Selasa, 14 Desember 2010

Islam Vs Kristen: Syariat Mana yang Lebih Adil?

PostDateIconSunday, 28 November 2010 17:18 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail
Kristologi

* Lintas Berita

Untuk misi penginjilan, Pendeta Muhammad Bambang SE STh menempuh cara yang tidak fair, menghujat syariat Islam. Dalam buku penginjilan “Mengapa Saya Menjadi Orang Kristen (Islam Menjadi Kristen)” yang diterbitkan Yayasan Penginjilan Martua Agape Nias, pendeta yang mengaku bekas ustadz kelahiran Bojonegoro tahun 1964 ini menyebut syariat Islam sebagai intoleransi, keras, kejam, tidak adil dan tak mengenal kasih. Beberapa syariat yang jadi sasaran, di antaranya adalah hukum rajam dan waris:


“Hukum/Syariat Islam (Pidana + Perdata) tidak berlandaskan KASIH, melainkan berdasarkan intoleransi, keras/kejam dan tidak adil, yang sebagai buktinya kami sitir antara lain: Dera dengan 100x pukulan rotan atau pentungan bagi mereka yang ketangkap basah berzina (Qs. An-Nur 2). (hlm 38).

Dengan menyimak hujatan tersebut, patutlah diragukan pengakuan Pendeta Muhammad Bambang sebagai seorang mantan ustadz. Tudingannya sangat semberono, jauh dari pengertian dan hikmah syariat yang mahaluas.

Memang sanksi (‘uqubah) dalam syariat Islam sudah jadi langganan para misionaris untuk melakukan pendangkalan akidah. Mereka melebih-lebihkan mirisnya sanksi dalam pidana Islam, seraya menutupi prinsip dan hikmah yang ada.

Pada dasarnya, semua jenis sanksi hukum itu dijatuhkan di Akhirat, tapi sebagian disegerakan di dunia untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman hidup bermasyarakat. Karena Allah SWT menurunkan agama untuk menjaga lima hal pokok (ad-dharuratul-khams), yaitu menjaga kebebasan beragama (hifzhud-din), menjaga kesucian hidup (hifzhun-nafs), menjaga kepemilikan harta benda (hifzhul-maal), menjaga keturunan (hifzhun-nasal), dan menjaga kebebasan berpikir (hifzhul ‘aql).

Lima hal tersebut adalah kebutuhan yang dharuri dan sangat menentukan eksistensi hidup dan kehidupan manusia. Untuk itulah Allah menetapkan sanksi hukum di dunia. Di mata hukum Islam, semua orang dipandang sama tanpa ada diskriminasi hukum berdasarkan status sosial, ekonomi dan politik, atau alasan lainnya.

Sangat tidak benar tuduhan pendeta bahwa Islam menghukum pezina dengan pukulan pentungan 100 kali. Penggambaran yang miris ini sengaja dilakukan pendeta untuk melakukan mendoktrin jemaatnya, bahwa Islam itu kejam dan sadis. Padahal ketentuan Syariat Islam dalam tindak pidana perzinaan tidaklah sesemberono dan sekejam itu. Al-Qur'an yang dituding sadis itu adalah sbb:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Qs An-Nur 2).

Hukuman terhadap pelaku perzinaan memang sangat keras, karena zina tak hanya dosa besar, tapi juga perbuatan keji (fahisyah) dan seburuk-buruk kelakuan (saa’a sabiilan). (Qs Al-Isra 32).

Betapa banyaknya penyakit menular akibat zina yang belum ditemukan penyembuhannya seperti HIV AIDS. Betapa banyak rumah tangga hancur berantakan gara-gara kasus zina dan perselingkuhan? Betapa banyak generasi yang rusak masa depannya karena perzinaan orang tuanya?

Bila pelakunya seorang gadis atau bujangan yang belum pernah menikah, maka hukumannya adalah dera seratus kali, sesuai dengan ayat tersebut.

Tapi bila pelakunya adalah pria atau wanita yang pernah menikah (muhshan/muhshanat), walaupun ia berstatus duda atau janda, maka berdasarkan hadits-hadits yang shahih, hukumannya naik menjadi rajam.

Apabila tindak perzinaan itu terbukti sah dan meyakinkan secara hukum, maka sanksi harus dilakukan tanpa belas kasihan: “…Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat…” (Qs An-Nur 2).

Dalam pelaksanaannya, agar sanksi perzinaan ini menimbulkan efek jera dan dampak sosiologis kepada masyarakat agar mereka membenci, menjauhi dan takut melakukan perzinaan, maka eksekusinya harus dilakukan di hadapan khalayak kaum mukminin:

“…Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Qs An-Nur 2).

Karena sanksi perzinaan itu sangat berat baik fisik maupun mental, maka persyaratan pelaksanaan hukumannya juga sangat berat dan ketat, yaitu benar-benar terbukti dengan dua pembuktian: 1) Pengakuan langsung dari pelakunya, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. 2) Kesaksian dari empat orang saksi mata yang Muslim, berakal, baligh dan adil.

Karena sanksi perzinaan itu sangat berat, maka aturan bagi orang yang menuduh perzinaan pun ketat. Bagi orang yang menuduh perzinaan tapi tidak terbukti di pengadilan, maka dia dihukumi sebagai fasik yang dijatuhi sanksi dera 80 kali (Qs An-Nur 4). Subhanallah!! Bagi orang berakal, betapa adil dan indah syariat Islam.

Kekejaman dan Kasih yang keliru dalam Syariat Bibel

“...Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat...”

Penggalan ayat Al-Qur'an surat An-Nur ayat 2 tersebut diperalat Pendeta Muhammad Bambang untuk menuding Islam sebagai agama yang tak mengenal belas kasihan:

“Tegasnya Hukum dan Syariat Islam itu bertentangan secara diametral dan antagonis dengan Hukum Kasih yang diajarkan oleh Yesus dalam Matius 22:39 yang berbunyi: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (hlm 39).

Padahal dalam ayat tersebut Allah melarang agar jangan meninggalkan perintah-Nya hanya demi rasa kasihan terhadap pelaku perzinaan. Tak boleh ada dispensasi hukuman atas alasan kasihan, simpati atau perasaan lainnya. Perasaan hati tak boleh mengalahkan hukum Allah.

Aneh memang, hanya dengan adanya ayat “janganlah belas kasihan kepada keduanya (kedua pezina, pen.),” Pendeta Bambang menuding Islam bukan agama kasih. Padahal dalam Bibel, Tuhan memerintahkan balas dendam dengan perintah membunuh dan menumpas secara sadis terhadap semua manusia dan binatang ternak tanpa belas kasihan sedikitpun:

“Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku akan mem¬balas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai”(1 Samuel 15:2-3, selengkapnya baca sampai ayat 9).

Jika Pendeta Bambang ingin menerapkan Hukum Kasih sesuai dengan ayat-ayat Bibel, maka dia akan mengalami kemusykilan. Karena dalam Bibel Yesus menerapkan hukum kasih dengan membebaskan wanita Yahudi yang tertangkap basah berzina, dari jeratan hukuman apapun termasuk rajam (Yohanes 8:1-11).

Penghakiman Yesus dalam ayat ini bertolak belakang dengan berbagai sabdanya dalam Injil, bahwa mata yang berbuat maksiat harus dicungkil dan dibuang.

“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua” (Matius 18:9, Matius 5:29).

Selain itu, dengan membebaskan perempuan yang tertangkap basah mela¬kukan zina (skandal seks) dari jeratan hukum, berarti Yesus telah melanggar Hukum Taurat tentang hukum rajam (dilempari batu) sampai mati (Ulangan 22:22-24). Bukankah salah satu misi Yesus bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17)?

Lebih jauh lagi, Pendeta Muhammad Bambang akan menemui banyak kesulitan jika ingin menerapkan Hukum Kasih dalam hal pelacuran. Karena di samping menetapkan hukum yang keras dalam pidana perzinaan, Perjanjian Lama banyak memberikan angin segar bagi perzinaan. Misalnya, Tuhan menyuruh Nabi Hosea untuk bercinta dan menikahi pelacur Gomer.

“Ketika Tuhan pertama kali berbicara kepada bangsa Israel dengan perantaraanku, Tuhan berkata, “Hosea, kawinilah seorang yang suka melacur, dan anak-anakmu juga akan menjadi seperti dia. Umat-Ku sama seperti istrimu itu; mereka tidak setia kepada-Ku, dan meninggalkan Aku” (Hosea 1:2-3, BIS).

Apakah atas dasar ayat ini, Pendeta Bambang ingin mengasihi pezina sehingga memprotes keras ayat Al-Qur'an yang menetapkan sanksi bagi pelaku perzinaan? Akankah Pendeta Bambang bersukacita jika di dunia ini tidak ada hukum yang menjerat para pezina dengan hukuman keras, sehingga perselingkuhan makin merajalela? Itukah makna kasih seorang pendeta bagi para pezina? []

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]

Senin, 13 Desember 2010

Taushiyah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir: Hikmah Idul Adha dan Perjuangan Islam

Oleh Malika Alexandrina pada Rabu 17 November 2010, 09:17 AM
Print

Selasa (16/11/10) saat dibesuk di sel bareskrim Mabes Polri Usatadz Abu Bakar Ba'asyir memberikan taushiyahnya kepada umat Islam yang saat ini sedang merayakan hari raya Idul Adha. Dengan ilmiah beliau menjelaskan apa saja hikmah hari raya idul adha dan apa kaitannya dengan perjuangan menegakkan Islam, dan berikut inilah taushiyah beliau mengenai hikmah Idul Adha.

Idul qurban, qurban di sini dalam bahasa arab asalnya (قَرُبَ) qoruba artinya mendekat. Jadi sebenarnya pelajaran dari idul qurban yaitu untuk menguji kebenaran iman. Kebenaran iman itu harus dibuktikan dan siap untuk berkorban, dalilnya mana? Yaitu ketika Nabi Ibrahim mulai punya anak, setelah diberi anak satu yaitu Ismail diperintahkan Ibu (Hajar) dan anaknya pergi;

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman." (Qs. Ibrahim : 37)

Menurut akal anak dan ibunya ini akan mati, tidak ada tumbuh-tumbuhan tidak ada air - yang sekarang jadi masjidil haram - nah itu ujian iman. Kalau menurut akal tidak akan mau melaksanakan perintah itu. Tapi kerena Nabi Ibrahim imannya itu di atas segala-galanya maka di letakkan betul anak dan istrinya di sana. Memang ada kesulitan, sampai Hajar berlari-lari dari shafa ke marwa terus mucul sumur zam-zam semua kan ujian itu. Jadi iman itu harus dibuktikan dengan ta'at meski perintah itu sepertinya berbahaya. Ini ujian yang pertama.

Dalam surat As-Shafat ayat 102;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim..." Nabi Ibrahim yang mempunyai anak begitu baik sangat sayang, tetapi setelah dia dewasa, membantunya kerja dan akhlaqnya baik baik tiba-tiba ada lagi wahyu lewat mimpi, ayatnya;

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

artinya; "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Nabi Ibrahim mendapat wahyu lewat mimpi untuk menyembelih Ismail. Bayangkan! orang yang sudah tua, baru punya anak satu yang begitu menyenangkan hati diperintahkan untuk menyembelih, disampaikanlah: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!". Dan ismail itu imannya sama dengan ayahnya, tidak banyak cakap; Ia menjawab:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

artinya; "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Nah ini ujian yang kedua.

Ujian itu yang kalau dipikir pakai akal bias stress. Allah Cuma mau nguji mau taat atau tidak, itu saja!

Itulah hikmah idul adha, menguji ketaatan, iman itu prinsipnya pada ketaatan. Kemudian dilaksanakan betul (oleh Nabi Ibrahim);

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya)." (Qs. As-Shafat : 103)

Setelah dicelentangkan mau disembelih diganti oleh Allah dengan kambing, terus ayat selanjutnya itu kan Allah menguji,

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (Qs. As-Shafat : 106) Itulah iman.

Dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ( ) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Kalau dengan mulut semua orang bisa, tetapi ketika ada perintah Allah mau taat atau tidak? Itu persoalannya. Jadi idul adha itu titik beratnya pejaran iman untuk mengajarkan iman yang benar itu harus dibuktikan dengan taat, sami'na wa atha'na tidak boleh dibahas, dicocok-cocokan, hanya kita diberi kelonggaran menurut kemampuan. Sebab orang beriman itu modalnya percaya hanya kepada Allah dan RasulNya itu mutlak, pokoknya dari Allah dan Rasul itu benar titik! Apakah akal bisa memahami maslahatnya atau tidak, pokoknya dari Allah dan Rasul itu paling benar, paling ilmiah, paling modern titik! Sikap yang seperti ini namanya mukmin, sikap yang seperti ini yang dinamakan oleh orang-orang kafir itu ekstrimis, fundamentalis. Tapi memang begitu, iman itu harus begitu.

Maka dalam ayat yang lain;

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (Qs. An-Nur : 51)

Kami dengar kami taati. Bukan kami dengar kami koreksi, itu syaitan, takabur itu. Seperti iblis kan begitu tidak mau sujud karena mengoreksi perintahnya Allah; "wong saya dari api dan dia dari tanah ya Allah kok saya yang suruh sujud" (lihat Qs. Al-A'raf : 12, Shad : 76). Itu kan mengoreksi namanya, diusir, dilaknat sampai hari kiamat karena itu takabur.

Jadi idul adha itu prinsipnya mengajarkan tentang iman, iman yang benar itu dibuktikan dengan taat mutlak kepada Allah dan RasulNya menurut kemampuan, tidak boleh membantah, tidak boleh dikoreksi, kita harus mempunyai modal (iman);

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (Qs. Al-Hujarat : 15)

Keterkaitannya dengan perjuangan, di dalam ayat itu (Al-Hujarat ayat 15) karakter orang beriman itu ada dua.

Satu, imannya kepada Al-Qur'an dan Sunnah didasari yakin sehingga menimbulkan taat mutlak. Nah karakter semacam ini menimbulkan karakter yang kedua yaitu;

وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"...dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah..."

Hidupnya itu hanya untuk berjuang menegakkan Islam dengan harta dan nyawa. Berjuang dengan sistim perang, berjuang dengan sistim dakwah berjuang dengan harta masing-masing menurut kemampuan. Jadi otomatis orang beriman itu hidupnya untuk berjuang menegakkan Islam di luar itu tidak! Nah kalau sudah dua karakter ini ada baru ditutup ayat ini;

أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"...mereka itulah orang-orang yang benar ." itu kaitan idul adha dengan perjuangan.

Demikianlah taushiyah ustadz Abu Bakar Ba'asyir mengenai hikmah Idul Adha dan hendaknya setiap muslim merenungkan apa yang beliau nasihatkan agar perayaan idul adha yang diperingati setiap tahun bukan sekedar menjadi ritual rutinitas tanpa makna namun sarat akan hikmah untuk memperkuat keimanan sebagai modal dalam memperjuangkan tegaknya Islam.

Semoga Allah membebaskan beliau ...!



Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9949/taushiyah-ustadz-abu-bakar-baasyir-hikmah-idul-adha-dan-perjuangan-islam#ixzz17zhcGh5j

Puskapol: Awas! SBY Penguasa Tunggal

* Lintas Berita

alt
Indikasi bahwa pemerintahan ke depan tanpa oposisi semakin menguat dengan terpilihnya Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR. Direktur Puskapol UI, Sri Budi Ekowardani menilai, jika ke depan tidak ada pihak oposisi, masyarakat harus lebih kritis dalam menyikapi kinerja pemerintahan.

Menurutnya, parpol yang ada saat ini hanya mencari aman untuk mendapatkan apa yang diperlukannya untuk masa mendatang. "Saat ini, partai sepertinya menggantung kepada pemerintahan untuk mendapatkan resource. Dalam kondisi itulah parpol cari aman dengan terlibat dalam koalisi," ujarnya, Selasa (6/10).

Jika hal itu terjadi, maka presiden akan menjadi penguasa yang sangat kuat. "Masyarakat sipil ke depan tidak boleh lelah dalam mengkritisi pemerintahan dan harus terus menyampaikan kritik kepada pemerintah," ujarnya.

Selain masyarakat sipil, Sri menilai peran media massa ke depan juga harus lebih baik. "Media harus berada di depan dalam hal menyampaikan permasalahan yang ada di masyarakat," imbuhnya.

Sri Budi Ekowardani juga berharap DPR tidak menutup mata dan telinga, meski di sana banyak anggota yang berasal dari parpol pendukung presiden. Sri menilai jika itu terjadi maka yang terjadi adalah situasi orba yang ditutupi dengan wajah demokrasi. (i

SEHARI KAPOLRI BOHONG LIMA KALI

alt
Komjen (Pol) Drs Susno Duadji SH MH MSc
(Mantan Kabareskrim Mabes Polri)

Dirumahnya yang tidak mewah di kawasan Cinere, pagi itu Kamis, pukul 07.50 wib. Tim Redaksi Tabloid Suara Islam tiba sepuluh menit lebih awal dari waktu yang disepakati. Tetapi ternyata tuan rumah telah siap menerima kehadiran kami di ruang tengah rumah yang cukup asri itu. Berikut ini wawancara eksklusif Abdul Halim, Muhammad Luthfie Hakim dan Muhammad Al Khaththath dari Tabloid Suara Islam, dengan Komjen (Pol) Susno Duadji di rumahnya Cinere, Depok, Jawa Barat, Kamis (25/3) lalu. Wawancara sejak dari kasus Bank Century hingga markus pajak Rp 24,6 miliar yang diduga kuat melibatkan sejumlah Jenderal di Mabes Polri.

Bagaimana tanggapan Anda atas penyesalan Ketua Tim 8 Adnan Buyung Nasution yang merekomendasikan pencopotan Anda dari Kabareskrim Mabes Polri akhir tahun lalu ?

Bang Buyung tidak perlu menyesal, tetapi yang penting follow up dari penyeslaan itu. Faktanya pada waktu itu saya Kabareskirm, orang akan beranggapan bahwa penyidikan itu berada ditangan Kabareskrim. Ada dugaan rekayasa penyidikan Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Kalau ada dugaan rekayasa, maka alamat yang paling tepat tentunya Kabareskrim. Sebab tidak pernah diekspos bahwa yang menanggani kasus pimpinan KPK ini adalah suatu tim.

Pimpinan penyidiknya adalah Direktur III Brigjen Julianus Mahar. Itulah yang dinamakan dengan nama sandi Truno 3. Kalau saya di dalam jajaran Kepolisian adalah Tribrata 5 dan di lingkungan Bareskrim Guru l. Koordinatornya adalah Wakabareskrim yang bertanggungjawab kepada Kapolri. Jadi susunannya Kapolri kemudian Wakabareskrim yang membawahi beberapa tim. Sebelumnya Irjen Hadiatmoko, tetapi karena dinilai tidak berhasil dan hanya dianggap berhasil menggolkan Antasari Azhar saja tetapi justru Bibit dan Chandra gagal, sehingga Hadiatmoko dicopot. Kemudian diganti Brigjen Dikdik dan dianggap berhasil menggolkan Bibit dan Chandra, menjadi tersangka dan dia naik pangkat menjadi Irjen. Kemudian Julianus Mahar dianggap berhasil dan naik pangkat menjadi Brigjen.

Anggota tim berasal dari Bareskrim, Polda Metro, Polda Jatim, Babintak dan Ditbinkum. Saya tidak mengendalikan dan tidak boleh mengendalikan dan tidak boleh tahu hasilnya. Memang struktur militer dan polisi kuat sekali, kalau ada tim khusus maka yang boleh tahu kerjanya hanya tim itu saja, sehingga kalau saya tanya salah. Jadi yang benar adalah saya jangan bertanya. Mereka jangan melapor ke saya, sebab jadi tidak patuh pada asas.

Wajar kalau orang luar menuduh saya, tetapi saya diam dan tidak membantah. Seharusnya pimpinan yang menjelaskannya, tetapi pimpinan tidak pernah menjelaskannya bahkan Susno Duadji tidak dilibatkan disitu. Kalau bicara sendiri dan saya bukan kalau tiak terlibat, akhirnya saat ini orang akan menanyai siapa yang terlibat. Kalau bukan Susno, terus siapa ? nanti akan ke Kapolri dan diatasnya ke Presiden. Untuk itulah saya sebagai seorang perwira dan ksatria, disitu saya betul-betul menunjukkan kesetiaan dan keperwiraan saya. Manakala kepentingan lebih besar menghendaki, maka kepentingan pribadi dan kelompok harus dikalahkan, sehingga saya diam saja. Tetapi ingin tunjukkan saya tidak seperti itu. Saya menunjukkannya dengan bahasa isyarat.

Seperti sewaktu Bang Buyung menyuruh saya mundur, saya tidak mau mundur. Tetapi akhirnya Bang Buyung mau mundur jika saya tidak mundur. Tetapi kemudian diberi permen manis oleh Kapolri dengan sebuah kebohongan. Di Istana Kapolri mengatakan Susno Duadji sedang membuat surat pengunduran diri, sehingga Bang Buyung tidak jadi mundur. Kemudian malamnya Kapolri rapat dengan Komisi III DPR, dengan terang terangan mengatakan bahwa surat pengunduran Susno Duadji sudah diterima. Itu jelas suatu kebohongan besar sekali.

Sewaktu Tim 8 mengundang tim dari Polri hadir di Wantimpres untuk dimintai keterangan, yang berangkat Kapolri, Wakabareskrim, Direktur III dan beberapa pemeriksa. Saya tidak hadir, tetapi Bang Buyung tidak menanyakan ini. Seharusnya ditanya, mana Susno kok tidak datang dan anggota Tim 8 lainnya juga tidak tanya, punya ilmu apa itu ! akhirnya mereka pulang. Setelah itu mereka baru ingat dan besoknya saya datang sendiri ke Tim 8.

Saya katakan, walaupun saya tidak bertanggungjawab dalam penyelidikan ini, saya datang atas sepengetahuan institusi dan saya siap memberikan keterangan sepanjang yang saya ketahui. Tetapi tidak pernah ada pertanyaan, kenapa kamu membantah walau tidak bertanggungjawab. Tidak ada pertanyaan seperti itu. Akhirnya kesimpulan Tim 8 adalah Susno merekayasa kasus untuk menghindari dari tanggungjawabnya, kan celaka benar ! Ya sudah, saya cepat didesak mundur oleh Presiden SBY. Bahkan Kapolri terdiam seusai pengunduran saya dimana prosesnya masih 15 hari setelah keluarnya rekomendasi Tim 8. Akhirnya Kapolri datang ke beberapa pimpinan redaksi media massa untuk menenangkan media massa agar tidak mendesak mundur.

Tetapi waktu itu jawaban Kapolri berkelit, ketika ditanya apa benar Susno itu, apa Kapolri takut, kok demikian kuat Susno itu, tetapi jawaban Kapolri berkelit. Semestinya sebagai seorang Kapolri, sebagai seorang jenderal polisi dia katakan, jangan menuntut Susno mundur, dia tidak bertanggung jawab dalam menyidik kasus ini, kan selesai. Tetapi siapa yang bertanggungjawab, Kapolri harus menjawab saya, kan sebagai perwira harus ksatria.

Tetapi melihat dia tidak begitu, saya kecewa ! Saya berfikir buat apa bertahan? Maka saya harus mundur. Saya berunding dengan anak istri, saya katakan kita dihujat terus menerus dan tidak bisa diundurkan, kalau mau bertahan seratus tahun bisa. Tetapi hujatan ini terus menerus, sehingga saya katakan siap mundur. Saya bilang sama anak istri, meski nama kita sudah hancur tetapi kita tidak salah. Insya’ Allah, dengan keimanan kita maka kebenaran tidak akan bisa ditutupi. Kalau Allah ingin memulihkan nama kita, tidak akan sulit. Kun fayakun, selesai.

Akhirnya saya mundur, begitu mudur tidak ada masalah apa apa. Saya diam saja di rumah tidak ada niat apa-apa hampir selama 2,5 bulan. Kemudian saya berfikir bagaimana memperbaiki nama kita, harus mulai dari mana. Tahu-tahu saya diundang bersaksi di Pengadilan kasus Antasari Azhar dan saya datang tanpa niat apapun juga. Karena kesaksian dibawah sumpah dan dibawah “UU dunia”, kalau saya bohong berarti saksi palsu. Kalaupun saya berbohong dan tidak ditangkap di dunia pasti akan ditangkap di akhirat. Saya akan mendapat laknat dari Allah.

Makanya sewaktu menyampaikan kesaksian, saya enak saja apa yang saya ketahui, tidak saya tambah dan tidak saya kurangi. Seperti pertanyaan pengacara, apa betul saya mengetahui ada tim yang dibentuk Kapolri yang dinamakan Tim motifasi untuk menghendel kasus ini ? Saya jawab tidak tahu dan tahu. Memang awalnya saya tidak tahu, tetapi akhirnya saya tahu. Tidak tahu memang tidak diberi tahu, kemudian tahu karena saya mengetahui tim itu gagal. Karena gagal maka dicopotlah ketua tim.

Menurut Anda, siapa sebenarnya dalang yang merekayasa semua kasus ini ?

Tanpa saya beritahu yang merekayasa, saya kira masyarakat sudah mengetahuinya. Siapa yang bertanggungjawab dalam penyelidikan ini. Tim penyidiknya Direktur III dan Koordinatornya Wakabareskrim serta penanggungjawabnya Kapolri yang langsung lapor pada Presiden. Lalu siapa penanggungjawabnya ? Saya kira dari struktur ini, silahkan dianalisis sendiri.

Anda pernah mengatakan Boediono terlibat dalam skandal Century. Namun setelah menjadi Wapres penyidikan dihentikan. Bagaimana kok bisa terjadi ?

Saya katakan bukan terlibat. Waktu menyidik Century, kasusnya saya bagi tiga. Kasus murni perbankan, duit nasabah diambil Robert Tantular dengan kasus Antaboga, dan kasus yang terkait dana LPS. Itulah yang berbeda. Kenapa saya tidak meneruskan, karena sudah masuk bulan September. Bulan Oktober sudah ada hasil penetapan Presiden dan Wakil Presiden dan sudah ada jadwal pelantikannya. Sebab kalau saya teruskan penyidikan, pasti ada yang bilang Susno telah dimanfaatkan kepentingan politik lain untuk menghancurkan nama Wapres, menggagalkan Pilpres dan Cawapres, sehingga besar sekali resikonya.

Kita menyidik harus memakai strategi, mana kuat Susno sendirian disitu, Kapolri belum tentu setuju. Tetapi kalau sekarang kuat sekali backupnya jikalau polisi ingin menyidiknya dengan backup masyarakat. Waktu itu saya menyidik dengan kekuatan hukum. Tetapi hukum tanpa ditopang oleh kekuasaan maka tidak akan bisa jalan. Pasti kalau saya teruskan akan ketemu dengan Menkeu dan Wapres. Apa kuat Susno sendirian ? Tentunya dengan strategi, toh masyarakat dan KPK sudah minta diusut dan BPK sudah mulai mengangkat kasusnya sedikit demi sedikit, itu strateginya.

Mengapa anda berani membongkar kebobrokan Mabes Polri ?

Saya kira bukan karena keberanian, tetapi karena kepenakutan saya maka saya ungkap. Jadi kalau saya berani, justru saya hormat sekali kepada mereka yang berani merekayasa kasus itu. Kalau saya takut, karena takut akan hukuman Allah lebih berat yang akan saya terima.

Menurut Anda, seberapa parah kebobrokan di dalam Mabes Polri ?

Tergantung kehebohannya ! Masyarakat kan sudah tahu, yang saya angkat ini baru satu, tetapi hebohnya luar biasa, ini berarti parah. Makanya saya tidak mau angkat banyak-banyak, satu dulu saja. Ini hanya merupakan test case saja. Saya masih punya banyak peluru. Jadi masyarakat bisa membaca. Baru satu yang saya angkat, Mabes Polri sudah goyang. Itu menunjukkan bobrok, coba dia baik. Mestinya yang kena dua orang, biarkan dua orang itu menghadapi sendiri secara hukum, kenapa dua orang itu dibela mati-matian? Padahal tidak ada kewajiban membela dua orang itu. Seharusnya kewajiban polisi itu membela saya, sebab Undang-undang mengatakan pelapor tindak pidana korupsi wajib dilindungi. Kenapa dia sampai nekat melanggar UU ?

Banyaknya kebobrokan di tubuh Polri, apa perlu direformasi Kembali ?

Bukan perlu tetapi wajib atau fardhu ain untuk direformasi. Kalau perlu itu sunnah, sedangkan ini wajib. Kalau tidak direformasi, berarti kita memelihara penjahat bersenjata resmi dan terorganisir. Padahal kewenangan polisi besar sekali dengan kekuatannya mencapai 360 ribu orang bersenjata. Polisi boleh membunuh, jika penjahat lari boleh ditembak mati. Dengan kekuatan sedemikian besar, jika tidak direformasi dengan baik maka akan sangat berbahaya. Kalau tentara tidak boleh menembak rakyat, tetapi polisi boleh nembak rakyat yang melakukan kejahatan. Tentara tidak boleh nembak rakyat yang jahat sekalipun. Kalau tentara begitu senjatanya nembak itu untuk musuh dari luar, tetapi kalau polisi senjatanya diarahkan kedalam, itu bedanya.

Apa ini sebagai dampak penempatan Polri dibawah Presiden ?

Bukan ! Polisi mau dibawah siapapun. Presiden, Menteri Peranan Wanita atau siapapun tidak masalah. Kita sekarang sedang mengalami dekadensi moral. Seharusnya polisi wajib menjadi pelindung, tetapi malah menakut-nakuti rakyat supaya dapat duit. Polisi wajib memberantas kejahatan, tetapi malah menciptakan kejahatan. Lha ini jahiliyah, ini sudah masuk zaman jahiliyah.

Dengan penetapan anda sebagai terperiksa atau tersangka, apa anda merasa didholimi ?

Ya saya terima saja, mau silahkan orang menilainya, saya diperiksa saja belum. Yang katanya namanya harum, apa ya ? Yang melaporkan saya itu kan namanya yang harum itu, yang saya tuduh merekayasa kasus dan katanya tidak terbukti. Lho bisa mengatakan tidak terbukti, kapan memeriksannya ? Kok cepat amat, mereka ngotot. Sebelum diperiksa, kesimpulannya saya jadi tersangka, ya sudah. Kalau kita ikut gila, namanya gila juga.

Mengapa Kapolri sekarang kelihatanya berbalik, mengakui ada ketidakberesan dalam kasus markus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan?

Saya diam, tahu saya sudah malas mendengarnya. Karena, semua institusi resmi seperti polisi yang berkaitan dengan HAM, mestinya jika memberi keterangan itu sekali saja, sehingga antara satu keterangan dengan lainnya sama. Jadi sekarang yang mau saya pegang keterangan siapa ? Kabareskirm lain, Kadiv Humas lain, Kapolri lain, Propam lain lagi meski dalam persoalan yang sama. Itu baru dari segi orangnya. Sekarang dari segi waktu, pagi, siang dan malam lain lagi.

Kalau dicari-cari kesalahannya seperti membolos kerja selama 78 hari, bagaimana komentar anda?

Bolos dari mana? kalau tidak pernah masuk kantor, kantornya mana ? Kantor adalah tempat suatu jabatan yang melaksanakan aktifitasnya sesuai dengan standar operasional prosedural (SOP). Tempat mungkin ada, jabatannya apa?, tugasnya apa?, SOP nya apa? Kalau ada tempat, bukan kantor namanya. Saya masuk sana, bukan masuk kantor. Tapi sekarang mereka bilang saya bolos, terserah.

Jika dibandingkan dengan orang sama seperti pak Da’i Bachtiar, apakah pernah dia ngantor setelah jadi Pati ? Dia jadi Pati selama 10 bulan sebelum pensiun. Kemudian pak Chairuddin Ismail, apakah beliau ngantor, satu tahu lebih. Apakah dia diperiksa dan dipecat. Tidak ! Kenapa untuk hal yang sama, perlakuan terhadap saya berbeda. Jadi kalau begitu ini khusus untuk Susno Duadji saja. Tapi apapun juga saya tidak menolak, saya terima.

Soal markus pajak, apa uang Rp 24,6 miliar itu memang dibagi-bagikan oleh Gayus Tambunan kepada para pejabat di Mabes Polri ?

Saya tidak tahu ! Tetapi yang jelas uang itu sudah tidak ada. Itulah tugas penyidik, sama untuk markus ini. Polisi itu mengerti hukum, tetapi mereka mengatakan kalau berani buktikan. Lha dimana saya bisa membuktikan? Saya ingin polisi yang mempunyai kewenangan menyidik itulah yang membuktikan.

Mengenai kasus Century beberapa waktu lalu, bagaimana proses kehadiran anda di Komisi III DPR. Apakah anda tidak diajak pimpinan Polri seperti waktu di Tim 8 tetapi anda mendapat undangan khusus dari DPR ?

Waktu acara dengar pendapat dengan Komisi III terkait dengan heboh cicak buaya dengan KPK, memang saya tidak diajak Kapolri, tetapi saya sudah antisipasi. Saya mempunyai teman-teman DPR agar diundang. Di meja memang tidak ada papan nama saya, tetapi saya mengatakan resmi diundang dengan tandatangan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Justru yang tak diundang itu mereka semua itu, karena yang diundang resmi hanya Kapolri dan saya, sedangkan mereka itu hanya diajak Kapolri.

Apa reaksi Kapolri waktu itu ?

Kapolri hanya kelihatan pucat saja, yang jelas dia tidak bisa bicara bebas.

Waktu itu Kapolri mengatakan Susno siap mengundurkan diri ?

Bukan siap, tetapi Susno Duadji sudah mengajukan surat pengunduran diri, katanya suratnya sudah diterima. Waktu itu saya mau berdiri, tetapi dicegah Wakapolri pak Makbul. Ketika itu dalam sehari Kapolri 5 kali berbohong secara resmi, tetapi yang tidak resmi saya tidak tahu. Waktu siangnya di Istana Kapolri mengatakan Susno sudah mengajukan surat pengunduran diri. Malamnya mengatakan surat pengunduran diri sudah diterima. Malam itu di tempat yang sama juga mengatakan tentang Nurkholish Madjid. Juga di tempat yang sama dia mengatakan tentang MS Ka’ban. Pada tempat yang sama dia juga mengatakan akan mundur jika tidak bisa dibuktikan di Pengadilan.

Mengapa di Komisi III DPR, anda sampai menangis. Apa yang menyebabkan anda terharu ?

Seumur hidup, saya tidak pernah menangis. Waktu Ibu saya meninggal dunia sekalipun, saya tidak menangis. Memang saya lebih dekat kepada Ibu meski Bapak dan Ibu sama. Karena dialah yang mengajarkan akhlak budi pekerti dan agama kepada saya. Karena sesuai dengan ajaran agama, jangan dibasahi dengan air mata ketika ditinggal wafat, maka saya hanya berdoa dan membaca Surat Yasin saja.

Tetapi malam itu di DPR saya menangis. Karena sudah hampir 4 bulan terus menerus ditekan. Sedangkan di rumah saya harus senyum, untuk menghibur istri dan anak, tetapi batin saya sedih sekali. Anak saya perempuan sampai berhenti dari bekerja karena malu bapaknya dihujat terus menerus. Akhirnya usaha sendiri dengan jual pakaian bekas di Citos dengan diobral padahal dia sarjana, tetapi yang penting halal. Alhamdulillah, ternyata penghasilannya tidak jauh berdeda dengan gajinya ketika masih kerja di kantor. Dia tidak malu, kadang kadang temannya ikut beli. Itulah yang membuat saya ketika teringat sampai menangis.

Jadi semuanya ini merupakan rekayasa dari Mabes Polri, padahal anda sama sekali tidak terlibat dalam tim penyidik. Sampai-sampai anda diminta mundur ?

Saya kan tidak mundur, tetapi minta mundur sementara. Saya diminta mundur supaya tekanan berkurang. Saya diminta mundur pak Makbul atas suruhan Kapolri. Pak Makbul waktu itu bersama pak Yusuf Manggabarani. Saya tanya mengapa Kapolri tidak langsung kepada saya, alasannya Kapolri tidak sampai hati karena saya tidak bersalah. Kemudian saya bilang oke, saya mundur, tetapi mundurnya kan bukan selamanya. Nanti setelah situasi tenang, nama saya seharusnya dipulihkan kembali. Tetapi ternyata tidak ada pemulihan sama sekali selama 2 bulan, tetapi saya diam dan tidak berontak. Selama itu saya juga masuk kantor, meski kantornya tidak ada yang dapat dimasuki. Saya datang ke teman-teman karena sudah tidak memiliki ruangan sendiri.

Selama 2,5 bulan saya tidak ada apa apa dan saya terima. Bahkan sudah akan membanting setir mencari usaha yang lain. Tetapi begitu bersaksi untuk Antasari Azhar, mereka mengancam akan memecat dan sebagainya. Sejak itulah saya merasa telah dikerjain mereka dan saya mulai bangkit. Saya katakan sama keluarga, dukung saya.

Apa reaksi anda ketika diumumkan diberhentian dari Kabareskrim ?

Saya marah sekali. Kalau mutasi seringkali tidak pernah diumumkan ke publik. Karena saat itu timingnya massa minta saya untuk mundur, sehingga seolah-olah inilah betul biang keroknya, saya tidak mau yang begitu. Saya tetap mau mundur tetapi jangan saya dikatakan bersalah. Waktu itu mungkin saya sudah kalah 80 persen.

Tetapi masyarakat kan perlu informasi yang berkaitan dengan anda ?

Itulah yang tidak pernah disampaikan oleh mereka. Karena Kapolri mengatakan tidak perlu berbicara dengan pers karena nanti semua dia yang mengatasi. Jadi saluran saya ke pers ditutup, tidak seperti sekarang ini. Saya Sholat Jum’at saja tidak boleh di Masjid, tetapi di ruang tahanan bersama para tahanan. Supaya tidak bertemu dengan wartawan di depan. Kantor saya dengan ruangan Kapolri tidak lebih dari 20 meter, saya harus naik mobil dari belakang. Saya kira ini sudah pendzoliman yang luar biasa.

Jadi anda berusaha melepaskan diri dari belenggu tersebut ?

Ya, lama-lama saya minta berhenti. Akhirnya saya bersaksi di sidang Antasari Azhar. Banyak hal yang mengejutkan dan saya dikejar terus sama wartawan. Saya sudah tidak mau tunduk lagi pada aturan-aturan polisi untuk membungkam saya. Meski tetap ada larangan berbicara sama wartawan, saya tidak takut, saya hantam saja.

Seperti apa marahnya Anda waktu diumumkan pemberhentian dari Kabareskrim ?

Langsung malam itu saya datangi rumah Kapolri, tetapi dia tidak mau menerima meski ada di dalam rumah. Dia ada di dalam kamar dan tahu saya datang karena diberitahu ajudan. Rumah Kapolri kan agak terbuka pintunya dan yang jaga banyak sekali. Jangankan maling, lalatpun tak akan bisa masuk walaupun pintunya terbuka. Saya bisa masuk karena dia tahu saya Kabareskrim. Kata ajudan bapak lagi tidur dan besoknya baru bisa bertemu Kapolri.

Akhirnya jam 4 sore keesokan hari saya baru bias bertemu Kapolri. Kemudian ajudan memberitahu saya kalau Kapolri sudah datang. Saya ingin bicara empat mata, ajudan tak menjawab. Ternyata setelah saya masuk ruangannya, sudah ada lima jenderal yang mendampingi Kapolri. Jadi saya tidak sendirian bertemu Kapolri.

Saya katakan, saya mau berhenti karena memang sudah sepakat. Tetapi kenapa diumumkan ke public? Itu berarti sudah mempermalukan saya. Seolah-olah itu isyarat kepada publik bahwa betul Susno Duadji yang bersalah dalam kasus dengan KPK, buktinya sudah dimundurkan. Dengan diumumkan kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui berbagai media massa pada malam itu, akhirnya besoknya media menulis, akibat dari perbuatan merekayasa sebagai pertanggungjawaban maka saya mundur. Jadi seolah-olah melegitimasi betul bahwa saya merekayasa kasus tersebut.

Apa reaksi Kapolri pada waktu itu ?

Dia hanya ketawa-ketawa saja dan merangkul saya. Hukuman itu kelihatannya kecil tapi maknanya besar bagi saya. Karena timingnya bertepatan dengan desakan masyarakat, maka saya mundur.

Apakah Kapolri meminta maaf kepada anda ?

Sama sekali tidak meminta maaf.

TNI dan Polri berlaku sistim komando, tetapi masyarakat sekarang melihat bintang satu berani dengan bintang tiga. Sepertinya tidak ada lagi sistim komando di Polri ?

Itu karena disuruh dan dibiarkan Kapolri. Apapun juga saya ini masih aktif sebagai polisi. Boleh benci sama Susno, tetapi dalam hierarkhi tidak boleh benci. Kalau tidak disuruh tidak bakal mereka berani. Tetapi perasaan dia ingin menjatuhkan martabat saya kan? Tetapi dia lupa martabat mereka sendiri justru yang jatuh.

Pada waktu itu ada pemeriksaan dari dua sayap, Intelijen dan Propam. Intelijen sudah clear dan Propam belum selesai, dimana Kapolri membatasi seminggu saja.

Satu minggu tak clear, dua minggu tak clear yang dilakukan Propam. Apa salah yang akan dituduhkan kepada saya? Kemudian intelijen lebih jernih berfikir seperti pak Saleh Saaf. Sebenarnya bukan Propamnya yang salah, tetapi kepemimpinan yang salah. Kalau pemimpin berwibawa, maka hirarkhi polisi akan bagus sekali. Jadi pemimpin kan harus tegas, jangan mengadu domba, ituu namanya kan mengadu domba. Saya yakin pak Saleh Saaf tersinggung berat itu. Propamnya masih ngotot sementara Kapolri tidak punya pendirian. Itu kan sama dengan menyuruh anak buah berantem.

Adanya kebobrokan dalam institusi Polri seperti markus, rekayasa perkara, intervensi politik akan membebani institusi Polri. Apa sebaiknya yang menjadi langkah Polri ?

Polri harus dirombak kepemimpinannya, terutama orang nomor satunya oleh orang yang memiliki integritas tinggi, punya keberanian dan tidak munafik. Kalau bisa begitu ya sudah selesai. Perlu waktu berapa bulan, tidak perlu lama cukup tiga bulan sudah baik karena sistim komando. Berbeda dengan Departemen dan Partai. Kalau polisi kan ada yang diatas dan bawah.

Kalau itu sepertinya suatu yang utopis, mengingat kita tahu pimpinan Polri memiliki penghasilan sampingan yang besar.

Tidak ! Polri itu gajinya kecil. Kalau memang perusahaan miliknya sendiri tidak apa-apa. Seperti gajinya kecil tetapi memiliki perusahaan silahkan saja, kan tidak dilarang mendapat penghasilan yang halal. Kalau ngak kan mati karena gajinya tak cukup. Itulah yang saya katakan kalau seorang polisi tidak ditopang dengan usaha lainnya, apapun pangkatnya jenderal bintang 8 sekalipun di Jakarta ini, tidak mungkin bisa beli mobil kijang sekalipun second hand. Gaji saya kan hanya Rp 11,7 juta, untuk membayar listrik saja satu juta lebih, belum lainnya.

Apakah anda siap mengambilalih kepemimpinan Polri bila DPR menghendakinya ?

Soal siap atau tidak siap, rakyat yang tahu. Jadi Kabareskrim saja tidak dipakai dan dicopot, masak jadi Kapolri. Itu impian terlalu tinggi. (Susno tertawa lepas)

Bagaimana perlunya fungsi moral di Kepolisian sekarang ?

Bukan hanya di polisi, tetapi di republik ini. Saya kira solusinya kita perbaiki moral melalui agama seluruh pimpinan negara ini. Sekarang ini kan orang tidak takut lagi sama Tuhan. Mereka tetap Sholat lima waktu tetapi korupsinya jalan terus. Kalau mereka ketemu daging babi muntah muntah, tetapi aspal dan pasir masuk perut. (*)

Sudah Biasa, Pangeran Saudi Doyan Narkoba dan Pesta

PostDateIconFriday, 10 December 2010 17:28 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail

* Lintas Berita

alt
Aneh bin ajaib jika ada kalangan tertentu mempromosikan Arab Saudi sebagai sebuah negara Islam yang rajanya disebut sebagai amirul mukminin yang harus dipatuhi. Lebih parah lagi jika dikatakan Saudi sebagai 'negara sunnah' yang pemimpinnya merupakan 'khadimul haramain' alias pelayan dua tanah suci, Makkah dan Madinah.

Kelakuan buruk mayoritas para pangeran Saudi sebenarnya lazim diketahui oleh orang-orang yang lama belajar dan tinggal di sana. Anwar Islam misalnya, ia mengaku banyak tahu tentang kelakuan parta pangeran yang akrab dengan minuman keras, berjudi, narkoba bahkan main perempuan. "Untuk main perempuan malah bisa difasilitasi negara", ujarnya.

Berbagai bantuan finansial yang disalurkan oleh Saudi kepada kelompok-kelompok Islam tertentu dan kepada negara-negara lain merupakan kedok untuk menutupi perangai asli keluarga kerajaan. Ulama di Saudi pun tahu akan hal ini, tetapi sebagian dari mereka memang terkategori ulama pemerintah. Mereka diam, alasannya mengoreksi penguasa harus dengan cara empat mata, tak boleh terbuka.

"Sudah banyak diketahui, ada pembagian 'wilayah' antara Ahlul Suud (keluarga Suud) dengan Ahlul Syeikh (Keluarga dan pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab). Mereka bersimbiosis mutualisme", lanjut Anwar.

Menurut Anwar, pembagian kekuasaan itu telah terjadi semenjak Kerajaan Arab Saudi berdiri. Keluarga Suud yang mengurusi politik pemerintahan, sementara para pengikut Wahabi mengurusi masalah agama. Diantara keduanya tidak boleh ada yang saling mencampuri. "Diatur juga pembagian keuangannya", ungkap ustad yang mengaku pernah berguru ke Dr. Aidh Al Qarni itu.

Karena itu tak mengherankan jika baru-baru ini WikiLeaks membocorkan dokumen yang menyebutkan bahwa para diplomat AS dalam kawat diplomatik menggambarkan bahwa seks, narkoba dan rock'n'roll adalah dunia yang tak asing bagi para keluarga kerajaan di balik kasalehan formal kerajaan Arab Saudi.

Para pejabat Konsulat AS di Jeddah menggambarkan sebuah pesta Halloween bawah tanah, yang digelar tahun lalu oleh seorang anggota keluarga kerajaan, yang menabrak semua tabu di negara yang mengaku Islam itu. Minuman keras dan para pelacur hadir dalam jumlah berlimpah, demikian menurut bocoran itu, di balik pintu gerbang vila yang dijaga ketat.

Pesta tersebut digelar oleh seorang pangeran kaya dari keluarga besar Al-Thunayan. Para diplomat itu mengatakan identitasnya harus dirahasiakan.

"Alkohol, meskipun sangat dilarang oleh hukum dan pabean Saudi, sangat berlimpah di bar pesta itu dengan koleksi yang lengkap. Bartender Filipina yang disewa menyajikan koktail sadiqi, sebuah minuman keras buatan lokal," kata kawat itu sebagaimana dilasir The Guardian. "Juga diketahui dari mulut ke mulut bahwa sejumlah tamu (pada pesta itu) pada kenyataan adalah 'gadis panggilan', sesuatu yang tidak biasa untuk pesta semacam itu.

Kiriman informasi dari para diplomat AS itu, ditandatangani oleh konsul AS di Jeddah, Martin Quinn, yang menambahkan, "Meski tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, kokain dan hashishsh (ganja) digunakan secara umum dalam lingkungan sosial semacam itu."

Pesta bawah tanah sedang "berkembang dan berdenyut" di Arab Saudi berkat perlindungan dari kerajaan Saudi, kata kawat itu. Namun pesta semacam itu hanya tersedia di balik pintu tertutup dan untuk orang yang sangat kaya. Terdapat sedikitnya 10.000 pangeran di kerajaan itu. Beberapa masih merupakan keturunan langsung Raja Abdul Aziz, sementara yang lain berasal dari cabang keluarga yang tidak langsung.

Para diplomat yang hadir dalam pesta itu melaporkan, lebih dari 150 pria dan perempuan Saudi, sebagian besar berusia 20-an dan 30-an tahun, hadir dalam pesta tersebut. Perlindungan dari kerajaan berarti kecemasan akan diserga polisi agama menjadi tidak mungkin. Orang-orang yang masuk dikontrol melalui daftar tamu yang ketat. "Adegannya mirip sebuah klub malam di manapun di luar kerajaan itu: banyak alkohol, pasangan muda yang menari-nari, seorang DJ di turntable dan semua orang berdandan."

Bocoran itu mengatakan, rak di bar tempat pesta itu menampilkan jenis-jenis minuman keras terkenal.

Para diplomat itu juga mencoba menjelaskan mengapa sang tuan rumah begitu lengket dengan pengawal Nigeria, beberapa di antaranya berjaga-jaga di pintu. "Sebagian besar pasukan keamanan sang pangeran adalah laki-laki muda Nigeria. Merupakan praktek yang umum di kalangan para pangeran Saudi untuk tumbuh bersama para pengawal yang disewa dari Nigeria atau negara-negara Afrika lainnya yang berusia muda, (seusia dengan para pangeran itu) dan akan tetap bersama dengan pangeran tersebut hingga dewasa. Waktu bersama yang lama menciptakan ikatan kesetiaan yang intens"

Seorang pemuda Saudi mengatakan kepada diplomat itu bahwa pesta besar merupakan tren baru. Hingga beberapa tahun lalu, katanya, kegiatan akhir pekan hanya berupa "kencan" dalam kelompok-kelompok kecil yang bertemu di dalam rumah orang kaya. Menurut bocaran itu, beberapa rumah mewah di Jeddah memiliki basement bar, diskotik dan klub.

Ya itulah sisi asli keluarga kerajaan Arab Saudi. Meski barangkali masih ada juga yang berpegang teguh pada Islam. (kcm/shodiq ramadhan)

Minggu, 12 Desember 2010

Gories Mere Di Balik Kebrutalan Densus 88?

Oleh Hanin Mazaya pada Senin 11 Oktober 2010, 12:19 PM
Print 12 Comments

advertisement

Disinyalir Gories berada di belakang sejumlah operasi brutal dan penyiksaaan terhadap para tersangka terorisme.

Sore itu matahari sudah berada di ufuk barat. Jarum jam menunjukkan pukul 15.20 WIB. Tiba-tiba datang rombongan sekitar 20 orang dengan berjalan kaki hendak masuk area Airside Bandara Polonia Medan. Rombongan itu tidak dikenal oleh penjaga di Pos GB (Golf Bravo) bandara itu. Salah seorang petugas kemudian menanyakan keperluan rombongan itu, lalu salah satu dari mereka menjawab, "mau naik pesawat".

Petugas bandara yang bernama Praka Didik Suprihatin itu lantas mengarahkan rombongan tersebut. "Bila ingin naik pesawat, harus melalui terminal keberangkatan atau VIP Room Bandara Polonia Medan". Diarahkan baik-baik seperti itu rombongan malah tidak mengindahkan sama sekali. Mereka tetap ingin masuk melalui Pos Golf Bravo untuk naik pesawat.

"Mereka tetap bersikeras dengan alasan misi operasi negara", ungkap Didik dalam laporan Kronologi Kejadian di Pos Golf Bravo Bandara Polonia Medan yang ia tulis.

Rombongan itu tetap ngeyel dan Didik pun mengaku tetap melarang mereka untuk masuk melalui Pos Golf Bravo. Tiba-tiba salah satu anggota rombongan membentak, "Kamu tau yang di depanmu itu Jendera bintang tiga?".

Sadar yang dikatakan adalah perwira tinggi yang pangkatnya jauh di atasnya, ibarat bumi dan langit, ia pun dengan sigap menjawab, "Siap mohon ijin, karena kami tidak ada tembusan atau pemberitahuan sebelumnya. Saya hanya menjalankan prosedur sebagai petugas jaga di Pos Golf Bravo".

Mereka tetap berjalan masuk melewati Pos Golf Bravo. Lalu salah satu dari mereka mengatakan "Kamu jangan menghalangi misi operasi negara". Atas perlakuan ini kemudian security Angkasa Pura, Joko Santoso, melaporkan kejadian tersebut kepada Danton Security, Jumadi.

Demikianlah kronologi yang dibuat oleh Didik Suprihatin, seorang anggota TNI AU yang pada hari Senin, 13 September 2010 bertugas di Pos Golf Bravo Bandara Polonia Medan. Laporan itu ditujukan kepada Dan Lanud Medan, kemudian ditembuskan kepada GM PT AP II Bandara Polonia Medan dan Dansatpom Lanud Medan.

Lantas, siapakah jenderal bintang tiga yang dimaksud dan untuk apa ia terlibat dalam operasi Densus 88 di Medan?. Bukankah kepala Densus 88 hanya berpangkat Brigjen?. Tak lama setelah berita atas kejadian itu muncul di sejumlah media, muncullah nama Komjen (Pol) Gregorius Mere atau yang sering dikenal sebagai Gories Mere sebagai perwira tinggi Polri yang dimaksud.

Tapi untuk apa lelaki kelahiran NTT itu terlibat dalam operasi Densus 88?. Seperti diketahui lulusan Akpol 1976 itu saat ini tengah menjabat Ketua Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN), yang tidak ada hubungannya dengan operasi antiteror.

Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar mengkritik arogansi Gories. Menurutnya keikutsertaan Gories dalam operasi Densus 88 akan menambah kekarut-marutan organisasi Polri. "Dia Kepala BNN kok bisa ikut-ikut ke sana. Seandainya jadi konsultan ya, kalau ikut ngatur ya salah besar. Ini perlu diteliti Kapolri," tukasnya.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane, Gories telah melakukan penyalahgunaan wewenang karena melampaui kewenangannya sebagai Kalakhar BNN. "Dia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatunya. Bikin malu saja!" kecamnya.

Meski dikecam banyak pihak, rupanya Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri (BHD) tetap membela bawahannya itu. "Nggak ada masalah. Kenapa?.", katanya. Ia malah membela jika Gories ada kegiatan di Medan.

Tentu penjelasan Kapolri itu sangat janggal. Jika hanya kegiatan BNN, mengapa naik pesawatnya perlu menerobos Pos Golv Bravo?. Mengapa tidak melalui terminal keberangkatan?. Mengapa juga harus bersama puluhan anggota Densus 88?. Sayang, Kapolri buru-buru mengakhiri wawancara sambil menurunkan alat perekam wartawan.

Sadisnya Gories Mere

Patut diduga Gories-lah yang secara langsung mengendalikan operasi Densus 88. Bahkan jenderal Kristen ini pula yang turut dalam penangkapan beberapa tersangka terorisme. Penangkapan terhadap Ustadz Abu Bakar Ba'asyir adalah fakta terkini yang diduga melibatkan Gories.

Ketua Tim Advokasi FUI, Munarman, mengungkapkan peran Gories dalam operasi anti teror. Menurutnya, selain sebagai Kepala BNN, Gories juga menjadi Komandan Satgas Anti Bom. Ia bertanggungjawab langsung kepada Kapolri. Satgas Anti Bom inilah yang paling berperan dalam menyiksa dan membunuhi para tersangka aktivis Islam yang dituduh sebagai teroris.

"Densus 88 dan Satgas Anti Bom berperan seperti Kopkamtib pada masa Orde Baru dengan melakukan tindakan represif terhadap para aktivis Islam yang berseberangan dengan pemerintah", ungkap Munarman.

Ustadz Abu Jibril, ayah terdakwa kasus terorisme M. Jibril menceritakan peran Gories dalam penyiksaan anaknya. Diceritakan bahwa penyiksaan terhadap anaknya itu dilakukan di hadapan Gories Mere.

"Wajah anak saya sampai hancur dipukuli para interogatornya selama seminggu dan disaksikan langsung Gories Mere. Bahkan anak saya juga ditelanjangi dan dipaksa melakukan sodomi. Padahal sebelumnya tiga jenderal polisi dari Mabes Polri yakni Komjen (Pol) Saleh Saaf, Komjen (Pol) Susno Duadji dan Brigjen (Pol) Saud Usman Nasution telah menjamin anak saya tidak akan diapa-apakan. Namun ternyata ketiga jenderal polisi itu tidak mampu mencegah kekejian Gories Mere dan anak buahnya yang Kristen Katolik itu," ungkap Abu Jibril dengan menitikkan air mata.

Gories Berlumuran Darah

Bukan kali ini saja Gories membuat masalah. Ia tercatat berkali-kali membuat masalah dengan umat Islam dan bahkan dengan istitusinya sendiri. Menurut catatan wartawan senior, Mega Simamarta, dalam situs dan blognya http://www.katakami.com dan katakamidotcom.wordpress.com, selama perjalanan kariernya banyak sekali kasus yang melibatkan mantan Direktur Narkoba Bareskrim itu.

Pada tahun 2004, Gories yang saat itu masih menjabat Direktur Narkoba Mabes Polri kepergok wartawan sedang dugem dengan terpidana kasus Bom Bali, Ali Imron. Bersama delapan orang lain, Gories Mere sedang kongkow di Starbucks Coffe, lantai 2 Plaza X, Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat. Ia pun dikecam di sana-sini.

Pada tahun 2005, nama Gories dikaitkan dengan pembunuhan sadis bandar narkoba Hans Philip yang ditembak mati di bagian kepala saat berada di dalam mobilnya di kawasan Bogor Jawa Barat. Tahun 2006, nama Gories patut dapat diduga dikaitkan dengan kasus pencurian barang bukti narkoba sabu seberat 13,5 kg (jika dijual akan mendapatkan keuntungan Rp. 13,5 Miliar).

Ketika kasus pencurian ini terjadi, Kapolri yang saat itu menjabat yaitu Jenderal (Pol) Sutanto marah besar atas hilangnya barang bukti ini dan memerintahkan agar "siapapun yang lancang dan liar mencuri barang bukti sabu itu" harus mengembalikannya segera ke gudang penyimpanan. Setelah mengetahui betapa marahnya Kapolripada saat itu, delapan bulan kemudian barang bukti 13,5 kg sabu ini bisa tiba-tiba kembali ke tempatnya semula di gudang penyimpanan.

Tahun 2008-2009, nama Gories Mere dikaitkan dengan pembekingan kasus rekayasa bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yang ditangkap oleh Mabes Polri di Apartemen Taman Anggrek bulan November 2007 dengan barang bukti 1 juta pil ekstasi (jika dijual akan mendapatkan keuntungan Rp. 1 triliun).

Tahun 2009, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) yang saat itu masih dijabat oleh Abdul Hakim Ritonga mengatakan bahwa pihaknya dihubungi oleh Pihak BNN yang berjanji akan 'menangkap kembali' Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS untuk bisa diajukan ke Pengadilan sesuai dengan kasus hukumnya yaitu kasus Taman Anggrek. Tetapi sampai detik ini, Monas bebas merdeka tanpa perlu diadili oleh kasus Taman Anggrek.

Tahun 2010, sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Denny Indrayana, secara tegas mengkritik sekeras-kerasnya indikasi yang dilakukan Gories dalam menghalang-halangi kasus rekayasa narkoba yang menimpa diri Aan diselesaikan secara baik dan benar.

Di mata umat Islam, nama Gories Mere penuh kenangan pahit. Penembakan dan serangan brutal ke Pondok Pesantren Al Amanah, Tebang Rejo, Poso, Sulawesi Tengah yang dipimpin oleh Ustadz Adnan Arsal tepat pada malam takbiran tahun 2006, adalah perintah dari Gories sebagai Komandan Tim Anti Teror. Alasanya, untuk mencari buronan-buronan terorisme yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Tapi ternyata yang dicari tidak ada. Karena tindakannya itu, Gories tidak berani menghadap kepala BIN Sjamsir Siregar yang mendatangi Poso di hari lebaran pertama.

Meski berada di Washington DC, Gories juga memerintahkan penembakan brutal di Tanah Runtuh, Poso, pada tanggal 22 Januari 2007. Alasannya sama, mencari buronan terorisme yang masuk dalam DPO. Penembakan brutal yang membabi buta dari Tim Anti Teror Polri ini menewaskan 13 orang umat Islam di Tanah Runtuh, Poso yang tidak bersalah. Dari korban tewas sebanyak 13 orang itu, tidak ada satupun yang masuk dalam DPO terorisme versi Polri. Nyawa umat Islam poso kembali melayang sia-sia akibat kebrutalan Gories.

Gories juga pernah memfitnah dan mengejek Jenderal (Purn) Riyamizard Riyacudu. Tapi ia sangat ketakutan setelah dimarahi dan ditelpon langsung oleh mantan KSAD itu. Dalam institusinya sendiri, Gories juga pernah mengejek Polda Jawa Barat sebagai polisi-polisi yang goblok dan sangat tolol sehingga tidak bisa menangkap buronan teroris Hambali. Di dalam kaset rekaman itu anak buah Gories, Brigjen (Pol) Surya Darma, dengan pongahnya mengancam dengan kalimat:

"Lihat saja ya, kalau saya dan Pak Gories Mere mogok, lihat saja, akan kami doakan agar di Indonesia ini terjadi banyak peledakan bom karena di negara ini hanya kami berdua saja yang mampu menangani masalah terorisme. Yang lain tidak bisa!"

Memang kasus terorisme penuh rekayasa, pantas saja hanya mereka berdua yang bisa menangani. Jangan-jangan, maling teriak maling! (suara-islam/arrahmah.com)


Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/9484/gories-mere-di-balik-kebrutalan-densus-88#ixzz17wcgWev8

BNPT Mulai Intai Pelajar Indonesia di Yaman

Oleh Ahmad Zidan pada Jum'at 10 Desember 2010, 12:40 AM
Print 22 Comments

advertisement

JAKARTA (Arrahmah.com) - Sssttt...ada bocoran baru, BNPT diam-diam sedang mengintai pelajar Indonesia yang sedang belajar di Yaman. Seperti halnya Densus 88 mencap orang Indonesia yang berjihad di Afghanistan dengan stigma teroris. Ketika ditanya, apakah pelajar Indonesia yang belajar di Yaman patut dicurigai?

"Bukan patut dicurigai. Tapi Yaman dianggap sebagai sumber perekrutan dan pelatihan kelompok Al Qaeda, setelah lari dari Afghanistan yang berada di wilayah perbatasan Pakistan. Atau sebaliknya, perpindahan dari Yaman ke Afghan. Memang tak bisa digeneralisir untuk mencurigai pelajar Indonesia yang belajar di Yaman," ungkap Kepala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai kepada Ar rahmah disela-sela workshop Deradikalisasi di Hotel Alila, Jakarta, belum lama ini.

Ansyaad Mbai mendapatkan informasi, bahwa ada mahasiswa Indonesia di Saudi Arabia yang ditangkap aparat keamanan setempat, karena dianggap terlibat terorisme. "Sudah tiga bulan mahasiswa Indonesia tersebut masih ditahan di Saudi. Tapi saya lupa namanya," jelas Ansyaad.

Diakui Ansyaad, Saudi memang tergolong negara yang paling keras dalam menangani kasus teroris. Terlebih ancaman Al Qaeda baru kini mulai merambah ke Yaman. Belakangan ini, kata Asyaad, mulai banyak yang menyeberang dari Yaman ke Saudi. Ada pula seorang yang dideportasi oleh Saudi ke Yaman.

Soal Deradikalisme

Mengenai maraknya paham 'radikalisme', Ansyaad Mbai mengatakan, bukan hanya di lembaga-lembaga keagamaan yang perlu diwaspadai, tapi juga lembaga pendidikan umum. "Yang dimaksud, bukan perguruan tinggi pinggiran, tapi lembaga pendidikan favorit, seperti Universitas Indonesia dan beberapa kampus favorit lainnya. Radikalisme di lingkungan kampus, juga bukan di aspek jurusan dan sosial, tapi eksak dan science. Di Bandung, misalnya, ada sarjana teknik kimia tamatan ITB yang terlibat teroris," ungkapnya.

Kepala BNPT itu juga tidak ingin menuding sebuah institusi tertentu sebagai sarang teroris. Sama halnya, ketika pesantren sempat dianggap sebagai pembibitan teroris. "Di pesantren sendiri, tidak ada yang salah dengan kurikulumnya. Yang dikhawatirkan adalah kegiatan ekstrakurikuler, seperti kegiatan Usra yang mencari kader."

Ansyaad mensinyalir, ada delapan titik di Jawa Tengah yang akan menjadi target operasi BNPT. Termasuk Banten dianggap wilayah kelompok radikal. Ansyaad juga menginformasikan tentang adanya kepala satpol PP Provinsi Banten yang direkrut sebagai jaringan teroris. Bahkan di Klaten, ada eks TNI yang turut dalam perekrutan. Termasuk polisi, seperti Sofyan Tsauri.

Lebih jauh, Ansyaad Mbai menilai, hukuman bagi pelaku 'teroris' masih terlalu "lembek". Keberadaan pelatihan militer, misalnya, belum dijadikan sebagai bentuk kejahatan. Ansyad memberi contoh, di Inggris memberi hukuman 10 tahun bagi mereka yang menebar kebencian dan permusuhan. Bahkan di seluruh negara, telah mengkriminalkan mereka yang melakukan pelatihan militer. Sementara di Indonesia tidak memberlakukan itu. "Pantas negara kita jadi sarang teroris. Lihat saja, kenapa Noordin M Top lari dari Malaysia ke Indonesia. Karena di Malaysia hukumannya lebih berat dari Indonesia," pungkasnya.

Para 'teroris', dikatakan Ansyaad, merasa hanya bermusuhan dengan polisi (Densus 88). "Ini salah besar. Itulah sebabnya BNPT melibatkan TNI. Filosofinya adalah kirim pesan bahwa teroris bukan hanya berhadapan dengan polisi, tapi juga dengan negara ini. Simbolnya adalah ya tentara itu."

Menurut Ansyaad Mbai, fenomena teror yang terjadi bukan merupakan masalah agama, melainkan ideological motivated violanceyang mengatasnamakan agama. "Meskipun sejumlah pelaku teror sudah banyak yang tewas, tertangkap dan dijatuhi hukuman (termasuk eksekusi mati), namun belum seluruh jaringan teroris terungkap." Ujarnya.

Kemungkinan aksi-aksi teror di kemudian hari, lanjut Ansyaad, tidak dapat diabaikan karena kelompok-kelompok 'teroris' masih aktif merekrut anggota-anggota baru dan mengadakan pelatihan serta upaya-upaya untuk melakukan serangan.

Dikatakan Ansyaad, serangan tindakan-tindakan dan aksi-aksi teror, merupakan buah dari berbagai dialektika pembenaran yang dicoba dibangun oleh kelompok-kelompok 'teroris' tersebut. Sehingga membuat kita tersadar akan perlunya kebersamaan umat Islam di Indonesia, dalam memahami, memantau dan mengelola pencegahan terorisme. "Sikap mental dan cara pandang yang sama menjadi modal dasar kita untuk menanggulangi terorisme," tandasnya.

BNPT seperti diakui Ansyaad Mbai, mempunyai program deradikalisasi yang akan melibatkan elemen-lemen masyarakat, disamping upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Hal tersebut kian menegaskan, bahwa program penanggulangan terorisme, bukan hanya tugas Pemerintah, tetapi menjadi tugas dan agenda semua pihak.

"Kejahatan terorisme yang berakar pada radikalisme mengatasnamakan kepercayaan harus kita cegah sekuat tenaga. Kecenderungan radikalisme sangat berbahaya jika kita biarkan berkembang luas," jelasnya.

Ansyaad juga mengungkapkan, aksi-aksi yang dilatarbelakangi paham radikal dengan berpedoman pada aliran kepercayaan, ideologi, maupun keluguan cara berpikir, membawa kesadaran kita bersama, bahwa tindakan-tindakan yang mengandalkan "hard power" atau represif, meskipun dengan dalih penegakan hukum disertai tindakan fisik operasional di lapangan, ternyata tidak efektif dan cukup kuat untuk menghentikan aksi-aksi teror tersebut.

"Realitas yang ada membuktikan, bahwa beberapa pemain lama masih ikut bermain dalam rangkaian aksi teror akhir-ahir ini, berdampingan dengan pemain-pemain baru. Karenanya, upaya penanggungan terorisme harus dilakukan secara komprehensif, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik Pemerintah maupun masyarakat, khususnya para ulama dan tokoh Islam."

Fenomena terorisme bersifat kompleks dan muti dimensional, serta penanganannya memerlukan kerjasama multi sektor, terutama terkait upaya pencegahan faktor-faktor penyebab terorisme, seperti faktor kepemimpinan, faktor jaringan, pelatihan, tempat persembunyian pelaku teror, dan adanya logistik atau pendanaan terhadap aktivitas teror. Hal terpenting adalah penanganan bagi mereka yang telah menjalani masa hukuman, agar tidak kembali lagi ke kemunitasnya.

Oleh karena penanganan terorisme perlu dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi, maka hal inilah yang mendasari pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2010. Badan ini bukan merupakan badan yang baru, tetapi merupakan upaya peningkatan efektifitas kinerja kelembagaan yang telah ada sebelumnya, yaitu Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme (DKPT) yang berada pada Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum Keamanan (Polhukam).