Resep hidup 4000 tahun
Saif Al Battar
Senin, 10 Oktober 2011 08:59:13
(Arrahmah.com) – Modal utama manusia dalam mengarungi kehidupan dunia adalah kesehatan dan kesempatan. Dengan dua hal itu, manusia bisa mencari nikmat Islam dan iman. Apabila kedua modal tersebut dipadukan dengan nikmat islam dan iman, niscaya manusia akan meraih kebahagian dunia dan akhirat.
Sungguh sayang, banyak orang yang sudah masuk Islam dan beriman, namun lalai dalam memanfaatkan kedua modal hidupnya. Mereka terlalaikan oleh kesenangan hidup duniawi, sehingga kedua modal hidupnya dihamburkan untuk hal-hal yang sama sekali tidak meningkatkan nikmat Islam dan iman.
Syaikh Abdullah bin Ali Al-Ghamidi menulis sebuah buku ringkas ‘Hal Turiidu an Ta’iisya Arba’at Alaf Sanah’, yang berisi kiat-kiat memaksimalkan kesehatan dan kesempatan, demi keberkahan umur yang berbuah kebahagiaan dunia dan akhirat. Arrahmah.com menyajikan terjemahannya untuk para pembaca secara berseri. Selamat mengikuti!
بسم الله الرحمن الرحيم
Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah atas karunia dan nikmat-Nya yang begitu luas, dan kebaikan-Nya yang begitu indah. Sebuah pujian yang menambahkan limpahan rahmat-Nya. Hanya kepada-Nya SWT kita memohon, mengagungkan, beribadah, dan bertawakal.
Ya Allah…ridha-Mu yang kami cari, kemurkaan-Mu yang kami takuti, dan ampunan-Mu yang kami harapkan. Tutuplah seluruh perbuatan kami dengan amal shalih, dan jadikanlah hari terbaik kami adalah saat kami menghadap-Mu.
Wahai saudaraku pendamba kebaikan…
Apakah engkau menginginkan panjang umur yang dihiasi dengan amal yang baik dan ketaatan yang ikhlas selama 4000 atau 5000 tahun atau lebih dari itu berkali lipat?
Barangkali Anda akan mengatakan, “Bagaimana mungkin hal itu akan terjadi, sedangkan NabiSAW telah menyabdakan bahwa rata-rata umur umatnya antara 60 sampai 70 tahun saja, dan amat sedikit yang melebihi umur tersebut?” (Shahih Jami’ Shaghir no. 1073)
Di sinilah letak persoalannya.
Tahukah Anda bahwa 2/3 umur Anda berlalu begitu saja tanpa membuahkan hasil? Itulah waktu yang Anda pergunakan untuk makan, minum, tidur, masa balita, masa anak-anak sebelum baligh, dan waktu sibuk melakukan aktivitas-aktivitas kehidupan lainnya? Jadi hanya tersisa 1/3 waktu yang harus dimanfaatkan dan diberdayakan sebaik mungkin.
Saudaraku, semoga Allah menjaga Anda…
Ada tiga cara yang bisa ditempuh oleh setiap orang untuk melipat gandakan umur dan menambah pahala.
1. Berlomba-lomba melakukan amal-amal ketaatan yang memiliki pahala berlipat ganda.
2. Memperbanyak amal-amal ketaatan yang pahalanya terus mengalir meski pelakunya telah mati.
3. Merubah kebiasan-kebiasaan sehari-hari seperti makan, minum, tidur, dan lain-lain menjadi ibadah, yaitu dengan meniatkannya sebagai sarana memperkuat diri dalam melaksanakan amal-amal ketaatan.
Sebelum kita membahas ketiga cara di atas, ada baiknya kita sebutkan sekilas beberapa amalan yang menyebabkan penambahan umur.
عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا : ” إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ
Dari Aisyah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya barangsiapa dikarunia bagian dari kelemah lembutan niscaya ia telah dikaruniai bagian dari kebaikan dunia dan akhirat. Menyambung tali kekerabatan, akhlak yang baik, dan sikap bertetangga yang baik menyebabkan kemakmuran negeri dan menambah umur.” (HR. Ahmad no. 24076. Dinyatakan shahih dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 519)
Dalam hadits yang lain disebutkan,
وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُرِ
“Menyambung tali kekerabatan itu menambah umur.” (HR. Ath-Thabarani, Ibnu Zanjawaih, Al-Harits, Ibnu al-Muqri’, Ibnu Syahin, dan Al-Qudha’i. Dinyatakan shahih dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 3766)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (syarh hadits no. 2557), al-hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari (syarh hadits no. 5986), Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (14/490) dan ulama lainnya telah menjelaskan bahwa penambahan umur dalam hadits-hadits ini meliputi:
1. Penambahan secara hakiki atas umur yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
2. Penambahan secara maknawi dalam arti amal perbuatannya diberkahi dan umurnya dipergunakan secara maksimal untuk hal-hal yang memberi manfaat di akhirat kelak.
Cara Pertama:
Contoh-contoh amal ketaatan yang pahalanya dilipat gandakan
1. Shalat
a. Shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.
Perhatikanlah wahai saudaraku, semoga Allah memberi Anda taufik..
NAbi SAW bersabda,
عَنْ جَابِرٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ “
“Shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid yang lain kecuali di masjidil Haram. Shalat di masjidil Haram lebih utama dari 100.000 shalat di masjid yang lain.” (HR. Ibnu Majah. Dinyatakan shahih oleh al-hafizh Al-Bushiri)
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ مِائَةُ أَلْفٍ ، وَفِي مَسْجِدِي أَلْفٌ ، وَفِي مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَمْسُمِائَةٍ “
‘Shalat di masjidil Haram sama nilainya dengan 100.000 shalat di tempat yang lain. Shalat di masjid Nabawi ini sama nilainya dengan 1000 shalat di tempat lain. Dan shalat di masjidil Aqsha sama nilainya dengan 500 shalat di tempat yang lain.” (HR. Al-Fakihi, Ath-Thahawi, Al-Baihaqi, dan Abu Nu’aim al-Asbahani. Dishahihkan dalam tahqiq Syu’abul Iman karya al-Baihaqi)
* Jika Anda menjaga shalat sunah Rawatib 12 rakaat sehari semalam selama satu tahun penuh, maka jumlah raka’atnya adalah: 12 X 360 hari = 4320 raka’at.
* Shalat 2 raka’at Anda di masjidil Haram sama nilainya dengan 2 X 100.000 : 200.000 raka’at shalat di tempat lain
* Shalat 2 raka’at Anda di masjid nabawi sama nilainya dengan 2 X 1000 : 2000 raka’at shalat di tempat lain
* Shalat 2 raka’at Anda di masjid al-Aqsha sama nilainya dengan 2 X 500 : 1000 raka’at shalat di tempat lain
* Maka renungkanlah, semoga Allah menjaga Anda, jika Anda melaksanakan shalat wajib misalnya Ashar atau Maghrib di Masjidil Haram, maka seakan-akan Anda telah melakukan shalat Ashar atau Maghrb sebanyak 100.000 di tempat lain. Ya Allah, janganlah Engkau menahan kami dari meraih tambahan karunia-Mu ini. (Lihat Majmu’ Fatawa, 7/28 dan Al-Manar al-Munif hal. 93)
b. Shalat jama’ah.
Kepada orang yang merasa jiwanya berat, semangatnya lemah, dan bermalas-malasan dari menunaikan shalat wajib di rumah-rumah Allah…Tidakkah Anda mengetahui bahwa Nabi SAW telah bersabda, “Shalat jama’ah itu lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari no. 645)
c. Shalat sunah di rumah sama pahalanya dengan shalat fardhu.
Nabi SAW bersabda,
عَنْ صُهَيْبِ بْنِ النُّعْمَانِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : ” فَضْلُ صَلَاةِ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ عَلَى صَلَاتِهِ حَيْثُ يَرَاهُ النَّاسُ ، كَفَضْلِ الْمَكْتُوبَةِ عَلَى النَّافِلَةِ “
“Keutamaan shalat (sunah) seseorang di rumahnya atas shalatnya yang dilihat oleh orang lain (shalat sunah di masjid, pent) seperti keutamaan shalat wajib atas shalat sunah.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Dinyatakan hasan dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 441)
d. Segera berangkat ke masjid untuk shalat Jum’at seawal mungkin.
Nabi SAW bersabda,
عَنْ أَوْسِ بْنُ أَوْسٍ الثَّقَفِيُّ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا “
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at dan sengaja mandi, lalu bersegera dan berusaha bersegera (ke masjid), lalu berjalan dan tidak naik kendaraan, mendekat kepada imam (khatib), mendengarkan khutbah dan tidak melakukan hal yang sia-sia, maka ditulis baginya atas setiap langkah kakinya ditulis amalan puasa sunah dan shalat sunah selama satu tahun penuh.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasi, Ahmad, Abu Daud ath-Thayalisi, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi ‘Ashim, Ibnu Hibban, dan ath-Thabarani. Dinyatakan shahih dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir no. 6405)
Dalam syarh hadits dijelaskan, bahwa arti lafal ghassala adalah ia menggauli istrinya. Artinya, ia melakukan hal yang mengharuskan mandi maka ia pun mandi wajib. Ada juga ulama yang mengartikannya dengan pengertian membasuh kepalanya.
Saya harap Anda, semoga Allah memberkahi Anda, membaca ulang kalimat terakhir dari hadits di atas ‘amalan puasa sunah dan shalat sunah selama satu tahun penuh‘. Jika ia berjalan sebanyak 300 langkah menuju masjid, niscaya ia seperti halnya orang yang berpuasa sunah dan shalat sunah selama 300 tahun. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami karunia-Mu yang begitu luas ini.
e. Sedekah sebanyak 360 kali dengan cara shalat 2 raka’at.
Nabi SAW bersabda,
عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “
“Setiap pagi, setiap persendian setiap orang di antara kalian wajib disedekahi (dalam riwayat lain disebutkan jumlahnya 360 persendian). Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan perbuatan makruf adalah sedekah, dan melarang dari perbuatan mungkar adalah sedekah. Dan semuanya sudah tercukupi oleh shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Muslim, Al-Baihaqi, Ath-Thabarani, dan Abu ‘Awanah)
Kamis, 17 November 2011
Kisah Nyata: Kisah Seorang Istri yang Shalihah
Kisah Nyata: Kisah Seorang Istri yang Shalihah
Saif Al Battar
Senin, 14 November 2011 11:41:42
Usia istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.
Istrinya Yaqin cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi kecantikannya tertutup sangat rapi. Dia juga hafal Al-Qur’an di usia yang relatif sangat muda , Subhanallah…
Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti… Awalnya mereka mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.
Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang dideritanya.
Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin parah..
Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.
Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh.
Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. Diobati lagi, sembuh… Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, Alhamdulillah sembuh.
***
Suatu ketika , Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya. “Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas.” Mereka memang saling memanggil dengan “Ummy” dan ” Abi” . sebagai panggilan mesra. “kenapa Mi ?” Yaqin agak panik “Semua terlihat kabur.” Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya… Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya…
Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan pulang.
Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.
***
“Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya..” pintanya sambil memegang perutnya…
Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat penderitaan yang dialami istrinya selama ini.
Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.
“Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi takut hafalan Ummi hilang.”
“Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an agar selalu ingat Allah.
Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.
“Bi, tadi malam Ummi mimpi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan”
“Itu tandanya Ummi akan segera sembuh.” Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.
Yaqin mencoba menghibur istrinya. “Mi… Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat dipakai lebaran.”
“Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok” jawabnya singkat. Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju sekarang.
“Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi.”
“Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi.”
”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??” Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.
***
Tapi betapa terkejutnya dia ketika kembali . Banyak perawat dan dokter yang mengelilingi istrinya.
“Ada apa dengan istriku??.” tanyanya setengah membentak. “Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali.” jawab perawat yang mengurusnya.
Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.
Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun dari bibirnya.
“Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?” “Pasti Mi… Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi.” Hatinya seakan berkecamuk. “Doanya yang banyak ya Bi” “Pasti Ummi” “Jaga dan rawat anak kita dengan baik.”
Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu ia bendung lagi…
Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.
“Pak, ini jenazah baik.” kata perawat itu. Dengan penasaran dia balik bertanya. “Dari mana ibu tahu???” “Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak ini.” “Subhanalloh…”
Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Kejadian ini mengingatkan pada suatu hadits
“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejap pun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).” (HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah).
***
“Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana” Air matapun tak terasa mengalir deras dari pipi Yaqin.
Subhanallah…
sumber: kafemuslimah
Saif Al Battar
Senin, 14 November 2011 11:41:42
Usia istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.
Istrinya Yaqin cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi kecantikannya tertutup sangat rapi. Dia juga hafal Al-Qur’an di usia yang relatif sangat muda , Subhanallah…
Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti… Awalnya mereka mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.
Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang dideritanya.
Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin parah..
Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.
Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh.
Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. Diobati lagi, sembuh… Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, Alhamdulillah sembuh.
***
Suatu ketika , Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya. “Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas.” Mereka memang saling memanggil dengan “Ummy” dan ” Abi” . sebagai panggilan mesra. “kenapa Mi ?” Yaqin agak panik “Semua terlihat kabur.” Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya… Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya…
Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan pulang.
Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.
***
“Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya..” pintanya sambil memegang perutnya…
Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat penderitaan yang dialami istrinya selama ini.
Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.
“Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi takut hafalan Ummi hilang.”
“Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an agar selalu ingat Allah.
Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.
“Bi, tadi malam Ummi mimpi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan”
“Itu tandanya Ummi akan segera sembuh.” Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.
Yaqin mencoba menghibur istrinya. “Mi… Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat dipakai lebaran.”
“Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok” jawabnya singkat. Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju sekarang.
“Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi.”
“Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi.”
”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??” Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.
***
Tapi betapa terkejutnya dia ketika kembali . Banyak perawat dan dokter yang mengelilingi istrinya.
“Ada apa dengan istriku??.” tanyanya setengah membentak. “Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali.” jawab perawat yang mengurusnya.
Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.
Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun dari bibirnya.
“Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?” “Pasti Mi… Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi.” Hatinya seakan berkecamuk. “Doanya yang banyak ya Bi” “Pasti Ummi” “Jaga dan rawat anak kita dengan baik.”
Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu ia bendung lagi…
Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.
“Pak, ini jenazah baik.” kata perawat itu. Dengan penasaran dia balik bertanya. “Dari mana ibu tahu???” “Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak ini.” “Subhanalloh…”
Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Kejadian ini mengingatkan pada suatu hadits
“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejap pun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).” (HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah).
***
“Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana” Air matapun tak terasa mengalir deras dari pipi Yaqin.
Subhanallah…
sumber: kafemuslimah
Rabu, 16 November 2011
Kondisi Objektif Gerakan Dakwah Saat Ini (6)
Kondisi Objektif Gerakan Dakwah Saat Ini (6)
Friday, 25/12/2009 13:11 WIB | Arsip | Cetak
9. Krisis Kepercayaan
Di antara krisis besar yang sedang melanda Gerakan Dakwah hari ini ialah krisi kepercayaan. Krisis keprcayaan tersebut terjadi dalam semua level kehidupan.
Para aktivis dan sebagian tokoh yang masih komitemen dengan nilai dan semangat dakwah mengalami kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpin dakwah yang kurang professional dan bahkan menyimpang. Kondisi seperti ini telah melahirkan fiksi, perpecahan, atau paling tidak perang dingin internal.
Kalau dibiarkan tanpa ada solusi yang benar, dikhawatirkan akan menimbulkan bencana besar bagi dakwah, paling tidak seperti yang dirasakan saat ini, hilangnya semangat berdakwah yang sudah pasti menyebabkan pertumbuhan dakwah menjadi lamban, dan bahkan mengalami setback (kemunduran), khususnya secara kualitatif. Sejarah Gerakan Dakwah kontemporer juga mencatet perpecahan internal nyaris tidak dapat dihindarkan sehingga munculkan berbagai pecahan atau ibarat sekoci-sekoci yang lepas dari induknya.
Ssesama Gerakan Dakwah saling curiga dan belum mau bekerjasama, minimal dalam hal-hal yang disepakati. Ide kesatuan dan persatuan Gerakan Dakwah masih jauh panggang dari api. Anehnya, seringkali kita lihat ada saja Gerakan Dakwah tertentu dapat bekerjasama dengan partai atau kelompok sekular dan nasionalis yang jelas-jelas ideologi dan program hidupnya sangat berbeda. Pertanyaannya ialah : Sesama Geralan Dakwah yang memiliki landasan dan tujuan yang sama, kenapa tidak bisa bekerjasama? Paling tidak dalam berbagai program dakwah? Aneh memang, tapi nyata adanya.
Di mata kaum Muslimin secara umum, Gerakan Dakwah masih terlihat ekslusi dan bahkan banyak tokoh masyarakat yang menuduhnya sebagai ancaman atau bahaya. Kenapa masih banyak kaum Muslimin dan tokoh mereka yang masih berpandangan demikian terhadap Gerakan Dakwah? Padahal sejatinya, kaum Muslimin secara umum adalah market atau pendukung dakwah yang utama. Hudubungan yang seharusnya dalam frame dakwah dan ukhuwwah (persaudaraan) berubah menjadi permusuhan, atau paling tidak tidak belum memiliki kepentingan bersama.
Anehnya, ketika Gerakan Dakwah memerlukan mereka, seperti dalam PILPRES dan PILKADA misalnya, semua tudingan miring yang diarahkan kepada Gerakan Dakwah seperti eksklusif, anti bid’ah dan sebagainya dicoba dihapus dengan melakukan serangkaian aktifitas keagamaan yang selama ini dianggap bida’ah sepeti acara maulidan, tahlilan, iedul fitri dan iedul adh-ha bersama pemerintah dan sebagainya.
Ini adalah salah satu kebersahajaan atau kesederhanaan berfikir para pemimpin Gerakan Dakwah yang sangat berbahaya. Pelanggaran nilai-nilai ajaran Islam , sekecil apapun, tidak boleh dilakukan kendati dengan tujuan untuk mencapai kepentingan tegaknya Islam. Karena dalam Islam dibangun sebuah kaedah : tidak boleh menghalakan segala cara atau untuk meraih kebaikan haris dengan cara yang baik pula. Apalagi jika pelanggaran itu dilakukan untuk kepentiangan duniawi para pemimpin dan tokoh Gerakan Dakwah seperti kekuasaan dan sebagainya, sudah pasti merupakan perbuatan yang sangat tercela, alias bertentangan dengan pola dakwah Rasul Saw. Dan para Sahabat.
Prilaku seperti tersebut di atas juga menambah kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap Gerakan Dakwah. Mereka dibutuhkan hanya ketika diperlukan. Ibarat pepatah, habis sepah, sampah dibuang. Alih-alih memberikan pelayanan kepada masyarakat dan memperjuangkan nasib mereka yang semakin hari semakin memprihatinkan, dalam semua lapangan kehidupan, sementara kesulitan hidup mayoritas kader yang berjibaku memperjuangkan dakwah dan kepentingan para pemimpin dan Gerakan Dakwah belum dapat mereka selesaikan dengan baik dan maksimal, bahkan cendrung dilupakan.
Yang tampak anyata hanyalah para kader dan aktivis setiap waktu dcekoki dengan doktrin keharusan ta’at, tsiqoh, husnuzh-zhan dan ‘tadh-hiyah (pengorbanan) untuk dakwah. Sementara para pemimpin dan elitenya hidup dengan ekonomi melimpah dari hasil pekerjaan sebagai broker-broker politik dan dakwah. Tanpa melibatkan nama “dakwah” dan nama “para kader” dan simpatisan mustahil mereka memperoleh apa yang mereka nikmati sekarang. Sebab itu tak heran, ada yang berkata pada penulis : Untuk apa kalian mati-matian memperjuangakn dunia orang lain?
Di manta penguasa atau pemerintahan negeri-negeri Islam yang belum meyakini Islam sebagai the way of life, baik karena pengaruh ideology sekularisme peninggalan kolonialis Barat Kristen atau karena dipaksa oleh kekuatan pilitik global seperti Amerika, Gerakan Dakwah Islam masih dianggap sebagai bahaya laten. Fakta membuktikan tak jarang penguasa-penguasa negeri Islam melakuakn titnah, rekayasa dan bahkan tindakan yang agresif dan aksesif terhadap tokoh dan para aktivis Geraklan Dakwah. Sejarah mencatat betapa dahsyatanya kejahatan yang dilakukan Orde Baru terhadap Gerakan Dakwah di negeri ini. Demikian juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya, seperti Mesir, Turki dan sebagainya.
Di Indonesia, ada kasus Gerakan Jihad Imran yang menurut banyak riwayat direkayasa Ali Murtopo. Ada pembantaiaan Tanjung Priok (1984), lampung yang dilakukan L.B Moerdani cs. Ada pemurtadan massal terhadap umat Islam umumnyam dan Gerakan Dakwah khusunya yang dilakukan Soeharto dengan memaksakan ideologi asas tunggalnya. Dan masih banyak lagi yang tersimpan sepanjang sejarah Orde Baru yang berumur 32 tahun itu. Demikian juga di masa Orde Lama, Gerakan Dakwah masih dianggapa senbagai bahya laten. Hatta yang menggunakan jalur lembaga sosial dan politik formal sekalipun, di mata Orde Lama masih dianggap ancaman Negara Kesatuan Indonesia, khsusnya terhadap Masyumi.
Di zaman Reformasi yang sudah berusia 10 tahun ini, Gerakan Dakwah masih saja dianggap sebagai bahaya laten. Padahal sejarah mencatat, sejeak dari kemerdekanan 1945, menjatuhkan Orde lama dan Orde Bariu, Gerakan Dakwah dengan segala macam kelemahan dan kelebihannya, memiliki peran yang amat besar.
Sebagaimana di zaman Orde Lama dan Orde Baru, di Era Reformasi ini berbagai rekayasapun diluncurkan terhadap Gerakan Dakwah. Rekayasai tersebut semakin kuat. Ada yang diangkat melalui isu lokal seperti GAM (Gerakan Anti Maulid), ancaman bagi kaum minoritas dan sebagainya, serta ada pula bersifat menglobal seperti tuduhan terorisme yang digulirkan Presiden Amerika Gerge W. Bush dan kawannya serta Gerakan Transnasional yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam dari luar Islam.
Isu-isu tersebut telah berhasil menggiring opini sebagian besar umat dan juga sebagain tokoh orams Islam besar di negeri ini dalam rangka mencurigai berbagai Gerakan Dakwah yang muncul. Penulis sempat melihat video ceramah salah seorang pimpinan ormas dan dakwah Islam terbesar di Negeri ini yang sedang meprovokasi umat dan ulama agar mewaspadai dan menghambat lajunya pertumbuhan Gerakan Dakwah Kontemporer yang mereka tuduh sebagai GerakanTrans Nasional yang akan menggilas Gerakan Dakwah Tradisional. Penlis juga sempat mengetahuai adanya SK Ketua Umum salah satau ormal Islam ternama untuk menggusur semua pengurus Masjid atau gerakan kepemudaan Islam yang disinyalir berasal dari Gerakan Dakwah yang mereka namakan dengan Gerakan Trans Nasional.
Untuk meyakinkan semua umat maniusia kepada kebenaran Islam memang sesuatu yang mustahil. Tapi meyakinkan umat Islam terhadap kebenaran semua ajaran agama mereka, baik yang terkait dengan indivisu, social maupun Negara dan pemerintaham, merupakan PR (Kekerjaan Gumah) Gerakan Dakwah Masa Depan, kendati tidak ada jaminan 100 % kaum Muslim mau dengan ikhlas menerima Islam sebagai manhajul hayah (konsep hidup) dan memenej semua aspek kehidupan.
Pertanyaannya adalah : Kenapa umat Islam sendiri kehilangan kepercayaan pada agama mereka sendiri? Penyebabnya tentulah banyak. Di antaranya, kurangnya kepahaman mereka terhadap Islam sebagai akibat deislamisasi yang dilakukan penjajahan Kolonial Eropa selama menjajah negeri-negeri Islam, tak terkecuali kawasan Nusantara ini. Deislamisasi tersebut sudah menggurita dengan kuat berpuluh-puluh tahun lamanya dalam bentuk sistem, perundang-undangan, pendidikan, budaya dan media massa. Bayangkan, betapa beratnya beban dan pekerjaan Gerakan Dakwah untuk meyakinkan kembali umat ini kepada kebenaran ajaran Islam.
Satu hal yang perlu dicatat ialah, jika aktivisnya mengelami krisis kepercayaan pada qiyadah (pememimpin) mereka dan begitu pula dengan sesama Gerakan Dakwah jiuga mengalami krisis kepercayaan, bagaimana mungkin Gerakan Dakwah mampu menanamkan keprcayaan pada para pemimpin atau penguasa negeri-negeri Islam serta masyarakat Muslim yang masih belum yakin pada syumuliyatul Islam (komprehesnivitas Islam)? Apalagi jika mereka melihat para tokoh Gerakan Dakwah masih suka dan tertipu oleh kemilau duniawi yang menjadi tujuan hidup matinya para penguasa.
Friday, 25/12/2009 13:11 WIB | Arsip | Cetak
9. Krisis Kepercayaan
Di antara krisis besar yang sedang melanda Gerakan Dakwah hari ini ialah krisi kepercayaan. Krisis keprcayaan tersebut terjadi dalam semua level kehidupan.
Para aktivis dan sebagian tokoh yang masih komitemen dengan nilai dan semangat dakwah mengalami kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpin dakwah yang kurang professional dan bahkan menyimpang. Kondisi seperti ini telah melahirkan fiksi, perpecahan, atau paling tidak perang dingin internal.
Kalau dibiarkan tanpa ada solusi yang benar, dikhawatirkan akan menimbulkan bencana besar bagi dakwah, paling tidak seperti yang dirasakan saat ini, hilangnya semangat berdakwah yang sudah pasti menyebabkan pertumbuhan dakwah menjadi lamban, dan bahkan mengalami setback (kemunduran), khususnya secara kualitatif. Sejarah Gerakan Dakwah kontemporer juga mencatet perpecahan internal nyaris tidak dapat dihindarkan sehingga munculkan berbagai pecahan atau ibarat sekoci-sekoci yang lepas dari induknya.
Ssesama Gerakan Dakwah saling curiga dan belum mau bekerjasama, minimal dalam hal-hal yang disepakati. Ide kesatuan dan persatuan Gerakan Dakwah masih jauh panggang dari api. Anehnya, seringkali kita lihat ada saja Gerakan Dakwah tertentu dapat bekerjasama dengan partai atau kelompok sekular dan nasionalis yang jelas-jelas ideologi dan program hidupnya sangat berbeda. Pertanyaannya ialah : Sesama Geralan Dakwah yang memiliki landasan dan tujuan yang sama, kenapa tidak bisa bekerjasama? Paling tidak dalam berbagai program dakwah? Aneh memang, tapi nyata adanya.
Di mata kaum Muslimin secara umum, Gerakan Dakwah masih terlihat ekslusi dan bahkan banyak tokoh masyarakat yang menuduhnya sebagai ancaman atau bahaya. Kenapa masih banyak kaum Muslimin dan tokoh mereka yang masih berpandangan demikian terhadap Gerakan Dakwah? Padahal sejatinya, kaum Muslimin secara umum adalah market atau pendukung dakwah yang utama. Hudubungan yang seharusnya dalam frame dakwah dan ukhuwwah (persaudaraan) berubah menjadi permusuhan, atau paling tidak tidak belum memiliki kepentingan bersama.
Anehnya, ketika Gerakan Dakwah memerlukan mereka, seperti dalam PILPRES dan PILKADA misalnya, semua tudingan miring yang diarahkan kepada Gerakan Dakwah seperti eksklusif, anti bid’ah dan sebagainya dicoba dihapus dengan melakukan serangkaian aktifitas keagamaan yang selama ini dianggap bida’ah sepeti acara maulidan, tahlilan, iedul fitri dan iedul adh-ha bersama pemerintah dan sebagainya.
Ini adalah salah satu kebersahajaan atau kesederhanaan berfikir para pemimpin Gerakan Dakwah yang sangat berbahaya. Pelanggaran nilai-nilai ajaran Islam , sekecil apapun, tidak boleh dilakukan kendati dengan tujuan untuk mencapai kepentingan tegaknya Islam. Karena dalam Islam dibangun sebuah kaedah : tidak boleh menghalakan segala cara atau untuk meraih kebaikan haris dengan cara yang baik pula. Apalagi jika pelanggaran itu dilakukan untuk kepentiangan duniawi para pemimpin dan tokoh Gerakan Dakwah seperti kekuasaan dan sebagainya, sudah pasti merupakan perbuatan yang sangat tercela, alias bertentangan dengan pola dakwah Rasul Saw. Dan para Sahabat.
Prilaku seperti tersebut di atas juga menambah kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap Gerakan Dakwah. Mereka dibutuhkan hanya ketika diperlukan. Ibarat pepatah, habis sepah, sampah dibuang. Alih-alih memberikan pelayanan kepada masyarakat dan memperjuangkan nasib mereka yang semakin hari semakin memprihatinkan, dalam semua lapangan kehidupan, sementara kesulitan hidup mayoritas kader yang berjibaku memperjuangkan dakwah dan kepentingan para pemimpin dan Gerakan Dakwah belum dapat mereka selesaikan dengan baik dan maksimal, bahkan cendrung dilupakan.
Yang tampak anyata hanyalah para kader dan aktivis setiap waktu dcekoki dengan doktrin keharusan ta’at, tsiqoh, husnuzh-zhan dan ‘tadh-hiyah (pengorbanan) untuk dakwah. Sementara para pemimpin dan elitenya hidup dengan ekonomi melimpah dari hasil pekerjaan sebagai broker-broker politik dan dakwah. Tanpa melibatkan nama “dakwah” dan nama “para kader” dan simpatisan mustahil mereka memperoleh apa yang mereka nikmati sekarang. Sebab itu tak heran, ada yang berkata pada penulis : Untuk apa kalian mati-matian memperjuangakn dunia orang lain?
Di manta penguasa atau pemerintahan negeri-negeri Islam yang belum meyakini Islam sebagai the way of life, baik karena pengaruh ideology sekularisme peninggalan kolonialis Barat Kristen atau karena dipaksa oleh kekuatan pilitik global seperti Amerika, Gerakan Dakwah Islam masih dianggap sebagai bahaya laten. Fakta membuktikan tak jarang penguasa-penguasa negeri Islam melakuakn titnah, rekayasa dan bahkan tindakan yang agresif dan aksesif terhadap tokoh dan para aktivis Geraklan Dakwah. Sejarah mencatat betapa dahsyatanya kejahatan yang dilakukan Orde Baru terhadap Gerakan Dakwah di negeri ini. Demikian juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya, seperti Mesir, Turki dan sebagainya.
Di Indonesia, ada kasus Gerakan Jihad Imran yang menurut banyak riwayat direkayasa Ali Murtopo. Ada pembantaiaan Tanjung Priok (1984), lampung yang dilakukan L.B Moerdani cs. Ada pemurtadan massal terhadap umat Islam umumnyam dan Gerakan Dakwah khusunya yang dilakukan Soeharto dengan memaksakan ideologi asas tunggalnya. Dan masih banyak lagi yang tersimpan sepanjang sejarah Orde Baru yang berumur 32 tahun itu. Demikian juga di masa Orde Lama, Gerakan Dakwah masih dianggapa senbagai bahya laten. Hatta yang menggunakan jalur lembaga sosial dan politik formal sekalipun, di mata Orde Lama masih dianggap ancaman Negara Kesatuan Indonesia, khsusnya terhadap Masyumi.
Di zaman Reformasi yang sudah berusia 10 tahun ini, Gerakan Dakwah masih saja dianggap sebagai bahaya laten. Padahal sejarah mencatat, sejeak dari kemerdekanan 1945, menjatuhkan Orde lama dan Orde Bariu, Gerakan Dakwah dengan segala macam kelemahan dan kelebihannya, memiliki peran yang amat besar.
Sebagaimana di zaman Orde Lama dan Orde Baru, di Era Reformasi ini berbagai rekayasapun diluncurkan terhadap Gerakan Dakwah. Rekayasai tersebut semakin kuat. Ada yang diangkat melalui isu lokal seperti GAM (Gerakan Anti Maulid), ancaman bagi kaum minoritas dan sebagainya, serta ada pula bersifat menglobal seperti tuduhan terorisme yang digulirkan Presiden Amerika Gerge W. Bush dan kawannya serta Gerakan Transnasional yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam dari luar Islam.
Isu-isu tersebut telah berhasil menggiring opini sebagian besar umat dan juga sebagain tokoh orams Islam besar di negeri ini dalam rangka mencurigai berbagai Gerakan Dakwah yang muncul. Penulis sempat melihat video ceramah salah seorang pimpinan ormas dan dakwah Islam terbesar di Negeri ini yang sedang meprovokasi umat dan ulama agar mewaspadai dan menghambat lajunya pertumbuhan Gerakan Dakwah Kontemporer yang mereka tuduh sebagai GerakanTrans Nasional yang akan menggilas Gerakan Dakwah Tradisional. Penlis juga sempat mengetahuai adanya SK Ketua Umum salah satau ormal Islam ternama untuk menggusur semua pengurus Masjid atau gerakan kepemudaan Islam yang disinyalir berasal dari Gerakan Dakwah yang mereka namakan dengan Gerakan Trans Nasional.
Untuk meyakinkan semua umat maniusia kepada kebenaran Islam memang sesuatu yang mustahil. Tapi meyakinkan umat Islam terhadap kebenaran semua ajaran agama mereka, baik yang terkait dengan indivisu, social maupun Negara dan pemerintaham, merupakan PR (Kekerjaan Gumah) Gerakan Dakwah Masa Depan, kendati tidak ada jaminan 100 % kaum Muslim mau dengan ikhlas menerima Islam sebagai manhajul hayah (konsep hidup) dan memenej semua aspek kehidupan.
Pertanyaannya adalah : Kenapa umat Islam sendiri kehilangan kepercayaan pada agama mereka sendiri? Penyebabnya tentulah banyak. Di antaranya, kurangnya kepahaman mereka terhadap Islam sebagai akibat deislamisasi yang dilakukan penjajahan Kolonial Eropa selama menjajah negeri-negeri Islam, tak terkecuali kawasan Nusantara ini. Deislamisasi tersebut sudah menggurita dengan kuat berpuluh-puluh tahun lamanya dalam bentuk sistem, perundang-undangan, pendidikan, budaya dan media massa. Bayangkan, betapa beratnya beban dan pekerjaan Gerakan Dakwah untuk meyakinkan kembali umat ini kepada kebenaran ajaran Islam.
Satu hal yang perlu dicatat ialah, jika aktivisnya mengelami krisis kepercayaan pada qiyadah (pememimpin) mereka dan begitu pula dengan sesama Gerakan Dakwah jiuga mengalami krisis kepercayaan, bagaimana mungkin Gerakan Dakwah mampu menanamkan keprcayaan pada para pemimpin atau penguasa negeri-negeri Islam serta masyarakat Muslim yang masih belum yakin pada syumuliyatul Islam (komprehesnivitas Islam)? Apalagi jika mereka melihat para tokoh Gerakan Dakwah masih suka dan tertipu oleh kemilau duniawi yang menjadi tujuan hidup matinya para penguasa.
Kondisi Objektif Gerakan Dakwah Saat Ini (7)
Kondisi Objektif Gerakan Dakwah Saat Ini (7)
Senin, 04/01/2010 10:58 WIB | Arsip | Cetak
10. Krisis Manajemen
Di antara krisis yang yang sedang menimpa Gerakan Dakwa masa kini adalah krisis manajemen. Krisis manajemen ini sepertinya bukan monopoli Gerakan Dakwah saja, akan tetapi menimpa hamper semua lapangan kehidupan umat. Lihat saja manajemen masjid, yayasan sosial, pendidikan termasuk pesantren, perusahaan, khususnya BUMN dan bahkan pemerintahan yang dipimpin oleh kaum Muslimin, kebanyakannya dijalankan jauh dari nilai-nila dan prinsip-prinsip manajemen. Anehnya, di belahan bumi sana, lembaga atau isntitusi serta negara yang hanya memiliki motif duniawi yang dijalankan oleh non Muslim malah terlihat mampu menerapkan prinsip-prinsip manajemen dengan baik, kendati hanya dari sisi sunnah kauniyah (sisitem alam) Allah.
Sebab itu, penulis selalu bertanya dalam diri: Kapan Gerakan Dakwah bisa dikelola dengan manajemen yang baik berdasarkan nilai-nilai syar’i dan juga sekali gus dengan sunnah kahniyah Allah? Kapan perushaan-perusahaan kaum Mulislimin, khususnya di Indonesia maju tanpa RKKN (risyawah -sogok menyogok-, korupsi, kolusi dan nepotisme)? Kapan lembaga-lembaga pendidikan umat maju dan berkembang sehingga mampu melahirkan generasi terbaik sebagaimana generasi umat Islam terdahulu?
Kapan pemerintahan yang ada di tangan kaum Muslimin kembali kepada nilai-nilai Islam secara kaffah agar merdeka dari pengaruh dan hegemoni asing dan menjadi neggara kesatuan raksasa serta maju dalam segala lapangan kehidupan, baik moril, materil dan ilmu pengetahuan? Dan masih banyak lagi pertanyaan mendasar lainnya yang perlu selalui kita pertanyakan terhadap diri kita masing-masing.
Secara logika sehat, Gerakan Dakwah dan apa saja yang terkait masyruk (proyek) keislaman sangat mungkin dimenej dan dikelola jauh lebih baik dari lembaga, institusi atau negara yang hanya bermotifkan duniawi. Karena target Gerakan Dakwah dan apa saja aktivitas Islam adalah untuk mencapai ridaha Allah dengan kompensai kesuksesan tanpa batas (Syurga) di akhirat kelak, bukan mencari berbagai kenikmatan dunia yang tidak lebih dari sekedar sarana, bukan tujuan dan konsentrasi hidup. Karena dunia dan seisinya - yang menjadi tujuan dan konsentrasi hidup masnusia yang tidak beriman- tidak lebih kesenangan sedikit dan itupun hanya dapat dinikmati sekian tahun saja, yakni sampai kematian tiba. Dalam konteks ini, puluhan ayat da hadits Rasul Saw memaparkan dengan begitu indah dan visual. Di antaranya seperti pfirman Allah berikut :
لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ فِي الْبِلاَدِ ﴿١٩٦﴾
مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ﴿١٩٧﴾
لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْاْ رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلاً مِّنْ عِندِ اللّهِ وَمَا عِندَ اللّهِ خَيْرٌ لِّلأَبْرَارِ ﴿١٩٨﴾
Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan (mobilitas tinggi terkait duniawi) orang-orang kafir (yag bergerak) di seluruh negeri (196). Itu hanyalah kesenagan (sedikit) yang sementara, kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kemabali (197) Akan tetapi, orang-orang beriman yang bertakwa kepada Tuhan Pencipta mereka, bagi mereka pasti mendapat syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beracam-macam sungai. Mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (karunia) dari Allah. Dan apa saja yang ada di sisi Alallah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (secara totalitas di jalan Allah) (198). Q.S. Ali-Imran : 196 – 198).
Sejarah membuktikan, ketika umat ini mampu berdakwah dan berjihad dengan paradigma berfikir yang lurus yang dilandasi filosofi hidup yang benar, yakni saat mereka mampu menjadikan Allah hanya tujuan, Rasulullah contoh tauladan, Al-Qur’an sebagai hidayah (petunjuk hidup), jihad fi sabil;illah sebagai jalan hidup dan mati di jalan Allah adalah cita-cita yang paling mulia, mereka berhasil memenej dakwah dan jihad dengan sangat professional sehingga mampu menguasai lebih dari separuh dunia, seperti yang terjadi di zaman Khulafaurrasyidin dan sampai zaman Khilfah Islamiyah Utsmaniyah 1924. Sebaliknya, ketika filosofi dan ghoyah (tujuan) hidup mereka menyimpang dan paradigma berfikir mereka melenceng, maka saat itu pula mereka mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan mememenj dakwah dan jihad sehingga mereka kehilangan banyak kebaikan dunia dan dikhawatirkan kehilangan keselamatan dan kebahagiaan akhirat yang menjadi tempat kembali nan kekal dan abadi.
Dalam konteks ini, Allah sebagai Pencipta kita, sellau mengingingatkan kita agar sampai ke tujuan utama dan yang terutama dan mewanti-wanti kita agar tidak menyimpang dari jalan lurus-Nya dan sampai ke tujuan akhir, yakni bertemu Allah di syurga-Nya.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan sesunggunya ini (Islam) adalah jalan-Ku dalam keadaan lurus, maka ikutilah olehmu dan jangan sekali-kali kalian mengikuti jalan-jalan itu (selain jalan Islam, termasuk Islam dengan pemahaman yang tidak lurus) maka kalian akan telepas dari jalannya (Islam yang lurus). Demikian itu adalah wasiat Dia (Allah) yang mewasiatknyaan kepada kalian semua agar kalian bertakwa (Q.S. Al-An’am / 6 : 153)
Terkait ayat tersebut, Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan sebuah hadith Rasul Saw. yang terkait ayat tersebut sebagai berikut :
Rasulullah Saw. Menggaris dengan tangannya kemudian berkata : Yang ini adalah Jalan Allah dalam keadaan lurus. Berkata Perawi : Kemudian Beliau membuat garis ke arah kanan dan kirinya (garis luris tersebut), kemudian Beliau berkata : Jalan-jalan ini tidak ada kecuali syetan memanggil kepadanya. Kemudian Beliau memaba acat : “Dan sesunggunya ini (Islam) adalah jalan-Ku dalam keadaan lurus, maka ikutilah olehmu dan jangan sekali-kali kalian mengikuti jalan-jalan itu (selain pemahaman Islam yang benar)…”. (Riwayat Imam Ahmad)
Untuk membuktikan Gerakan Dakwah sedang mengalami krisi manajamen tidaklah sulit. Di antaranya, saat aroma KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) telah tercium, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami krisis manajemen. Jika kultus terhadap pemimpin sudah begitu nyata, sehingga tidak ada lagi yang berani menasehatinya dari berbagai kekeliruan yang dilakukan sang pemipin, ditambah lagi dengan menerapkan prinsi like & dislike dalam menjalankan kepemimpinannya, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami krisis manajemen fatal. Krisis tersebut akan semakin parah saat pemimpin sudah dilihat dan dianggap bagaikan wali, bahkan nabi yang mengetahui segala sesuatu, serta harus ditaati dalam segala hal, tanpa ada yang boleh mengkritisinya, apalagi meluruskannya, sehingga menjadi manusia untouchable (tak tersentuh) oleh hukun dan aturan, kendati oleh hukum Allah dan Rasul-Nya, apalagi oleh nasehat dan kritik bawahannya.
Bila prinsip-prinsip manajemen sudah dilanggar seperti, syura, the right man on the right place, desentralisasi qiyadah, amanh, kejujuran, ‘iffah (menjaga kesucian diri danjiwah), tanggung jawab, proaktif, rendah hati, amanah, jujur, bekerja tidak lagi berdasarlan awlwiyyat (prioritas) yang dikaji secara mendalam dan sebaganya dan beraktivitas dakwah hanya terfokus kepada satu atau beberapa cabangnya saja, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami krisis manajemen.
Jika Gerakan Dakwah tidak lagi mementingkan kualitas, tapi lebih tergoda menghabiskan semua energi untuk mengejar kuwantitas, berfikir jangka pendek, pragmatis, kepentingan duniawi, maka itu adalah pertanda Gerakan Dakwah sedang mengidap penyakit krisis manajemen, kendati semua itu dibalut dengan baju dakwah, fiqhuddakwah, fiqhul aulawiyat, fiqhul muwazanah (fikih analisis/timbangan), marhalahdakwah, mihwar siasi, mihwar dauli dan sedertan instilah mentereng lainnya yang disalah pahamkan.
Ketika para pemimpin Gerakan Dakwah sibuk memiklirkan kapitalisasi dakwah (baca: mengumpulkan keuntungan matreri untuk pribadi mereka), dengan mengoptimalkan semua kemampuan kader, baik yang miskin mapun yang mampu, dalam mengumpulkan dana dari dalam organisasi sendiri, dari simpatisan maupun dari politisi yang akn dijadikan partner Pilkada, Pemilu, Pilpres, direksi BUMN dan sebagainya, kendati dengan melegalisasi hal-hal yang menyerempet haram dan syubhat dengan bungkus kepentingan dakwah dan sebagainya dan pada saat yang sama, myoritas anggota/kader, simpatisan dan masyarakat lainnya sedang tidak berdaya dalam bidang ekonomi, ilmu, pendidikan, kesehatan dan sebagainya, diabaikan begitu saja, ketika itulah Gerakan Dakwah sedang sakit parah yang bernama mismanagement (salah urus).
Ketika Gerakan Dakwah tidak lagi melakukan kaderisasi (tarbiyah), optimalisasi potensi diri kader dan para aktivisnya sehingga mereka hidup bardikari (independen) dalam ekonomi, berkualitas dalam sisi spiritual (keimanan), ilmu, amal dan akhlak dan juga melupakan pengkaderan calon-calon para mentor (murabby) yang handal serta meninggalkan aktivitas peningkatan kualitas para pemimpin dan tokoh dakwah yang sudah memasuki ranah aplikasi kehidupan secara luas speerti di bidang politik, ekonomi, da’wah ammah dan tokoh-tokoh informal lainya, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami miss manejemen (krisi manajemen) yang amat hebat.
Bila Gerakan Dakwah tidak mau bekerja keras untuk berkonsentrasi pada pembentukan watak dan kperibadian independen kader, pemimpin dan organisasi, khususnya terkait ekono, dan lebih tergiur untuk meminta-minta kepada konglomerat atau siapa saja yang punya uang dengan dalih pembiyaan dakwah, kendati sama-sama tau sumber umangnya tidak jelas (syubhat), dan mungkin saja haram serta dengan kompensasi dukungan memperoloh kepemimpinan BUMN, kepala Daerah, kepala Negara dan berbagai jabatan lainnya, maka saar itulah Gerakan Dakwah sedang sakit keras disebabkan penyakit mismanagement.
Mudah untuk diprediksi ke deppan, Gerakan Dakwah seperti itu akan mengalami kegoncongangan yang sangat dahsyat disebabkan gejolok dan percaturan duniawi yang sedang menggerogoti tubuhnya, paling tidak di tingkat elitenya. Memang dalam kondisi tertentu bisa kegincangan itu tidak dirasakan oleh kebanyakan para aktivis dakwah, mungkin karena tidak mengerti akan permasalahan yang sebenranya karena selalu ditutupi para pemimpinnya dengan enam istilah sayr’i yang sudah dijelaskan sebelumnya, atau karena punya kepentingan duniawi yang sama (oportunis), atau karena takut membahasnya, atau karena mencari aman dan tidak mau memikirkannya apalagi mencari solusinya dengan dalih: itumah urusan yang di atas, mereka lebih berilmu dan berpengalaman dan tanggungjawabnya ada pada mereka, kita hanya bekerja saja, atau karena berbagai alasan lain.
Krisis mismanagement (salah urus) dan juga berbagai krisis lain yang menimpa Gerakan Dawkah saat ini adalah bom waktu yang menunggu meledaknya saja. Kalaupun tidak meledak sehingga Gerakan Dakwah hancur berkeping-keping sebagaimana yang terjadi pada berbagai Gerakan Dakwah baik di negeri ini maupun di negeri Muslim lainnya, paling tidak akan mengakibatkan kelumpuhan Gerakan Dakwah itu sendiri sehingga tidak dapat lagi dijadikan sebagai sebuah harapan besar dalam melakukan perubahan-perubahan fundamental dan menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, apalagi dalam tatanan dunia global yang lebih rumit dan lebih keras labi.
Terkait krisis-krisis yang sedang meinmpa Gerakan Dakwah saat ini, penulis sering ditanya dengan sebuah pertanyaan yang simpel, tapi tajam : Masih adakah harapan berbagai Gerakan Dakwah saat ini? Jawaban yang paling jujur dan obyektif adalah : may be yes, may be no. Artinya. Karena, kemungkinan harapan itu sama besarnya dengan kemungkin hilnganya harapan. Berbagai krisis tersebut bahkan bisa menadi modal dasar untuk merancang dan mendesain Gerakan Dawak yang lebih baik dan lebih prospek dan lebih efektifit dari situasi dan kondisi sekarang sehingg benar-benar berubah menjadai Gerakan Dakwah yang penuh harapan. Namun kata kuncinya ada di tangan para pemimpin dan aktivis Dakwah itu sendiri. Perbaikan dan penyelesaian berbagai krisis tersebiut, apalagi perubahannya menjadi Berakan Dakwah yang lebih prospek di masa mendatang tidak akan turun dari langi begitu saja, karena whyu Allah yang tirun dari langit sudah menjelaskan kata kunci dan metodenya kepada kita sebagaimana firman Allah berikut :
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang menjaganya berkeliaran dari hadapan dan dibelakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan (kelemahan) yang ada dalam diri merka. Dan apabila Allah mengehndaki keburukan bagi suatu kaum, maka tida adan yang dapat menolaknya dan tidak ada bagi mereka pelindung apapun dari selain Allah. (Q.S. Arro’d /13 : 11) Tamat
Senin, 04/01/2010 10:58 WIB | Arsip | Cetak
10. Krisis Manajemen
Di antara krisis yang yang sedang menimpa Gerakan Dakwa masa kini adalah krisis manajemen. Krisis manajemen ini sepertinya bukan monopoli Gerakan Dakwah saja, akan tetapi menimpa hamper semua lapangan kehidupan umat. Lihat saja manajemen masjid, yayasan sosial, pendidikan termasuk pesantren, perusahaan, khususnya BUMN dan bahkan pemerintahan yang dipimpin oleh kaum Muslimin, kebanyakannya dijalankan jauh dari nilai-nila dan prinsip-prinsip manajemen. Anehnya, di belahan bumi sana, lembaga atau isntitusi serta negara yang hanya memiliki motif duniawi yang dijalankan oleh non Muslim malah terlihat mampu menerapkan prinsip-prinsip manajemen dengan baik, kendati hanya dari sisi sunnah kauniyah (sisitem alam) Allah.
Sebab itu, penulis selalu bertanya dalam diri: Kapan Gerakan Dakwah bisa dikelola dengan manajemen yang baik berdasarkan nilai-nilai syar’i dan juga sekali gus dengan sunnah kahniyah Allah? Kapan perushaan-perusahaan kaum Mulislimin, khususnya di Indonesia maju tanpa RKKN (risyawah -sogok menyogok-, korupsi, kolusi dan nepotisme)? Kapan lembaga-lembaga pendidikan umat maju dan berkembang sehingga mampu melahirkan generasi terbaik sebagaimana generasi umat Islam terdahulu?
Kapan pemerintahan yang ada di tangan kaum Muslimin kembali kepada nilai-nilai Islam secara kaffah agar merdeka dari pengaruh dan hegemoni asing dan menjadi neggara kesatuan raksasa serta maju dalam segala lapangan kehidupan, baik moril, materil dan ilmu pengetahuan? Dan masih banyak lagi pertanyaan mendasar lainnya yang perlu selalui kita pertanyakan terhadap diri kita masing-masing.
Secara logika sehat, Gerakan Dakwah dan apa saja yang terkait masyruk (proyek) keislaman sangat mungkin dimenej dan dikelola jauh lebih baik dari lembaga, institusi atau negara yang hanya bermotifkan duniawi. Karena target Gerakan Dakwah dan apa saja aktivitas Islam adalah untuk mencapai ridaha Allah dengan kompensai kesuksesan tanpa batas (Syurga) di akhirat kelak, bukan mencari berbagai kenikmatan dunia yang tidak lebih dari sekedar sarana, bukan tujuan dan konsentrasi hidup. Karena dunia dan seisinya - yang menjadi tujuan dan konsentrasi hidup masnusia yang tidak beriman- tidak lebih kesenangan sedikit dan itupun hanya dapat dinikmati sekian tahun saja, yakni sampai kematian tiba. Dalam konteks ini, puluhan ayat da hadits Rasul Saw memaparkan dengan begitu indah dan visual. Di antaranya seperti pfirman Allah berikut :
لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ فِي الْبِلاَدِ ﴿١٩٦﴾
مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ﴿١٩٧﴾
لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْاْ رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلاً مِّنْ عِندِ اللّهِ وَمَا عِندَ اللّهِ خَيْرٌ لِّلأَبْرَارِ ﴿١٩٨﴾
Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan (mobilitas tinggi terkait duniawi) orang-orang kafir (yag bergerak) di seluruh negeri (196). Itu hanyalah kesenagan (sedikit) yang sementara, kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kemabali (197) Akan tetapi, orang-orang beriman yang bertakwa kepada Tuhan Pencipta mereka, bagi mereka pasti mendapat syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beracam-macam sungai. Mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (karunia) dari Allah. Dan apa saja yang ada di sisi Alallah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (secara totalitas di jalan Allah) (198). Q.S. Ali-Imran : 196 – 198).
Sejarah membuktikan, ketika umat ini mampu berdakwah dan berjihad dengan paradigma berfikir yang lurus yang dilandasi filosofi hidup yang benar, yakni saat mereka mampu menjadikan Allah hanya tujuan, Rasulullah contoh tauladan, Al-Qur’an sebagai hidayah (petunjuk hidup), jihad fi sabil;illah sebagai jalan hidup dan mati di jalan Allah adalah cita-cita yang paling mulia, mereka berhasil memenej dakwah dan jihad dengan sangat professional sehingga mampu menguasai lebih dari separuh dunia, seperti yang terjadi di zaman Khulafaurrasyidin dan sampai zaman Khilfah Islamiyah Utsmaniyah 1924. Sebaliknya, ketika filosofi dan ghoyah (tujuan) hidup mereka menyimpang dan paradigma berfikir mereka melenceng, maka saat itu pula mereka mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan mememenj dakwah dan jihad sehingga mereka kehilangan banyak kebaikan dunia dan dikhawatirkan kehilangan keselamatan dan kebahagiaan akhirat yang menjadi tempat kembali nan kekal dan abadi.
Dalam konteks ini, Allah sebagai Pencipta kita, sellau mengingingatkan kita agar sampai ke tujuan utama dan yang terutama dan mewanti-wanti kita agar tidak menyimpang dari jalan lurus-Nya dan sampai ke tujuan akhir, yakni bertemu Allah di syurga-Nya.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan sesunggunya ini (Islam) adalah jalan-Ku dalam keadaan lurus, maka ikutilah olehmu dan jangan sekali-kali kalian mengikuti jalan-jalan itu (selain jalan Islam, termasuk Islam dengan pemahaman yang tidak lurus) maka kalian akan telepas dari jalannya (Islam yang lurus). Demikian itu adalah wasiat Dia (Allah) yang mewasiatknyaan kepada kalian semua agar kalian bertakwa (Q.S. Al-An’am / 6 : 153)
Terkait ayat tersebut, Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan sebuah hadith Rasul Saw. yang terkait ayat tersebut sebagai berikut :
Rasulullah Saw. Menggaris dengan tangannya kemudian berkata : Yang ini adalah Jalan Allah dalam keadaan lurus. Berkata Perawi : Kemudian Beliau membuat garis ke arah kanan dan kirinya (garis luris tersebut), kemudian Beliau berkata : Jalan-jalan ini tidak ada kecuali syetan memanggil kepadanya. Kemudian Beliau memaba acat : “Dan sesunggunya ini (Islam) adalah jalan-Ku dalam keadaan lurus, maka ikutilah olehmu dan jangan sekali-kali kalian mengikuti jalan-jalan itu (selain pemahaman Islam yang benar)…”. (Riwayat Imam Ahmad)
Untuk membuktikan Gerakan Dakwah sedang mengalami krisi manajamen tidaklah sulit. Di antaranya, saat aroma KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) telah tercium, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami krisis manajemen. Jika kultus terhadap pemimpin sudah begitu nyata, sehingga tidak ada lagi yang berani menasehatinya dari berbagai kekeliruan yang dilakukan sang pemipin, ditambah lagi dengan menerapkan prinsi like & dislike dalam menjalankan kepemimpinannya, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami krisis manajemen fatal. Krisis tersebut akan semakin parah saat pemimpin sudah dilihat dan dianggap bagaikan wali, bahkan nabi yang mengetahui segala sesuatu, serta harus ditaati dalam segala hal, tanpa ada yang boleh mengkritisinya, apalagi meluruskannya, sehingga menjadi manusia untouchable (tak tersentuh) oleh hukun dan aturan, kendati oleh hukum Allah dan Rasul-Nya, apalagi oleh nasehat dan kritik bawahannya.
Bila prinsip-prinsip manajemen sudah dilanggar seperti, syura, the right man on the right place, desentralisasi qiyadah, amanh, kejujuran, ‘iffah (menjaga kesucian diri danjiwah), tanggung jawab, proaktif, rendah hati, amanah, jujur, bekerja tidak lagi berdasarlan awlwiyyat (prioritas) yang dikaji secara mendalam dan sebaganya dan beraktivitas dakwah hanya terfokus kepada satu atau beberapa cabangnya saja, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami krisis manajemen.
Jika Gerakan Dakwah tidak lagi mementingkan kualitas, tapi lebih tergoda menghabiskan semua energi untuk mengejar kuwantitas, berfikir jangka pendek, pragmatis, kepentingan duniawi, maka itu adalah pertanda Gerakan Dakwah sedang mengidap penyakit krisis manajemen, kendati semua itu dibalut dengan baju dakwah, fiqhuddakwah, fiqhul aulawiyat, fiqhul muwazanah (fikih analisis/timbangan), marhalahdakwah, mihwar siasi, mihwar dauli dan sedertan instilah mentereng lainnya yang disalah pahamkan.
Ketika para pemimpin Gerakan Dakwah sibuk memiklirkan kapitalisasi dakwah (baca: mengumpulkan keuntungan matreri untuk pribadi mereka), dengan mengoptimalkan semua kemampuan kader, baik yang miskin mapun yang mampu, dalam mengumpulkan dana dari dalam organisasi sendiri, dari simpatisan maupun dari politisi yang akn dijadikan partner Pilkada, Pemilu, Pilpres, direksi BUMN dan sebagainya, kendati dengan melegalisasi hal-hal yang menyerempet haram dan syubhat dengan bungkus kepentingan dakwah dan sebagainya dan pada saat yang sama, myoritas anggota/kader, simpatisan dan masyarakat lainnya sedang tidak berdaya dalam bidang ekonomi, ilmu, pendidikan, kesehatan dan sebagainya, diabaikan begitu saja, ketika itulah Gerakan Dakwah sedang sakit parah yang bernama mismanagement (salah urus).
Ketika Gerakan Dakwah tidak lagi melakukan kaderisasi (tarbiyah), optimalisasi potensi diri kader dan para aktivisnya sehingga mereka hidup bardikari (independen) dalam ekonomi, berkualitas dalam sisi spiritual (keimanan), ilmu, amal dan akhlak dan juga melupakan pengkaderan calon-calon para mentor (murabby) yang handal serta meninggalkan aktivitas peningkatan kualitas para pemimpin dan tokoh dakwah yang sudah memasuki ranah aplikasi kehidupan secara luas speerti di bidang politik, ekonomi, da’wah ammah dan tokoh-tokoh informal lainya, berarti Gerakan Dakwah sedang mengalami miss manejemen (krisi manajemen) yang amat hebat.
Bila Gerakan Dakwah tidak mau bekerja keras untuk berkonsentrasi pada pembentukan watak dan kperibadian independen kader, pemimpin dan organisasi, khususnya terkait ekono, dan lebih tergiur untuk meminta-minta kepada konglomerat atau siapa saja yang punya uang dengan dalih pembiyaan dakwah, kendati sama-sama tau sumber umangnya tidak jelas (syubhat), dan mungkin saja haram serta dengan kompensasi dukungan memperoloh kepemimpinan BUMN, kepala Daerah, kepala Negara dan berbagai jabatan lainnya, maka saar itulah Gerakan Dakwah sedang sakit keras disebabkan penyakit mismanagement.
Mudah untuk diprediksi ke deppan, Gerakan Dakwah seperti itu akan mengalami kegoncongangan yang sangat dahsyat disebabkan gejolok dan percaturan duniawi yang sedang menggerogoti tubuhnya, paling tidak di tingkat elitenya. Memang dalam kondisi tertentu bisa kegincangan itu tidak dirasakan oleh kebanyakan para aktivis dakwah, mungkin karena tidak mengerti akan permasalahan yang sebenranya karena selalu ditutupi para pemimpinnya dengan enam istilah sayr’i yang sudah dijelaskan sebelumnya, atau karena punya kepentingan duniawi yang sama (oportunis), atau karena takut membahasnya, atau karena mencari aman dan tidak mau memikirkannya apalagi mencari solusinya dengan dalih: itumah urusan yang di atas, mereka lebih berilmu dan berpengalaman dan tanggungjawabnya ada pada mereka, kita hanya bekerja saja, atau karena berbagai alasan lain.
Krisis mismanagement (salah urus) dan juga berbagai krisis lain yang menimpa Gerakan Dawkah saat ini adalah bom waktu yang menunggu meledaknya saja. Kalaupun tidak meledak sehingga Gerakan Dakwah hancur berkeping-keping sebagaimana yang terjadi pada berbagai Gerakan Dakwah baik di negeri ini maupun di negeri Muslim lainnya, paling tidak akan mengakibatkan kelumpuhan Gerakan Dakwah itu sendiri sehingga tidak dapat lagi dijadikan sebagai sebuah harapan besar dalam melakukan perubahan-perubahan fundamental dan menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, apalagi dalam tatanan dunia global yang lebih rumit dan lebih keras labi.
Terkait krisis-krisis yang sedang meinmpa Gerakan Dakwah saat ini, penulis sering ditanya dengan sebuah pertanyaan yang simpel, tapi tajam : Masih adakah harapan berbagai Gerakan Dakwah saat ini? Jawaban yang paling jujur dan obyektif adalah : may be yes, may be no. Artinya. Karena, kemungkinan harapan itu sama besarnya dengan kemungkin hilnganya harapan. Berbagai krisis tersebut bahkan bisa menadi modal dasar untuk merancang dan mendesain Gerakan Dawak yang lebih baik dan lebih prospek dan lebih efektifit dari situasi dan kondisi sekarang sehingg benar-benar berubah menjadai Gerakan Dakwah yang penuh harapan. Namun kata kuncinya ada di tangan para pemimpin dan aktivis Dakwah itu sendiri. Perbaikan dan penyelesaian berbagai krisis tersebiut, apalagi perubahannya menjadi Berakan Dakwah yang lebih prospek di masa mendatang tidak akan turun dari langi begitu saja, karena whyu Allah yang tirun dari langit sudah menjelaskan kata kunci dan metodenya kepada kita sebagaimana firman Allah berikut :
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang menjaganya berkeliaran dari hadapan dan dibelakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan (kelemahan) yang ada dalam diri merka. Dan apabila Allah mengehndaki keburukan bagi suatu kaum, maka tida adan yang dapat menolaknya dan tidak ada bagi mereka pelindung apapun dari selain Allah. (Q.S. Arro’d /13 : 11) Tamat
“Taqwa”
Kata “Taqwa” berasal dari kata “Wiqoyah” jika dikatakan waqoo asy Syai’i, waqyan, wiqoyatan dan waaqiyatan berarti Shoonahu atau menjaganya.
Ibnu Manzhur mengatakan bahwa huruf “Ta” pada kata “Taqwa” merupakan badal (pengganti) dari huruf “Waw” sedangkan huruf “Waw” merupakan badal (pengganti) dari huruf “Ya”. Didalam al Qur’an disebutkan :
وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
Maknanya adalah balasan ketaqwaan mereka. Ada juga yang mengatakan maknanya adalah Allah telah menganugerahkan kepada mereka ketaqwaan. (Lisan al Arab 15/ 401)
Sementara itu ar Raghib al Asfahani mengatakan bahwa wiqoyah asy Syai’i adalah menjaga sesuatu dari segala yang bisa menyakiti atau mencelakakannya. Firman Allah swt :
فَوَقَاهُمُ اللَّهُ
Artinya : “Maka Allah memelihara mereka.” (QS. Al Insan : 11)
وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ
Artinya : “Dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.” (QS. Al Ahzab : 34)
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya : “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tharim : 6)
Kemudian ar Raghib mengatakan bahwa taqwa didalam definisi syariat bermakna menjaga diri terhadap hal-hal yang mengandung dosa, yaitu dengan meninggalkan apa-apa yang diharamkan dan hal itu disempurnakan dengan meninggalkan sebagaian yang mubah (dibolehkan) sebagaimana diriwayatkan, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Dan barangsiapa yang menggembalakan (kambing) di sekitar daerah larangan maka dia bisa terjatuh didalamnya.”
Firman Allah swt :
فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (35)
Artinya : “Maka Barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al A’raf : 35)—(Mufrodat Ghaarib al Qur’an 1/531)
Dan apa yang disebutkan oleh KH. Zaenudin MZ—semoga Allah merahmatinya—tentang pengertian taqwa yang diambil dari huruf-huruf yang dikandungnya, yaitu huruf “Ta” (bukan “Tho”) adalah Tawadhu, huruf “Qaf” adalah Qona’ah, begitu pula terhadap huruf “Waw” dan “Ya” maka—Allahu A’lam—saya tidak mengetahui dari mana sumbernya.
Akan tetapi sebagaimana lazimnya didalam sebuah pendefinisian terhadap sesuatu didalam syariat (terminologi) maka para ulama mendasarkannya kepada makna bahasa (etimologi) bukan berdasarkan kepada huruf-huruf yang ada dikandungannya.
Dan jika kita merujuk kepada setiap kamus bahasa arab tentang kata “Taqwa” maka ia kembali kepada kata “Waqo, Wiqoyatan” yang berarti menjaga dan memelihara diri dari sesuatu yang ditakutinya.
Dan berbagai definisi para ulama tentang taqwa berada di seputar kata “takut” yaitu suatu perasaan (emosi) yang mendorong seseorang untuk melakukan pemeliharaan diri dari sesuatu yang bisa membahayakan atau menyakitinya.
Diantara pengertian taqwa yang diberikan para ulama—selain yang diungkapkan ar Raghib diatas—adalah :
Imam Ali bin Abi Thalib berkata,”Taqwa adalah takut kepada Yang Maha Perkasa, mengamalkan al Qur’an, qanaah dengan yang sedikit dan mempersiapkan hari perpindahan (dari dunia ke alam akherat).”
Sedangkan Ibnu Rajab berkata,”.. Taqwa seorang hamba kepada Allah adalah menjadikan antara dirinya dengan apa-apa ditakutinya dari Allah swt, seperti murka-Nya, kemarahan-Nya, siksa-Nya sebuah pemeliharaan yang melindunginya dari itu semua yaitu dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.”
Thalq bin Habib mengatakan,”Taqwa adalah beramal taat kepada Allah diatas nur dari Allah dengan mengharapkan pahala Allah serta meninggalkan maksiat terhadap Allah diatas nur dari Allah dengan perasaan takut terhadap adzab Allah.”
Wallahu A’lam
Ibnu Manzhur mengatakan bahwa huruf “Ta” pada kata “Taqwa” merupakan badal (pengganti) dari huruf “Waw” sedangkan huruf “Waw” merupakan badal (pengganti) dari huruf “Ya”. Didalam al Qur’an disebutkan :
وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
Maknanya adalah balasan ketaqwaan mereka. Ada juga yang mengatakan maknanya adalah Allah telah menganugerahkan kepada mereka ketaqwaan. (Lisan al Arab 15/ 401)
Sementara itu ar Raghib al Asfahani mengatakan bahwa wiqoyah asy Syai’i adalah menjaga sesuatu dari segala yang bisa menyakiti atau mencelakakannya. Firman Allah swt :
فَوَقَاهُمُ اللَّهُ
Artinya : “Maka Allah memelihara mereka.” (QS. Al Insan : 11)
وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ
Artinya : “Dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.” (QS. Al Ahzab : 34)
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya : “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tharim : 6)
Kemudian ar Raghib mengatakan bahwa taqwa didalam definisi syariat bermakna menjaga diri terhadap hal-hal yang mengandung dosa, yaitu dengan meninggalkan apa-apa yang diharamkan dan hal itu disempurnakan dengan meninggalkan sebagaian yang mubah (dibolehkan) sebagaimana diriwayatkan, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Dan barangsiapa yang menggembalakan (kambing) di sekitar daerah larangan maka dia bisa terjatuh didalamnya.”
Firman Allah swt :
فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (35)
Artinya : “Maka Barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al A’raf : 35)—(Mufrodat Ghaarib al Qur’an 1/531)
Dan apa yang disebutkan oleh KH. Zaenudin MZ—semoga Allah merahmatinya—tentang pengertian taqwa yang diambil dari huruf-huruf yang dikandungnya, yaitu huruf “Ta” (bukan “Tho”) adalah Tawadhu, huruf “Qaf” adalah Qona’ah, begitu pula terhadap huruf “Waw” dan “Ya” maka—Allahu A’lam—saya tidak mengetahui dari mana sumbernya.
Akan tetapi sebagaimana lazimnya didalam sebuah pendefinisian terhadap sesuatu didalam syariat (terminologi) maka para ulama mendasarkannya kepada makna bahasa (etimologi) bukan berdasarkan kepada huruf-huruf yang ada dikandungannya.
Dan jika kita merujuk kepada setiap kamus bahasa arab tentang kata “Taqwa” maka ia kembali kepada kata “Waqo, Wiqoyatan” yang berarti menjaga dan memelihara diri dari sesuatu yang ditakutinya.
Dan berbagai definisi para ulama tentang taqwa berada di seputar kata “takut” yaitu suatu perasaan (emosi) yang mendorong seseorang untuk melakukan pemeliharaan diri dari sesuatu yang bisa membahayakan atau menyakitinya.
Diantara pengertian taqwa yang diberikan para ulama—selain yang diungkapkan ar Raghib diatas—adalah :
Imam Ali bin Abi Thalib berkata,”Taqwa adalah takut kepada Yang Maha Perkasa, mengamalkan al Qur’an, qanaah dengan yang sedikit dan mempersiapkan hari perpindahan (dari dunia ke alam akherat).”
Sedangkan Ibnu Rajab berkata,”.. Taqwa seorang hamba kepada Allah adalah menjadikan antara dirinya dengan apa-apa ditakutinya dari Allah swt, seperti murka-Nya, kemarahan-Nya, siksa-Nya sebuah pemeliharaan yang melindunginya dari itu semua yaitu dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.”
Thalq bin Habib mengatakan,”Taqwa adalah beramal taat kepada Allah diatas nur dari Allah dengan mengharapkan pahala Allah serta meninggalkan maksiat terhadap Allah diatas nur dari Allah dengan perasaan takut terhadap adzab Allah.”
Wallahu A’lam
Rabu, 10 Agustus 2011
Menghafal Al-Quran, Jalan Terbaik Untuk Memiliki Kecerdasan Yang Integral (Holistik)
Menghafal Al-Quran, Jalan Terbaik Untuk Memiliki Kecerdasan Yang Integral (Holistik)
August 10, 2011
Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar
“Al-Quran adalah kunci kecerdasan integral” ini adalah moto yang selalu Kami ingin sebarkan kepada seluruh kaum muslimin, dengan menghafal Al-Quran maka semua potensi kecerdasan manusia akan terasah, berikut penjelasannya.
Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu
Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.
Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.
Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).
“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah 11).
Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.
Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya ara dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.
Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.
Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan
Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.
Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.
Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.
Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.
August 10, 2011
Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar
“Al-Quran adalah kunci kecerdasan integral” ini adalah moto yang selalu Kami ingin sebarkan kepada seluruh kaum muslimin, dengan menghafal Al-Quran maka semua potensi kecerdasan manusia akan terasah, berikut penjelasannya.
Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu
Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.
Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.
Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).
“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah 11).
Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.
Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya ara dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.
Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.
Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan
Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.
Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.
Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.
Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.
Rabu, 27 Juli 2011
Ritual Tolak Bala’ di Negeri Mayoritas Muslim
وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا [النساء/60، 61]
Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An-Nisaa’ [4] : 60-61)
Kebo-keboan ini bertingkah seperti kerbau lagi kesurupan, diarak untuk membawa sesaji (persembahan untuk syetan) ke tempat yang dituju.
Kebo-keboan ini bertingkah seperti kerbau lagi kesurupan, diarak untuk membawa sesaji (persembahan untuk syetan) ke tempat yang dituju.
BAGI PENDUDUK NEGERI JIRAN yang belum kenal Indonesia, kesan pertama mereka tentang Indonesia adalah sebuah negeri yang terbelakang dan kumuh. Kesan seperti itu sangat wajar, karena ‘duta bangsa’ yang mereka kenali selama ini adalah para tenaga kerja yang umumnya dari pedesaan. Namun, begitu mereka berkesempatan datang ke Indonesia, khususnya Jakarta, mereka sontak terkejut. Karena, kesan terbelakang yang mereka bayangkan semula, justru jauh dari kenyataan.
Di Indonesia, terutama Jakarta dan kota-kota besar lainnya, telah sejak lama berdiri aneka gedung megah perkantoran atau pusat perbelanjaan, termasuk apartemen menengah hingga super mewah, sebagaimana lazim ditemukan di berbagai kota besar dunia. Keterkejutan mereka barangkali tidak sampai di situ saja. Karena, begitu mereka tahu bahwa gedung-gedung yang mewah dan megah tadi, ternyata sebagian besar dimiliki oleh para hoakiao (Cina perantauan) yang umumnya non Muslim.
Mereka akan lebih terkejut lagi manakala menemukan kenyataan, bahwa di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, begitu mudah mengunjungi tempat maksiat, begitu mudah mendapatkan gadis muda sebagai pelacur dengan harga murah, begitu mudah mendapatkan aneka jenis narkoba, begitu mudah mendapatkan mangsa anak-anak di bawah umur untuk dijadikan pemuas syahwat para pengidap phedophilia.
Bagi penduduk jiran yang terlanjur mengenal Indonesia sebagai negeri dengan penduduk mayoritas Muslim, akan dikejutkan lagi oleh kenyataan bahwa di negeri yang mengaku berpaham Ahlussunah wal Jama’ah ini ternyata praktik nikah mut’ah yang haram itu justru diamalkan secara terbuka, bukan karena mereka (para pelaku nikah mut’ah) itu berpaham syi’ah, tetapi karena nikah mut’ah alias kawin kontrak telah dijadikan jalan pintas untuk keluar dari kemiskinan turun temurun.
Masih ada lagi keterkejutan lainnya. Yaitu, manakala mereka menemukan sejumlah fakta bahwa di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini, ternyata praktik syirkiyah dan bid’ah justru diamalkan secara serius seperti amalan syar’iyah. Bahkan oleh sebagian kalangan, amalan syar’iyah tidak begitu diminati karena mereka justru lebih doyan amalan yang tergolong bid’ah dan syirkiyah. Misalnya, ritual tolak bala’.
Ritual Tolak Bala’
Pada dasarnya, ritual tolak bala’ sama sekali bukan ajaran Islam. Namun, oleh sebagian kalangan, ritual ini dikemas dengan berbagai atribut Islam, dan dianggap sebagai muatan lokal yang mewarnai dan memperkaya Islam. Padahal, itu sama saja dengan mencampur-adukkan yang hak dengan yang bathil. Muatan lokal boleh saja, sejauh tidak bertentangan dengan akidah.
Ritual tolak bala’ tidak bisa dikatakan sebagai fenomena kultural semata, karena dalam perspektif Islam, hal itu bertentangan dengan akidah. Selain itu, ritual tolak bala’ justru menjadi syariat agama-agama di luar Islam, seperti Konghucu, Budha, dan sebagainya. Dengan demikian, mempraktekkan ritual tolak bala’, sama saja dengan menjalankan syari’at agama non Islam yang paganis alias berhalais.
Masalahnya, oleh sebagian kalangan, ritual tolak bala’ dipaksakan untuk mendapat tempat terhormat, yaitu diposisikan sebagai tradisi warisan luhur nenek moyang, atau sebagai budaya bangsa yang harus dilestarikan, dan sebagainya. Padahal, ritual-ritual semacam itu selain menguras waktu, tenaga dan biaya, juga bermuatan pembodohan terhadap rakyat kebanyakan bahkan penyesatan yang nyata.
Pemaksaan itu nampaknya berhasil di sebagian kalangan. Sehingga mereka yang sehari-hari mengaku beragama Islam pun, mempraktikkan ritual tolak bala’ yang sarat pembodohan dan syirkiyah (kemusyrikan, dosa paling besar, dan tidak diampuni Allah Ta’ala bila pelakunya meninggal dalam keadaan belum bertaubat) itu.
Sebelum kami uraikan praktek upacara ritual tolak bala’ di berbagai tempat, di sini kami kutipkan hukum ritual semacam itu, dan kami kategorikan dalam hal hukum tumbal dan sesajen. Setelah itu kami kutipkan tentang hukum praktek kemusyrikan.
Hukum Tumbal dan Sesajen dalam Islam
Mempersembahkan kurban yang berarti mengeluarkan sebagian harta dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala(Lihat kitabTaisiirul Kariimir Rahmaanhal. 282), adalah suatu bentuk ibadah besar dan agung yang hanya pantas ditujukan kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya,
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. al-An’aam [6] : 162-163)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar [108] : 2)
Kedua ayat ini menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkurban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih kurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan hal. 228)
Oleh karena itu, maka mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (baik itu jin, makhluk halus ataupun manusia) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah tumbal atau sesajen, adalah perbuatan dosa yang sangat besar, bahkan merupakan perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir). (Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim 13/141, al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitaabit Tauhiid 1/215 dan kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid hal. 146)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (QS. Al-Baqarah [2] : 173)
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Artinya, sembelihan yang dipersembahkan kepada sembahan (selain AllahSubhanahu wa Ta’ala) dan berhala, yang disebut nama selain-Nya (ketika disembelih), atau diperuntukkan kepada sembahan-sembahan selain-Nya.”(Kitab Jaami’ul Bayaan Fi Ta’wiilil Quran 3/319).
Dalam sebuah hadits shahih, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya.” (HSR. Muslim No. 1978)
Hadits ini menunjukkan ancaman besar bagi orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya, dengan laknat AllahSubhanahu wa Ta’alayaitu dijauhkan dari rahmat-Nya. Karena perbuatan ini termasuk dosa yang sangat besar, bahkan termasuk perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pelakunya pantas untuk mandapatkan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijauhkan dari rahmat-Nya. (Keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid hal. 146)
Penting sekali untuk diingatkan dalam pembahasan ini, bahwa faktor utama yang menjadikan besarnya keburukan perbuatan ini, bukanlah semata-mata karena besar atau kecilnya kurban yang dipersembahkan kepada selain-Nya, tetapi karena besarnya pengagungan dan ketakutan dalam hati orang yang mempersembahkan kurban tersebut kepada selain-Nya, yang semua ini merupakan ibadah hati yang agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.
Oleh karena itu, meskipun kurban yang dipersembahkan sangat kecil dan remeh, bahkan seekor lalat sekalipun, jika disertai dengan pengagungan dan ketakutan dalam hati kepada selain-Nya, maka ini juga termasuk perbuatan syirik besar. (Lihat kitab Fathul Majid hal. 178-179)
Dalam sebuah atsar dari sahabat Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat, ada dua orang yang melewati (daerah) suatu kaum yang sedang bersemedi (menyembah) berhala mereka dan mereka mengatakan, ‘Tidak ada seorangpun yang boleh melewati (daerah) kita hari ini kecuali setelah dia mempersembahkan sesuatu (sebagai kurban/tumbal untuk berhala kita).’ Maka, mereka berkata kepada orang yang pertama, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’ Tapi, orang itu enggan —dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak akan berkurban kepada siapapun selain AllahSubhanahu wa Ta’ala’—, maka diapun dibunuh (kemudian dia masuk surga). Lalu, mereka berkata kepada orang yang kedua, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’,—dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu untuk dikurbankan.’
Maka mereka berkata lagi, ‘Kurbankanlah sesuatu meskipun (hanya) seekor lalat!’, orang itu berkata (dengan meremehkan), ‘Apalah artinya seekor lalat,’, lalu diapun berkurban dengan seekor lalat, —dalam riwayat lain: maka merekapun mengizinkannya lewat— kemudian (di akhirat) dia masuk neraka.’” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitabal-Mushannaf (no. 33038) dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan dari jalan lain oleh Imam Ahmad dalam kitabaz-Zuhd (hal. 15-16), al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman (no. 7343) dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ (1/203)). (Ustadz Abdullah Taslim, M. A, Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah, www.muslim.or.id, Aqidah, 12-11-2010; Lihat http://nahimunkar.com/tumbal-dan-sesajen-tradisi-syirik-warisan-jahiliyah/)
Selanjutnya, mari kita kenali masalah-masalah kemusyrikan secara singkat sebagai berikut:
Syirkiyah atau kemusyrikan
Syirik bisa dipisahkan menjadi dua, syirik besar (akbar) dan syirik kecil (asghar).
Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika hingga meninggal dunia belum juga bertaubat. Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk kuburan, jin atau setan, atau mengaharap sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.
Di antara batasan syirik akbar adalah:
1. Syirik dalam rububiyah, seperti keyakinan bahwa arwah orang yang sudah meninggal mampu memberikan manfaat atau mudharat, memenuhi kebutuhan orang yang hidup, atau keyakinan bahwa ada orang yang ikut mengatur alam raya ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan seterusnya.
2. Syirik dalam asma’ wa shifat, seperti keyakinan bahwa ada orang yang mengetahui hal ghaib selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya dukun, peramal, dan semacamnya, syirik dengan menyerupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhluk, dan lain-lain.
3. Syirik dalam uluhiyah (ibadah), seperti syirik dalam ibadah, doa, takut, cinta. Harap, taat, dan sebagainya.
Konsekuensi pelaku syirik akbar ini adalah:
* Yang tidak diampuni (apabila pelakunya mati dan belum bertaubat).
* Pelakunya diharamkan masuk surga.
* Kekal di dalam neraka.
* Membatalkan semua amalan, termasuk amalan yang lampau.
Sementara di antara batasan syirik ashghar adalah:
1. Qauli (berupa ucapan), seperti bersumpah dengan menyebut selain nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan sejenisnya.
2. Fi’li (berupa perilaku dan perbuatan), seperti tathayyur, datang ke dukun, memakai jimat dan rajah dan sejenisnya.
3. Qalbi (berupa amal hati/batin), seperti riya, sum’ah, dan sejenisnya.
Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi mengurangi tauhid dan menjadi perantara terjerumus dalam syirik besar. Syirik ini meliputi empat macam, yaitu syirik niat: dari semula meniatkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, syirik doa: berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau selain berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berdoa kepada selain-Nya, syirik taat: menaati selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana menaati-Nya, syirik mahabbah: mencintai selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana mencintai-Nya.
Syirik ini terdiri dari dua, yaitu syirik yang jelas dan samar/tersembunyi:
* Dosanya di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni pelakunya tidak diadzab dan kalau tidak diampuni, pelakunya masuk terlebih dahulu di neraka meskipun setelah itu dimasukkan ke dalam surga.
* Tidak kekal dalam neraka (kalau dia dimasukkan ke dalam neraka)
* Tidak membatalkan semua amalan, tetapi sebatas yang dilakukan dengan syirik.
* Pelakunya tidak diharamkan dari surga. (Dikutip dari Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11; Lihat http://nahimunkar.com/trend-muslim-bergaya-musyrik/)
Ritual kemusyrikan atas nama budaya local
Ngerinya, di kawasan yang selama ini dikenal sebagai kawasan yang berpegang teguh pada syari’at Islam pun, seperti di Sumatera Barat, ritual paganis ini dipraktekkan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal, bahkan dijadikan objek wisata. Misalnya, di Sawahlunto yang terletak sekitar 95 kilometer dari ibukota Sumatera Barat, Padang.
Di kawasan ini, ritual tolak bala’ disebut dengan nama Karu. Di tempat lain, seperti Silungkang, Kubang, Kolok dan sejumlah daerah lainnya di kawasan Sumatera Barat, dinamakan Do’a Tolak Bala’. Bila ritual Do’a Tolak Bala’ dilaksanakan pada malam hari sambil berkeliling kampung dan mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat, Karu justru dilaksanakan pada siang hari, dan terpusat di Situs Bala’i Batu Sandaran sebagai Pusat Desa.
Karu tidak sekedar memanjatkan do’a serta puji-pujian kepada yang Maha Kuasa menurut penafsiran mereka, namun dilanjutkan dengan Baureh dan makan bersama. Baureh adalah prosesi memercikkan air yang dilakukan oleh dukun nagari kepada masyarakat yang hadir. Air dipercikkan dengan menggunakan alat bantu berupa tumbuhan alam yang terdiri dari Sitawa, Cikumpai, Cikarau, Sidingin yang telah dimantra-mantrai dan diasapi bakaran kemenyan. Mungkin mirip pendeta Hindu di Bali saat memercikkan air suci kepada penganut Hindu.
Bersamaan dengan percikan air, berbagai harapan pun dipanjatkan kepada yang Maha Kuasa, termasuk memohon kesehatan jasmani dan rohani serta dijauhkan dari marabahaya maupun penyakit yang akan mendera. Adakalanya, masyarakat membekali dirinya dengan Sitawa, Cikumpai, Cikarau, Sidingin untuk dimantra-mantrai, kemudian dibawa pulang dan digunakan untuk melakukan prosesi baureh di rumah masing-masing. Usai prosesi baureh, dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan yang dimakan bersama-sama berasal dari masakan yang dibawa oleh setiap keluarga yang mengikuti ritual Karu.
Dalam setahun ritual Karu setidaknya dilaksanakan dua kali. Pertama, satu atau dua hari menjelang bulan Ramadhan. Kedua, usai Ramadhan. Namun demikian, ritual ini bisa saja dilaksanakan pada saat-saat darurat, terjadi wabah penyakit, atau ketika pertanian terserang hama dan mengakibatkan gagal panen. (www.sawahlunto-tourism.com)
Menurut sebuah media lokal, ritual tolak bala’ menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian warga Minang, bahkan mereka selalu berusaha melestarikan adat tersebut. Misalnya, sebagaimana terjadi pada 21 Mei 2011 lalu, di Lubuk Kilangan, Padang. Menurut masyarakat Lubuk Kilangan, tolak bala’ adalah acara adat yang berisi doa keselamatan agar dijauhkan dari bencana dan marabahaya, juga untuk meningkatkan hasil pertanian masyarakat lubuk kilangan yang mayoritas petani.
Ritual tolak bala’ kali ini berlangsung malam hari sekitar pukul 20:00 wib, dan dimpimpin oleh Dasri (Ketua Kerapatan Adata Nagari) Lubuk Kilangan, yang membacakan sejumlah doa. Kemudian dilanjutkan dengan ritual membuang uang logam dan sesajian ke sungai, dengan tujuan agar segala kesusahan dan marabahaya hanyut bersama uang logam dan sesaji tersebut.
Ritual tolak bala’ ini berlanjut dengan menjalankan tradisi Pararakan. Yaitu, mengarak sebuah miniatur mesjid yang ditempeli uang kertas, keliling kampung. Setelah diarak, miniatur masjid tersebut diberikan kepada mesjid yang membutuhkan bantuan. Usai serah-terima miniatur masjid, para ninik mamak kaum Lubuk Kilangan langsung mengadakan acara adat makan bajamba.
Ada kemiripan dengan Karu di Sawahlunto yang di dalamnya ada acara makan bersama. Di Lubuk Kilangan, hidangan yang dimakan bersama berasal dari bawaan kaum ibu dari enam suku yang berada di lubuk kilangan. Usai makan bajamba, dilanjutkan dengan prosesi dzikir bersama hingga pagi hari yang dilakukan hanya oleh kaum lelakinya saja. (http://minangkabaunews.com/artikel-257-ritual-tolak-bala’-warga-lubuk-kilangan.html)
Masih di Sumatera Barat, ritual tolak bala’ yang dilaksanakan khusus pada akhir bulan Safar juga diamalkan oleh para pengikut Syekh Burhanuddin, khususnya di Kecamatan Ulakan, Kabupaten Pariaman. Namanya, Basafa. Ritual Basafa diisi dengan shalat dan pengajian, juga melantunkan serangkaian doa keselamatan.
Selain di Sumatera Barat yang terkenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, di Nanggroe Aceh Darussalam yang diberi kewenangan khusus menerapkan syari’at Islam ini, ternyata ritual tolak bala’ juga masih terjadi. Misalnya, sebagaimana terjadi di Desa Meloak Ilang, Kecamatan Putri Beutung, Kabupaten Bener Meriah, NAD.
Di Desa Meloak Ilang ini, ritual tolak bala’ sudah menjadi tradisi tahunan. Prosesi yang ditempuh adalah menghanyutkan sesajian berupa ayam jantan putih ke Sungai Alas oleh para tetua kampung. Mirip prosesi larung sesaji di Jawa. Mereka meyakini, ritual itu dapat menangkal datangnya bala’. Pada tahun 2010 lalu, ritual tolak bala’ berlangsung pada hari Ahad tanggal 06 Juni.
Maksud hati menolak bala’, yang datang justru musibah. Ritual tolak bala’ ini ternyata menarik perhatian masyarakat, termasuk anak-anak. Pada saat ritual tolak bala’ berlangsung, sejumlah anak-anak menjejali jembatan gantung yang melintas di atas Sungai Alas. Kekuatan besi jembatan gantung itu rupanya tidak disiapkan untuk menahan beban berat, sehingga besi itu lepas dan menyebabkan sejumlah orang yang berada di atasnya tercebur ke sungai, termasuk anak-anak. Akibatnya, sejumlah 12 anak berusia antara 6-12 tahun tewas tenggelam, dan 25 lainnya mengalami cidera. (nasional.vivanews.com edisi 07 Juni 2010)
Di Banjarmasin, juga ada tradisi tolak bala’ yang digelar menjelang akhir bulan Safar, memasuki bulan Rabiul Awal yang juga dikenal dengan nama bulan Maulud, mirip Basafa di Sumatera Barat. Ritual tolak bala’ versi umat Islam di Banjarmasin ini, berlangsung pada setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar, sehingga dinamakan Arba Mustakmir. Tujuannya, agar terhindar dari segala malapetaka, bencana, penyakit atau wabah yang tidak diinginkan selama setahun ke depan.
Pada tahun 2011 ini, Arba Mustakmir dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Selasa tanggal 1 Februari 2011 (bersamaan dengan tanggal 27 Safar 1432 Hijriah), hingga tenggelam matahari pada hari Rabu tangal 2 Februari 2011 (bertepatan dengan tanggal 28 Safar 1432 H). Antara lain berlangsung di Masjid Al Ikhwan jalan Veteran, juga di Langgar Baitur Ridhwan, Jalan Dahlia, Banjarmasin.
Ritual tolak bala’ biasanya diawali dengan shalat sunat Dhuha berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan membaca ya basith sebanyak 10 kali, membaca astaghfirullah lil mukminin wal mukminat, sebanyak 10 kali. Selanjutnya membaca doa khusus sebanyak tujuh kali, yaitu: “…subhanallahi mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy. Walhamdulillahi mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy. Wa la ilaha ilallahu mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy. Wallahu akbar mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy…”
Bahkan ada yang melengkapi ‘peribadatan’ Arba Mustakmir-nya dengan membaca surah Yaa Siin dengan tata cara yang berbeda. Yaitu, ketika sampai pada ayat 58 yang berbunyi salaamun qaulam mir rabbir rahiim, dibaca sebanyak 313 kali, barulah dilanjutkan ke ayat berikutnya sampai selesai.
Bagi sebagian umat Islam yang bernaung di bawah majelis taklim tertentu, pembacaan surah Yaa Siin dengan tata cara berbeda ini, juga dilakukan pada hari-hari biasa. Namun ayat 58 yang berbunyi salaamun qaulam mir rabbir rahiim, hanya dibaca sebanyak tiga kali saja. (Banjarmasinpost.co.id - Rabu, 26 Januari 2011).
Bila di Banjarmasin dan Sumatera Barat ada ritual tolak bala’ yang secara khusus dilaksanakan pada bulan Safar, maka di Banyuwangi ada ritual tolak bala’ yang secara khusus dilaksanakan pada bulan Syawal, yaitu Seblang. Ritual Seblang yang berlangsung pada hari ketujuh pada bulan Syawal, bertujuan untuk membebaskan dari marabahaya (tolak bala’) dan berharap selalu mendapat lindungan dari Allah SWT. Ritual Seblang antara lain masih diamalkan oleh warga Desa Olehsari Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. Bentuknya, berupa tari-tarian yang diperagakan oleh gadis muda berusia belasan.
Di tempat acara, di atas pentas penari akan memasuki tahapan tidak sadar diri karena sudah kemasukan roh halus (kesurupan), setelah disematkan mahkota (omprog) seberat 2 kilogram yang terbuat dari berbagai bunga seperti bunga kantil, kamboja, sundel, bunga pencari kuning dan putih. Roh halus yang merasuki sang penari Seblang, dipercaya sebagai roh nenek moyang. Pada saat penari Seblang sudah kemasukan roh halus, maka itu merupakan pertanda bahwa desa mereka akan terbebas dari marabahaya.
Dalam keadaan tidak sadar, penari Seblang lengkap dengan mahkota (omprog), kemben dan jarit, meliuk-liuk selama sekitar lima jam mengelilingi pentas, lengkap dengan 32 gending seblang dan puluhan sinden mengiringi setiap gerakan sang penari. Selanjutnya, penari melemparkan selendang kearah penonton. Selanjutnya, penonton yang terkena lemparan selendang, wajib berlenggak-lenggok di atas pentas bersama penari Seblang. Momen melempar selendang ini dinamakan Tundik.
Puncaknya, penari akan melempar kembang dirmo. Mereka percaya, siapa saja yang bisa memilik kembang dirmo yang dlempar penari Seblang, maka keinginannya akan mudah terwujud.
Itu semua adalah keyakinan batil yang sangat jauh dari Islam. Na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung dari hal yang demikian.
Di luar bulan Syawal, masyarakat Banyuwangi juga punya ritual tolak bala’ bernama Kebo-keboan. Khususnya, tradisi kebo-keboan ini amat dikenal masyarakat Alasmalang, Banyuwangi, Jawa Timur. Konon, Kebo-keboan ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam, dan selalu dilaksanakan pada tanggal 10 bulan Muharam. Tujuannya, antara lain untuk memohon turunya hujan saat kemarau panjang, dan terhindar dari penyakit aneh yang mewabah.
Ritual tolak bala’ Kebo-keboan ini diawali dengan menanam hasil pertanian, seperti buah-buahan (pala gumantung), umbi-umbian (pala kependhem atau pala bungkil), serta kacang-kacangan (pala kesampir). Kemudian, pada keesokan harinya dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan yang disantap bersama, disiapkan oleh warga sekitar, berupa nasi tumpeng yang ditempatkan pada anchak yang terbuat dari batang daun pisang dan bambu. Juga, dilengkapi dengan pecel ayam yang merupakan makanan khas desa Alasmalang. Hidangan itu sebelum disantap bersama-sama, terlebih dulu didoakan oleh sesepuh agama. Usai makan bersama, warga desa saling membagikan kue-kue keada sanak familinya.
Ritual tolak bala’ ini disebut Kebo-keboan, karena salah satu prosesinya mengandung unsur kerbau (kebo), yang diperankan oleh sejumlah laki-laki dewasa dalam keadaan kesurupan dan berdandan serta bertingkah bagai kerbau (kebo). Para kebo-keboan ini kemudian diarak (pawai ider bumi) keliling desa dan singgah sejenak di kiblat desa berupa batu besar dan menyerahkan sesaji berupa pitung tawar.
Kiblat desa bagi masyarakat Alasmalang disebut kiblat papat (empat kiblat), terdiri dari watu lasa (kiblat timur laut), watu warang (kiblat barat), watu gajah (kiblat selatan), dan watu naga (kiblat timur). Keempat batu kiblat tersebut dipercaya mempunyai kekuatan magis yang dapat menyelamatkan desa Alasmalang dari bencana yang akan menimpa warga desa. (Itulah keyakinan kemusyrikan, karena mempercayai batu diyakini punya kekuatan magis yang dapat menyelamatkan desa. Na’udzubillahi min dzalik!)
Sebelum pawai ider bumi berlangsung, jalan desa terlebih dulu dialiri air sehingga menjadi seperti sawah. Para kebo-kebon ini, selama pawai ider bumi berlangsung, saat melewati jalan desa yang sudah dialiri air akan bertingkah bagai kerbau. Prosesi ini dinamakan bedah banyu. Usai pawai ider bumi dan menyerahkan sesajen pitung tawar di kiblat papat, para kebo-keboan tadi dibawa menuju pusat desa untuk menjalani prosesi membajak sawah. Peralatan bajak sawah yang sederhana sudah disiapkan untuk prosesi ini. Termasuk benih padi yang akan ditanam. Lelaki dewasa yang kesurupan dan bertingkah bagai kerbau ini, akan kembali seperti semula setelah dimantra-mantrai oleh tetua adat.
Upacara yang mengikuti bisikan syetan itu hanya menjerumuskan. Untuk upacara penyembahan syetan itu bila biayanya digunakan untuk menyantuni anak yatim misalnya, tentu bermanfaat. Namun dengan diadakan upacara ritual syaithoni seperti ini justru disamping sesat, masih pula yang seharusnya disantuni malah dananya untuk syetan, maka benarlah firman Allah Ta’ala:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [البقرة/268]
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia [170]. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 268)
[170]. Balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia.
Pohon Tumbang hingga Kongres PSSI
Ritual tolak bala’ dipraktekkan dengan berbagai macam latar belakang. Misalnya di Jombang, ritual tolak bala’ digelar karena ada pohon tua tumbang. Pohon tua berusia ratusan tahun yang berada di tengah pemakaman umum tersebut tumbang dan terbelah menjadi dua bagian. Sebenarnya, wajar saja pohon tua tumbang dan terbelah. Namun bagi sebagian masyarakat, peristiwa itu dimaknai lain.
Sebagian warga setempat ada yang meyakini, tumbangnya pohon tua tersebut merupakan pertanda akan datangnya musibah. Untuk mencegah musibah, maka perlu digelar ritual tolak bala’. Sebagaimana diberitakan waspada online edisi 12 Januari 2010, sejumlah warga berinisiatif menggelar ritual tolak bala’ tepat ditengah-tengah belahan pohon tua tersebut. Selain memanjatkan doa juga disiapkan sesajen berupa tujuh rupa jajanan pasar. Usai ritual tolak bala’, warga secara beramai-ramai memotong pohon tua tersebut.
Ternyata, ritual tolak bala’ juga dipraktekkan untuk menyukseskan Kongres Luar Biasa PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia), yang berlangsung pada hari Sabtu tangal 9 Juli 2011 lalu. Dua hari sebelum kongres luarbiasa berlangsung (Kamis, 7 Juli 2011), digelar doa bersama yang berlangsung di Gapura Plaza Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, dan dihadiri sekitar seribu orang. Doa bersama dilakukan oleh para tokoh agama dari semua agama yang diakui di Indonesia.
Dilanjutkan dengan ritual tolakbala’ berupa tari-tarian yang diperagakan oleh lima orang dengan tubuh serba hitam, sebagai simbol dari pengacau. Kemudian ada sejumlah tokoh berpakaian serba putih yang membawa peran mendamaikan keadaan. Para penari itu bergerak menuju panggung dengan diiringi alunan kelompok musik gamelan Jawa Larasmadya. Ritual tersebut diyakini sebagai cara yang ampuh untuk menyukseskan berlangsungnya kongres luar biasa PSSI.
Kongres Luar Biasa PSSI tersebut tentu saja dihadiri oleh Jenderal TNI Purn. Agum Gumelar dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI. Sebelumnya, Kongres PSSI yang berlangsung 20 Mei 2011, berakhir deadlock. Antara lain, karena Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional FIFA, menolak pencalonan George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai calon Ketua dan Wakil Ketua PSSI menggantikan Nurdin Khalid.
Rupanya, di kalangan yang terkesan modern, intelek dan rasional, menjadikan ritual tolak bala’ yang terkesan tradisional dan irasional sebagai salah satu upaya mensukseskan hajatan akbarnya, tetap menjadi bagian yang dianggap lumrah. Kalau yang terkesan modern, intelek dan rasional saja pola fikirnya seperti itu, bagaimana pula dengan yang tidak intelek dan terbelakang? Pasti lebih kacau lagi.
Barangkali, ini merupakan fenomena dari sebuah masyarakat yang lemah iman dan kurang percaya diri. Sehingga, lebih memilih solusi yang irasional dan bermuatan pembodohan serta penyesatan, dibanding mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan iman dan istiqomah alias konsekuen serta konsisten.
Peran syetan dan orang-orang munafiq
Dalam ayat pada awal tulisan ini tercantum peran syetan kemudian disambung dengan peran orang-orang munafiq. Syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Sedang orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) orang yang mengajak untuk (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul.
Sebenarnya, syetan itu tipudayanya lemah. Telah jelas Allah firmankan:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا [النساء/76]
“…karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’ 4: 76).
Dalam kenyataan, kenapa justru di mana-mana banyak orang tunduk kepada syetan, dari yang di perkampungan tradisional sampai ke tingkat orang modern taraf nasional tetapi tunduk dan mengabdi kepada syetan dengan cara melayani pakai sesaji ataupun ritual tertentu?
Masalah itu dapat dilihat, dari sisi lanjutan ayat tersebut di atas, jelas peran orang-orang munafiq lah yang punya andil besar. Di samping itu, factor utamanya pula, karena keimanan atau keikhlasan mereka sangat tipis. Kalau mereka itu orang-orang yang mukhlis, ikhlas, beribadah hanya untuk Allah Ta’ala, maka syetan pun tidak sanggup menundukkannya. Karena dalam Al-Qur’an ditegaskan:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ [الحجر/39-43]
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis [799] di antara mereka." Allah berfirman, "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya) [800]. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya.” (QS. Al-Hijr [15] : 39-43)
[799]. Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.
[800]. Maksudnya pemberian taufiq dari Allah s.w.t. untuk mentaati-Nya, sehingga seseorang terlepas dari tipu daya syaitan mengikuti jalan yang lurus yang dijaga Allah s.w.t. Jadi sesat atau tidaknya seseorang adalah Allah yang menentukan.
Allah telah mengancam para pengikut syetan bahwa tempat mereka adalah neraka Jahannam. Yang selamat hanyalah orang-orang mukhlisin yang taat kepada Allah Ta’ala, karena mendapatkan taufiq (pertolongan) dari Allah.
Ketika kenyataannya ritual-ritual yang bertentangan dengan aturan Allah Ta’ala di negeri ini dilakukan orang di mana-mana, berarti merupakan keberhasilan kaum munafiq dalam membodohi dan menyesatkan Ummat sesuai dengan program syetan. Semakin banyak dan berperannya orang-orang munafiq maka semakin merajalela pula kesesatan dan pemujaan syetan. Hingga semakin banyak pula yang memusuhi orang-orang yang mukhlis. Sehingga orang-orang mukhlis yang berupaya untuk menegakkan aturan Allah di bumi-Nya ini senantiasa berhadapan dengan orang-orang munafiq dan wadyabala syetan, baik sifatnya local, nasional, maupun internasional. Ada yang cari proyek dan ada yang cari tenaga untuk proyeknya, yang semua itu untuk menghadapi orang-orang mukhlis. Maka tidak mengherankan, kelompok yang sejak lama berhadapan dengan kaum mukhlis, akhir-akhir ini tampak lantang dalam berkaok-kaok yang intinya agar digunakan sebagai tenaga-tenaga dalam menghadapi kaum mukhlis, siap bekerjasama dengan wadyabala syetan lainnya di antaranya dengan modal ilmu syetan, misalnya ilmu kebal dan semacamnya.
Pemilik proyek pun faham, boleh-boleh saja mengucurkan dana, asal hanya tampak syar’i dan bukan syar’i betulan, yang pada hakekatnya adalah bid’i atau sebenarnya menjadikan Ummat ini bodoh dan jauh dari ajaran Islam yang benar. Proyek-proyek semacam ini lah yang tampaknya sedang didanai akhir-akhir ini, disamping ritual syirkyah yang jelas-jelas merusak iman seperti tersebut dalam uraian ini.
Benar lah ayat tersebut di atas yang menggandengkan peran syetan dengan peran orang-orang munafiq, agar hal itu dicamkan benar-benar oleh kaum muslimin. Agar tidak terjerat oleh tipuan syetan dan munafiqin.
Dan benarlah firman Allah ini:
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة/9-12]
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit [23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi [24]". Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah [2] : 9-12)
[23]. Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.
[24]. Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An-Nisaa’ [4] : 60-61)
Kebo-keboan ini bertingkah seperti kerbau lagi kesurupan, diarak untuk membawa sesaji (persembahan untuk syetan) ke tempat yang dituju.
Kebo-keboan ini bertingkah seperti kerbau lagi kesurupan, diarak untuk membawa sesaji (persembahan untuk syetan) ke tempat yang dituju.
BAGI PENDUDUK NEGERI JIRAN yang belum kenal Indonesia, kesan pertama mereka tentang Indonesia adalah sebuah negeri yang terbelakang dan kumuh. Kesan seperti itu sangat wajar, karena ‘duta bangsa’ yang mereka kenali selama ini adalah para tenaga kerja yang umumnya dari pedesaan. Namun, begitu mereka berkesempatan datang ke Indonesia, khususnya Jakarta, mereka sontak terkejut. Karena, kesan terbelakang yang mereka bayangkan semula, justru jauh dari kenyataan.
Di Indonesia, terutama Jakarta dan kota-kota besar lainnya, telah sejak lama berdiri aneka gedung megah perkantoran atau pusat perbelanjaan, termasuk apartemen menengah hingga super mewah, sebagaimana lazim ditemukan di berbagai kota besar dunia. Keterkejutan mereka barangkali tidak sampai di situ saja. Karena, begitu mereka tahu bahwa gedung-gedung yang mewah dan megah tadi, ternyata sebagian besar dimiliki oleh para hoakiao (Cina perantauan) yang umumnya non Muslim.
Mereka akan lebih terkejut lagi manakala menemukan kenyataan, bahwa di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, begitu mudah mengunjungi tempat maksiat, begitu mudah mendapatkan gadis muda sebagai pelacur dengan harga murah, begitu mudah mendapatkan aneka jenis narkoba, begitu mudah mendapatkan mangsa anak-anak di bawah umur untuk dijadikan pemuas syahwat para pengidap phedophilia.
Bagi penduduk jiran yang terlanjur mengenal Indonesia sebagai negeri dengan penduduk mayoritas Muslim, akan dikejutkan lagi oleh kenyataan bahwa di negeri yang mengaku berpaham Ahlussunah wal Jama’ah ini ternyata praktik nikah mut’ah yang haram itu justru diamalkan secara terbuka, bukan karena mereka (para pelaku nikah mut’ah) itu berpaham syi’ah, tetapi karena nikah mut’ah alias kawin kontrak telah dijadikan jalan pintas untuk keluar dari kemiskinan turun temurun.
Masih ada lagi keterkejutan lainnya. Yaitu, manakala mereka menemukan sejumlah fakta bahwa di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini, ternyata praktik syirkiyah dan bid’ah justru diamalkan secara serius seperti amalan syar’iyah. Bahkan oleh sebagian kalangan, amalan syar’iyah tidak begitu diminati karena mereka justru lebih doyan amalan yang tergolong bid’ah dan syirkiyah. Misalnya, ritual tolak bala’.
Ritual Tolak Bala’
Pada dasarnya, ritual tolak bala’ sama sekali bukan ajaran Islam. Namun, oleh sebagian kalangan, ritual ini dikemas dengan berbagai atribut Islam, dan dianggap sebagai muatan lokal yang mewarnai dan memperkaya Islam. Padahal, itu sama saja dengan mencampur-adukkan yang hak dengan yang bathil. Muatan lokal boleh saja, sejauh tidak bertentangan dengan akidah.
Ritual tolak bala’ tidak bisa dikatakan sebagai fenomena kultural semata, karena dalam perspektif Islam, hal itu bertentangan dengan akidah. Selain itu, ritual tolak bala’ justru menjadi syariat agama-agama di luar Islam, seperti Konghucu, Budha, dan sebagainya. Dengan demikian, mempraktekkan ritual tolak bala’, sama saja dengan menjalankan syari’at agama non Islam yang paganis alias berhalais.
Masalahnya, oleh sebagian kalangan, ritual tolak bala’ dipaksakan untuk mendapat tempat terhormat, yaitu diposisikan sebagai tradisi warisan luhur nenek moyang, atau sebagai budaya bangsa yang harus dilestarikan, dan sebagainya. Padahal, ritual-ritual semacam itu selain menguras waktu, tenaga dan biaya, juga bermuatan pembodohan terhadap rakyat kebanyakan bahkan penyesatan yang nyata.
Pemaksaan itu nampaknya berhasil di sebagian kalangan. Sehingga mereka yang sehari-hari mengaku beragama Islam pun, mempraktikkan ritual tolak bala’ yang sarat pembodohan dan syirkiyah (kemusyrikan, dosa paling besar, dan tidak diampuni Allah Ta’ala bila pelakunya meninggal dalam keadaan belum bertaubat) itu.
Sebelum kami uraikan praktek upacara ritual tolak bala’ di berbagai tempat, di sini kami kutipkan hukum ritual semacam itu, dan kami kategorikan dalam hal hukum tumbal dan sesajen. Setelah itu kami kutipkan tentang hukum praktek kemusyrikan.
Hukum Tumbal dan Sesajen dalam Islam
Mempersembahkan kurban yang berarti mengeluarkan sebagian harta dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala(Lihat kitabTaisiirul Kariimir Rahmaanhal. 282), adalah suatu bentuk ibadah besar dan agung yang hanya pantas ditujukan kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya,
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. al-An’aam [6] : 162-163)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar [108] : 2)
Kedua ayat ini menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkurban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih kurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan hal. 228)
Oleh karena itu, maka mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (baik itu jin, makhluk halus ataupun manusia) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah tumbal atau sesajen, adalah perbuatan dosa yang sangat besar, bahkan merupakan perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir). (Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim 13/141, al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitaabit Tauhiid 1/215 dan kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid hal. 146)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (QS. Al-Baqarah [2] : 173)
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Artinya, sembelihan yang dipersembahkan kepada sembahan (selain AllahSubhanahu wa Ta’ala) dan berhala, yang disebut nama selain-Nya (ketika disembelih), atau diperuntukkan kepada sembahan-sembahan selain-Nya.”(Kitab Jaami’ul Bayaan Fi Ta’wiilil Quran 3/319).
Dalam sebuah hadits shahih, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya.” (HSR. Muslim No. 1978)
Hadits ini menunjukkan ancaman besar bagi orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya, dengan laknat AllahSubhanahu wa Ta’alayaitu dijauhkan dari rahmat-Nya. Karena perbuatan ini termasuk dosa yang sangat besar, bahkan termasuk perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pelakunya pantas untuk mandapatkan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijauhkan dari rahmat-Nya. (Keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid hal. 146)
Penting sekali untuk diingatkan dalam pembahasan ini, bahwa faktor utama yang menjadikan besarnya keburukan perbuatan ini, bukanlah semata-mata karena besar atau kecilnya kurban yang dipersembahkan kepada selain-Nya, tetapi karena besarnya pengagungan dan ketakutan dalam hati orang yang mempersembahkan kurban tersebut kepada selain-Nya, yang semua ini merupakan ibadah hati yang agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.
Oleh karena itu, meskipun kurban yang dipersembahkan sangat kecil dan remeh, bahkan seekor lalat sekalipun, jika disertai dengan pengagungan dan ketakutan dalam hati kepada selain-Nya, maka ini juga termasuk perbuatan syirik besar. (Lihat kitab Fathul Majid hal. 178-179)
Dalam sebuah atsar dari sahabat Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat, ada dua orang yang melewati (daerah) suatu kaum yang sedang bersemedi (menyembah) berhala mereka dan mereka mengatakan, ‘Tidak ada seorangpun yang boleh melewati (daerah) kita hari ini kecuali setelah dia mempersembahkan sesuatu (sebagai kurban/tumbal untuk berhala kita).’ Maka, mereka berkata kepada orang yang pertama, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’ Tapi, orang itu enggan —dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak akan berkurban kepada siapapun selain AllahSubhanahu wa Ta’ala’—, maka diapun dibunuh (kemudian dia masuk surga). Lalu, mereka berkata kepada orang yang kedua, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’,—dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu untuk dikurbankan.’
Maka mereka berkata lagi, ‘Kurbankanlah sesuatu meskipun (hanya) seekor lalat!’, orang itu berkata (dengan meremehkan), ‘Apalah artinya seekor lalat,’, lalu diapun berkurban dengan seekor lalat, —dalam riwayat lain: maka merekapun mengizinkannya lewat— kemudian (di akhirat) dia masuk neraka.’” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitabal-Mushannaf (no. 33038) dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan dari jalan lain oleh Imam Ahmad dalam kitabaz-Zuhd (hal. 15-16), al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman (no. 7343) dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ (1/203)). (Ustadz Abdullah Taslim, M. A, Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah, www.muslim.or.id, Aqidah, 12-11-2010; Lihat http://nahimunkar.com/tumbal-dan-sesajen-tradisi-syirik-warisan-jahiliyah/)
Selanjutnya, mari kita kenali masalah-masalah kemusyrikan secara singkat sebagai berikut:
Syirkiyah atau kemusyrikan
Syirik bisa dipisahkan menjadi dua, syirik besar (akbar) dan syirik kecil (asghar).
Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika hingga meninggal dunia belum juga bertaubat. Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk kuburan, jin atau setan, atau mengaharap sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.
Di antara batasan syirik akbar adalah:
1. Syirik dalam rububiyah, seperti keyakinan bahwa arwah orang yang sudah meninggal mampu memberikan manfaat atau mudharat, memenuhi kebutuhan orang yang hidup, atau keyakinan bahwa ada orang yang ikut mengatur alam raya ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan seterusnya.
2. Syirik dalam asma’ wa shifat, seperti keyakinan bahwa ada orang yang mengetahui hal ghaib selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya dukun, peramal, dan semacamnya, syirik dengan menyerupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhluk, dan lain-lain.
3. Syirik dalam uluhiyah (ibadah), seperti syirik dalam ibadah, doa, takut, cinta. Harap, taat, dan sebagainya.
Konsekuensi pelaku syirik akbar ini adalah:
* Yang tidak diampuni (apabila pelakunya mati dan belum bertaubat).
* Pelakunya diharamkan masuk surga.
* Kekal di dalam neraka.
* Membatalkan semua amalan, termasuk amalan yang lampau.
Sementara di antara batasan syirik ashghar adalah:
1. Qauli (berupa ucapan), seperti bersumpah dengan menyebut selain nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan sejenisnya.
2. Fi’li (berupa perilaku dan perbuatan), seperti tathayyur, datang ke dukun, memakai jimat dan rajah dan sejenisnya.
3. Qalbi (berupa amal hati/batin), seperti riya, sum’ah, dan sejenisnya.
Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi mengurangi tauhid dan menjadi perantara terjerumus dalam syirik besar. Syirik ini meliputi empat macam, yaitu syirik niat: dari semula meniatkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, syirik doa: berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau selain berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berdoa kepada selain-Nya, syirik taat: menaati selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana menaati-Nya, syirik mahabbah: mencintai selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana mencintai-Nya.
Syirik ini terdiri dari dua, yaitu syirik yang jelas dan samar/tersembunyi:
* Dosanya di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni pelakunya tidak diadzab dan kalau tidak diampuni, pelakunya masuk terlebih dahulu di neraka meskipun setelah itu dimasukkan ke dalam surga.
* Tidak kekal dalam neraka (kalau dia dimasukkan ke dalam neraka)
* Tidak membatalkan semua amalan, tetapi sebatas yang dilakukan dengan syirik.
* Pelakunya tidak diharamkan dari surga. (Dikutip dari Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11; Lihat http://nahimunkar.com/trend-muslim-bergaya-musyrik/)
Ritual kemusyrikan atas nama budaya local
Ngerinya, di kawasan yang selama ini dikenal sebagai kawasan yang berpegang teguh pada syari’at Islam pun, seperti di Sumatera Barat, ritual paganis ini dipraktekkan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal, bahkan dijadikan objek wisata. Misalnya, di Sawahlunto yang terletak sekitar 95 kilometer dari ibukota Sumatera Barat, Padang.
Di kawasan ini, ritual tolak bala’ disebut dengan nama Karu. Di tempat lain, seperti Silungkang, Kubang, Kolok dan sejumlah daerah lainnya di kawasan Sumatera Barat, dinamakan Do’a Tolak Bala’. Bila ritual Do’a Tolak Bala’ dilaksanakan pada malam hari sambil berkeliling kampung dan mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat, Karu justru dilaksanakan pada siang hari, dan terpusat di Situs Bala’i Batu Sandaran sebagai Pusat Desa.
Karu tidak sekedar memanjatkan do’a serta puji-pujian kepada yang Maha Kuasa menurut penafsiran mereka, namun dilanjutkan dengan Baureh dan makan bersama. Baureh adalah prosesi memercikkan air yang dilakukan oleh dukun nagari kepada masyarakat yang hadir. Air dipercikkan dengan menggunakan alat bantu berupa tumbuhan alam yang terdiri dari Sitawa, Cikumpai, Cikarau, Sidingin yang telah dimantra-mantrai dan diasapi bakaran kemenyan. Mungkin mirip pendeta Hindu di Bali saat memercikkan air suci kepada penganut Hindu.
Bersamaan dengan percikan air, berbagai harapan pun dipanjatkan kepada yang Maha Kuasa, termasuk memohon kesehatan jasmani dan rohani serta dijauhkan dari marabahaya maupun penyakit yang akan mendera. Adakalanya, masyarakat membekali dirinya dengan Sitawa, Cikumpai, Cikarau, Sidingin untuk dimantra-mantrai, kemudian dibawa pulang dan digunakan untuk melakukan prosesi baureh di rumah masing-masing. Usai prosesi baureh, dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan yang dimakan bersama-sama berasal dari masakan yang dibawa oleh setiap keluarga yang mengikuti ritual Karu.
Dalam setahun ritual Karu setidaknya dilaksanakan dua kali. Pertama, satu atau dua hari menjelang bulan Ramadhan. Kedua, usai Ramadhan. Namun demikian, ritual ini bisa saja dilaksanakan pada saat-saat darurat, terjadi wabah penyakit, atau ketika pertanian terserang hama dan mengakibatkan gagal panen. (www.sawahlunto-tourism.com)
Menurut sebuah media lokal, ritual tolak bala’ menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian warga Minang, bahkan mereka selalu berusaha melestarikan adat tersebut. Misalnya, sebagaimana terjadi pada 21 Mei 2011 lalu, di Lubuk Kilangan, Padang. Menurut masyarakat Lubuk Kilangan, tolak bala’ adalah acara adat yang berisi doa keselamatan agar dijauhkan dari bencana dan marabahaya, juga untuk meningkatkan hasil pertanian masyarakat lubuk kilangan yang mayoritas petani.
Ritual tolak bala’ kali ini berlangsung malam hari sekitar pukul 20:00 wib, dan dimpimpin oleh Dasri (Ketua Kerapatan Adata Nagari) Lubuk Kilangan, yang membacakan sejumlah doa. Kemudian dilanjutkan dengan ritual membuang uang logam dan sesajian ke sungai, dengan tujuan agar segala kesusahan dan marabahaya hanyut bersama uang logam dan sesaji tersebut.
Ritual tolak bala’ ini berlanjut dengan menjalankan tradisi Pararakan. Yaitu, mengarak sebuah miniatur mesjid yang ditempeli uang kertas, keliling kampung. Setelah diarak, miniatur masjid tersebut diberikan kepada mesjid yang membutuhkan bantuan. Usai serah-terima miniatur masjid, para ninik mamak kaum Lubuk Kilangan langsung mengadakan acara adat makan bajamba.
Ada kemiripan dengan Karu di Sawahlunto yang di dalamnya ada acara makan bersama. Di Lubuk Kilangan, hidangan yang dimakan bersama berasal dari bawaan kaum ibu dari enam suku yang berada di lubuk kilangan. Usai makan bajamba, dilanjutkan dengan prosesi dzikir bersama hingga pagi hari yang dilakukan hanya oleh kaum lelakinya saja. (http://minangkabaunews.com/artikel-257-ritual-tolak-bala’-warga-lubuk-kilangan.html)
Masih di Sumatera Barat, ritual tolak bala’ yang dilaksanakan khusus pada akhir bulan Safar juga diamalkan oleh para pengikut Syekh Burhanuddin, khususnya di Kecamatan Ulakan, Kabupaten Pariaman. Namanya, Basafa. Ritual Basafa diisi dengan shalat dan pengajian, juga melantunkan serangkaian doa keselamatan.
Selain di Sumatera Barat yang terkenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, di Nanggroe Aceh Darussalam yang diberi kewenangan khusus menerapkan syari’at Islam ini, ternyata ritual tolak bala’ juga masih terjadi. Misalnya, sebagaimana terjadi di Desa Meloak Ilang, Kecamatan Putri Beutung, Kabupaten Bener Meriah, NAD.
Di Desa Meloak Ilang ini, ritual tolak bala’ sudah menjadi tradisi tahunan. Prosesi yang ditempuh adalah menghanyutkan sesajian berupa ayam jantan putih ke Sungai Alas oleh para tetua kampung. Mirip prosesi larung sesaji di Jawa. Mereka meyakini, ritual itu dapat menangkal datangnya bala’. Pada tahun 2010 lalu, ritual tolak bala’ berlangsung pada hari Ahad tanggal 06 Juni.
Maksud hati menolak bala’, yang datang justru musibah. Ritual tolak bala’ ini ternyata menarik perhatian masyarakat, termasuk anak-anak. Pada saat ritual tolak bala’ berlangsung, sejumlah anak-anak menjejali jembatan gantung yang melintas di atas Sungai Alas. Kekuatan besi jembatan gantung itu rupanya tidak disiapkan untuk menahan beban berat, sehingga besi itu lepas dan menyebabkan sejumlah orang yang berada di atasnya tercebur ke sungai, termasuk anak-anak. Akibatnya, sejumlah 12 anak berusia antara 6-12 tahun tewas tenggelam, dan 25 lainnya mengalami cidera. (nasional.vivanews.com edisi 07 Juni 2010)
Di Banjarmasin, juga ada tradisi tolak bala’ yang digelar menjelang akhir bulan Safar, memasuki bulan Rabiul Awal yang juga dikenal dengan nama bulan Maulud, mirip Basafa di Sumatera Barat. Ritual tolak bala’ versi umat Islam di Banjarmasin ini, berlangsung pada setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar, sehingga dinamakan Arba Mustakmir. Tujuannya, agar terhindar dari segala malapetaka, bencana, penyakit atau wabah yang tidak diinginkan selama setahun ke depan.
Pada tahun 2011 ini, Arba Mustakmir dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Selasa tanggal 1 Februari 2011 (bersamaan dengan tanggal 27 Safar 1432 Hijriah), hingga tenggelam matahari pada hari Rabu tangal 2 Februari 2011 (bertepatan dengan tanggal 28 Safar 1432 H). Antara lain berlangsung di Masjid Al Ikhwan jalan Veteran, juga di Langgar Baitur Ridhwan, Jalan Dahlia, Banjarmasin.
Ritual tolak bala’ biasanya diawali dengan shalat sunat Dhuha berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan membaca ya basith sebanyak 10 kali, membaca astaghfirullah lil mukminin wal mukminat, sebanyak 10 kali. Selanjutnya membaca doa khusus sebanyak tujuh kali, yaitu: “…subhanallahi mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy. Walhamdulillahi mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy. Wa la ilaha ilallahu mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy. Wallahu akbar mil almizan wa muntaha ilmi wa mabladzarridha wa jinatal arsy…”
Bahkan ada yang melengkapi ‘peribadatan’ Arba Mustakmir-nya dengan membaca surah Yaa Siin dengan tata cara yang berbeda. Yaitu, ketika sampai pada ayat 58 yang berbunyi salaamun qaulam mir rabbir rahiim, dibaca sebanyak 313 kali, barulah dilanjutkan ke ayat berikutnya sampai selesai.
Bagi sebagian umat Islam yang bernaung di bawah majelis taklim tertentu, pembacaan surah Yaa Siin dengan tata cara berbeda ini, juga dilakukan pada hari-hari biasa. Namun ayat 58 yang berbunyi salaamun qaulam mir rabbir rahiim, hanya dibaca sebanyak tiga kali saja. (Banjarmasinpost.co.id - Rabu, 26 Januari 2011).
Bila di Banjarmasin dan Sumatera Barat ada ritual tolak bala’ yang secara khusus dilaksanakan pada bulan Safar, maka di Banyuwangi ada ritual tolak bala’ yang secara khusus dilaksanakan pada bulan Syawal, yaitu Seblang. Ritual Seblang yang berlangsung pada hari ketujuh pada bulan Syawal, bertujuan untuk membebaskan dari marabahaya (tolak bala’) dan berharap selalu mendapat lindungan dari Allah SWT. Ritual Seblang antara lain masih diamalkan oleh warga Desa Olehsari Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. Bentuknya, berupa tari-tarian yang diperagakan oleh gadis muda berusia belasan.
Di tempat acara, di atas pentas penari akan memasuki tahapan tidak sadar diri karena sudah kemasukan roh halus (kesurupan), setelah disematkan mahkota (omprog) seberat 2 kilogram yang terbuat dari berbagai bunga seperti bunga kantil, kamboja, sundel, bunga pencari kuning dan putih. Roh halus yang merasuki sang penari Seblang, dipercaya sebagai roh nenek moyang. Pada saat penari Seblang sudah kemasukan roh halus, maka itu merupakan pertanda bahwa desa mereka akan terbebas dari marabahaya.
Dalam keadaan tidak sadar, penari Seblang lengkap dengan mahkota (omprog), kemben dan jarit, meliuk-liuk selama sekitar lima jam mengelilingi pentas, lengkap dengan 32 gending seblang dan puluhan sinden mengiringi setiap gerakan sang penari. Selanjutnya, penari melemparkan selendang kearah penonton. Selanjutnya, penonton yang terkena lemparan selendang, wajib berlenggak-lenggok di atas pentas bersama penari Seblang. Momen melempar selendang ini dinamakan Tundik.
Puncaknya, penari akan melempar kembang dirmo. Mereka percaya, siapa saja yang bisa memilik kembang dirmo yang dlempar penari Seblang, maka keinginannya akan mudah terwujud.
Itu semua adalah keyakinan batil yang sangat jauh dari Islam. Na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung dari hal yang demikian.
Di luar bulan Syawal, masyarakat Banyuwangi juga punya ritual tolak bala’ bernama Kebo-keboan. Khususnya, tradisi kebo-keboan ini amat dikenal masyarakat Alasmalang, Banyuwangi, Jawa Timur. Konon, Kebo-keboan ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam, dan selalu dilaksanakan pada tanggal 10 bulan Muharam. Tujuannya, antara lain untuk memohon turunya hujan saat kemarau panjang, dan terhindar dari penyakit aneh yang mewabah.
Ritual tolak bala’ Kebo-keboan ini diawali dengan menanam hasil pertanian, seperti buah-buahan (pala gumantung), umbi-umbian (pala kependhem atau pala bungkil), serta kacang-kacangan (pala kesampir). Kemudian, pada keesokan harinya dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan yang disantap bersama, disiapkan oleh warga sekitar, berupa nasi tumpeng yang ditempatkan pada anchak yang terbuat dari batang daun pisang dan bambu. Juga, dilengkapi dengan pecel ayam yang merupakan makanan khas desa Alasmalang. Hidangan itu sebelum disantap bersama-sama, terlebih dulu didoakan oleh sesepuh agama. Usai makan bersama, warga desa saling membagikan kue-kue keada sanak familinya.
Ritual tolak bala’ ini disebut Kebo-keboan, karena salah satu prosesinya mengandung unsur kerbau (kebo), yang diperankan oleh sejumlah laki-laki dewasa dalam keadaan kesurupan dan berdandan serta bertingkah bagai kerbau (kebo). Para kebo-keboan ini kemudian diarak (pawai ider bumi) keliling desa dan singgah sejenak di kiblat desa berupa batu besar dan menyerahkan sesaji berupa pitung tawar.
Kiblat desa bagi masyarakat Alasmalang disebut kiblat papat (empat kiblat), terdiri dari watu lasa (kiblat timur laut), watu warang (kiblat barat), watu gajah (kiblat selatan), dan watu naga (kiblat timur). Keempat batu kiblat tersebut dipercaya mempunyai kekuatan magis yang dapat menyelamatkan desa Alasmalang dari bencana yang akan menimpa warga desa. (Itulah keyakinan kemusyrikan, karena mempercayai batu diyakini punya kekuatan magis yang dapat menyelamatkan desa. Na’udzubillahi min dzalik!)
Sebelum pawai ider bumi berlangsung, jalan desa terlebih dulu dialiri air sehingga menjadi seperti sawah. Para kebo-kebon ini, selama pawai ider bumi berlangsung, saat melewati jalan desa yang sudah dialiri air akan bertingkah bagai kerbau. Prosesi ini dinamakan bedah banyu. Usai pawai ider bumi dan menyerahkan sesajen pitung tawar di kiblat papat, para kebo-keboan tadi dibawa menuju pusat desa untuk menjalani prosesi membajak sawah. Peralatan bajak sawah yang sederhana sudah disiapkan untuk prosesi ini. Termasuk benih padi yang akan ditanam. Lelaki dewasa yang kesurupan dan bertingkah bagai kerbau ini, akan kembali seperti semula setelah dimantra-mantrai oleh tetua adat.
Upacara yang mengikuti bisikan syetan itu hanya menjerumuskan. Untuk upacara penyembahan syetan itu bila biayanya digunakan untuk menyantuni anak yatim misalnya, tentu bermanfaat. Namun dengan diadakan upacara ritual syaithoni seperti ini justru disamping sesat, masih pula yang seharusnya disantuni malah dananya untuk syetan, maka benarlah firman Allah Ta’ala:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [البقرة/268]
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia [170]. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 268)
[170]. Balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia.
Pohon Tumbang hingga Kongres PSSI
Ritual tolak bala’ dipraktekkan dengan berbagai macam latar belakang. Misalnya di Jombang, ritual tolak bala’ digelar karena ada pohon tua tumbang. Pohon tua berusia ratusan tahun yang berada di tengah pemakaman umum tersebut tumbang dan terbelah menjadi dua bagian. Sebenarnya, wajar saja pohon tua tumbang dan terbelah. Namun bagi sebagian masyarakat, peristiwa itu dimaknai lain.
Sebagian warga setempat ada yang meyakini, tumbangnya pohon tua tersebut merupakan pertanda akan datangnya musibah. Untuk mencegah musibah, maka perlu digelar ritual tolak bala’. Sebagaimana diberitakan waspada online edisi 12 Januari 2010, sejumlah warga berinisiatif menggelar ritual tolak bala’ tepat ditengah-tengah belahan pohon tua tersebut. Selain memanjatkan doa juga disiapkan sesajen berupa tujuh rupa jajanan pasar. Usai ritual tolak bala’, warga secara beramai-ramai memotong pohon tua tersebut.
Ternyata, ritual tolak bala’ juga dipraktekkan untuk menyukseskan Kongres Luar Biasa PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia), yang berlangsung pada hari Sabtu tangal 9 Juli 2011 lalu. Dua hari sebelum kongres luarbiasa berlangsung (Kamis, 7 Juli 2011), digelar doa bersama yang berlangsung di Gapura Plaza Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, dan dihadiri sekitar seribu orang. Doa bersama dilakukan oleh para tokoh agama dari semua agama yang diakui di Indonesia.
Dilanjutkan dengan ritual tolakbala’ berupa tari-tarian yang diperagakan oleh lima orang dengan tubuh serba hitam, sebagai simbol dari pengacau. Kemudian ada sejumlah tokoh berpakaian serba putih yang membawa peran mendamaikan keadaan. Para penari itu bergerak menuju panggung dengan diiringi alunan kelompok musik gamelan Jawa Larasmadya. Ritual tersebut diyakini sebagai cara yang ampuh untuk menyukseskan berlangsungnya kongres luar biasa PSSI.
Kongres Luar Biasa PSSI tersebut tentu saja dihadiri oleh Jenderal TNI Purn. Agum Gumelar dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI. Sebelumnya, Kongres PSSI yang berlangsung 20 Mei 2011, berakhir deadlock. Antara lain, karena Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional FIFA, menolak pencalonan George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai calon Ketua dan Wakil Ketua PSSI menggantikan Nurdin Khalid.
Rupanya, di kalangan yang terkesan modern, intelek dan rasional, menjadikan ritual tolak bala’ yang terkesan tradisional dan irasional sebagai salah satu upaya mensukseskan hajatan akbarnya, tetap menjadi bagian yang dianggap lumrah. Kalau yang terkesan modern, intelek dan rasional saja pola fikirnya seperti itu, bagaimana pula dengan yang tidak intelek dan terbelakang? Pasti lebih kacau lagi.
Barangkali, ini merupakan fenomena dari sebuah masyarakat yang lemah iman dan kurang percaya diri. Sehingga, lebih memilih solusi yang irasional dan bermuatan pembodohan serta penyesatan, dibanding mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan iman dan istiqomah alias konsekuen serta konsisten.
Peran syetan dan orang-orang munafiq
Dalam ayat pada awal tulisan ini tercantum peran syetan kemudian disambung dengan peran orang-orang munafiq. Syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Sedang orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) orang yang mengajak untuk (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul.
Sebenarnya, syetan itu tipudayanya lemah. Telah jelas Allah firmankan:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا [النساء/76]
“…karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’ 4: 76).
Dalam kenyataan, kenapa justru di mana-mana banyak orang tunduk kepada syetan, dari yang di perkampungan tradisional sampai ke tingkat orang modern taraf nasional tetapi tunduk dan mengabdi kepada syetan dengan cara melayani pakai sesaji ataupun ritual tertentu?
Masalah itu dapat dilihat, dari sisi lanjutan ayat tersebut di atas, jelas peran orang-orang munafiq lah yang punya andil besar. Di samping itu, factor utamanya pula, karena keimanan atau keikhlasan mereka sangat tipis. Kalau mereka itu orang-orang yang mukhlis, ikhlas, beribadah hanya untuk Allah Ta’ala, maka syetan pun tidak sanggup menundukkannya. Karena dalam Al-Qur’an ditegaskan:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ [الحجر/39-43]
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis [799] di antara mereka." Allah berfirman, "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya) [800]. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya.” (QS. Al-Hijr [15] : 39-43)
[799]. Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.
[800]. Maksudnya pemberian taufiq dari Allah s.w.t. untuk mentaati-Nya, sehingga seseorang terlepas dari tipu daya syaitan mengikuti jalan yang lurus yang dijaga Allah s.w.t. Jadi sesat atau tidaknya seseorang adalah Allah yang menentukan.
Allah telah mengancam para pengikut syetan bahwa tempat mereka adalah neraka Jahannam. Yang selamat hanyalah orang-orang mukhlisin yang taat kepada Allah Ta’ala, karena mendapatkan taufiq (pertolongan) dari Allah.
Ketika kenyataannya ritual-ritual yang bertentangan dengan aturan Allah Ta’ala di negeri ini dilakukan orang di mana-mana, berarti merupakan keberhasilan kaum munafiq dalam membodohi dan menyesatkan Ummat sesuai dengan program syetan. Semakin banyak dan berperannya orang-orang munafiq maka semakin merajalela pula kesesatan dan pemujaan syetan. Hingga semakin banyak pula yang memusuhi orang-orang yang mukhlis. Sehingga orang-orang mukhlis yang berupaya untuk menegakkan aturan Allah di bumi-Nya ini senantiasa berhadapan dengan orang-orang munafiq dan wadyabala syetan, baik sifatnya local, nasional, maupun internasional. Ada yang cari proyek dan ada yang cari tenaga untuk proyeknya, yang semua itu untuk menghadapi orang-orang mukhlis. Maka tidak mengherankan, kelompok yang sejak lama berhadapan dengan kaum mukhlis, akhir-akhir ini tampak lantang dalam berkaok-kaok yang intinya agar digunakan sebagai tenaga-tenaga dalam menghadapi kaum mukhlis, siap bekerjasama dengan wadyabala syetan lainnya di antaranya dengan modal ilmu syetan, misalnya ilmu kebal dan semacamnya.
Pemilik proyek pun faham, boleh-boleh saja mengucurkan dana, asal hanya tampak syar’i dan bukan syar’i betulan, yang pada hakekatnya adalah bid’i atau sebenarnya menjadikan Ummat ini bodoh dan jauh dari ajaran Islam yang benar. Proyek-proyek semacam ini lah yang tampaknya sedang didanai akhir-akhir ini, disamping ritual syirkyah yang jelas-jelas merusak iman seperti tersebut dalam uraian ini.
Benar lah ayat tersebut di atas yang menggandengkan peran syetan dengan peran orang-orang munafiq, agar hal itu dicamkan benar-benar oleh kaum muslimin. Agar tidak terjerat oleh tipuan syetan dan munafiqin.
Dan benarlah firman Allah ini:
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة/9-12]
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit [23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi [24]". Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah [2] : 9-12)
[23]. Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.
[24]. Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)