan yang menilai Hamas terlalu dekat bergaul dengan Iran dan Hizbullah yang Syi’ah. Kata mereka, “Tidak akan berhasil perjuangan mereka yang berteman dengan kaum yang mencela para sahabat dan isteri Rasulullah SAW (syi’ah).” Bagaimana Anda menjawab hal ini?

Orang Iran dan Hizbullah itu sudah tahu bahwa Hamas itu Sunni. Hamas juga menjaga hubungan baik dengan semua pihak selama mereka tidak mengganggu perjuangan Islam, sebagaimana Rasulullah SAW juga melakukannya.

Sebelum Khalid Misy’al berkunjung ke Iran, dia juga sudah menemui para pemimpin Syria, Qatar, Sudan, dan Turki, baru setelahnya ke Iran. Kelima negara ini merupakan yang paling jelas dukungannya kepada perjuangan rakyat Palestina. Kunjungan tersebut untuk menyampaikan terima kasih atas dukungan mereka selama ini, terutama saat terjadi pembantaian di Gaza.
Tolong sampaikan kepada saudara-saudara kita di Indonesia, tidak ada seorang pun yang syi’ah di Hamas. Semua Sunni.

Karena Hamas sedang sangat populer, boleh jadi ada orang yang menganggap kedekatan Hamas dengan Iran dan Hizbullah bisa mengaburkan problem akidah Syi’ah di mata awam?

Hamas menjalin kerja sama secara politik dengan pihak manapun, namun tidak ada satupun pihak yang dibiarkan mendominasi pengambilan keputusan di dalam Hamas. Tidak ada kerja sama secara akidah dengan Iran dan Hizbullah.

Venezuela dan Bolivia yang bukan negara Islam saja sangat mendukung perjuangan rakyat Palestina. Jadi, wajar sajalah kalau kami mengucapkan terima kasih kepada mereka, termasuk kepada Iran.
Komitmen Hamas, akidah dan syariat Islam yang sedang ditegakkan di Palestina, adalah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, yang tentu saja mengikuti manhaj Rasulullah SAW dan para Salafush Shalih.***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2009

Box

Buta tapi Selalu Bersyukur

Syaikh Abu Bakar memiliki 15 saudara dari dua orang ibu. Dari jumlah saudara itu, yang bersaudara seibu dengannya 6 laki-laki dan 4 perempuan.

Setamat SMA di Dora, ia melanjutkan belajar di Ma’had Syari’ah al-Quds untuk persiapan sebagai imam dan khatib tahun 1979. Pada masa itulah, ia berkenalan dengan gerakan dakwah Al-Ikhwanul Muslimun.
Bersama kolega belajarnya dan para ustadz di ma’had itu, mereka mempersiapkan diri berjihad di jalan Allah SWT merebut kembali tanah-tanah Palestina yang dirampas Zionis Israel. Keinginan mereka ditolak oleh faksi perjuangan Marxis dan sekular yang waktu itu menguasai sebagian besar struktur Palestinian Liberation Organization (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat.

Sambil terus belajar di ma’had itu, Abu Bakar mengikuti kuliah musim panas di Universitas Beirut jurusan filsafat dan sosiologi. Abu Bakar semakin aktif dalam kegiatan tarbiyah (pendidikan Islam) baik untuk dirinya sendiri, maupun membina pemuda-pemuda Palestina lewat daurah (kursus) al-Qur’an di masjid-masjid, ma’had-ma’had dan sekolah-sekolah.

Kegiatan-kegiatan itu dilakoninya sepanjang sepuluh tahun berikutnya. Berkali-kali pula ia harus keluar masuk penjara dan disiksa oleh Zionis Israel akibat kegiatannya itu.

Pada tahun 1981, misalnya, ia dipenjara dan disiksa selama 54 hari. Begitu juga tahun 1982 ia dipenjara selama 5 bulan. Tahun 1983 selama 15 hari, tahun 1988 selama 6 bulan, tahun 1990 ia ditangkap dua kali: pertama 37 hari, kedua 14 hari, dan tahun 1991 ia mendekam di penjara selama 5 bulan.
Belum lagi, di luar itu ia berkali-kali ditangkap dan disiksa oleh Israel selama beberapa jam.
Puncaknya pada tahun 1992, Syaikh Abu Bakar Al-’Awawidah ditangkap dan diusir ke Marj Az-Zuhur, daerah perbatasan antara Palestina dan Lebanon, bersama 414 orang mujahidin Palestina lainnya, di antara asy-Syahid dr Abdul Aziz Al-Rantissi.

Di tanah tak bertuan itu, mereka dipaksa kerja fisik siang malam di kawasan yang hampir selalu bersalju selama setahun. Sesudah setahun, yang dibolehkan kembali ke Palestina hanya 401 orang. Sedangkan 13 orang lainnya diusir ke berbagai negara, termasuk dirinya ke Suriah.

“Jika kami nekat masuk Palestina, mereka mengancam akan langsung membunuh kami,” tutur Abu Bakar.
Penangkapan yang pertama kali dialami Syaikh Abu Bakar Al-’Awawidah adalah yang paling fatal (1981). Selama 54 hari, ia tanpa henti disiksa dengan keras, tanpa proses pengadilan. Tubuhnya digebuki habis-habisan oleh empat atau lima orang serdadu Zionis sekaligus. Sasaran utama kepala dan alat vital.
“Sakitnya berlipat-lipat jika kita dipukul dan ditendang sambil tangan diikat ke belakang dan kepala saya ditutup dengan kantong plastik,” kenangnya.

“Sebagai manusia, saya hanya bisa bersabar waktu itu.”

Akibat dipukuli dengan balok kayu dan disetrum terus-menerus, kedua penglihatannya meredup dan lama kelamaan buta sama sekali, sampai sekarang.

Begitu juga punggungnya berkali-kali mengalami patah. Akibatnya, jika duduk di lantai atau karpet, Abu Bakar selalu harus mengubah posisinya beberapa kali karena menahan sakit.

Selain dipukuli, waktu itu ia baru berusia 21 tahun, jenggotnya dicabuti lalu disumpalkan ke mulutnya, dan dipaksa untuk menelannya.

“Waktu itu saya disiksa berempat dengan kawan saya, ditambah salah seorang ustadz di Ma’had Al-Quds,” kenang Abu Bakar.

Di waktu yang lain, tangannya diikat di belakang dan dipaksa berdiri terus menerus selama 7 jam. Abu Bakar merasa seluruh persendian dan kulitnya mati rasa, sampai-sampai ketika kencing di celana pun tak bisa dirasakan lagi.

Ia juga pernah dipenjara di ruang isolasi selama 25 hari tanpa cahaya sama sekali, hanya ada celah udara sedikit. Selama itu dia melakukan shalat tanpa berwudhu, hanya tayamum. Kalau tangan diikat, maka shalat pun dilakukan dengan berdiri.

Namun Abu Bakar bersyukur kepada Allah SWT atas pengalamannya dipenjara oleh Zionis Israel berkali-kali. Bersyukur? Betapa tidak, di penjara-penjara itulah justru ia menambah banyak ilmu karena koleksi bukunya yang lengkap.

Selain itu, ia juga berbulan-bulan ‘dipaksa’ tinggal dengan para ulama besar Palestina, di antara Asy-Syahid Syaikh Ahmad Yasin.

“Sebelum buta, saya hanya menghafal 4 juz al-Qur’an, sesudah dibikin buta oleh Israel saya malah bisa menghafal 20 juz,” katanya sambil tersenyum. ***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2009

Setelah APBA Meningkat, Korupsi di Aceh Pun Naik

Sunday, 12 December 2010 14:18 Nasional
E-mail Print PDF

Tercatat terjadi 122 kasus tindak pidana korupsi dalam kurun 2009-2010



Hidayatullah.com--Provinsi Aceh sepertinya menjadi “surga” bagi para koruptor. Setidaknya dalam rentang waktu dua tahun terakhir, 2009-2010, tercatat terjadi 122 kasus tindak pidana korupsi dalam wilayah hukum di provinsi berjulukan Serambi Mekkah ini.

Ironisnya, selama rentang waktu itu pula ada 13 terdakwa korupsi yang divonis bebas dan lima tersangka yang sudah mendekam di tahanan juga dikeluarkan atas perintah Pengadilan Tinggi Aceh.

“Ini fenomena yang sangat ironis,” kata Plt Koordinator Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani, Sabtu (11/12).

Menurut Askal, jika dibandingkan sebelumnya, tingkat korupsi di Aceh pada 2009-2010 jauh lebih tinggi, seiring meningkatnya anggaran APBA yang mencapai Rp 6-7 triliun lebih per tahun. “Potensi korupsi di Aceh jauh lebih meningkat dibandingkan pada saat Aceh dalam kondisi ‘miskin’,” katanya.

Disebutkan, berdasarkan hasil monitoring GeRAK, ke-122 kasus korupsi tersebut ditangani di berbagai tingkatan penegak hukum. Mulai Polres, Polda, Kajari, dan Kajati. Hasil monitoring tersebut juga mengungkapkan, ada 16 kasus korupsi yang divonis bebas pengadilan di seluruh Aceh selama tahun 2007-2010.

Perkembangan korupsi di Aceh ini memang diakui oleh Wakil Direktur Reserse dan Kriminal Polda Aceh, AKBP Dedy Setyo Yudho. Dia menyebutkan, kompleksitas perkara sering memerlukan pengetahuan penyidik yang komprehensif.

Dari rincian kasus yang ditangani Polda, kata Dedy, dari 7 kasus pada 2010, baru satu yang diselesaikan dengan jumlah uang yang berhasil diselamatkan Rp 3 miliar lebih. “Polisi saat ini juga kesulitan dalam mengungkap kasus korupsi karena faktor SDM dan jumlah penyidik yang minim,” katanya.

Sementara itu, Miswar Fuady dari Tim Anti-Korupsi Pemerintah Aceh (TAKPA) menyebutkan, pihaknya telah menyerahkan tiga laporan dugaan korupsi dana Otsus kepada Polda Aceh. Yakni pemalsuan tanda tangan pengamprahan dana pembangunan jalan Paya Ilang-Paya Tumpi, Takengon, Aceh Tengah 2009 senilai Rp 5,8 M.

Selanjutnya, pengadaan bibit kelapa sawit unggul di Nagan Raya 2009 senilai Rp 5,9 miliar dan dugaan korupsi pengadaan 2 juta bibit kopi di Bener Meriah 2009 senilai Rp 7,6 M. “Kami berharap Polda bisa menindaklanjutinya. Data dan bukti dari kasus ini juga sudah kita laporkan ke KPK,” tegas Wiswar.

Sementara itu, akademisi Unsyiah, Saifuddin Bantasyam menegaskan, pemberantasan korupsi sulit dilakukan jika tidak ada keseriusan pemerintah. Kondisi ini diperparah lagi kultur masyarakat yang permisif pada perilaku korup.
“Jika ingin berhasil dalam memberantas korupsi, maka keseriusan mutlak harus ditunjukkan. Perilaku korup dalam diri aparat penegak hukum juga harus diberantas,” ujarnya. [was/hidayatullah.com]

Senin, 08 November 2010

PenPenyusunan yang Sempurna: Antara Sains dan Alquran

Jumat, 23/07/2010 08:26 WIB | email | print | share

Oleh Abd-Alda'em Al-Kheel

Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan bahwa makanan sempurna untuk bayi adalah air susu ibu, dan bahwa memberi makan tidak akan lengkap tanpa ibu menyusui bayinya selama dua tahun. Itulah yang dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia di awal abad 20. Sesuatu yang telah dikatakan Al-Qur’an empat belas abad yang lalu.

Para dokter berpikir menyusui bayi hanya hanya memberi dampak psikologis hubungan dengan ibunya dan tidak ada manfaat lebih jauh. Tetapi setelah melakukan riset selama setengah abad, manfaat besar lainnya untuk menyusui mulai muncul, bahkan dewasa ini para ilmuwan menemukan manfaat baru dari susu ibu. Kekebalan tubuh yang disebut imunoglobulin ditemukan pada susu ibu pada awalnya. Ia memberikan kekebalan tubuh terhadap berbagai bakteri dan virus. Bahkan para ilmuwan menemukan bahwa jumlah bakteri dalam usus bayi yang diberi susu sapi adalah sepuluh kali lipat lebih banyak daripada yang ada dalam usus bayi yang diberi susu ibu.

Keuntungan Bagi Anak:

Kekebalan tubuh "imunoglobulin" membantu bayi selama tiga bulan pertama untuk melindungi tubuh dari serangan kuman terus-menerus, bahkan membantunya untuk membentuk dan memperkuat sistem kekebalan sendiri. Apalagi beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem kekebalan bayi tumbuh lebih cepat ketika ia diberi susu ibu. Susu ibu juga mengandung unsur kekebalan yang disebut "mucins" yang mengandung banyak protein dan karbohidrat. Zat ini mengikuti bakteri dan virus dan sepenuhnya menghilangkan mereka dari tubuh tanpa efek samping, berbeda dengan obat-obatan kimia.

Susu ibu juga memberikan stabilitas psikologis bayi, membantu tidur dan tenang, ia bekerja sebagai analgesik alamiah terbaik bagi bayi. ASI melindungi bayi dari alergi. Bahaya gizi pada susu sapi, misalnya, hal itu meningkatkan kemungkinan serangan kanker delapan kali lipat.

Keuntungan Bagi Ibu

Banyak studi yang dilakukan di tiga puluh negara menunjukkan ibu yang menyusui bayinya kurang terkena kanker payudara.

Rahim melebar dua puluh kali selama kehamilan dan melahirkan. Penelitian menunjukkan menyusui bermanfaat untuk membantu rahim kembali ke ukuran normal. Sebaliknya ibu yang tidak menyusui bayinya ukuran rahimnya tetap lebih dari batas normal. Selain itu, menyusui juga melindungi dari kanker rahim.

Penyusuan alami membantu ibu untuk mengurangi berat badannya dan melindungi dirinya dari kegemukan. Bahkan ia juga bekerja sebagai analgesik alami rasa sakit bagi ibu juga. Penyusuan alami juga membantu ibu dan anak untuk tidur nyenyak.

Manfaat Bagi Masyarakat

Penyusuan alami tidak mahal sebaliknya buatan menyusu. Kita mungkin terkejut ketika kita tahu bahwa American Academy for Pediatric menekankan jika Amerika Serikat mengikuti cara menyusu alami itu akan menghemat 3600 juta dolar per tahun.

Penyusuan alami juga berdampak positif pada lingkungan, karena polusi terjadi akibat proses manufaktur, pengeringan susu botol susu sapi, dan sampah yang dihasilkan dari penggunaan susu dan botol.

Periode Ideal Untuk Menyusui

Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi UNISAF melakukan banyak penelitian pada bayi, dan mendapat hasil dari penelitian ini bahwa periode yang ideal adalah dua tahun. Karena selama dua tahun pertama bayi memiliki kebutuhan mendesak terhadap susu steril seperti susu ibu, sebagai sistem kekebalan agar ia dapat menghadapi setiap kemungkinan penyakit sebelum dua tahun usianya.

Organisasi Kesehatan Dunia menyelenggarakan konferensi berjudul "Makanan Pendamping ASI" pada tahun 2001 dengan kesimpulan sebagai berikut:

Dua tahun pertama dari kehidupan bayi adalah jendela kritis di mana fondasi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dibangun. Menyusui bayi merupakan inti perawatan dalam periode ini.

Selain itu, dalam kesimpulan dari konferensi, periode ideal untuk menyusui adalah dua tahun, karena ada kebutuhan mendesak bagi bayi terhadap kekebalan tubuh untuk mengembangkan sistem kekebalan selama periode ini. ia tidak dapat menemukannya selain dalam susu ibu.

Dokter menekankan bahwa semua jenis makanan tidak bisa cukup bagi bayi selama dua tahun pertama usia bayi, karena bayi menghalami banyak faktor yang mengakibatkan banyak penyakit. Sehingga dua tahun pertama merupakan masa kritis dan sensitif untuk bayi di mana kita harus bergantung pada susu ibu untuk menghindari bahaya ini.

Parade Iman, Pertarungan Antara Al-Haq dengan Al-Bathil

Selasa, 12/10/2010 13:59 WIB | email | print | share

Allah lah yang menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Yang Maha Pencipta, Mahaperkasa, yang mengatur dan yang menggerakkan. Dia adalah “Tuhanmu” .. Dialah yang berhak menjadi Tuhan bagi kalian. Yang mendidik kalian dengan manhaj-Nya, mengumpulkan kalian dengan tatanan-Nya, menetapkan aturan untuk kalian dengan ijin-Nya, dan memutuskan perakra diantara kalian dengan hukum-hukum-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Pemilik hak untuk menciptakan dan memerintah.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿٥٩﴾

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata : “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”, Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar”. (QS : Al-A’raf : 59)

Sekarang kita bersama parade keimanan. Inilah simbol dan tanda ciri-cirinya. Inilah rambu-rambu jalannya. Parade itu menghadapi umat manusia dalam perjalannya yang panjang diatas planet bumi ini. Parade iman ini menghadapi mereka setiap kali jalan yang menikung. Setiap kali mereka menyimpang dari jalan Allah yang lurus, dan setiap ada cabang-cabang jalan yang menyesatkannya, dibawah tekanan syahwat yang didorong syetan dari celah-celahnya, sebagai usaha untuk memuaskan dendamnya, melaksanakan ancamannya, dan mengajak Bani Adam dari reruntuhan syahwat menuju jahanam.

Lalu, tiba-tiba datang parade yang mulia ini menghadapi umat manusia dengan membawa petunjuk, memancarkan cahaya kepada mereka, menghembuskan angin surga, mengingatkan mereka akan hembusan angin samun (angin panas) dan godaan syetan terkutuk, musuh klasik manusia.

Sungguh itu pemandangan yang sangat luar biasa mengagumkan. Pemandangan pertarungan yang mendalam, di tengah-tengah kancah kehidupan, sepanjang sejarah manusia. Sejarah manusia berjalan dengan sangat kompleks. Sesungguhnya elemen dasar entitas ini (manusia) adalah gabungan yang kompleks susunannya. Entitasnya terusun dari dua unsur yang paling jauh yang dipadukan oleh kekuasaan Allah dan takdir-takdir-Nya.

Unsur tanah yang menjadi elemen pembentukannya, dan unsur tiupan sebagian ruh Allah, yang membuat tanah liat menjadi seorang insan. Sesungguhnya entitas ini berjalan dalam sejarahnya bersama faktor-faktor yang berjalin-berkelindan sedemikian rupa, sangat kompleks. Dengan wataknya ini, entitas ini terus berinteraksi cakrawala dan interaksi dengan hakikat Ilahiyah : seperti kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, takdir-Nya, keperkasaan-Nya, rahmat-Nya, dan karunia-karunia-Nya.

Manusia juga akan berinteraksi dengan al-Mala’ al-A’la (alam tinggi) dan malaikat-malaikat-Nya. Berinteraksi dengan iblis dan bala tentaranya. Berinteraksi dengan alam semesta. Berinteraksi dengan makhluk hidup. Manusia juga akan berinteraksi dengan semua cakrawala dan faktor ini dengan tabiatnya yang seperti itu, dengan potensi-potensinya, baik yang harmoni atau yang kontradiksi dengan berbagai cakrawala ..

Orang-orang yang menafsiri sejarah manusia dengan tafsir ‘ekonomi’ atau ‘politik’, orang yang menafsirkannya dengan tafsir ‘biologis’,k orang-orang menafsirkannya dengan tafsir ‘spiritual’ atau ‘psychologis’, orang-orang yang menafsirkannya dengan tafsir ‘rasional’, dan mereka semua secara naif memandang satu sisi diantara sisi-sisinya yang saling berjalin-berkelindan.

Hanya tafsir Islam terhadap sejarah sajalah yang bisa menjangkau semua sisi yang luas ini, dan dari sana ia memandang sejarah manusia.

Sekarang kita dalam surah ini bertemu dengan parade iman yang panji-panjinya dijunjung tinggi oleh para utusan Allah yang mulia : Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu’aib, Musan dan Muhammad – semoga karunia dan keselamatan Allah senantiasa tercurah kepada mereka semuanya.

Kita menyaksikan bagaimana kelompok mulia ini – dengan arahan dan instruksi dari Allah – berusaha menyelamatkan kafilah manusia dari jurang, karena syetan telah menyeret ke dalamnya dengan dibantu oleh syetan-syetan manusia yang sombong untuk menerima kebenaran di setiap zaman. Disamping itu, kita juga menyaksikan kondisi-kondisi pertarungan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebathilan, antara rasul-rasul yang mullia dan syetan-syetan dari golongan jin dan manusia.

Kemudia kita akan menyaksikan tumbangnya para pendusta di setiap akhir perjalanan dan keselamatan orang-orang mukmin setelah diberi peringatan.

Kisah-kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an tidak selalu mengikuti garis sejarah. Tetapi, di dalam surat ini ia mengikuti garis tersebut. Kafilah manusia sejak penciptaan pertama, memaparkan parade iman yang berusaha memberi pentunjuk kepada kafilah ini dan menyelamatkannya setiap kali tersesat dari rambu-rambu jalan, dan syetan menyeretnya secara total kepada kehancuran secara total, dan pada akhirnya ke neraka jahanam. (bersambung)

Maraknya Bencana Adalah Azab ?

Jumat, 05/11/2010 10:27 WIB | email | print | share

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz Sigit yang saya hormati,

Saya hanya ingin menanyakan tentang maraknya bencana alam yang menimpa suatu negeri dengan berturut-turut dan beruntun. Apakah ini semua merupakan azab Allah SWT ?Apakah Allah SWT hendak menunjukkan kesalahan negeri tersebut ? Adakah dari kalangan ulama salaf yang mengupas tentang fenomena munculnya bencana alam yang menimpa suatu negeri secara beruntun ?

Atas penjelasannya saya ucapkan jazakallah khoiron katsiro.

Abi Zaid - Tegal
Jawaban

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Saudara Abu Zaid yang dimuliakan Allah SWT

Dalam beberapa tahun terakhir, negeri ini terus menerus secara beruntun ditimpa berbagai bencana yang banyak memakan korban jiwa dan kerugian harta benda. Terakhir sekali ujian di bulan lalu, hanya dalam sebulan (oktober) negeri ini ditimpa 3 bencana: tanah longsor di Wasior, tsunami di Mentawai dan letusan gunung Merapi yang hingga hari ini masih terus mengeluarkan materialnya dengan letusan-letusannya.

Lalu apakah itu semua ujian atau adzab dari Allah SWT ?

Jika kita melihat pada tabiat berbagai musibah itu berupa kesengsaraan atau kesulitan lalu melihat waktu kejadiannya di dunia serta sasaran atau obyeknya yang menimpa orang-orang yang ada di sekitar wilayah musibah-musibah itu tanpa membedakan antara orang-orang baik atau zhalim maka bisa dikatakan bahwa ia adalah ujian bagi sebagian orang untuk memilah kualitas keimanan dan ketaatan mereka sebagaimana firman-Nya :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ﴿٢﴾

Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67] : 2)

Dan bisa jadi ia adzab dari Allah bagi sebagian lainnya yaitu para pelaku maksiat dan dosa yang enggan untuk bertaubat, sebagaimana dinyatakan oleh firman Allah SWT:

فَلْيَضْحَكُواْ قَلِيلاً وَلْيَبْكُواْ كَثِيرًا جَزَاء بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿٨٢﴾

Artinya: “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At Taubah [9] : 82)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali berkata, "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ayat yang paling utama dalam kitabullah ta'ala, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menceritakannya kepada kami, (yaitu ayat): "(Apa saja musibah yang menimpa kalian maka disebabkan oleh perbuatan tangan-tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Ash-Shura [42] : 30), dan saya akan menafsirkannya kepadamu wahai Ali, apa-apa yang menimpa kalian berupa sakit, siksaan atau cobaan di dunia, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian dan Allah ta'ala Maha Pemurah dari hendak mengadzab dua kali kepada mereka ketika di akherat sedangkan apa-apa yang Allah maafkan di dunia maka Allah ta'ala Maha Lembut dari hendak kembali setelah memaafkannya."

Siksa atau adzab yang diberikan Allah SWT itu disebabkan dosa-dosa mereka sebagaimana firman-Nya:

فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا ﴿١٤﴾

Artinya: “Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams [91] : 14)

Para Pemimpin yang Jauh Dari Allah

Dosa-dosa dan kemaksiatan yang dilakukan itu menuntupi hati dan keimanan mereka. Ketiadaan iman membawa mereka melakukan berbagai kerusakan bukan hanya yang bersifat fisik, seperti pengrusakan alam, namun juga yang bersifat mental, seperti: kezhaliman, tidak memperhatikan halal dan haram, boleh dan tidak boleh menurut agama serta lainnya. Ketiadaan iman itu tidak hanya merusak diri mereka sendiri akan tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Semakin banyak para pelaku dosa dan kemaksiatan ini maka semakin berat pula bahaya dan akibat yang ditimbulkannya.

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ﴿٣٠﴾

Artinya: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Ash-Shura [42] : 30)

Kerusakan mental dan ketiadaan iman manusia di suatu negeri tidaklah bila dilepaskan dari kerusakan agama para pemimpin dan ulamanya. Ibnul Mubarok mengatakan, ”Tidaklah kerusakan agama (iman) yang ada kecuali dikarenakan para penguasa dan ulama su’u (buruk).”

Senada dengan apa yang perkataan Ibnul Mubarok diatas, Imam Ghazali di dalam kitabnya “Ihya” menyebutkan bahwa sesungguhnya kerusakan terjadi para rakyat disebabkan kerusakan para pemimpin dan kerusakan para pemimpin disebabkan kerusakan para ulama.”

Ketika para pemimpin suatu negeri tidak lagi memiliki keimanan di hatinya, tidak memperdulikan halal-haram, mengabaikan syariat Allah, membuat berbagai kebijakan dan aturan yang menzhalimi umat, asyik tenggelam dengan dunianya sendiri, terus menambah pundi-pundi kekayaannya, melanggengkan jabatannya sementara mereka menutup mata atas kesulitan rakyatnya maka selain membawa kesengsaraan kepada masyarakat secara umum juga dapat medatangkan kemurkaan Allah swt ketika para ulamanya tidak lagi mau menasehati dan meluruskan mereka.

Disadari atau tidak, sesungguhnya prilaku buruk para pemimpin dapat menjadi contoh buruk bagi para pemimpin yang ada di level bawahnya atau juga bagi masyarakat yang menyaksikannya. Sungguh mereka tidak hanya memikul dosa-dosa perbuatan mereka saja akan tetapi juga dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya. Tepatlah apa yang disebutkan Ibnu Hajar di kitabnya “al Fath” bahwa rakyat itu tergantung (kualitas) agama para pemimpinnya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa jika para pemimpin yang mengurusi jiwa-jiwa dan harta rakyatnya tetap istiqamah (diatas kebenaran) maka rakyat mereka pun akan istiqamah, sebagaimana perkataaan Abu Bakar kepada wanita Ahmasiyah di dalam riwayat Imam Bukhori, ”Wanita itu berkata: 'Apa yang membuat kami eksis di atas kebaikan dari apa yang Allah datangkan setelah zaman jahiliyyah ini?' Abu Bakar menjawab: 'Yang membuat kalian tetap di atas kebaikan adalah selama pemimpin-pemimpin kalian istiqamah.' Wanita itu bertanya: 'Siapakah para pemimpin?' Abu Bakar menjawab: 'Bukankah kaummu memiliki para pembesar dan tokoh yang memerintahkan mereka lalu mereka menta'ati pemimpin mereka?' Wanita itu menjawab: 'Ya benar' Abu Bakar berkata: 'Mereka itulah para pemimpin masyarakat'.”

Karena itulah para pemimpin umat ini terdahulu sangat khawatir jika mereka tidak bisa istiqamah di atas jalan dan manhaj Allah SWT di dalam mengurusi permasalahan rakyatnya. Mereka betul-betul meyakini kalaulah bisa lepas dari pengamatan orang lain, luput dari pengadilan dunia akan tetapi mereka tidaklah bisa menghindari pengadilan Allah swt yang akan menanyakan semua harta yang didapat, perbuatan yang dilakukan, kekuasaan yang direbut, jabatan yang diraih, kebijakan yang dibuat. Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang amir adalah pemimpin bagi rakyatnya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”

Ketika Umar bin Abdul Aziz berada di mushallanya lalu istrinya masuk dan melihat Umar tengah menopang kedua pipinya dengan kedua tangannya sambil mengucurkan air mata yang membasahi janggutnya. Istrinya pun bertanya, "Wahai Amirul Mukminin adakah suatu kejadian?" Umar menjawab, "Wahai Fatimah sesungguhnya di leherku terdapat urusan umat Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam baik yang berkulit hitam atau merah. Lalu aku merenungi perkara orang miskin yang lapar, orang sakit yang lemah, yang telanjang tak berpakaian, yang tertindas, terzhalimi, teraniaya, terasing, para tahanan, orang-orang tua renta, orang yang memilik banyak anak-anak sementara harta mereka sedikit atau orang-orang seperti mereka semua yang ada di seluruh pelusuk tanah air dan penjuru negeri, sungguh aku mengetahui bahwa Tuhanku akan menanyaiku tentang (keadaan) mereka pada hari kiamat maka aku takut tidak memiliki satu argumentasi pun dihadapan-Nya maka aku pun menangis."

Renungan dan tangisan yang bukan hanya basa basi namun dibuktikan dengan kezuhudan, keadilan dan perhatian besarnya untuk senantiasa mendahulukan kepentingan rakyatnya daripada diri dan keluarganya, senasib dan sepenanggungan dengan rakyatnya meskipun hanya 2.5 tahun Umar memegang tampuk kekuasaan sebelum akhirnya beliau meningal dunia karena diracun.

Di masanya, tidak ada dari kaum muslimin yang berhak menerima zakat (mustahik) dari baitul mal sehingga beliau memutuskan bahwa kelebihan harta di baitul mal-baitul mal kaum muslimin itu dibagi-bagikan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani namun mereka pun semua menolak karena merasa selama ini telah dicukupkan oleh baitul mal. Lalu beliau meminta agar para gubernurnya membebaskan para budak, membayarkan utang orang-orang yang berhutang, menikahkan para pemuda yang tidak sanggup menikah serta membiayai kebutuhan mereka namun tetap saja harta itu masih melimpah hingga pada akhirnya dikembalikan lagi ke baitul mal-baitul mal kaum muslimin.

Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz selesai melaksanakan shalat isya lalu dia menemui putri-putrinya dan memberikan salam kepada mereka. Ketika itu putri-putrinya merasakan sesuatu sehingga mereka menutupi mulut-mulut mereka dengan tangan mereka dan bersegera keluar (tidak menemui ayahnya). Umar pun bertanya kepada wanita pengasuh mereka, ”Apa yang terjadi dengan mereka?” Wanita itu menjawab, ”Sesungguhnya mereka tidaklah memiliki sesuatu untuk makan malam kecuali hanya kacang adas dan bawang merah lalu mereka khawatir engkau akan mencium baunya dari mulut-mulut mereka.” Umar pun menangis dan berkata kepada mereka, ”Wahai putri-putriku, sesungguhnya berbagai jenis makanan untuk makan malam tidaklah bermanfaat bagi kalian jika kelak ayah kalian dicemplungkan ke neraka.” Maka putri-putrinya itu pun menangis dengan suara keras dan Umar pun berlalu.

Umar adalah sosok pemimpin yang menyadari bahwa kepemimpinan adalah amanah berat bukan sarana memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya. Diceritakan dari Abdul Aziz putra Umar bin Abdul Aziz bahwa aku pernah dipanggil (khalifah) al Manshur dan dia bertanya, ”Berapakah kekayaan Umar bin Abdul Aziz ketika diangkat sebagai khalifah?” Aku menjawab, ”50.000 dinar.” Al Manshur kembali bertanya, ”Lalu berapakah kekayaannya di hari kematiannya?” Aku menjawab, ”hanya 200 dinar.”

Dari Amr bin Muhajir bahwa belanja Umar bin Abdul Aziz setiap harinya adalah 2 dirham. Dari Said bin Amir adh Dhab’i dari Aun bin al Mu’tamar bahwa Umar bin Abdul Aziz berkata kepada istrinya, ”Apakah kamu punya satu dirham untuk aku belikan anggur?” Istrinya menjawab, ”Tidak punya.” Umar kembali bertanya, ”Apakah kamu punya beberapa sen saja?” Istrinya menjawab, ”Tidak. Anda Amirul Mukminin sementara anda tidak sanggup menghadirkan satu dirham!’ Umar menjawab, ”Keadaan seperti ini jauh lebih ringan daripada gulungan rantai di neraka jahanam.”

Fatimah istri Umar bin Abdul Aziz pernah menceritakan bahwa beliau adalah orang yang paling banyak shalat dan puasa, dan aku tidak melihat seorang yang paling menyendiri dengan Tuhannya daripada dirinya. Beliau apabila selesai melaksanakan shalat isya maka memperpanjang duduknya di masjid lalu mengangkat kedua tangannya dengan terus menangis sehingga kedua matanya diserang kantuk kemudian terjaga sementara dirinya masih berdoa dengan mengangkat kedua tangannya sambil menangis kemudian kedua matanya diserang kantuk lagi dan terjaga lagi, begitulah (keadaannya) sepanjang malam.

Sungguh sosok kepemimpinan yang saat ini hilang dari tubuh umat meskipun umat ini memiliki ribuan atau bahkan ratusan ribu pemimpin. Sosok kepemimpinan yang didambakan dan dirindukan kehadirannya untuk bisa mengangkat kualitas hidup dunia maupun akherat mereka. Sosok kepemimpinan yang mendahulukan rakyatnya saat senang dan membelakangkan mereka saat sulit karena takut hari perhitungannya dihadapan Allah SWT.

Larinya Para Ulama dari Amanah

Kelemahan iman dan jauhnya para pemimpin dari Allah SWT adalah juga disebabkan pengabaian para ulama dan dainya dari tugas utamanya sebagai pewaris Nabi yaitu menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar dan pengabaian terhadap amanah ilmu yang dipikul di pundaknya disebabkan tak kuasanya mereka terhadap tarikan-tarikan dunia berupa harta, kekuasaan dan jabatan dan terkadang pula wanita.

Imam Ghazali mengatakan dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”, ”Adapun saat ini para pemimpin yang tamak telah mengikat lidah-lidah para ulama sehingga menjadikan mereka terdiam tidak bisa berbicara, kata-kata mereka tidaklah membantu keadaan-keadaan mereka maka mereka pun mengalami kegagalan. Seandainya mereka jujur dan benar dalam menunaikan hak ilmunya maka pastilah mereka sukses. Maka kerusakan rakyat disebabkan kerusakan para pemimpin dan kerusakan para pemimpin disebabkan kerusakan para ulama dan kerusakan para ulama disebabkan mereka dikuasai sifat cinta harta dan jabatan. Barangsiapa yang dikuasai oleh cinta dunia maka dia tidak akan mampu mengawasi berbagai dosanya, lantas bagaimana dengan para penguasa dan pejabat?”

Para ulama dan dai yang memiliki ilmu agama saja ketika dikuasai oleh cinta harta dan jabatan tidak mampu mengendalikan dirinya untuk tidak berbuat maksiat dan dosa apalagi para pemimpin yang tidak memiliki dasar ilmu agama tentunya lebih tidak mampu lagi mengendalikan diri mereka untuk tidak berbuat maksiat dan dosa.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيَ آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ ﴿١٧٥﴾وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾

Artinya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al A’raf [7] : 175-176)

Ibnu Katsir didalam tafsirnya menjelaskan tentang makna وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ adalah cenderung kepada perhiasan dan bunga-bunga dunia, menginginkan kelezatan dan kenikmatannya. Hingga akhirnya dia pun terpedaya sebagaimana terpedayanya orang-orang selainnya dari kalangan para ulama.

Sementara Sayyid Qutb mengatakan bahwa makna “mengikuti hawa nafsu” adalah mengikuti hawa nafsunya sendiri dan hawa nafsu para penguasa yang memiliki diri mereka (para ulama itu) untuk kepentingan mereka (penguasa) demi mencari harta benda kehidupan dunia.

Betapa banyak orang-orang alim dalam agama dan kami melihat mereka memahami hakikat agama Allah kemudian tergelincir darinya lalu menyuarakan selainnya, memanfaatkan ilmunya dalam berbagai penyimpangan yang dikehendaki, fatwa-fatwa yang dinginkan para pemimpin dunia yang semu! (Fii Zhilalil Qur’an juz III hal 322)

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al Yaman dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do'a kalian tidak lagi dikabulkan." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan.

Umat ini membutuhkan para ulama dan dai yang robbaniyin yang senantiasa berhubungan erat dengan Allah SWT, hati dan fikirannya senantiasa terikat dengan akherat meskipun jiwa mereka di dunia berinteraksi dengan umatnya. Para ulama yang tidak berorientasi dunia dan mencari keuntungan-keuntungan dunia dengan ilmunya, yang takut menyia-nyiakan amanah ilmu dan dakwah yang telah dipikulkan Allah diatas pundaknya, senantiasa menyerukan yang maruf dan mencegah yang munkar meskipun orang-orang tidak menyukainya sebagaimana dicontohkan oleh para pendahulu mereka dari kalangan salafus shaleh.

Karena itu sekecil apa pun kemaksiatan dan dosa yang ada ditengah-tengah umat tidak boleh dibiarkan karena ia akan terus melebarkan pengaruhnya kepada orang-orang disekitarnya sehingga menjadikan banyak para pendukungnya bagaikan suatu penyakit menular yang manakala didiamkan tidak diobati akan semakin menularkan orang-orang yang ada disekitarnya dan membahayakan mereka semua.

Semoga berbagai kejadian dan musibah di negeri ini semakin menyadarkan para ulama, pemimpin dan rakyatnya untuk menahan diri dari segala kemaksiatan dan kembali kepada Allah dengan berbagai amal-amal ketaatan kepada-Nya. Karena kebaikan negeri ini kembali kepada keimanan dan ketakwaan ketiganya.

Wallahu A’lam.

Waktu Shalat Dhuha dan Tahajjud

Senin, 08/11/2010 14:09 WIB | email | print | share

Assalamu'alaikum wr. wb.

Mau tanya ustadz,shalat dhuha itu bisa dimulai dari waktu apa dan berakhir pada waktu apa? Kalau tepatnya kira-kira jam berapa ya ustadz? Jika shalat isya dilakukan jam 2 setelah itu langsung solat tahajjud bolehkah ustadz? syukran jazakallah khair.

Hamba ALLAH
Jawaban

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Jumhur ulama berpendapat bahwa shalat dhuha adalah sunnah, sementara para ulama Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa ia sunnah muakkadah. Hal itu didasari apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, "Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma'ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha."

Juga apa yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata,"Kekasihku (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu."

Adapun waktu pelaksanaan shalat dhuha maka menurut jumhur ulama adalah dari matahari mulai meninggi kira-kira sepenggalah hingga sedikit menjelang masuknya waktu zhuhur, yaitu dimulai sekitar 15 menit setelah waktu syuruq hingga sekitar 15 menit sebelum masuknya waktu zhuhur.

Untuk pertanyaan anda yang kedua tentang hukum melaksanakan shalat tahajjud atau qiyamullail setelah melaksanakan shalat isya pada pukul 02.00 maka hal itu dibolehkan karena tidak ada persyaratan sahnya qiyamullail adalah mesti tidur terlebih dahulu, demikian menurut DR. Husamuddin ‘Afanah, dosen Fakulta Ushul Fiqh, Universitas al Quds.

Wallahu A’lam



Ustadz Menjawab Lainnya

* Maraknya Bencana Adalah Azab ?
Jumat, 05/11/2010 10:27 WIB
* Mana yang utama Aqiqah atau Kurban
Selasa, 02/11/2010 09:52 WIB
* Kenapa para Nabi dan Rasul Dipilih dari Kalangan Manusia?
Jumat, 29/10/2010 13:41 WIB
* Tenaga Kerja Wanita TKW
Kamis, 28/10/2010 09:06 WIB
* Susunan Shaf dalam sholat
Selasa, 26/10/2010 09:34 WIB
* Target Kerja Dakwah
Rabu, 20/10/2010 12:39 WIB
* Cara Memupuk Sifat Sabar
Selasa, 19/10/2010 10:43 WIB

(Arsip) (Ke Atas)
Ustadz Menjawab
bersama Ustadz Sigit Pranowo, Lc. al-Hafidz




* Terbaru
* Terpopuler
* Terkait



* Ikhwan di Yordan Boikot Pemilu
* "Bush Tidak Akan Diadili Atas Kejahatan Perangnya"
* Dzikr Clothing, Kisah Mualaf yang Ingin Berdakwah Lewat Kaos
* Saudi Luncurkan Kanal Khusus di YouTube untuk Didik Jamaah Haji
* Referendum Jalan, AS Akan Cabut Sudan dari Daftar Negara Pendukung 'Terorisme'
* Deklarasi Balfour, Deklarasi Anti-Semit untuk Dukung Negara Yahudi di Palestina
* Ketika Orang Rusia Pergi Haji

* Dzikr Clothing, Kisah Mualaf yang Ingin Berdakwah Lewat Kaos
* "Bush Tidak Akan Diadili Atas Kejahatan Perangnya"
* Libya Mengusir Diplomat AS
* Waktu Shalat Dhuha dan Tahajjud
* Deklarasi Balfour, Deklarasi Anti-Semit untuk Dukung Negara Yahudi di Palestina
* Ketika Orang Rusia Pergi Haji
* Wilders Tuduh Merkel Tiru Gaya Politik Anti-Islam Miliknya

* Manfaat Shalat Dhuha
* Hukum Melaksanakan Shalat Malam setelah Pelaksanaan Shalat Witir
* Posko Duhai Quran Temani Pengungsi Merapi
* Dianggap Bidah Otoritas Palestina Larang Baca Al Quran Jelang Masuk Waktu Shalat
* Sepuluh Kiat Agar Puasa Tidak Didompleng Setan
* Hukum Shalat Sunnah di Tengah Hari
* Pro Kontra Menutup Toko Pada Waktu Shalat di Saudi


PELUANG

* Jasa Pengurusan Ijin Usaha
PT, CV, Perorangan, DLL
* Produk Islami
Al-Qur'an Digital, Doa Haji, Hape Qur'an, Pena Qur'an, VCD Islam
www.qurandigital.com
* UMROH GRATIS? CUKUP AJAk 8 ORANG!
Dicari Agen dan Perwakilan Se-Indonesia
www.mitra-haji.com
* 8 Herbal Dahsyat Bermanfaat Non Kimia
Solusi Kesehatan Anda
www.herbalbaik.com
* Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW
Panduan Sukses Berkarir, Bisnis, Dakwah, Keluarga, Hukum, Militer dari Muhammad SAW
www.islamicensiklopedia.com
* Pelatihan Metode Fahim Qur'an Untuk Anak
Even Cerdas & Ceria Menginspirasi Anak Menjadi Penghafal Qur'an
www.fahimquran.com/brosur.html
* Hari Kiamat Sudah Dekat
Jadilah Anda Saksi akan Kedatangannya
www.harikiamatsudahdekat.com
* 8 jam bisa menterjemah Al-Quran
download gratis software Al-Quran terjemah bahasa Indonesia
www.MetodeGranada.com
* 1,5 Jam Bisa Membaca Quran
Bisa Baca Quran Dlm Waktu 1,5 Jam Dgn Metode Katibah Bersama Ust. Solihin Bunyamin Ahmad, Lc
www.kamusinduk-alquran.com
* Ensiklopedia Mukjizat Al-Quran dan Hadis
Al-Qur'an & Hadits Menjawab Tantangan Penelitian & Ilmu Pengetahuan Modern
www.maqdispedia.com
* CARA MUDAH BISNIS PULSA
1 chip untuk semua, 24 jam, bukan MLM
www.kadopulsa.com
* Revolusi Metode Tahfizul Quran For Kids
Jadikan Anak Anda Seorang Hafidz Secara Cepat & Ceria
www.fahimquran.com
* WebHosting UNLIMITED Space UNMETERED Bandwidth Rp 75rb
Unlimited mail account, Up to 7 domains
www.tendaweb.com





*
*
*
*

2011 : BRISyariah Rencanakan Perbesar Porsi Pembiayaan UKM
Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRISyariah) merencanakan untuk memperbesar porsi pembiayaan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta pembiayaan kepemilikan rumah menengah ke...

‘Persaingan’ Kartu Pembiayaan Syariah Makin Ramai
CIMB Niaga Syariah baru saja menyusul BNI Syariah dan Danamon Syariah dalam mengeluarkan produk kartu pembiayaan syariah. Dengan semakin tingginya animo masyarakat terhadap pe...

BNI Syariah berharap salurkan KPR bersubsidi
Rumah merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan rumah, Kementerian Peruamahan Rakyat menyediaka...

iB Hadir di Franchise & License Indonesia Expo 12-14 November Mendatang
Islamic Banking atau yang lebih dikenal dengan iB akan ikut serta dalam pameran Waralaba pada 12-14 November mendatang. Bertempat di Jakarta Convention Center industri perbank...





Education Corner
Tawuran

Namun efek terkejam yang kurasakan adalah, calon suamiku meninggalkan aku dengan alasan yang menurutnya cukup syar'ie, yaitu bagaimana mungkin bisa memiliki keluarga yang sakinah, mendidik anak mengaji dan menghafal al-qur.an bila ibunya buta

Dompet Peduli Kemanusiaan
Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

Dompet Peduli Kemanusiaan
80 Persen Kota Wasior Rusak, ACT Berangkatkan Tim

Banjir bandang yang melanda Kota Wasior di Kabupaten Teluk Wandoma, Papua Barat, Senin (4/10/2010) ternyata menimbulkan kerusakan yang dahsyat.

Kamis, 04 November 2010

Ibadah Haji

badah Haji Syarat, Rukun, dan Wajib Haji Syarat Haji
1. Islam
2. Akil Balig
3. Dewasa
4. Berakal
5. Waras
6. Orang merdeka (bukan budak)
7. Mampu, baik dalam hal biaya, kesehatan, keamanan, dan nafkah bagi keluarga yang ditinggal berhaji

Rukun Haji

Rukun haji adalah perbuatan-perbuatan yang wajib dilakukan dalam berhaji. Rukun haji tsb adalah:

1. Ihram
2. Wukuf di Arafah
3. Tawaf ifâdah
4. Sa'i
5. Mencukur rambut di kepala atau memotongnya sebagian
6. Tertib

Rukun haji tsb harus dilakukan secara berurutan dan menyeluruh. Jika salah satu ditinggalkan, maka hajinya tidak sah.
Wajib Haji

1. Memulai ihram dari mîqât (batas waktu dan tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah haji dan umrah)
2. Melontar jumrah
3. Mabît (menginap) di Mudzdalifah, Mekah
4. Mabît di Mina
5. Tawaf wada' (tawaf perpisahan)

Jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda).
Pelaksanaan Ibadah Haji (Manasik Haji)

Tata cara manasik haji adalah sebagai berikut:
1. Melakukan ihram dari mîqât yang telah ditentukan

Ihram dapat dimulai sejak awal bulan Syawal dengan melakukan mandi sunah, berwudhu, memakai pakaian ihram, dan berniat haji dengan mengucapkan Labbaik Allâhumma hajjan, yang artinya "aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah, untuk berhaji".
Kemudian berangkat menuju arafah dengan membaca talbiah untuk menyatakan niat:

Labbaik Allâhumma labbaik, labbaik lâ syarîka laka labbaik, inna al-hamda, wa ni'mata laka wa al-mulk, lâ syarîka laka

Artinya:

Aku datang ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu; Aku datang, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang; Sesungguhnya segala pujian, segala kenikmatan, dan seluruh kerajaan, adalah milik Engkau; tiada sekutu bagi-Mu.

2. Wukuf di Arafah

Dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah, waktunya dimulai setelah matahari tergelincir sampai terbit fajar pada hari nahar (hari menyembelih kurban) tanggal 10 Zulhijah.
Saat wukuf, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu: shalat jamak taqdim dan qashar zuhur-ashar, berdoa, berzikir bersama, membaca Al-Qur'an, shalat jamak taqdim dan qashar maghrib-isya.
3. Mabît di Muzdalifah, Mekah

Waktunya sesaat setelah tengah malam sampai sebelum terbit fajar. Disini mengambil batu kerikil sejumlah 49 butir atau 70 butir untuk melempar jumrah di Mina, dan melakukan shalat subuh di awal waktu, dilanjutkan dengan berangkat menuju Mina. Kemudian berhenti sebentar di masy'ar al-harâm (monumen suci) atau Muzdalifah untuk berzikir kepada Allah SWT (QS 2: 198), dan mengerjakan shalat subuh ketika fajar telah menyingsing.
4. Melontar jumrah 'aqabah

Dilakukan di bukit 'Aqabah, pada tanggal 10 Zulhijah, dengan 7 butir kerikil, kemudian menyembelih hewan kurban.
5. Tahalul

Tahalul adalah berlepas diri dari ihram haji setelah selesai mengerjakan amalan-amalan haji.
Tahalul awal, dilaksanakan setelah selesai melontar jumrah 'aqobah, dengan cara mencukur/memotong rambut sekurang-kurangnya 3 helai.
Setelah tahalul, boleh memakai pakaian biasa dan melakukan semua perbuatan yang dilarang selama ihram, kecuali berhubungan seks.

Bagi yang ingin melaksanakan tawaf ifâdah pada hari itu dapat langsung pergi ke Mekah untuk tawaf. Dengan membaca talbiah masuk ke Masjidil Haram melalui Bâbussalâm (pintu salam) dan melakukan tawaf. Selesai tawaf disunahkan mencium Hajar Aswad (batu hitam), lalu shalat sunah 2 rakaat di dekat makam Ibrahim, berdoa di Multazam, dan shalat sunah 2 rakaat di Hijr Ismail (semuanya ada di kompleks Masjidil Haram).

Kemudian melakukan sa'i antara bukit Shafa dan Marwa, dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwa. Lalu dilanjutkan dengan tahalul kedua, yaitu mencukur/memotong rambut sekurang-kurangnya 3 helai.
Dengan demikian, seluruh perbuatan yang dilarang selama ihram telah dihapuskan, sehingga semuanya kembali halal untuk dilakukan.
Selanjutnya kembali ke Mina sebelum matahari terbenam untuk mabît di sana.
6. Mabît di Mina

Dilaksanakan pada hari tasyrik (hari yang diharamkan untuk berpuasa), yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Setiap siang pada hari-hari tasyrik itu melontar jumrah ûlâ, wustâ, dan 'aqabah, masing-masing 7 kali.

Bagi yang menghendaki nafar awwal (meninggalkan Mina tanggal 12 Zulhijah setelah jumrah sore hari), melontar jumrah dilakukan pada tanggal 11 dan 12 Zulhijah saja. Tetapi bagi yang menghendaki nafar sânî atau nafar akhir (meninggalkan Mina pada tanggal 13 Zulhijah setelah jumrah sore hari), melontar jumrah dilakukan selama tiga hari (11, 12, dan 13 Zulhijah).
Dengan selesainya melontar jumrah maka selesailah seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji dan kembali ke Mekah.
7. Tawaf ifâdah

Bagi yang belum melaksanakan tawaf ifâdah ketika berada di Mekah, maka harus melakukan tawaf ifâdah dan sa'i. Lalu melakukan tawaf wada' sebelum meninggalkan Mekah untuk kembali pulang ke daerah asal.
Umrah

Umrah artinya berkunjung atau berziarah. Setiap orang yang melakukan ibadah haji wajib melakukan umrah, yaitu perbuatan ibadah yang merupakan kesatuan dari ibadah haji. Pelaksanaan umrah ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 196 yang artinya "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah..."

Mengenai hukum umrah, ada beberapa perbedaan pendapat. Menurut Imam Syafi'i hukumnya wajib. Menurut Mazhab Maliki dan Mazhab Hanafi hukumnya sunah mu'akkad (sunah yang dipentingkan).
Umrah diwajibkan bagi setiap muslim hanya 1 kali saja, tetapi banyak melakukan umrah juga disukai, terlebih jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan pada hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya "Umrah di dalam bulan Ramadhan itu sama dengan melakukan haji sekali".
Pelaksanaan umrah

Tata cara pelaksanaan ibadah umrah adalah: mandi, berwudhu, memakai pakaian ihram di mîqât, shalat sunah ihram 2 rakaat, niat umrah dan membaca Labbaik Allâhumma 'umrat(an) (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, untuk umrah), membaca talbiah serta doa, memasuki Masjidil Haram, tawaf, sa'i, dan tahalul.
Syarat, Rukun, dan Wajib Umrah

Syarat untuk melakukan umrah adalah sama dengan syarat dalam melakukan ibadah haji. Adapun rukun umrah adalah:

1. Ihram
2. Tawaf
3. Sa'i
4. Mencukur rambut kepala atau memotongnya
5. Tertib, dilaksanakan secara berurutan

Sementara itu wajib umrah hanya satu, yaitu ihram dari mîqât.
Larangan dalam Haji dan Umrah

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang sudah memakai pakaian ihram dan sudah berniat melakukan ibadah haji/umrah adalah:

1. Melakukan hubungan seksual atau apa pun yang dapat mengarah pada perbuatan hubungan seksual
2. Melakukan perbuatan tercela dan maksiat
3. Bertengkar dengan orang lain
4. Memakai pakaian yang berjahit (bagi laki-laki)
5. Memakai wangi-wangian
6. Memakai khuff (kaus kaki atau sepatu yang menutup mata kaki)
7. Melakukan akad nikah
8. Memotong kuku
9. Mencukur atau mencabut rambut
10. Memakai pakaian yang dicelup yang mempunyai bau harum
11. Membunuh binatang buruan
12. Memakan daging binatang buruan

Macam-macam Haji
1. Haji ifrâd

Haji ifrâd yaitu membedakan ibadah haji dengan umrah. Ibadah haji dan umrah masing-masing dikerjakan tersendiri. Pelaksanaannya, ibadah haji dilakukan terlebih dulu, setelah selesai baru melakukan umrah. Semuanya dilakukan masih dalam bulan haji.

Cara pelaksanaannya adalah:
a. ihram dari mîqât dengan niat untuk haji
b. ihram dari mîqât dengan niat untuk umrah
2. Haji tamattu'

Haji tamattu' adalah melakukan umrah terlebih dulu pada bulan haji, setelah selesai baru melakukan haji.
Orang yang melakukan haji tamattu' wajib membayar hadyu (denda), yaitu dengan menyembelih seekor kambing. Jika tidak mampu dapat diganti dengan berpuasa selama 10 hari, yaitu 3 hari selagi masih berada di tanah suci, dan 7 hari setelah kembali di tanah air.

Cara pelaksanaannya adalah:
a. ihram dari mîqât dengan niat untuk umrah
b. melaksanakan haji setelah selesai melaksanakan semua amalan umrah
3. Haji qirân

Haji qirân adalah melaksanakan ibadah haji dan umrah secara bersama-sama. Dengan demikian segala amalan umrah sudah tercakup dalam amalan haji.

Cara pelaksanaannya adalah:
a. ihram dari mîqât dengan niat untuk haji dan umrah sekaligus
b. melakukan seluruh amalan haji
Amalan-Amalan Haji dan Umrah
1. Mîqât

Mîqât adalah batas waktu dan tempat melakukan ibadah haji dan umrah. Mîqât terdiri atas mîqât zamânî dan mîqât makânî.

Mîqât zamânî adalah kapan ibadah haji sudah boleh dilaksanakan.
Berdasarkan kesepakatan para ulama yang bersumber dari sunah Rasulullah SAW, mîqât zamânî jatuh pada bulan Syawal, Zulkaidah, sampai dengan tanggal 10 Zulhijah.

Mîqât makânî adalah dari tempat mana ibadah haji sudah boleh dilaksanakan.
Tempat-tempat untuk mîqât makânî adalah:

* Zulhulaifah atau Bir-Ali (450 km dari Mekah) bagi orang yang datang dari arah Madinah
* Al-Juhfah atau Rabiq (204 km dari Mekah) bagi orang yang datang dari arah Suriah, Mesir, dan wilayah-wilayah Maghrib
* Yalamlan (sebuah gunung yang letaknya 94 km di selatan Mekah) bagi orang yang datang dari arah Yaman
* Qarnul Manazir (94 km di timur Mekah) bagi orang yang datang dari arah Nejd
* Zatu Irqin (94 km sebelah timur Mekah) bagi orang yang datang dari arah Irak

2. Ihram

Ihram ialah niat melaksanakan ibadah haji atau umrah dan memakai pakaian ihram.
Bagi laki-laki, pakaian ihram adalah dua helai pakaian tak berjahit untuk menutup badan bagian atas dan sehelai lagi untuk menutup badan bagian bawah. Kepala tidak ditutup dan memakai alas kaki yang tidak menutup mata kaki.
Bagi wanita, pakaian ihram adalah kain berjahit yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah.

Sunah ihram adalah memotong kuku, kumis, rambut ketiak, rambut kemaluan, dan mandi. Kemudian melakukan shalat sunah ihram 2 rakaat (sebelum ihram), membaca talbiah, shalawat, dan istighfar (sesudah ihram dimulai).
3. Tawaf

Tawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dimulai dari arah yang sejajar dengan Hajar Aswad dan Ka'bah selalu ada di sebelah kiri (berputar berlawanan arah jarum jam).
Syarat tawaf adalah:

1. Suci dari hadas besar, hadas kecil, dan najis
2. Menutup aurat
3. Melakukan 7 kali putaran berturut-turut
4. Mulai dan mengakhiri tawaf di tempat yang sejajar dengan Hajar Aswad
5. Ka'bah selalu berada di sisi kiri
6. Bertawaf di luar Ka'bah

Sedangkan sunah tawaf adalah:

1. Menghadap Hajar Aswad ketika memulai tawaf
2. Berjalan kaki
3. al-idtibâ, yaitu meletakkan pertengahan kain ihram di bawah ketiak tangan kanan dan kedua ujungnya di atas bahu kiri
4. Menyentuh Hajar Aswad atau memberi isyarat ketika mulai tawaf
5. Niat.
Niat untuk tawaf yang terkandung dalam ibadah haji hukumnya tidak wajib karena niatnya sudah terkandung dalam niat ihram haji, tetapi kalau tawaf itu bukan dalam ibadah haji, maka hukum niat tawaf menjadi wajib, seperti dalam tawaf wada' dan tawaf nazar.
6. Mencapai rukun yamanî (pada putaran ke-7) dan mencium atau menyentuh Hajar Aswad
7. Memperbanyak doa dan zikir selama dalam tawaf
8. Tertib, dilaksanakan secara berurutan

Macam-macam tawaf adalah:

Tawaf ifâdah
Tawaf sebagai rukun haji yang apabila ditinggalkan maka hajinya menjadi tidak sah.
Tawaf ziyârah
Tawaf kunjungan, sering juga disebut tawaf qudûm, yaitu tawaf yang dilakukan setibanya di kota Mekah.
Tawaf sunah
Tawaf yang dapat dilakukan kapan saja.
Tawaf wada'
Tawaf perpisahan, yaitu tawaf yang dilakukan sebelum meninggalkan Mekah setelah selesai melakukan seluruh rangkaian ibadah haji.

4. Sa'i

Sa'i adalah berjalan dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa sebanyak 7 kali.
Syarat sa'i adalah:

1. Seluruh perjalanan sa'i dilakukan secara lengkap, tidak boleh ada jarak yang tersisa
2. Dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwa
3. Dilakukan sesudah tawaf
4. Dilakukan sebanyak 7 kali perjalanan

Sedangkan sunah dalam sa'i adalah:

1. Berdoa di antara Shafa dan Marwa
2. Dalam keadaan suci dan menutup aurat
3. Berlari kecil antara 2 tonggak hijau
4. Tidak berdesakan
5. Berjalan kaki
6. Dikerjakan secara berturut-turut

5. Wukuf di Arafah

Wukud di Arafah adalah berdiam diri di padang Arafah sejak matahari tergelincir pada tanggal 9 Zulhijah sampai terbit fajar pada tanggal 10 Zulhijah (hari nahar), baik dalam keadaan suci maupun tidak suci.
Haji tanpa wukuf tidak sah dan harus diulang lagi pada tahun berikutnya. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

Haji itu 'arafah, siapa yang datang pada malam mabît di Muzdalifah sebelum fajar menyingsing, ia sudah mendapatkan haji.

Ketika melakukan wukuf, disunahkan untuk tidak berpuasa, menghadap kiblat, berzikir, membaca istighfar, dan berdoa. Menurut riwayat Imam Ahmad, doa Nabi SAW ketika di hari arafah adalah:

Tiada Tuhan kecuali Allah, yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya seluruh kerajaan, bagi-Nya pula segala pujian, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Ia Maha Kuasa atas segalanya.

6. Melontar Jumrah

Melontar jumrah ialah melempar batu kerikil ke arah 3 buah tonggak, yaitu ûlâ, wustâ, dan ukhrâ, masing-masing 7 kali lemparan. Hari melontar jumrah dimulai pada tanggal 10 Zulhijah, ke arah jumrah 'aqabah atau jumrah kubra, dan 2 atau 3 hari dari hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah) ke arah 3 jumrah yang telah disebutkan di atas.

Waktu melontar jumrah disunahkan sesudah matahari terbit. Bagi orang yang lemah atau berhalangan boleh melakukannya pada malam hari.
Adapun melontar jumrah pada 3 hari yang lain, hendaknya dimulai pada waktu matahari sudah mulai turun ke barat sampai saat matahari terbenam.
Ketika melontar jumrah disunahkan:

1. Berdiri dengan posisi Mekah ada di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan
2. Mengangkat tangan tinggi-tinggi bagi laki-laki
3. Membaca takbir ketika melempar batu yang pertama

Bagi orang yang berhalangan menyelesaikan haji dengan tidak melakukan wukuf di Arafah, tawaf, ataupun sa'i, apa pun penyebabnya, menurut pendapat jumhur ulama orang tsb wajib menyembelih seekor kambing, sapi, atau unta di tempat ia bertahalul.
Apabila ibadahnya itu ibadah wajib, ia harus meng-qadha pada tahun berikutnya, tetapi bila bukan ibadah wajib, ia tidak perlu meng-qadha.
Haji Akbar dan Haji Mabrur
Haji akbar (haji besar)

Istilah haji akbar disebut dalam firman Allah SWT pada surah At-Taubah: 3 yang artinya:

Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin...

Ada beberapa pendapat ulama tentang haji akbar, yaitu haji akbar adalah:

* haji pada hari wukuf di Arafah
* haji pada hari nahar
* haji yang wukufnya bertepatan dengan hari jum'at
* ibadah haji itu sendiri beserta wukufnya di Arafah

Namun pendapat yang paling masyhur adalah pendapat yang menyatakan bahwa haji akbar adalah haji yang wukufnya jatuh pada hari jum'at.

Ada haji besar, ada pula haji asgar (haji kecil) yang merupakan istilah lain untuk umrah.
Haji mabrur

Haji mabrur adalah ibadah haji seseorang yang seluruh rangkaian ibadah hajinya dapat dilaksanakan dengan benar, ikhlas, tidak dicampuri dosa, menggunakan biaya yang halal, dan yang terpenting, setelah ibadah haji menjadi orang yang lebih baik.

Balasan bagi orang yang mendapat haji mabrur adalah surga. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya:

Umrah ke satu ke umrah berikutnya adalah penebus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur ganjarannya tiada lain kecuali surga (HR Bukhari dan Muslim)

Dam (Denda)

Dam dalam bentuk darah adalah menyembelih binatang sebagai karafat (tebusan) terhadap beberapa pelanggaran yang dilakukan ketika melakukan ibadah haji atau umrah. Jenis dam adalah:

1. Dam tartîb
2. Dam takhyîr dan taqdîr
3. Dam tartîb dan ta'dîl
4. Dam takhyîr dan ta'dîl

1. Dam tartîb

Dam tartîb yaitu bila binatang yang disembelih adalah kambing, tetapi bila tidak mendapat kambing, harus melaksanakan puasa 3 hari di tanah suci dan 7 hari apabila telah pulang ke kampung halaman.
Orang diwajibkan membayar dam tartîb karena 9 hal, yaitu:

1. Mengerjakan haji tammatu'
2. Mengerjakan haji qirân
3. Tidak wukuf di Arafah
4. Tidak melontar jumrah yang ke-3
5. Tidak mabît di Muzdalifah pada malam nahar
6. Tidak mabît di Mina pada malam hari tasyrik
7. Tidak berihram dari mîqât
8. Tidak melakukan tawaf wada'
9. Tidak berjalan kaki bagi yang bernazar untuk mengerjakan haji dengan berjalan kaki

2. Dam takhyîr dan taqdîr

Dam takhyîr dan taqdîr ialah boleh memilih menyembelih seekor kambing, berpuasa, atau bersedekah memberi makan kepada 6 orang miskin sebanyak 3 sa' (1 sa' = 3,1 liter).
Dam jenis ini dikenakan untuk satu diantara sebab-sebab berikut:

1. Mencabut 3 helai rambut atau lebih secara berturut-turut
2. Memotong 3 kuku atau lebih
3. Berpakaian yang berjahit
4. Menutup kepala
5. Memakai wewangian
6. Melakukan perbuatan yang menjadi pengantar bagi perbuatan seksual
7. Melakukan hubungan seksual antara tahalul pertama dan tahalul kedua.

3. Dam tartîb dan ta'dîl

Dam tartîb dan ta'dîl adalah pertama kali wajib menyembelih unta, apabila tidak mampu boleh menyembelih sapi, apabila tidak mampu juga baru menyembelih kambing 7 ekor.
Apabila tidak mendapat 7 ekor kambing, si pelanggar harus membeli makanan seharga itu dan disedekahkan kepada fakir miskin di tanah suci.
Dam jenis ini dikenakan karena pelanggaran melakukan hubungan seksual.
4. Dam takhyîr dan ta'dîl

Dam takhyîr dan ta'dîl adalah boleh memilih diantara 3 hal yaitu:

* Menyembelih binatang buruan yang diburu
* Membeli makanan seharga binatang buruan tsb dan disedekahkan
* Berpuasa satu hari untuk setiap 1 mud (5/6 liter)

Dam jenis ini dikenakan karena sebab-sebab:

1. Merusak, memburu, atau membunuh binatang buruan
2. Memotong pohon-pohon atau mencabut rerumputan di tanah haram.

Waktu dan tempat penyembelihan dam

Waktu penyembelihan dam yang disebabkan pelanggaran yang tidak sampai membatalkan atau kehilangan haji harus dilakukan pada waktu si pelanggar melakukan ibadah haji. Tetapi bagi dam yang disebabkan pelanggaran yang berakibat kehilangan haji, pelaksanaannya wajib ditunda sampai pada waktu melakukan ihram ketika meng-qadha haji.

Sedangkan tempat penyembelihan dam dan penyaluran dagingnya adalah di tanah haram.
Bagi orang yang melakukan haji, diutamakan menyembelihnya di Mina, sedangkan bagi orang yang melakukan umrah, menyembelihnya di Marwa.
Mewakilkan Haji

Perwakilan haji berlaku untuk seseorang yang mampu melakukan haji dari segi biaya, tapi kesehatannya tidak memungkinkan, seperti sakit yang parah atau karena usia tua.
Dalam hal ini wajib orang lain untuk menghajikannya dengan biaya dari orang yang bersangkutan, dengan syarat orang yang menggantikan tsb sudah mengerjakan haji untuk dirinya sendiri.
Tetapi bila setelah dihajikan orang itu sembuh, menurut Imam Syafi'i, ia tetap wajib melakukan haji.

Perwakilan haji juga dapat dilakukan atas orang yang sudah meninggal, asalkan orang tsb berkewajiban haji, antara lain mempunyai nazar dan belum dapat melaksanakannya. Hal ini didasarkan pada hadist yang meriwayatkan bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi SAW:

"Ayah saya sudah meninggal dan ia mempunya kewajiban haji, apakah aku harus menghajikannya?" Nabi SAW menjawab, "Bagaimana pendapatmu apabila ayahmu meninggalkan hutang, apakah engkau wajib membayarnya?" Orang itu menjawab, "Ya". Nabi SAW berkata, "Berhajilah engkau untuk ayahmu".(HR. Ibnu Abbas RA)