Habib Rizieq Syihab
Ketua Umum DPP Front Pembela Islam
…dalam da'wah penyebaran Islam tidak boleh ada kekerasan, pemaksaan, pemerasan, penipuan, pembohongan, teror dan intimidasi, iming-iming dan bujuk rayu, apalagi cara-cara keji seperti penculikan, hipnotis dan hamilisasi….
Firman Allah SWT dlm surat Hud ayat 118 :"Wa Lau Syaa-a Robbuka Laja'alan Naasa Ummatan Waahidah Wa Laa Yazaaluuna Mukhtalifiin". (Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka akan senantiasa berbeda). Ini adalah ayat Pluralitas yang menegaskan bahwa kebhinekaan dalam kehidupan umat manusia adalah suatu keniscayaan. Keragaman agama, adat istiadat, ras, suku bangsa dan bahasa merupakan Sunnatullah yang tak bisa dihindarkan.
Dalam surat Al-Hujurat ayat 13, dengan tegas Allah SWT menyatakan bahwa penciptaan manusia yang terdiri dari pria dan wanita, serta kemajemukannya sebagai puak dan suku bangsa adalah untuk saling mengenal. Karenanya, Islam tidak pernah melarang umatnya berbuat baik dan bersikap adil kepada sesama umat manusia, apa pun agamanya, selama mereka tidak memerangi Islam dan umatnya, sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8 - 9.
Islam adalah agama dakwah untuk semua umat manusia, sehingga harus disebarluaskan ke seluruh dunia. Namun demikian, Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama. Dalam Islam tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Dengan tegas Allah SWT membuat aturan dalam surat Al-Baqarah ayat 256 bahwa tidak boleh ada seorang pun yang dipaksa untuk memeluk agama Islam. Karenanya, dalam da'wah penyebaran Islam tidak boleh ada kekerasan, pemaksaan, pemerasan, penipuan, pembohongan, teror dan intimidasi, iming-iming dan bujuk rayu, apalagi cara-cara keji seperti penculikan, hipnotis dan hamilisasi.
Islam adalah agama haq yang datang dari Allah SWT, sehingga harus menjadi pilihan setiap manusia dan wajib diikuti. Allah SWT mewajibkan setiap manusia untuk memilih iman dan menolak kekafiran. Namun demikian, kewajiban bukan paksaan, sehingga setiap orang bebas memilih iman atau kekafiran, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Kahfi ayat 28. Tentu saja dengan ketentuan, barangsiapa yang telah memilih iman, maka tidak ada jalan lagi baginya untuk melepaskannya. Itulah karenanya, Islam tidak mentoleransi murtad dan pemurtadan dari ajaran Islam. Mereka yang memilih iman berarti benar dan menang, sedang mereka yang memilih kekafiran berarti salah dan kalah.
Islam adalah agama kebebasan yang hakiki. Dalam ajaran Islam, setiap orang bebas untuk meyakini kebenaran agamanya, sebagaimana ia bebas pula untuk menolak kebenaran agama lain yang tidak diyakininya. Islam melarang umatnya untuk memaksa penganut suatu agama untuk mengakui kebenaran agama lain yang tidak dianutnya. Namun demikian, tidak boleh menghina, mencerca dan mencaci-maki agama lain yang tidak diyakininya tersebut. Islam menolak segala bentuk penistaan, penodaan dan pelecehan suatu agama, apa pun agama tersebut. Allah SWT melarang keras umat Islam menghina atau mencerca agama lain beserta sesembahannya, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-An'am ayat 108.
Rasulullah SAW dan Pluralitas
Tuntunan Qur'ani tentang pluralitas sangat indah dan menakjubkan. Inilah yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Hubungan Nabi SAW dengan orang-orang di luar Islam sudah terjalin sejak lama. Pada awal beliau mendapat risalah, beliau sudah berkomunikasi dengan Waroqoh bin Naufal, seorang Pendeta Nashrani di Mekkah. Saat para shahabat mendapat tekanan keras dari kalangan Kafir Quraisy, Nabi SAW tidak sungkan mengirim mereka mendapatkan suaka dari seorang Raja Nashrani di Habasyah (Ethiopia). Dan beliau sendiri mendapat suaka dari seorang pemuka Kafir Musyrik Quraisy, Muth'i'm bin 'Adi, untuk masuk kembali ke kota Mekkah tatkala ditolak di Thaif.
Dan saat beliau di Madinah, beliau sering berdialog dengan para pemuka Yahudi. Selain itu, dalam rangka menjaga hubungan antar umat beragama di Madinah, Nabi SAW pun membuat Piagam Madinah, yaitu suatu piagam yang berisikan nilai, norma, hukum dan aturan hidup dalam kebhinekaan dan kemajemukan masyarakat Madinah kala itu.
Di Mekkah mau pun Madinah, Nabi SAW sudah terbiasa bermu'amalah dengan orang-orang di luar Islam. Bahkan suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda : "Man Adzaa Dzimmiyyan Fa Ana Khoshmuhu, Khoosamtuhu Yaumal Qiyaamah" (Barangsiapa yg menyakiti / mengganggu Kafir Dzimmi, maka aku jadi musuhnya, niscaya aku musuhi dia di Hari Qiyamat). Subhanallah! Luar Biasa! Seorang Nabi mengancam untuk memusuhi umatnya sendiri jika mengganggu umat agama lain tanpa haq! Ini merupakan puncak penghargaan Nabi SAW terhadap pluralitas.
Jadi, soal penghargaan terhadap Pluralitas, Islam telah mendahului ajaran semua agama, sehingga umat Islam pun telah mendahului etika semua umat beragama di dunia.
Pluralisme dan Multikulturalisme
Lain pluralitas, lain lagi pluralisme. Islam menerima pluralitas dengan segala keindahannya, tapi menolak keras pluralisme dengan segala kerusakannya. Pluralisme adalah suatu ajaran pemikiran yang meyakini bahwa semua agama sama, dan semuanya benar. Pluralisme menganut paham relativisme, sehingga menolak adanya kebenaran mutlak dalam keyakinan beragama. Pluralisme melarang penganut suatu agama mengklaim hanya agamanya yang benar. Pluralisme memaksa setiap penganut suatu agama untuk mengakui kebenaran agama lain yang tidak dianutnya. Bagi pluralisme, sempalan dalam suatu agama yang menistakan dan menodai agama tersebut sekali pun, tetap harus dikategorikan sebagai bagian dari kebebasan beragama.
Jadi, pluralisme tidak lain dan tidak bukan hanya merupakan madzhab pembenaran semua agama dan pembenaran semua penyimpangan agama, serta pemerkosaan terhadap kebebasan umat manusia dalam membenarkan agamanya dan dalam menolak kebenaran agama lain yang tidak diyakininya. Ironisnya, pluralisme merusak agama dengan mengatas-namakan agama.
Fakta membuktikan bahwa kaum pluralisme merupakan kelompok anarkis pemikiran yang selalu memaksakan pendapat dan kehendak. Jika ada kelompok lain yang tidak sependapat dengan mereka, maka akan mereka beri label, seperti : Preman Berjubah, Jama'ah Anarkis, Radikal Agama, Teroris Islam, Bahaya Latin Kanan, Fundamentalis Transnasional, Islam Kolot, Islam Puritan, dan sebagainya...
Kini, setelah Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) sesat dan menyesatkan, maka kaum pluralisme berkamuflase dengan mengganti nama menjadi Multikulturalisme. Nama terdengar beda, tapi ternyata isinya sama. Bungkusan yang menarik, ibarat "kornet Babi cap Onta". Bungkusnya bagus menawan, isinya racun mematikan. Apa pun namanya, aliran pembenaran semua agama dan semua penyimpangan agama, merupakan aliran sesat yang harus diberantas hingga ke akar-akarnya.
Indonesia dan Pluralitas
Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara Indonesia menjadi bukti bahwa negeri ini sangat menghargai pluralitas. Namun sayang, pengelola negeri ini tidak mampu membedakan antara pluralitas dan pluralisme, sehingga terbawa arus pencampur-adukkan aqidah dan pembenaran terhadap berbagai penyimpangan agama.
Bukti pencampur-adukkan aqidah yang dilakukan negara adalah masih digelarnya Natal Bersama di berbagai instansi pemerintah, padahal MUI telah memfatwakan haram sejak tahun 1981. Sedang bukti pembenaran penyimpangan agama oleh negara adalah masih keras kepalanya Presiden RI untuk tidak menerbitkan Keppres Pembubaran Ahmadiyah, padahal MUI telah memfatwakan sesat menyesatkan sejak tahun 1980 yang kemudian dipertegas dengan fatwa tahun 2005, dan Bakorpakem telah merekomendasikan pembubarannya sejak 2005 yang kemudian dipertegas pada tahun 2008.
Kebebasan beragama di Indonesia dijamin oleh UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Dan agar supaya tiap-tiap umat beragama tidak menafsirkan sendiri-sendiri tentang kebebasan beragama yang dimaksud, maka telah dibuat berbagai perundang-undangan yang mengatur harmonisasi hubungan antar umat beragama. Misalnya, SKB tentang pendirian rumah ibadah dibuat agar tidak ada umat suatu agama seenak dan semaunya mendirikan rumah ibadah di wilayah pemukiman umat agama lain. Misal lain, UU Diknas yang mewajibkan sekolah umum disemua tingkatan untuk menyediakan guru pelajaran agama yang seagama dengan peserta didik, sehingga tidak ada peserta didik yang dipaksa untuk belajar agama yang tidak dianutnya.
Sedang penodaan agama di Indonesia dilarang oleh UU Penodaan Agama yang tertuang dalam Perpres No. 1 / PNPS / 1965 yang kemudian diundangkan oleh UU. No. 5 Th. 1969, dan KUHP pasal 156a. UU Penodaan agama ini berlaku untuk semua agama, sehingga tidak boleh ada umat agama apa pun yang menodai agama yang mana pun.
Semua perundang-undangan tersebut sudah lumayan bagus, tapi masih saja ada pihak yang gemar melanggarnya, seperti bermunculan rumah-rumah ibadah liar suatu umat agama tertentu di wilayah pemukiman umat agama lain, atau peserta didik suatu sekolah umum dipaksa untuk belajar agama lain, atau aliran-aliran sesat yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, sehingga menimbulkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat, bahkan tidak sedikit yang memicu konflik.
Di Sampit, Ambon dan Poso misalnya, pada mulanya murni merupakan persoalan kriminal kemaksiatan, seperti minuman keras dan premanisme, lalu ditunggangi kepentingan politik yang juga memanfaatkan kesenjangan sosial ekonomi yang ada, kemudian akhirnya mengkristal menjadi konflik agama.
Karenanya, semua pihak harus tunduk kepada hukum dan perundang-undangan yang mengatur hubungan antar umat beragama di Indonesia, agar kebhinekaan, keragaman dan kemajemukan menjadi indah tak ternodai.
Pluralitas dan Pluralisme
Setelah uraian di atas, maka jelas sudah perbedaan antara Pluralitas dan Pluralisme. Ini memang hanya sebuah istilah, tapi istilah justru merupakan pintu masuk terminologi yang memfokuskan makna dan tujuan dari istilah itu sendiri. Karenanya, umat Islam harus waspada dan ekstra hati-hati dengan penggunaan istilah, karena ini merupakan bagian dari medan perang terminologi antara Islam dan Barat yang akan berimbas kepada peradaban.
Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa pluralitas adalah suatu kebhinnekaan, keragaman dan kemajemukan, sedang pluralisme adalah suatu pemaksaan kehendak dan pencampur-adukkan aqidah. Pluralitas adalah suatu kebebasan, keindahan dan keniscayaan, sedang pluralisme adalah suatu kejahatan, pengkhianatan dan kesesatan. Akhirnya, penulis menegaskan : Pluralitas Yes! Pluralisme No! Allahu Akbar !!!
Sabtu, 18 Desember 2010
WikiLeaks
ikiLeaks merilis sebuah kawat rahasia Kedubes AS di Beijing yang berisi pertemuan Kemlu China dan AS. Dalam kawat disebutkan China berencana untuk membuat umat Muslim Indonesia menjadi sekuler.
WikiLeaks seperti dilansir dari situsnya, Rabu (15/12/2010), merilis sebuah kawat rahasia dari Kedubes AS di Beijing tertanggal 5 Maret 2007 dengan kode referensi Beijing 1448. Saat itu dilakukan pertemuan antara Wakil Menlu China Cui Tiankai dan Dirjen Urusan Asia Kemlu China Hu Zhengyue, dengan pejabat Kemlu AS Eric John.
Pertemuan mereka untuk membahas sejumlah negara Asean. Indonesia termasuk mendapat porsi utama. John bertanya pada Hu, bagaimana pemerintah China melihat pemerintah Indonesia yang sekarang.
Menurut Hu, China memantau betapa ada peningkatan gesekan antar etnis dan agama di Indonesia. Pemerintah China pun ingin mendorong sekularisasi muslim di Indonesia.
"Beijing ingin mempromosikan Islam sekuler di Indonesia," kata Hu kepada John.
Bagaimana cara Beijing menyekulerkan muslim di Tanah Air? Menurut Hu, hal itu dilakukan dengan mendorong interaksi muslim Indonesia dengan muslim China. Dengan demikian, muslim Indonesia bisa tertular sifat muslim yang di China memang sekuler karena kontrol ketat pemerintah Komunis.
"Dengan mendorong interaksi dengan 20 juta muslim di China," jelas Hu.
Hu pun bersepakat dengan John, menjalin hubungan baik dengan Indonesia paling mudah dilakukan dengan memberikan bantuan saat bencana alam. China dan AS dalam beberapa tahun terakhir memberikan bantuan ketika Indonesia tertimpa bencana alam.
"Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan China berkoordinasi dalam memberikan bantuan untuk Indonesia
terkait dengan bencana alam. Beijing melihat hal semacam ini bisa menjadi model untuk kerja sama regional," kata Hu. (dt
WikiLeaks seperti dilansir dari situsnya, Rabu (15/12/2010), merilis sebuah kawat rahasia dari Kedubes AS di Beijing tertanggal 5 Maret 2007 dengan kode referensi Beijing 1448. Saat itu dilakukan pertemuan antara Wakil Menlu China Cui Tiankai dan Dirjen Urusan Asia Kemlu China Hu Zhengyue, dengan pejabat Kemlu AS Eric John.
Pertemuan mereka untuk membahas sejumlah negara Asean. Indonesia termasuk mendapat porsi utama. John bertanya pada Hu, bagaimana pemerintah China melihat pemerintah Indonesia yang sekarang.
Menurut Hu, China memantau betapa ada peningkatan gesekan antar etnis dan agama di Indonesia. Pemerintah China pun ingin mendorong sekularisasi muslim di Indonesia.
"Beijing ingin mempromosikan Islam sekuler di Indonesia," kata Hu kepada John.
Bagaimana cara Beijing menyekulerkan muslim di Tanah Air? Menurut Hu, hal itu dilakukan dengan mendorong interaksi muslim Indonesia dengan muslim China. Dengan demikian, muslim Indonesia bisa tertular sifat muslim yang di China memang sekuler karena kontrol ketat pemerintah Komunis.
"Dengan mendorong interaksi dengan 20 juta muslim di China," jelas Hu.
Hu pun bersepakat dengan John, menjalin hubungan baik dengan Indonesia paling mudah dilakukan dengan memberikan bantuan saat bencana alam. China dan AS dalam beberapa tahun terakhir memberikan bantuan ketika Indonesia tertimpa bencana alam.
"Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan China berkoordinasi dalam memberikan bantuan untuk Indonesia
terkait dengan bencana alam. Beijing melihat hal semacam ini bisa menjadi model untuk kerja sama regional," kata Hu. (dt
SMS Gorries Mere
Puluhan SMS Gorries Mere yang dibocorkan oleh Mega Simarmata membuka mata publik. Ternyata sepak terjang Densus 88 dan godfather-nya sangat berwarna. Jauh sebelum Julian Assange menghebohkan dunia dengan Wikileaks-nya, Mega Simarmata telah mengguncang dengan Densusleaks.
Jika situs-situs “leaks” membocorkan dokumen dan komunikasi negara, beda lagi dengan situs katakami.com. Situs berita yang yang dipimpin oleh seorang jurnalis bernama Mega Simarmata ini kerap memuat berita yang mengungkap sepak terjang “godfather” antiteror di Indonesia, Gorries Mere. Karena Gorries sangat berpengaruh dalam operasi Densus 88 Antiteror dan Satgas Bom Mabes Polri, tak berlebihan jika situs katakami berubah nama menjadi “Densusleaks.”
Mega menulis banyak hal tentang Gorries. Dari dugaan korupsi alat komunikasi buatan Israel hingga dugaan kongkalikong Gorries dengan bandar narkoba bernama Monas. Konon ia berkali-kali diteror, ponselnya disadap hingga tak dapat digunakan. Situs katakami.com pun kerap di-hack sehingga harus di-back up dengan sebuah blog.
Secara khusus Mega menuding pelakunya adalah Kombes Petrus Reinhard Golose, bekas Kadivtelematika Mabes Polri. Tangan kanan Gorries itu kini menjadi direktur di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Terkait kehidupan pribadi Gorries, Mega menulis kedekatan sang komjen dengan seorang polwan bernama Vivik Tjangkung meski telah beristri. Beberapa artikel yang ditulis Mega menyoroti hal itu cukup tajam.
Tommy Winata
Terakhir, pada 9 Mei 2009, Mega membocorkan puluhan SMS Gorries, dari nomor HP 0811995999 dan 0816.999999. Nomor kedua ini disebut Mega sebagai nomor ini atas nama Tommy Winata, taipan keturunan Cina yang sempat ribut dengan Majalah Tempo karena dituduh berada di belakang terbakarnya Pasar Tanah Abang. Tommy juga yang akan menangani proyek pembangunan jembatan Selat Sunda. Menurut Mega, nomor itu telah digunakan sejak bertahun-tahun lalu oleh Gorries Mere.
Dalam SMS-SMS yang dikirim, Gorries memakai inisial GM. Sementara Mega Simarmata disebutnya MS. GM seolah selalu melaporkan keberadaannya, mungkin juga sebagai balasan atas SMS MS. Misalnya ketika GM berada di Washington DC tanggal 17 Januari 2007. Saat itu GM mendampingi Kapolri Sutanto meminta akses untuk bisa memeriksa Hambali yang tengah ditahan di Kamp Guantanamo. Sebuah permintaan yang ditolak oleh Amerika.
Keesokan harinya, GM menceritakan komunikasinya dengan Brigjen Badrodin Haiti, Kapolda Sulteng. Saat itu situasi di Poso tengah memanas karena polisi memaksa para DPO teroris yang bermukim di kompleks Pesantren Tanah Runtuh menyerah. Namun mereka baru mau menyerah jika 16 nama aktor intelektual Kristen yang disebut namanya oleh Tibo cs. juga ditangkap. Perundingan pun buntu.
Saat itu Gorries Mere sedang berada di Amerika Serikat. Namun, menurut Mega, atas perintah Gorries Mere maka dilakukan penyerangan yang kedua kalinya di Poso tanggal 22 Januari 2007 yang mengakibatkan belasan orang sipil tak bersenjata tewas akibat tembakan POLRI. Saat itu, KOMNAS HAM turun ke lokasi bentrok tersebut dan menyimpulkan bahwa POLRI telah melakukan pelanggaram HAM.
Pada hari bakutembak berkecamuk di Poso, GM tak lupa mengabarkan situasi di sana pada MS. GM bercerita berbagai senjata digunakan oleh kelompok DPO. Akibatnya tiga polisi terluka.
Penyadap Israel
MS juga bercerita, sambil membocorkan SMS GM tentunya, bagaimana GM begitu sebal pada mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu. Mega menulis bahwa sejumlah SMS dari Gories Mere bernada mengejek Jenderal Ryamizard Ryacudu. Semua SMS “sangat lancang” serta “tidak santun” dari GM yang mengejek Ryamizard kemudian di-forward ke nomor ponsel sang jenderal.
Menurut wartawati ini, Gories Mere memiliki kecenderungan untuk mengejek dan merendahkan TNI, tetapi juga mengejek dan merendahkan institusinya sendiri, Polri. Menurut Mega, Gories Mere adalah perwira tinggi Polri yang sangat tidak kredibel dan menyebarkan benih perpecahan disana-sini.
GM bukan tak sadar bahwa ia tak disukai banyak orang. Namun ia mengklaim bahwa hal itu karena dua sebab. Pertama karena ia Kristen, kedua karena ia tak seperti pejabat lain di Indonesia yang suka korupsi. Ia lebih suka berpikir dan berbuat untuk bangsa dan negara. Ini tercantum dalam SMS GM tanggal 14 Mei 2007.
Namun, empat hari sebelumnya, GM mengirimkan SMS dari Madrid, Spanyol. Menurut Mega, GM mengaku tengah menggelar pertemuan rahasia dengan pengusaha yang menyediakan alat penyadap dari Israel. Pengusaha itu konon mengeluh banyaknya upeti yang setoran yang harus dikeluarkan jika hendak melakukan investasi ke Indonesia.
Mega sangsi dengan cerita GM itu, menurutnya itu hanya keterangan sepihak. “Pertanyaannya adalah mengapa ia mengadakan pertemuan gelap atau rahasia di luar negeri dengan pengusaha alat penyadap ? Patut dapat diduga, GORIES MERE terlibat dalam kasus korupsi pembelian alat penyadap buatan Israel yang digunakan Tim Anti Teror POLRI.”
Bocoran dari Mega ini mengingatkan publik pada kasus korupsi alat komunikasi (alkom) di Polri. Saat itu ada beberapa perwira tinggi yang dituding merugikan miliaran rupiah uang negara. Namun yang dikorbankan hanya Henry Siahaan, rekanan Polri dalam proyek itu. Henry pun masuk bui dan kemudian bercerai dengan isterinya, Yuni Shara.
Abu Dujana
“Laporan” GM pada MS terus berlanjut. Pada 9 Juni 2007, Pada Pukul 14.15.47, GM mengaku tengah berada di hutan Pantai Selatan Wilayah Gombong. Saat itu ia tengah memantau penangkapan atas Abu Dujana. Tersangka teroris yang dianggap dekat dengan Noordin M Top.
Penangkapan ini sempat memicu heboh. Pasalnya Menlu Australia Alexander Downer merilis kabar itu tanggal 11 Juni, dua hari sebelum Mabes Polri mengakuinya. Beberapa jam sebelum jumpa pers Polri, dinihari tanggal 13 Juni 2007, GM meng-SMS Mega bahwa ABD (inisial Abu Dujana) telah tertangkap. “We got him. Thank you so much Non, for everything that has been happened & already done.” GM menyapa MS dengan sebutan akrab, Non, dalam berbagai SMS-nya.
Empat hari kemudian, tepat hari Minggu, GM kembali menyapa MS. “Belum Misa, Non? Sangat confidential, Only For Non. Ada yang sedang diambil dan sedang dikorek-korek karena masih kunci mulut. Pakai doanya Non lagi, dong …
Tiga hari berikutnya, 20 Juni 2007, GM kembali melaporkan perkembangan kasus Abu Dujana. Saat itu bola panas bergulir karena anak Abu Dujana yang berumur 8 tahun bersaksi di depan DPR bahwa ayahnya ditembak meski sudah menyerah. Polri pun menjadi bulan-bulanan kecaman publik.
Realita yg diungkapkan oleh GM dalam SMS-nya lebih parah. Sebenarnya Abu Dujana mau ditembak mati!
“Sebenarnya Petugas kami akan melumpuhkan dgn menembak KEPALA ABD. Tapi Ybs berkelit. Menundukkan kepala & pahanya NUNGGING ke ATAS sampai tertembus peluru. Hehehe. Untung dia !”
“Membeli” Opini Gus Dur
Dalam situasi terpojok itu, dikecam publik lantaran kejanggalan dalam kasus Abu Dujana, pada tanggal 22 Juni GM mengirimkan bahan-bahan berita versinya kepada MS. Kepada Kombes Benny Mamoto, salah satu perwira andalannya di Densus 88, GM menmerintahkan bahan itu dikirim via faks. “Tolong Ben, sekarang juga bahan tadi dikirim melalui fax.”
Untuk memperkuat permintaan dukungan itu, GM pada tanggal 25 Juni mencoba menyuap MS dengan uang sebesar 10 juta rupiah. Mega mengaku ia sama sekali tak mau menerima uang tersebut. Kemudian ajudan GM bernama Santos juga berupaya menyerahkan uang tersebut pada MS.
Entah apa yang kemudian terjadi. Namun pada tanggal 29 Juni, GM mengucapkan terima kasih atas bantuan MS. Untuk memberi “keseimbangan pemberitaan,” Mega Simarmata meminta pendapat, pandangan dan tulisan kolom dari Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi dan sebagainya. “Opini penyeimbang” itu dimuat di halaman khusus yang dibayar berdasarkan tarif iklan advetorial berbagai surat kabar sehingga menghabiskan dana hampir Rp. 20 Juta.
Puluhan SMS Gorries Mere yang dibocorkan oleh Mega Simarmata membuka mata publik. Ternyata sepak terjang Densus 88 dan godfather-nya sangat berwarna. Jauh sebelum Julian Assange menghebohkan dunia dengan Wikileaks-nya, Mega Simarmata telah mengguncang dengan Densusleaks.
Mega berjanji akan terus membocorkan SMS Gorries dalam kurun waktu 2006-2009. Sejauh ini baru sekitar 27 SMS yang dibocorkan dalam berangka tahun 2007. Padahal Mega mengaku ada ribuan SMS! Ia berjanji akan terus membocorkan SMS-SMS itu jika diintimidasi oleh Gorries. Benarkah? Kita tunggu saja. (muslimdaily/arrahmah.com/suara-islam.com)
Jika situs-situs “leaks” membocorkan dokumen dan komunikasi negara, beda lagi dengan situs katakami.com. Situs berita yang yang dipimpin oleh seorang jurnalis bernama Mega Simarmata ini kerap memuat berita yang mengungkap sepak terjang “godfather” antiteror di Indonesia, Gorries Mere. Karena Gorries sangat berpengaruh dalam operasi Densus 88 Antiteror dan Satgas Bom Mabes Polri, tak berlebihan jika situs katakami berubah nama menjadi “Densusleaks.”
Mega menulis banyak hal tentang Gorries. Dari dugaan korupsi alat komunikasi buatan Israel hingga dugaan kongkalikong Gorries dengan bandar narkoba bernama Monas. Konon ia berkali-kali diteror, ponselnya disadap hingga tak dapat digunakan. Situs katakami.com pun kerap di-hack sehingga harus di-back up dengan sebuah blog.
Secara khusus Mega menuding pelakunya adalah Kombes Petrus Reinhard Golose, bekas Kadivtelematika Mabes Polri. Tangan kanan Gorries itu kini menjadi direktur di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Terkait kehidupan pribadi Gorries, Mega menulis kedekatan sang komjen dengan seorang polwan bernama Vivik Tjangkung meski telah beristri. Beberapa artikel yang ditulis Mega menyoroti hal itu cukup tajam.
Tommy Winata
Terakhir, pada 9 Mei 2009, Mega membocorkan puluhan SMS Gorries, dari nomor HP 0811995999 dan 0816.999999. Nomor kedua ini disebut Mega sebagai nomor ini atas nama Tommy Winata, taipan keturunan Cina yang sempat ribut dengan Majalah Tempo karena dituduh berada di belakang terbakarnya Pasar Tanah Abang. Tommy juga yang akan menangani proyek pembangunan jembatan Selat Sunda. Menurut Mega, nomor itu telah digunakan sejak bertahun-tahun lalu oleh Gorries Mere.
Dalam SMS-SMS yang dikirim, Gorries memakai inisial GM. Sementara Mega Simarmata disebutnya MS. GM seolah selalu melaporkan keberadaannya, mungkin juga sebagai balasan atas SMS MS. Misalnya ketika GM berada di Washington DC tanggal 17 Januari 2007. Saat itu GM mendampingi Kapolri Sutanto meminta akses untuk bisa memeriksa Hambali yang tengah ditahan di Kamp Guantanamo. Sebuah permintaan yang ditolak oleh Amerika.
Keesokan harinya, GM menceritakan komunikasinya dengan Brigjen Badrodin Haiti, Kapolda Sulteng. Saat itu situasi di Poso tengah memanas karena polisi memaksa para DPO teroris yang bermukim di kompleks Pesantren Tanah Runtuh menyerah. Namun mereka baru mau menyerah jika 16 nama aktor intelektual Kristen yang disebut namanya oleh Tibo cs. juga ditangkap. Perundingan pun buntu.
Saat itu Gorries Mere sedang berada di Amerika Serikat. Namun, menurut Mega, atas perintah Gorries Mere maka dilakukan penyerangan yang kedua kalinya di Poso tanggal 22 Januari 2007 yang mengakibatkan belasan orang sipil tak bersenjata tewas akibat tembakan POLRI. Saat itu, KOMNAS HAM turun ke lokasi bentrok tersebut dan menyimpulkan bahwa POLRI telah melakukan pelanggaram HAM.
Pada hari bakutembak berkecamuk di Poso, GM tak lupa mengabarkan situasi di sana pada MS. GM bercerita berbagai senjata digunakan oleh kelompok DPO. Akibatnya tiga polisi terluka.
Penyadap Israel
MS juga bercerita, sambil membocorkan SMS GM tentunya, bagaimana GM begitu sebal pada mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu. Mega menulis bahwa sejumlah SMS dari Gories Mere bernada mengejek Jenderal Ryamizard Ryacudu. Semua SMS “sangat lancang” serta “tidak santun” dari GM yang mengejek Ryamizard kemudian di-forward ke nomor ponsel sang jenderal.
Menurut wartawati ini, Gories Mere memiliki kecenderungan untuk mengejek dan merendahkan TNI, tetapi juga mengejek dan merendahkan institusinya sendiri, Polri. Menurut Mega, Gories Mere adalah perwira tinggi Polri yang sangat tidak kredibel dan menyebarkan benih perpecahan disana-sini.
GM bukan tak sadar bahwa ia tak disukai banyak orang. Namun ia mengklaim bahwa hal itu karena dua sebab. Pertama karena ia Kristen, kedua karena ia tak seperti pejabat lain di Indonesia yang suka korupsi. Ia lebih suka berpikir dan berbuat untuk bangsa dan negara. Ini tercantum dalam SMS GM tanggal 14 Mei 2007.
Namun, empat hari sebelumnya, GM mengirimkan SMS dari Madrid, Spanyol. Menurut Mega, GM mengaku tengah menggelar pertemuan rahasia dengan pengusaha yang menyediakan alat penyadap dari Israel. Pengusaha itu konon mengeluh banyaknya upeti yang setoran yang harus dikeluarkan jika hendak melakukan investasi ke Indonesia.
Mega sangsi dengan cerita GM itu, menurutnya itu hanya keterangan sepihak. “Pertanyaannya adalah mengapa ia mengadakan pertemuan gelap atau rahasia di luar negeri dengan pengusaha alat penyadap ? Patut dapat diduga, GORIES MERE terlibat dalam kasus korupsi pembelian alat penyadap buatan Israel yang digunakan Tim Anti Teror POLRI.”
Bocoran dari Mega ini mengingatkan publik pada kasus korupsi alat komunikasi (alkom) di Polri. Saat itu ada beberapa perwira tinggi yang dituding merugikan miliaran rupiah uang negara. Namun yang dikorbankan hanya Henry Siahaan, rekanan Polri dalam proyek itu. Henry pun masuk bui dan kemudian bercerai dengan isterinya, Yuni Shara.
Abu Dujana
“Laporan” GM pada MS terus berlanjut. Pada 9 Juni 2007, Pada Pukul 14.15.47, GM mengaku tengah berada di hutan Pantai Selatan Wilayah Gombong. Saat itu ia tengah memantau penangkapan atas Abu Dujana. Tersangka teroris yang dianggap dekat dengan Noordin M Top.
Penangkapan ini sempat memicu heboh. Pasalnya Menlu Australia Alexander Downer merilis kabar itu tanggal 11 Juni, dua hari sebelum Mabes Polri mengakuinya. Beberapa jam sebelum jumpa pers Polri, dinihari tanggal 13 Juni 2007, GM meng-SMS Mega bahwa ABD (inisial Abu Dujana) telah tertangkap. “We got him. Thank you so much Non, for everything that has been happened & already done.” GM menyapa MS dengan sebutan akrab, Non, dalam berbagai SMS-nya.
Empat hari kemudian, tepat hari Minggu, GM kembali menyapa MS. “Belum Misa, Non? Sangat confidential, Only For Non. Ada yang sedang diambil dan sedang dikorek-korek karena masih kunci mulut. Pakai doanya Non lagi, dong …
Tiga hari berikutnya, 20 Juni 2007, GM kembali melaporkan perkembangan kasus Abu Dujana. Saat itu bola panas bergulir karena anak Abu Dujana yang berumur 8 tahun bersaksi di depan DPR bahwa ayahnya ditembak meski sudah menyerah. Polri pun menjadi bulan-bulanan kecaman publik.
Realita yg diungkapkan oleh GM dalam SMS-nya lebih parah. Sebenarnya Abu Dujana mau ditembak mati!
“Sebenarnya Petugas kami akan melumpuhkan dgn menembak KEPALA ABD. Tapi Ybs berkelit. Menundukkan kepala & pahanya NUNGGING ke ATAS sampai tertembus peluru. Hehehe. Untung dia !”
“Membeli” Opini Gus Dur
Dalam situasi terpojok itu, dikecam publik lantaran kejanggalan dalam kasus Abu Dujana, pada tanggal 22 Juni GM mengirimkan bahan-bahan berita versinya kepada MS. Kepada Kombes Benny Mamoto, salah satu perwira andalannya di Densus 88, GM menmerintahkan bahan itu dikirim via faks. “Tolong Ben, sekarang juga bahan tadi dikirim melalui fax.”
Untuk memperkuat permintaan dukungan itu, GM pada tanggal 25 Juni mencoba menyuap MS dengan uang sebesar 10 juta rupiah. Mega mengaku ia sama sekali tak mau menerima uang tersebut. Kemudian ajudan GM bernama Santos juga berupaya menyerahkan uang tersebut pada MS.
Entah apa yang kemudian terjadi. Namun pada tanggal 29 Juni, GM mengucapkan terima kasih atas bantuan MS. Untuk memberi “keseimbangan pemberitaan,” Mega Simarmata meminta pendapat, pandangan dan tulisan kolom dari Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi dan sebagainya. “Opini penyeimbang” itu dimuat di halaman khusus yang dibayar berdasarkan tarif iklan advetorial berbagai surat kabar sehingga menghabiskan dana hampir Rp. 20 Juta.
Puluhan SMS Gorries Mere yang dibocorkan oleh Mega Simarmata membuka mata publik. Ternyata sepak terjang Densus 88 dan godfather-nya sangat berwarna. Jauh sebelum Julian Assange menghebohkan dunia dengan Wikileaks-nya, Mega Simarmata telah mengguncang dengan Densusleaks.
Mega berjanji akan terus membocorkan SMS Gorries dalam kurun waktu 2006-2009. Sejauh ini baru sekitar 27 SMS yang dibocorkan dalam berangka tahun 2007. Padahal Mega mengaku ada ribuan SMS! Ia berjanji akan terus membocorkan SMS-SMS itu jika diintimidasi oleh Gorries. Benarkah? Kita tunggu saja. (muslimdaily/arrahmah.com/suara-islam.com)
rtawijaya Penulis Buku "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara"
Artawijaya
Penulis Buku "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara"
Para pebisnis Yahudi memiliki peran penting dalam upaya memperjuangkan politik bangsa Yahudi di manapun mereka berada. Mereka tak sekadar berbisnis, namun juga melakukan lobi-lobi politik untuk memuluskan misi mereka dalam menaklukkan sebuah negara, termasuk di Indonesia. Karena itu, lobi-lobi pebisnis Yahudi di negeri ini patut dicurigai!
Siapa tak kenal George Soros? Pebisnis berdarah Yahudi asal Amerika yang memiliki nama asli Gyorgy Shcwartz ini adalah sosok yang disebut-sebut sebagai “biang kerok” krisis finansial yang melanda Asia, termasuk Indonesia pada 1997 silam. Pria kelahiran Budapest, Hongaria, 12 Agustus 1930 ini adalah pebisnis Yahudi yang memiliki reputasi buruk sebagai spekulan di pasar uang internasional. Soros memiliki keyakinan, bahwa pasar adalah wilayah tanpa moral.
Sebagai pebisnis berdarah Yahudi, Soros tentu paham betul soal trilogi; bisnis politik, dan kepentingan Yahudi. Para pebisnis Yahudi yang menjalankan trilogi itu tentu menyadari bahwa lobi bisnis adalah sarana untuk bisa menjalankan lobi politik yang lebih luas ke jantung pemerintahan.Mereka menyebutnya sebagai plan B (business) to G (Government). Karena itu, ia hanya akan melakukan lobi bisnis pada orang yang berada di lingkar elit kekuasaan atau tokoh high level yang memiliki wewenang dalam mengeluarkan kebijakan, khususnya dalam mengeluarkan regulasi bisnis.
Jika pada masa-masa pasca krisis, Soros tak berani menampakkan batang hidungnya di negeri Indonesia, namun berkat lobi-lobi yang dilakukannya Soros kini bisa leluasa melenggang ke Indonesia.Lewat lembaga Open Society Institute, Soros melakukan pertemuan-pertemuan dengan para tokoh pengusung paham Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) di Indonesia. Kedatangannya bertemu Gus Dur di markas The Wahid Institute terkesan dirahasiakan. Tak banyak media yang meliput, kecuali Harian Kompas yang selama ini dikenal sebagai corong kelompok Sepilis. Sebelumnya, Soros juga dikenal sebagai donatur Tifa Foundation, LSM yang juga bergerak memperjuangkan paham Sepilis, HAM, dan kesetaraan gender. Kedatangan Soros ke Indonesia nyaris tanpa penolakan, khususnya dari umat Islam.
Melalui ”para kurirnya” di Indonesia, Soros kemudian berusaha melakukan ekspansi bisnis di dunia perbankan dan perkebunan sawit di Nanggroe Aceh Daarussalam. Tak tanggung-tanggung, Soros berusaha menanam investasi pada sektor perbankan devisa melalui Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh. Rencana Soros sempat menuai pemberitaan tajam di media massa, namun setelah itu hilang begitu saja.
Awal tahun 2010, lobi Soros ke jantung pemerintahan semakin mulus. Di saat masyarakat Indonesia heboh dengan skandal bail out Bank Century yang diduga melibatkan Wakil Presiden Boediono yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Soros justru dengan entengnya melenggang ke istana wakil presiden. Selain bertemu Boediono, di istana wapres tersebut Soros juga bertemu dengan pejabat tinggi Indonesia lainnya, seperti Kepala Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP3) Kuntoro Mangkusubroto dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan.
Pejabat di lingkungan wakil presiden menyebut kedatangan Soros sebagai courtessy call, pertemuan biasa yang tak memiliki agenda khusus. Bahkan, Gita Wirjawan sebagai kepala BKPM menyebut kedatangan Soros sekadar membicarakan perkembangan demokrasi di Indonesia. Sungguh aneh, kalau sekadar membicarakan perkembangan demokrasi, kenapa harus bertemu dengan kepala UKP3 dan BKPM? Kenapa tidak bertemu dengan DPR atau lembaga-lembaga yang lebih terkait dengan upaya mengembangkan demokrasi?
Direktur eksekutif Indonesia Israel Public Affair Comitte (IIPAC) Benjamin Ketang, seperti dikutip Warta Ekonomi, menyebut sowannya Soros ke Boediono bukan pertemuan biasa. Ada agenda besar dan lobi bisnis tingkat tinggi yang dilakukan Soros sebagai pebisnis Yahudi asal Amerika dengan Indonesia yang diwakili oleh Boediono sebagai elit pemerintahan di negeri ini. Strategi B (bussiness) to G (Goverment) yang dilakukan Soros setidaknya melibatkan petinggi di negeri ini.
Kiprah bisnis Soros di Indonesia tercatat di beberapa perusahaan besar di Indonesia, diantaranya; Ricky Putra Grup (bergerak di bidang pakaian), Bank CIC (Bank yang kemudian merger dengan Bank Century), Bhakti Investama (bergerak di bidang media), PT. Global Putra Internasional (bergerak di bidang penerbangan), PT Fatrapolindo Nusa Industri (bergerak di bidang industri plastik kemasan), PT Intan Bumi Inti Perdana (bergerak di bidang pertambangan), dan lain-lain.
Jika Soros telah lebih dulu memainkan pengaruh bisnisnya di Indonesia, maka saat ini pebisnis Yahudi lainnya yang berasal dari Dinasti Yahudi Tameng Merah (Rothschild), berusaha menancapkan taring bisnisnya di Indonesia lewat kolaborasi dengan Grup Bakrie. Rothschild adalah dinasti Yahudi yang banyak memainkan peran dalam berbagai kekisruhan politik dan ekonomi di negara-negara Eropa dan Amerika.
Seperti kata ZA Maulani dalam bukunya ”Zionisme Gerakan Menaklukkan Dunia”, untuk memuluskan ekspansi bisnisnya, Dinasti Rothschild tak hanya menampakkan orang-orangnya ke permukaan, tetapi juga menanam para intelijennya yang melakukan operasi rahasia untuk memuluskan hegemoni bisnisnya. Waspadalah!
Facebook Stumble It! Google Yahoo MyWeb Reddit Del.icio.us; Digg This!
Penulis Buku "Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara"
Para pebisnis Yahudi memiliki peran penting dalam upaya memperjuangkan politik bangsa Yahudi di manapun mereka berada. Mereka tak sekadar berbisnis, namun juga melakukan lobi-lobi politik untuk memuluskan misi mereka dalam menaklukkan sebuah negara, termasuk di Indonesia. Karena itu, lobi-lobi pebisnis Yahudi di negeri ini patut dicurigai!
Siapa tak kenal George Soros? Pebisnis berdarah Yahudi asal Amerika yang memiliki nama asli Gyorgy Shcwartz ini adalah sosok yang disebut-sebut sebagai “biang kerok” krisis finansial yang melanda Asia, termasuk Indonesia pada 1997 silam. Pria kelahiran Budapest, Hongaria, 12 Agustus 1930 ini adalah pebisnis Yahudi yang memiliki reputasi buruk sebagai spekulan di pasar uang internasional. Soros memiliki keyakinan, bahwa pasar adalah wilayah tanpa moral.
Sebagai pebisnis berdarah Yahudi, Soros tentu paham betul soal trilogi; bisnis politik, dan kepentingan Yahudi. Para pebisnis Yahudi yang menjalankan trilogi itu tentu menyadari bahwa lobi bisnis adalah sarana untuk bisa menjalankan lobi politik yang lebih luas ke jantung pemerintahan.Mereka menyebutnya sebagai plan B (business) to G (Government). Karena itu, ia hanya akan melakukan lobi bisnis pada orang yang berada di lingkar elit kekuasaan atau tokoh high level yang memiliki wewenang dalam mengeluarkan kebijakan, khususnya dalam mengeluarkan regulasi bisnis.
Jika pada masa-masa pasca krisis, Soros tak berani menampakkan batang hidungnya di negeri Indonesia, namun berkat lobi-lobi yang dilakukannya Soros kini bisa leluasa melenggang ke Indonesia.Lewat lembaga Open Society Institute, Soros melakukan pertemuan-pertemuan dengan para tokoh pengusung paham Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) di Indonesia. Kedatangannya bertemu Gus Dur di markas The Wahid Institute terkesan dirahasiakan. Tak banyak media yang meliput, kecuali Harian Kompas yang selama ini dikenal sebagai corong kelompok Sepilis. Sebelumnya, Soros juga dikenal sebagai donatur Tifa Foundation, LSM yang juga bergerak memperjuangkan paham Sepilis, HAM, dan kesetaraan gender. Kedatangan Soros ke Indonesia nyaris tanpa penolakan, khususnya dari umat Islam.
Melalui ”para kurirnya” di Indonesia, Soros kemudian berusaha melakukan ekspansi bisnis di dunia perbankan dan perkebunan sawit di Nanggroe Aceh Daarussalam. Tak tanggung-tanggung, Soros berusaha menanam investasi pada sektor perbankan devisa melalui Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh. Rencana Soros sempat menuai pemberitaan tajam di media massa, namun setelah itu hilang begitu saja.
Awal tahun 2010, lobi Soros ke jantung pemerintahan semakin mulus. Di saat masyarakat Indonesia heboh dengan skandal bail out Bank Century yang diduga melibatkan Wakil Presiden Boediono yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Soros justru dengan entengnya melenggang ke istana wakil presiden. Selain bertemu Boediono, di istana wapres tersebut Soros juga bertemu dengan pejabat tinggi Indonesia lainnya, seperti Kepala Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP3) Kuntoro Mangkusubroto dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan.
Pejabat di lingkungan wakil presiden menyebut kedatangan Soros sebagai courtessy call, pertemuan biasa yang tak memiliki agenda khusus. Bahkan, Gita Wirjawan sebagai kepala BKPM menyebut kedatangan Soros sekadar membicarakan perkembangan demokrasi di Indonesia. Sungguh aneh, kalau sekadar membicarakan perkembangan demokrasi, kenapa harus bertemu dengan kepala UKP3 dan BKPM? Kenapa tidak bertemu dengan DPR atau lembaga-lembaga yang lebih terkait dengan upaya mengembangkan demokrasi?
Direktur eksekutif Indonesia Israel Public Affair Comitte (IIPAC) Benjamin Ketang, seperti dikutip Warta Ekonomi, menyebut sowannya Soros ke Boediono bukan pertemuan biasa. Ada agenda besar dan lobi bisnis tingkat tinggi yang dilakukan Soros sebagai pebisnis Yahudi asal Amerika dengan Indonesia yang diwakili oleh Boediono sebagai elit pemerintahan di negeri ini. Strategi B (bussiness) to G (Goverment) yang dilakukan Soros setidaknya melibatkan petinggi di negeri ini.
Kiprah bisnis Soros di Indonesia tercatat di beberapa perusahaan besar di Indonesia, diantaranya; Ricky Putra Grup (bergerak di bidang pakaian), Bank CIC (Bank yang kemudian merger dengan Bank Century), Bhakti Investama (bergerak di bidang media), PT. Global Putra Internasional (bergerak di bidang penerbangan), PT Fatrapolindo Nusa Industri (bergerak di bidang industri plastik kemasan), PT Intan Bumi Inti Perdana (bergerak di bidang pertambangan), dan lain-lain.
Jika Soros telah lebih dulu memainkan pengaruh bisnisnya di Indonesia, maka saat ini pebisnis Yahudi lainnya yang berasal dari Dinasti Yahudi Tameng Merah (Rothschild), berusaha menancapkan taring bisnisnya di Indonesia lewat kolaborasi dengan Grup Bakrie. Rothschild adalah dinasti Yahudi yang banyak memainkan peran dalam berbagai kekisruhan politik dan ekonomi di negara-negara Eropa dan Amerika.
Seperti kata ZA Maulani dalam bukunya ”Zionisme Gerakan Menaklukkan Dunia”, untuk memuluskan ekspansi bisnisnya, Dinasti Rothschild tak hanya menampakkan orang-orangnya ke permukaan, tetapi juga menanam para intelijennya yang melakukan operasi rahasia untuk memuluskan hegemoni bisnisnya. Waspadalah!
Facebook Stumble It! Google Yahoo MyWeb Reddit Del.icio.us; Digg This!
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sekretariat Forum Umat Islam (FUI) pada hari Rabu, 15/12/2010, mendapatkan kiriman surat dari Ustadz Abu Bakar Baasyir. Berikut isi surat yang dikirim oleh Amir Jamaah Anshorut Tauhid itu.
Bismillahirrahmaanirrahiim
Kepada hamba-hamba Alloh :
1. Bapak Ketua Mahkamah Agung.
2. Bapak Jaksa Agung.
3. Bapak Kapolri.
4. Bapak Kadensus 88
Dengan izin Alloh SWT, melalui surat ini saya menyampaikan tadzkiroh (peringatan dan nasehat) kepada bapak-bapak demi keselamatan kita terutama di akherat kelak.
Tadzkiroh wajib saya sampaikan setelah saya melihat ada pelanggaran berat terhadap hukum Alloh dan sunnah rosulNya, yang sangat mengerikan yang dilakukan oleh densus 88.
Pelanggaran hukum Alloh dan rosulNya yang sangat mengerikan ini ialah : menuduh ibadah I’dad (mempersiapkan kekuatan physik dan mental serta menggunakan senjata untuk kepentingan bela Negara / Islam) yang diperintahkan oleh Alloh dan rosulNya yang diamalkan di Aceh dituduh melakukan perbuatan terror dan yang mengamalkan dituduh teroris.
I’dad adalah amal mempersiapkan kekuatan mental dan physik semampunya untuk menggetarkan musuh Alloh dan musuh kaum muslimin agar tidak mengganggu Islam, karena karakter orang-orang kafir / musuh Alloh tidak ridho bila syariat Alloh dan sunnah rosulNya diamalkan oleh pribadi muslim maupun oleh masyarakat, dan memaksa agar muslimun mengikuti ideologi / agama mereka.
Alloh berfirman : (Al Baqoroh : 120)
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sehingga engkau mengikuti millah / agama mereka…
Disamping itu bila ada kemampuan, mereka terus-menerus memerangi kaum muslimin untuk dipaksa murtad, Hal ini diterangkan oleh Alloh SWTdalam firmanNya : (Al Baqoroh : 217)
“…Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu jika mereka sanggup…”
Karakter permusuhan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin ini harus dihadapi dengan persiapan mental dan physik agar mereka gentar, sehingga tidak berani mengganggu Islam dan kaum muslimin. Maka perintah i’dad mempersiapkan kekuatan mental dan physik ini diterangkan oleh Alloh SWT. Untuk menggetarkan mereka, maka i’dad mempersiapkan kekuatan mental dan physic untuk bela Islam / Negara yang diridhoi oleh Alloh dengan cara berlatih adalah disyariatkan oleh Alloh SWT. dan rosulNya.
Alloh memerintahkan i’dad ini dalam firmanNya : (Al Anfal : 60)
Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya...
Yang dimaksud kekuatan dalam ayat tersebut diatas diterangkan Rosululloh SAW. ”kecakapan menembak” jadi maksudnya kekuatan senjata, seperti diterangkan riwayat berikut :
Diriwayatkan dari Salabah bin Amir r.a. Beliau berkata : Saya telah mendengar Rasululloh SAW. Bersabda sedang baginda berada diatas mimbar : ”Persiapkan untuk menghadapi mereka kekuatan menurut kemampuanmu. Ketahuilah yang dimaksud kekuatan itu adalah melempar (menembak/memanah), ketahuilah yang dimaksud kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah yang dimaksud kekuatan itu adalah melempar” (H.R. Muslim).
Dalam mengamalkan perintah Alloh SWT. Ini Rosululloh menggalakkan dan memuji orang yang berlatih senjata, sebagaimana beliau ketika melihat orang yang berlatih memanah, beliau bersabda :
”Lemparlah/panahlah wahai Bani Ismail karena sesungguhnya nenek moyangmu adalah pemanah-pemanah yang ulung”. (H.R. Bukhori)
Dan dalam rangka menekan pentingnya berlatih senjata baginda SAW. Bersabda :
”Barang siapa yang berlatih senjata kemudian ia meninggalkannya, maka ia bukan dari golongan kami, atau dia telah berbuat maksiat” (H.R. Muslim dan Ibnu Majah)
Sabda Rosululloh tersebut diatas menunjukan bahwa baginda memberi semangat kepada umat baginda untuk berlatih mental dan physik. Ini menunjukkan bahwa berlatih kekuatan mental dan physik disyariatkan.
Latihan senjata di Aceh tujuannya adalah untuk mentaati perintah Alloh dan rosulNya dalam surat Al Anfal 60, oleh karena itu latihan tersebut adalah amal ibadah, karena sifat orang beriman adalah ta’at mutlak terhadap perintah Alloh dan rosulNya, tidak membantah, dan mengamalkan menurut kemampuan. Alloh SWT berfirman: (Annur :51)
Hanyalah ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Alloh dan RosunNya agar rosul memutuskan perkara diantara mereka, mereka berkata : Kami mendengar dan kami taat, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Maka saya dan Bapak-bapak kalau mengaku beriman, juga wajib menta’ati perintah i’dad ini bila ada kemampuan, tidak boleh membantah. Perintah i’dad ini kekuatan hukumnya sama dengan perintah sholat, puasa, zakat, haji dll.
Maka jelaslah bahwa i’dad yang diamalkan di Aceh itu merupakan amal mulia yang insya’Alloh di ridhoi oleh Alloh SWT, maka kita hargai dan tidak direndahkan dengan dituduh teror. Tetapi ibadah i’dad di Aceh untuk mentaati perintah Alloh dan RosulNya ini dicela dan dihina oleh Densus 88. Amalannya dituduh amalan teror, dan yang mengamalkan dituduh teroris, diserang dan pelakunya ditangkap secara sadis.
Maka jelas menghina ibadah i’dad yang diamalkan di Aceh itu berarti menghina Alloh, menghina perintahNya (Al Anfal : 60) menghina Rosul dan menghina sunnahnya tentang i’dad ini. Ini berarti Densus 88 menghina Alloh, syariatNya tentang i’dad dan menghina Rosululloh dan sunnahNya.
Secara tidak langsung Densus 88 menuduh Alloh SWT menciptakan syariat teror dan Rosululloh menggalakkan syariat teror. (Maha suci Alloh dan rosulNya dari tuduhan dan hinaan ini). Tindakan Densus 88 dalam hal ini sama dengan penghinaan orang kafir Amerika tehadap Alloh, syariatNya, rosulNya dan sunnahnya dengan berusaha membakar Al-qur’an.
Maka jelas dengan sikap mungkar ini Densus 88 menjadi musuh Alloh, musuh rosulNya dan musuh kaum muslimin, sadar atau tidak sadar.
Maka demi keselamatan di akhirat nanti, saya menasehatkan agar Bapak-bapak meluruskan amalan mungkar Densus 88 yang dimurkai Alloh ini. Bapak-bapak selaku pimpinan akan dimintai pertanggung jawaban di akherat nanti. Maka saya menasehatkan agar menghapus tuduhan teroris terhadap mereka yang mengamalkan ibadah i’dad ini dan memperlakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat dalam Al-qur’an dan sunnah.
Memang mereka dianggap melanggar larangan memiliki senjata tanpa izin. Tetapi peraturan ini bertentangan dengan syariat Alloh dan sunnah Nabi tentang i’dad. Maka peraturan ini batil harus dirubah. Yang dilarang seharusnya mereka yang memiliki dan berlatih senjata untuk kejahatan (perampokan dll), tetapi kalau untuk mentaati perintah Alloh dan rosulNya harus diberi kelonggaran meskipun dengan pengawasan, karena dalam islam ada ketentuan manusia boleh menbuat peraturan/undang-undang tetapi tidak boleh bertentangan dengan hukum Alloh dan rosulNya.
Tadzkiroh ini saya sampaikan semata-mata dengan niat :
1. Agar saya mempunyai alasan dihadapan Alloh untuk melepaskan tanggung jawab di akherat nanti, karena saya melihat penghinaan syariat i’dad oleh densus 88, maka harus saya peringatkan dengan harapan mau bertobat dan bertaqwa. Alloh berfirman : (Al-Araf : 164).
Dan ingatlah ketika suatu umat diantara mereka berkata : mengapa kamu menasehati kaum yang dibinasakan atau diazab oleh Alloh dengan azab yang sangat keras ? mereka menjawab : Agar kami mempunyai alasan(lepas tanggung jawab) kepada tuhanmu dan agar meeka bertaqwa.
1. Bila tadzkiroh saya ini dilecehkan dan mereka terus menghina dan menghalangi pengamalan syariat i’dad sehingga Alloh murka dan menurunkan azab/bencana kepada mereka, semoga saya diselamatkan Alloh dari azabNya, karena saya sudah berusaha mengingatkan semampu saya.
Alloh berfirman : (Al-Araf : 165).
Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik.
Yaa Alloh... berilah petunjuk kepada pemimpin-pemimpin negara ini karena mereka tidak tahu,...Amin.
Yaa Alloh ...saksikan (Allohummasyhad) saya sudah memperingatkan menurut kemampuan saya,..Amin.
Wassalam.
Jakarta, 24 Dzulqo’dah1431 H.
30 Nopember 2010.
Bismillahirrahmaanirrahiim
Kepada hamba-hamba Alloh :
1. Bapak Ketua Mahkamah Agung.
2. Bapak Jaksa Agung.
3. Bapak Kapolri.
4. Bapak Kadensus 88
Dengan izin Alloh SWT, melalui surat ini saya menyampaikan tadzkiroh (peringatan dan nasehat) kepada bapak-bapak demi keselamatan kita terutama di akherat kelak.
Tadzkiroh wajib saya sampaikan setelah saya melihat ada pelanggaran berat terhadap hukum Alloh dan sunnah rosulNya, yang sangat mengerikan yang dilakukan oleh densus 88.
Pelanggaran hukum Alloh dan rosulNya yang sangat mengerikan ini ialah : menuduh ibadah I’dad (mempersiapkan kekuatan physik dan mental serta menggunakan senjata untuk kepentingan bela Negara / Islam) yang diperintahkan oleh Alloh dan rosulNya yang diamalkan di Aceh dituduh melakukan perbuatan terror dan yang mengamalkan dituduh teroris.
I’dad adalah amal mempersiapkan kekuatan mental dan physik semampunya untuk menggetarkan musuh Alloh dan musuh kaum muslimin agar tidak mengganggu Islam, karena karakter orang-orang kafir / musuh Alloh tidak ridho bila syariat Alloh dan sunnah rosulNya diamalkan oleh pribadi muslim maupun oleh masyarakat, dan memaksa agar muslimun mengikuti ideologi / agama mereka.
Alloh berfirman : (Al Baqoroh : 120)
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sehingga engkau mengikuti millah / agama mereka…
Disamping itu bila ada kemampuan, mereka terus-menerus memerangi kaum muslimin untuk dipaksa murtad, Hal ini diterangkan oleh Alloh SWTdalam firmanNya : (Al Baqoroh : 217)
“…Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu jika mereka sanggup…”
Karakter permusuhan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin ini harus dihadapi dengan persiapan mental dan physik agar mereka gentar, sehingga tidak berani mengganggu Islam dan kaum muslimin. Maka perintah i’dad mempersiapkan kekuatan mental dan physik ini diterangkan oleh Alloh SWT. Untuk menggetarkan mereka, maka i’dad mempersiapkan kekuatan mental dan physic untuk bela Islam / Negara yang diridhoi oleh Alloh dengan cara berlatih adalah disyariatkan oleh Alloh SWT. dan rosulNya.
Alloh memerintahkan i’dad ini dalam firmanNya : (Al Anfal : 60)
Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya...
Yang dimaksud kekuatan dalam ayat tersebut diatas diterangkan Rosululloh SAW. ”kecakapan menembak” jadi maksudnya kekuatan senjata, seperti diterangkan riwayat berikut :
Diriwayatkan dari Salabah bin Amir r.a. Beliau berkata : Saya telah mendengar Rasululloh SAW. Bersabda sedang baginda berada diatas mimbar : ”Persiapkan untuk menghadapi mereka kekuatan menurut kemampuanmu. Ketahuilah yang dimaksud kekuatan itu adalah melempar (menembak/memanah), ketahuilah yang dimaksud kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah yang dimaksud kekuatan itu adalah melempar” (H.R. Muslim).
Dalam mengamalkan perintah Alloh SWT. Ini Rosululloh menggalakkan dan memuji orang yang berlatih senjata, sebagaimana beliau ketika melihat orang yang berlatih memanah, beliau bersabda :
”Lemparlah/panahlah wahai Bani Ismail karena sesungguhnya nenek moyangmu adalah pemanah-pemanah yang ulung”. (H.R. Bukhori)
Dan dalam rangka menekan pentingnya berlatih senjata baginda SAW. Bersabda :
”Barang siapa yang berlatih senjata kemudian ia meninggalkannya, maka ia bukan dari golongan kami, atau dia telah berbuat maksiat” (H.R. Muslim dan Ibnu Majah)
Sabda Rosululloh tersebut diatas menunjukan bahwa baginda memberi semangat kepada umat baginda untuk berlatih mental dan physik. Ini menunjukkan bahwa berlatih kekuatan mental dan physik disyariatkan.
Latihan senjata di Aceh tujuannya adalah untuk mentaati perintah Alloh dan rosulNya dalam surat Al Anfal 60, oleh karena itu latihan tersebut adalah amal ibadah, karena sifat orang beriman adalah ta’at mutlak terhadap perintah Alloh dan rosulNya, tidak membantah, dan mengamalkan menurut kemampuan. Alloh SWT berfirman: (Annur :51)
Hanyalah ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Alloh dan RosunNya agar rosul memutuskan perkara diantara mereka, mereka berkata : Kami mendengar dan kami taat, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Maka saya dan Bapak-bapak kalau mengaku beriman, juga wajib menta’ati perintah i’dad ini bila ada kemampuan, tidak boleh membantah. Perintah i’dad ini kekuatan hukumnya sama dengan perintah sholat, puasa, zakat, haji dll.
Maka jelaslah bahwa i’dad yang diamalkan di Aceh itu merupakan amal mulia yang insya’Alloh di ridhoi oleh Alloh SWT, maka kita hargai dan tidak direndahkan dengan dituduh teror. Tetapi ibadah i’dad di Aceh untuk mentaati perintah Alloh dan RosulNya ini dicela dan dihina oleh Densus 88. Amalannya dituduh amalan teror, dan yang mengamalkan dituduh teroris, diserang dan pelakunya ditangkap secara sadis.
Maka jelas menghina ibadah i’dad yang diamalkan di Aceh itu berarti menghina Alloh, menghina perintahNya (Al Anfal : 60) menghina Rosul dan menghina sunnahnya tentang i’dad ini. Ini berarti Densus 88 menghina Alloh, syariatNya tentang i’dad dan menghina Rosululloh dan sunnahNya.
Secara tidak langsung Densus 88 menuduh Alloh SWT menciptakan syariat teror dan Rosululloh menggalakkan syariat teror. (Maha suci Alloh dan rosulNya dari tuduhan dan hinaan ini). Tindakan Densus 88 dalam hal ini sama dengan penghinaan orang kafir Amerika tehadap Alloh, syariatNya, rosulNya dan sunnahnya dengan berusaha membakar Al-qur’an.
Maka jelas dengan sikap mungkar ini Densus 88 menjadi musuh Alloh, musuh rosulNya dan musuh kaum muslimin, sadar atau tidak sadar.
Maka demi keselamatan di akhirat nanti, saya menasehatkan agar Bapak-bapak meluruskan amalan mungkar Densus 88 yang dimurkai Alloh ini. Bapak-bapak selaku pimpinan akan dimintai pertanggung jawaban di akherat nanti. Maka saya menasehatkan agar menghapus tuduhan teroris terhadap mereka yang mengamalkan ibadah i’dad ini dan memperlakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat dalam Al-qur’an dan sunnah.
Memang mereka dianggap melanggar larangan memiliki senjata tanpa izin. Tetapi peraturan ini bertentangan dengan syariat Alloh dan sunnah Nabi tentang i’dad. Maka peraturan ini batil harus dirubah. Yang dilarang seharusnya mereka yang memiliki dan berlatih senjata untuk kejahatan (perampokan dll), tetapi kalau untuk mentaati perintah Alloh dan rosulNya harus diberi kelonggaran meskipun dengan pengawasan, karena dalam islam ada ketentuan manusia boleh menbuat peraturan/undang-undang tetapi tidak boleh bertentangan dengan hukum Alloh dan rosulNya.
Tadzkiroh ini saya sampaikan semata-mata dengan niat :
1. Agar saya mempunyai alasan dihadapan Alloh untuk melepaskan tanggung jawab di akherat nanti, karena saya melihat penghinaan syariat i’dad oleh densus 88, maka harus saya peringatkan dengan harapan mau bertobat dan bertaqwa. Alloh berfirman : (Al-Araf : 164).
Dan ingatlah ketika suatu umat diantara mereka berkata : mengapa kamu menasehati kaum yang dibinasakan atau diazab oleh Alloh dengan azab yang sangat keras ? mereka menjawab : Agar kami mempunyai alasan(lepas tanggung jawab) kepada tuhanmu dan agar meeka bertaqwa.
1. Bila tadzkiroh saya ini dilecehkan dan mereka terus menghina dan menghalangi pengamalan syariat i’dad sehingga Alloh murka dan menurunkan azab/bencana kepada mereka, semoga saya diselamatkan Alloh dari azabNya, karena saya sudah berusaha mengingatkan semampu saya.
Alloh berfirman : (Al-Araf : 165).
Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik.
Yaa Alloh... berilah petunjuk kepada pemimpin-pemimpin negara ini karena mereka tidak tahu,...Amin.
Yaa Alloh ...saksikan (Allohummasyhad) saya sudah memperingatkan menurut kemampuan saya,..Amin.
Wassalam.
Jakarta, 24 Dzulqo’dah1431 H.
30 Nopember 2010.
Selasa, 14 Desember 2010
Skandal Misi Natal
PostDateIconSunday, 12 December 2010 15:35 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail
Kristologi
* Lintas Berita
alt
Natal dan Tahun baru adalah momen yang paling bahagia bagi umat kristiani. Mereka bersukacita merayakan kelahiran Yesus Kristus yang mereka yakini sebagai tuhan, duruselamat dan jurudamai.
Dengan keyakinan itu, para pendeta dan penginjil berusaha agar umat Islam juga merasakan damai Natal sebagaimana yang mereka rasakan. Sayangnya untuk “berbagi kasih” Natal itu, mereka menghalalkan segala cara, termasuk misi tipu muslihat.
Misi tipu muslihat Natal itu nampak jelas dalam brosur yang memakai nama samaran “Al-Barokah.” Bagi umat Islam yang awam, brosur lipat ini sangat menarik. Lihat saja, pada halaman depan tertulis judul “Allahu Akbar Maulid Isa Alaihissalam” yang dihiasi dengan kaligrafi khat Arab “Maulidun Nabiyyi ‘Iisaa ‘Alaihissalaam.” Tanpa wawasan yang memadai, kaum awam akan mengira brosur full colour ini sebagai bacaan Islam penguat akidah. Yang lebih mengecoh lagi, brosur empat halaman ini mencantumkan lima nas Arab ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi.
Mulanya brosur Kristen “Al-Barokah” mengutip hadits shahih Muslim yang menyatakan bahwa yang bisa menyelamatkan manusia masuk surga bukanlah amal shalih, melainkan rahmat Allah.
“Nabi Muhammad bersabda: “Tak seorang pun di antara kalian dimasukkan ke dalam sorga oleh amalnya dan tidak pula diselamatkan dari neraka. Begitu pula aku, kecuali dengan rahmat Allah” (Hadits Shahih Muslim).
Hadits ini diparalelkan dengan ayat Al-Qur'an surat Maryam ayat 21 yang menyatakan bahwa kelahiran Nabi Isa adalah rahmat dari Allah SWT.
Dengan kesimpulan demikian, lantas penginjil penulis brosur tersebut mengajak umat Islam untuk bersuka cita dalam damai Natal, menyambut kelahiran Yesus Kristus sebagai rahmat Allah, satu-satunya penebus dosa yang sanggup membawa manusia memasuki surga-Nya.
Umat Islam tidak akan membantah Nabi Isa sebagai rahmat Allah, sesuai dengan nas Al-Qur'an. Tapi keyakinan ini tidak serta-merta membuat umat Islam beralih masuk Kristen untuk menjadi pengikut Yesus. Karena dalam Al-Qur'an surat Ali Imran 49 dan Az-Zukhruf 59, Allah SWT membatasi misi kenabian Yesus hanya terbatas untuk bani Israel. Bukankah Bibel juga mengonfirmasi misi Yesus hanya untuk domba yang hilang dari umat Israel (Matius 10:5-6, Matius 15:24).
Ajakan penginjil kepada umat Islam untuk merayakan Natal kelahiran Yesus sang Juruselamat ini tentu sesat dan menyesatkan, akibat keliru menerapkan logika silogis. Menurut Al-Qur'an, Nabi Isa bukanlah satu-satunya rahmat Allah. Para nabi adalah rahmat dari Allah, dan di antara semua nabi itu, hanya ada satu nabi pamungkas untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), yaitu Nabi Muhammad SAW.
“Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melain¬kan menjadi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’ 107).
Ajakan penginjil kepada umat Islam untuk merayakan Natal itu bukanlah keterpujian, melainkan skandal teologis yang sama sekali tidak Alkitabiah.
Ajakan Natalan kepada umat Islam adalah misi yang salah sasaran. Sebaiknya, ajakan Natalan itu ditujukan kepada sekte-sekte Kristen yang tidak merayakan Natalan, misalnya Kristen Advent.
Tak sedikit sekte Kristen yang menentang Natalan, karena hari raya ini tidak ada perintahnya dalam Alkitab. Tuhan tidak memerintahkan manusia untuk memperingati Kelahiran Yesus, baik melalui Alkitab maupun melalui pernyataan para murid Yesus. Petrus, Paulus, Yohanes maupun para murid mereka tidak pernah memperhatikan hari Natal. Tidak ada hari Natal pada saat itu, dan tak ada dasar untuk memperhatikannya. Jika Natalan itu tidak ada perintahnya dari Yesus, bagaimana bisa mengklaim Natalan sebagai peribadatan yang memuliakan Yesus?
Selain itu, tak ada ayat Alkitab yang menyatakan Yesus lahir tanggal 25 Desember. Jika tanggal 25 Desember bukan hari kelahiran Yesus, maka merayakan tanggal ini sebagai hari ulang tahun kelahiran Yesus adalah sebuah pengkhianatan sejarah kepada Yesus.
Natalan: Hari Ulang Tahun Kelahiran Dewa Kafir
Bagi umat Kristen, Natal 25 Desember adalah hari besar yang dirayakan dengan sepenuh suka cita dan kemeriahan. Hari ini diyakini sebagai peristiwa kelahiran Yesus Kristus ke dunia (Dies Natalis of Jesus Christ). Peringatan ini menjadi penting, karena mereka meyakini Yesus sebagai tuhan dan juru selamat. Dengan kata lain, perayaan Natal bagi umat kristiani adalah memperingati hari ulang tahun kelahiran tuhan.
Mengapa mereka merayakan hari ulang tahun kelahiran Yesus tanggal 25 Desember? Apakah Yesus benar-benar lahir tanggal 25 Desember?
Sebenarnya, semua teologi Kristen sepakat bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Meski demikian, para teologi berselisih pendapat mengenai tanggal lahir Yesus.
1. Yesus lahir tanggal 14 Maret SM?
Ralph O. Muncaster, pendeta gereja Saddleback dalam bukunya ‘What Really Happe¬ned Charistmas Morning’ menolak pendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 1 Masehi dengan merujuk kepada pendapat para ahli lainnya. Menurut Josephus (sejarawan Yahudi), Yesus lahir pada tanggal 14 Maret tahun 4 Sebelum Masehi. Berdasarkan observasi astro¬no¬¬¬mis Johannes Kepler, Yesus lahir tahun 7 Sebelum Masehi. Sedangkan Tertulian, Irenaeus, Eusebius (bapak gereja) berpendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 2 Sebelum Masehi.
2. Yesus Lahir Bulan April atau November?
Dr. J.L. Ch. Abineno menjelaskan bahwa Yesus mustahil lahir 25 Desember. Menurutnya, Yesus lahir pada bulan Maret, April atau November.
“Gereja-gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Kebiasaan ini baru dimulai dalam abad ke-4. Sebelum itu Gereja tidak mengenal perayaan Natal. Terutama karena gereja tidak tahu dengan pasti kapan –pada hari dan tahun keberapa– Yesus dilahirkan. Kitab-kitab Injil tidak memuat data-data tentang hal itu. Dalam Lukas pasal 2 dikatakan bahwa pada waktu Yesus dilahirkan, gembala-gembala sedang berada di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (ayat 8). Itu berarti, bahwa Yesus dilahirkan antara bulan Maret atau April dan bulan November” (Buku Katekisasi Perjanjian Baru, hal. 14).
3. Yesus Lahir Bulan September?
Pendeta Benyamin Obadyah, alumnus Jerusalem Center, Yerusalem, mengutip pendapat R.A. Honorof dalam bukunya The Return of the Messiah (1997), menyatakan bahwa Yesus lahir pada bulan September. Benyamin menulis: “Meskipun menurut Alkitab Yesus dikandung Maria dari karunia Allah (Lukas 1:35), tapi ia dikandung secara normal selama 40 minggu atau 9,5 bulan. Ini berarti, Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan Hari Raya Tabernakel... Hari raya ini jatuh setiap tanggal 15 bulan Tishri menurut kalendar Yahudi. Menurut kalendar internasional (Gregorian), tahun 1999 tanggal 15 Tishri bertepatan dengan tanggal 25 September. Jadi, umat Kristen yang memperingati Natal 25 Desember terlambat selama tiga bulan.”
4. Yesus Lahir Bulan Januari?
Ephiphanius dan Gereja Orthodox Timur memperingati Natal tanggal 6 Januari, lalu Gereja Katolik Ortodoks memperingati Natal tanggal 7 Januari, sedangkan Gereja Armenian memperingati Natal tanggal19 Januari.
Mengapa Natalan tanggal 25 Desember?
Gereja-gereja Barat merayakan Natal tiap tanggal 25 Desember karena mendapat pengaruh dari Roma. Setelah melalui perjalanan yang panjang, akhirnya sebagian besar gereja di dunia mengikuti tradisi Roma.
Mengapa 25 Desember? Latar belakang perayaan Natal berasal dari kebudayaan bangsa Romawi. Tanggal 25 Desember dipilih sebagai hari Natal Yesus semata-mata mengadopsi tradisi pagan, untuk menyesuaikan dengan hari perayaan penyembahan berhala yang populer pada saat itu. Sebab 25 Desember adalah Natal dua dewa terkemuka pada masa purba, yaitu perayaan kelahiran Dewa Matahari bangsa Roma yang dikenal dengan perayaan Solis Invicti dan Dewa Mithras (dewa matahari kebenaran dan kebijakan).
Sejak abad ke-4 Masehi, Gereja Katolik mencaplok 25 Desember sebagai Natal Yesus Kristus untuk menggeser pesta kafir tentang perayaan kelahiran dewa, diganti sebagai natal Yesus sang pembawa terang. Dengan inkulturasi seperti ini, mereka berharap agar para paganis dengan mudah beralih menjadi penganut Kristen. Makanya, beberapa kebiasaan yang terdapat pada perayaan Natal, diperkirakan berakar dari perayaan penyembahan berhala-berhala ini.
Untuk menampik tudingan perayaan tradisi kafir, biasanya para penginjil berkilah, “Kalau kini Natal dirayakan sepenuhnya untuk kepentingan rohani dan setiap orang Kristen dapat bertumbuh dewasa karenanya, maka kaitannya dengan sejarah agama purba itu tentu saja bisa diabaikan” (Majalah Kristen Rajawali edisi Desember Th. XII no. 12 hlm. 16).
Alasan ini sudah tidak relevan. Jauh-jauh hari Herbert W Armstrong (1892-1986), Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat, telah membantahnya dengan mengutip Catholic Encyclopedia: “Sinners alone, not saints, celebrate their birthday.” Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka!! []
Kristologi
* Lintas Berita
alt
Natal dan Tahun baru adalah momen yang paling bahagia bagi umat kristiani. Mereka bersukacita merayakan kelahiran Yesus Kristus yang mereka yakini sebagai tuhan, duruselamat dan jurudamai.
Dengan keyakinan itu, para pendeta dan penginjil berusaha agar umat Islam juga merasakan damai Natal sebagaimana yang mereka rasakan. Sayangnya untuk “berbagi kasih” Natal itu, mereka menghalalkan segala cara, termasuk misi tipu muslihat.
Misi tipu muslihat Natal itu nampak jelas dalam brosur yang memakai nama samaran “Al-Barokah.” Bagi umat Islam yang awam, brosur lipat ini sangat menarik. Lihat saja, pada halaman depan tertulis judul “Allahu Akbar Maulid Isa Alaihissalam” yang dihiasi dengan kaligrafi khat Arab “Maulidun Nabiyyi ‘Iisaa ‘Alaihissalaam.” Tanpa wawasan yang memadai, kaum awam akan mengira brosur full colour ini sebagai bacaan Islam penguat akidah. Yang lebih mengecoh lagi, brosur empat halaman ini mencantumkan lima nas Arab ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi.
Mulanya brosur Kristen “Al-Barokah” mengutip hadits shahih Muslim yang menyatakan bahwa yang bisa menyelamatkan manusia masuk surga bukanlah amal shalih, melainkan rahmat Allah.
“Nabi Muhammad bersabda: “Tak seorang pun di antara kalian dimasukkan ke dalam sorga oleh amalnya dan tidak pula diselamatkan dari neraka. Begitu pula aku, kecuali dengan rahmat Allah” (Hadits Shahih Muslim).
Hadits ini diparalelkan dengan ayat Al-Qur'an surat Maryam ayat 21 yang menyatakan bahwa kelahiran Nabi Isa adalah rahmat dari Allah SWT.
Dengan kesimpulan demikian, lantas penginjil penulis brosur tersebut mengajak umat Islam untuk bersuka cita dalam damai Natal, menyambut kelahiran Yesus Kristus sebagai rahmat Allah, satu-satunya penebus dosa yang sanggup membawa manusia memasuki surga-Nya.
Umat Islam tidak akan membantah Nabi Isa sebagai rahmat Allah, sesuai dengan nas Al-Qur'an. Tapi keyakinan ini tidak serta-merta membuat umat Islam beralih masuk Kristen untuk menjadi pengikut Yesus. Karena dalam Al-Qur'an surat Ali Imran 49 dan Az-Zukhruf 59, Allah SWT membatasi misi kenabian Yesus hanya terbatas untuk bani Israel. Bukankah Bibel juga mengonfirmasi misi Yesus hanya untuk domba yang hilang dari umat Israel (Matius 10:5-6, Matius 15:24).
Ajakan penginjil kepada umat Islam untuk merayakan Natal kelahiran Yesus sang Juruselamat ini tentu sesat dan menyesatkan, akibat keliru menerapkan logika silogis. Menurut Al-Qur'an, Nabi Isa bukanlah satu-satunya rahmat Allah. Para nabi adalah rahmat dari Allah, dan di antara semua nabi itu, hanya ada satu nabi pamungkas untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), yaitu Nabi Muhammad SAW.
“Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melain¬kan menjadi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’ 107).
Ajakan penginjil kepada umat Islam untuk merayakan Natal itu bukanlah keterpujian, melainkan skandal teologis yang sama sekali tidak Alkitabiah.
Ajakan Natalan kepada umat Islam adalah misi yang salah sasaran. Sebaiknya, ajakan Natalan itu ditujukan kepada sekte-sekte Kristen yang tidak merayakan Natalan, misalnya Kristen Advent.
Tak sedikit sekte Kristen yang menentang Natalan, karena hari raya ini tidak ada perintahnya dalam Alkitab. Tuhan tidak memerintahkan manusia untuk memperingati Kelahiran Yesus, baik melalui Alkitab maupun melalui pernyataan para murid Yesus. Petrus, Paulus, Yohanes maupun para murid mereka tidak pernah memperhatikan hari Natal. Tidak ada hari Natal pada saat itu, dan tak ada dasar untuk memperhatikannya. Jika Natalan itu tidak ada perintahnya dari Yesus, bagaimana bisa mengklaim Natalan sebagai peribadatan yang memuliakan Yesus?
Selain itu, tak ada ayat Alkitab yang menyatakan Yesus lahir tanggal 25 Desember. Jika tanggal 25 Desember bukan hari kelahiran Yesus, maka merayakan tanggal ini sebagai hari ulang tahun kelahiran Yesus adalah sebuah pengkhianatan sejarah kepada Yesus.
Natalan: Hari Ulang Tahun Kelahiran Dewa Kafir
Bagi umat Kristen, Natal 25 Desember adalah hari besar yang dirayakan dengan sepenuh suka cita dan kemeriahan. Hari ini diyakini sebagai peristiwa kelahiran Yesus Kristus ke dunia (Dies Natalis of Jesus Christ). Peringatan ini menjadi penting, karena mereka meyakini Yesus sebagai tuhan dan juru selamat. Dengan kata lain, perayaan Natal bagi umat kristiani adalah memperingati hari ulang tahun kelahiran tuhan.
Mengapa mereka merayakan hari ulang tahun kelahiran Yesus tanggal 25 Desember? Apakah Yesus benar-benar lahir tanggal 25 Desember?
Sebenarnya, semua teologi Kristen sepakat bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Meski demikian, para teologi berselisih pendapat mengenai tanggal lahir Yesus.
1. Yesus lahir tanggal 14 Maret SM?
Ralph O. Muncaster, pendeta gereja Saddleback dalam bukunya ‘What Really Happe¬ned Charistmas Morning’ menolak pendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 1 Masehi dengan merujuk kepada pendapat para ahli lainnya. Menurut Josephus (sejarawan Yahudi), Yesus lahir pada tanggal 14 Maret tahun 4 Sebelum Masehi. Berdasarkan observasi astro¬no¬¬¬mis Johannes Kepler, Yesus lahir tahun 7 Sebelum Masehi. Sedangkan Tertulian, Irenaeus, Eusebius (bapak gereja) berpendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 2 Sebelum Masehi.
2. Yesus Lahir Bulan April atau November?
Dr. J.L. Ch. Abineno menjelaskan bahwa Yesus mustahil lahir 25 Desember. Menurutnya, Yesus lahir pada bulan Maret, April atau November.
“Gereja-gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Kebiasaan ini baru dimulai dalam abad ke-4. Sebelum itu Gereja tidak mengenal perayaan Natal. Terutama karena gereja tidak tahu dengan pasti kapan –pada hari dan tahun keberapa– Yesus dilahirkan. Kitab-kitab Injil tidak memuat data-data tentang hal itu. Dalam Lukas pasal 2 dikatakan bahwa pada waktu Yesus dilahirkan, gembala-gembala sedang berada di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (ayat 8). Itu berarti, bahwa Yesus dilahirkan antara bulan Maret atau April dan bulan November” (Buku Katekisasi Perjanjian Baru, hal. 14).
3. Yesus Lahir Bulan September?
Pendeta Benyamin Obadyah, alumnus Jerusalem Center, Yerusalem, mengutip pendapat R.A. Honorof dalam bukunya The Return of the Messiah (1997), menyatakan bahwa Yesus lahir pada bulan September. Benyamin menulis: “Meskipun menurut Alkitab Yesus dikandung Maria dari karunia Allah (Lukas 1:35), tapi ia dikandung secara normal selama 40 minggu atau 9,5 bulan. Ini berarti, Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan Hari Raya Tabernakel... Hari raya ini jatuh setiap tanggal 15 bulan Tishri menurut kalendar Yahudi. Menurut kalendar internasional (Gregorian), tahun 1999 tanggal 15 Tishri bertepatan dengan tanggal 25 September. Jadi, umat Kristen yang memperingati Natal 25 Desember terlambat selama tiga bulan.”
4. Yesus Lahir Bulan Januari?
Ephiphanius dan Gereja Orthodox Timur memperingati Natal tanggal 6 Januari, lalu Gereja Katolik Ortodoks memperingati Natal tanggal 7 Januari, sedangkan Gereja Armenian memperingati Natal tanggal19 Januari.
Mengapa Natalan tanggal 25 Desember?
Gereja-gereja Barat merayakan Natal tiap tanggal 25 Desember karena mendapat pengaruh dari Roma. Setelah melalui perjalanan yang panjang, akhirnya sebagian besar gereja di dunia mengikuti tradisi Roma.
Mengapa 25 Desember? Latar belakang perayaan Natal berasal dari kebudayaan bangsa Romawi. Tanggal 25 Desember dipilih sebagai hari Natal Yesus semata-mata mengadopsi tradisi pagan, untuk menyesuaikan dengan hari perayaan penyembahan berhala yang populer pada saat itu. Sebab 25 Desember adalah Natal dua dewa terkemuka pada masa purba, yaitu perayaan kelahiran Dewa Matahari bangsa Roma yang dikenal dengan perayaan Solis Invicti dan Dewa Mithras (dewa matahari kebenaran dan kebijakan).
Sejak abad ke-4 Masehi, Gereja Katolik mencaplok 25 Desember sebagai Natal Yesus Kristus untuk menggeser pesta kafir tentang perayaan kelahiran dewa, diganti sebagai natal Yesus sang pembawa terang. Dengan inkulturasi seperti ini, mereka berharap agar para paganis dengan mudah beralih menjadi penganut Kristen. Makanya, beberapa kebiasaan yang terdapat pada perayaan Natal, diperkirakan berakar dari perayaan penyembahan berhala-berhala ini.
Untuk menampik tudingan perayaan tradisi kafir, biasanya para penginjil berkilah, “Kalau kini Natal dirayakan sepenuhnya untuk kepentingan rohani dan setiap orang Kristen dapat bertumbuh dewasa karenanya, maka kaitannya dengan sejarah agama purba itu tentu saja bisa diabaikan” (Majalah Kristen Rajawali edisi Desember Th. XII no. 12 hlm. 16).
Alasan ini sudah tidak relevan. Jauh-jauh hari Herbert W Armstrong (1892-1986), Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat, telah membantahnya dengan mengutip Catholic Encyclopedia: “Sinners alone, not saints, celebrate their birthday.” Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka!! []
Islam Vs Kristen: Syariat Mana yang Lebih Adil?
PostDateIconSunday, 28 November 2010 17:18 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail
Kristologi
* Lintas Berita
Untuk misi penginjilan, Pendeta Muhammad Bambang SE STh menempuh cara yang tidak fair, menghujat syariat Islam. Dalam buku penginjilan “Mengapa Saya Menjadi Orang Kristen (Islam Menjadi Kristen)” yang diterbitkan Yayasan Penginjilan Martua Agape Nias, pendeta yang mengaku bekas ustadz kelahiran Bojonegoro tahun 1964 ini menyebut syariat Islam sebagai intoleransi, keras, kejam, tidak adil dan tak mengenal kasih. Beberapa syariat yang jadi sasaran, di antaranya adalah hukum rajam dan waris:
“Hukum/Syariat Islam (Pidana + Perdata) tidak berlandaskan KASIH, melainkan berdasarkan intoleransi, keras/kejam dan tidak adil, yang sebagai buktinya kami sitir antara lain: Dera dengan 100x pukulan rotan atau pentungan bagi mereka yang ketangkap basah berzina (Qs. An-Nur 2). (hlm 38).
Dengan menyimak hujatan tersebut, patutlah diragukan pengakuan Pendeta Muhammad Bambang sebagai seorang mantan ustadz. Tudingannya sangat semberono, jauh dari pengertian dan hikmah syariat yang mahaluas.
Memang sanksi (‘uqubah) dalam syariat Islam sudah jadi langganan para misionaris untuk melakukan pendangkalan akidah. Mereka melebih-lebihkan mirisnya sanksi dalam pidana Islam, seraya menutupi prinsip dan hikmah yang ada.
Pada dasarnya, semua jenis sanksi hukum itu dijatuhkan di Akhirat, tapi sebagian disegerakan di dunia untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman hidup bermasyarakat. Karena Allah SWT menurunkan agama untuk menjaga lima hal pokok (ad-dharuratul-khams), yaitu menjaga kebebasan beragama (hifzhud-din), menjaga kesucian hidup (hifzhun-nafs), menjaga kepemilikan harta benda (hifzhul-maal), menjaga keturunan (hifzhun-nasal), dan menjaga kebebasan berpikir (hifzhul ‘aql).
Lima hal tersebut adalah kebutuhan yang dharuri dan sangat menentukan eksistensi hidup dan kehidupan manusia. Untuk itulah Allah menetapkan sanksi hukum di dunia. Di mata hukum Islam, semua orang dipandang sama tanpa ada diskriminasi hukum berdasarkan status sosial, ekonomi dan politik, atau alasan lainnya.
Sangat tidak benar tuduhan pendeta bahwa Islam menghukum pezina dengan pukulan pentungan 100 kali. Penggambaran yang miris ini sengaja dilakukan pendeta untuk melakukan mendoktrin jemaatnya, bahwa Islam itu kejam dan sadis. Padahal ketentuan Syariat Islam dalam tindak pidana perzinaan tidaklah sesemberono dan sekejam itu. Al-Qur'an yang dituding sadis itu adalah sbb:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Qs An-Nur 2).
Hukuman terhadap pelaku perzinaan memang sangat keras, karena zina tak hanya dosa besar, tapi juga perbuatan keji (fahisyah) dan seburuk-buruk kelakuan (saa’a sabiilan). (Qs Al-Isra 32).
Betapa banyaknya penyakit menular akibat zina yang belum ditemukan penyembuhannya seperti HIV AIDS. Betapa banyak rumah tangga hancur berantakan gara-gara kasus zina dan perselingkuhan? Betapa banyak generasi yang rusak masa depannya karena perzinaan orang tuanya?
Bila pelakunya seorang gadis atau bujangan yang belum pernah menikah, maka hukumannya adalah dera seratus kali, sesuai dengan ayat tersebut.
Tapi bila pelakunya adalah pria atau wanita yang pernah menikah (muhshan/muhshanat), walaupun ia berstatus duda atau janda, maka berdasarkan hadits-hadits yang shahih, hukumannya naik menjadi rajam.
Apabila tindak perzinaan itu terbukti sah dan meyakinkan secara hukum, maka sanksi harus dilakukan tanpa belas kasihan: “…Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat…” (Qs An-Nur 2).
Dalam pelaksanaannya, agar sanksi perzinaan ini menimbulkan efek jera dan dampak sosiologis kepada masyarakat agar mereka membenci, menjauhi dan takut melakukan perzinaan, maka eksekusinya harus dilakukan di hadapan khalayak kaum mukminin:
“…Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Qs An-Nur 2).
Karena sanksi perzinaan itu sangat berat baik fisik maupun mental, maka persyaratan pelaksanaan hukumannya juga sangat berat dan ketat, yaitu benar-benar terbukti dengan dua pembuktian: 1) Pengakuan langsung dari pelakunya, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. 2) Kesaksian dari empat orang saksi mata yang Muslim, berakal, baligh dan adil.
Karena sanksi perzinaan itu sangat berat, maka aturan bagi orang yang menuduh perzinaan pun ketat. Bagi orang yang menuduh perzinaan tapi tidak terbukti di pengadilan, maka dia dihukumi sebagai fasik yang dijatuhi sanksi dera 80 kali (Qs An-Nur 4). Subhanallah!! Bagi orang berakal, betapa adil dan indah syariat Islam.
Kekejaman dan Kasih yang keliru dalam Syariat Bibel
“...Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat...”
Penggalan ayat Al-Qur'an surat An-Nur ayat 2 tersebut diperalat Pendeta Muhammad Bambang untuk menuding Islam sebagai agama yang tak mengenal belas kasihan:
“Tegasnya Hukum dan Syariat Islam itu bertentangan secara diametral dan antagonis dengan Hukum Kasih yang diajarkan oleh Yesus dalam Matius 22:39 yang berbunyi: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (hlm 39).
Padahal dalam ayat tersebut Allah melarang agar jangan meninggalkan perintah-Nya hanya demi rasa kasihan terhadap pelaku perzinaan. Tak boleh ada dispensasi hukuman atas alasan kasihan, simpati atau perasaan lainnya. Perasaan hati tak boleh mengalahkan hukum Allah.
Aneh memang, hanya dengan adanya ayat “janganlah belas kasihan kepada keduanya (kedua pezina, pen.),” Pendeta Bambang menuding Islam bukan agama kasih. Padahal dalam Bibel, Tuhan memerintahkan balas dendam dengan perintah membunuh dan menumpas secara sadis terhadap semua manusia dan binatang ternak tanpa belas kasihan sedikitpun:
“Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku akan mem¬balas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai”(1 Samuel 15:2-3, selengkapnya baca sampai ayat 9).
Jika Pendeta Bambang ingin menerapkan Hukum Kasih sesuai dengan ayat-ayat Bibel, maka dia akan mengalami kemusykilan. Karena dalam Bibel Yesus menerapkan hukum kasih dengan membebaskan wanita Yahudi yang tertangkap basah berzina, dari jeratan hukuman apapun termasuk rajam (Yohanes 8:1-11).
Penghakiman Yesus dalam ayat ini bertolak belakang dengan berbagai sabdanya dalam Injil, bahwa mata yang berbuat maksiat harus dicungkil dan dibuang.
“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua” (Matius 18:9, Matius 5:29).
Selain itu, dengan membebaskan perempuan yang tertangkap basah mela¬kukan zina (skandal seks) dari jeratan hukum, berarti Yesus telah melanggar Hukum Taurat tentang hukum rajam (dilempari batu) sampai mati (Ulangan 22:22-24). Bukankah salah satu misi Yesus bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17)?
Lebih jauh lagi, Pendeta Muhammad Bambang akan menemui banyak kesulitan jika ingin menerapkan Hukum Kasih dalam hal pelacuran. Karena di samping menetapkan hukum yang keras dalam pidana perzinaan, Perjanjian Lama banyak memberikan angin segar bagi perzinaan. Misalnya, Tuhan menyuruh Nabi Hosea untuk bercinta dan menikahi pelacur Gomer.
“Ketika Tuhan pertama kali berbicara kepada bangsa Israel dengan perantaraanku, Tuhan berkata, “Hosea, kawinilah seorang yang suka melacur, dan anak-anakmu juga akan menjadi seperti dia. Umat-Ku sama seperti istrimu itu; mereka tidak setia kepada-Ku, dan meninggalkan Aku” (Hosea 1:2-3, BIS).
Apakah atas dasar ayat ini, Pendeta Bambang ingin mengasihi pezina sehingga memprotes keras ayat Al-Qur'an yang menetapkan sanksi bagi pelaku perzinaan? Akankah Pendeta Bambang bersukacita jika di dunia ini tidak ada hukum yang menjerat para pezina dengan hukuman keras, sehingga perselingkuhan makin merajalela? Itukah makna kasih seorang pendeta bagi para pezina? []
A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]
Kristologi
* Lintas Berita
Untuk misi penginjilan, Pendeta Muhammad Bambang SE STh menempuh cara yang tidak fair, menghujat syariat Islam. Dalam buku penginjilan “Mengapa Saya Menjadi Orang Kristen (Islam Menjadi Kristen)” yang diterbitkan Yayasan Penginjilan Martua Agape Nias, pendeta yang mengaku bekas ustadz kelahiran Bojonegoro tahun 1964 ini menyebut syariat Islam sebagai intoleransi, keras, kejam, tidak adil dan tak mengenal kasih. Beberapa syariat yang jadi sasaran, di antaranya adalah hukum rajam dan waris:
“Hukum/Syariat Islam (Pidana + Perdata) tidak berlandaskan KASIH, melainkan berdasarkan intoleransi, keras/kejam dan tidak adil, yang sebagai buktinya kami sitir antara lain: Dera dengan 100x pukulan rotan atau pentungan bagi mereka yang ketangkap basah berzina (Qs. An-Nur 2). (hlm 38).
Dengan menyimak hujatan tersebut, patutlah diragukan pengakuan Pendeta Muhammad Bambang sebagai seorang mantan ustadz. Tudingannya sangat semberono, jauh dari pengertian dan hikmah syariat yang mahaluas.
Memang sanksi (‘uqubah) dalam syariat Islam sudah jadi langganan para misionaris untuk melakukan pendangkalan akidah. Mereka melebih-lebihkan mirisnya sanksi dalam pidana Islam, seraya menutupi prinsip dan hikmah yang ada.
Pada dasarnya, semua jenis sanksi hukum itu dijatuhkan di Akhirat, tapi sebagian disegerakan di dunia untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman hidup bermasyarakat. Karena Allah SWT menurunkan agama untuk menjaga lima hal pokok (ad-dharuratul-khams), yaitu menjaga kebebasan beragama (hifzhud-din), menjaga kesucian hidup (hifzhun-nafs), menjaga kepemilikan harta benda (hifzhul-maal), menjaga keturunan (hifzhun-nasal), dan menjaga kebebasan berpikir (hifzhul ‘aql).
Lima hal tersebut adalah kebutuhan yang dharuri dan sangat menentukan eksistensi hidup dan kehidupan manusia. Untuk itulah Allah menetapkan sanksi hukum di dunia. Di mata hukum Islam, semua orang dipandang sama tanpa ada diskriminasi hukum berdasarkan status sosial, ekonomi dan politik, atau alasan lainnya.
Sangat tidak benar tuduhan pendeta bahwa Islam menghukum pezina dengan pukulan pentungan 100 kali. Penggambaran yang miris ini sengaja dilakukan pendeta untuk melakukan mendoktrin jemaatnya, bahwa Islam itu kejam dan sadis. Padahal ketentuan Syariat Islam dalam tindak pidana perzinaan tidaklah sesemberono dan sekejam itu. Al-Qur'an yang dituding sadis itu adalah sbb:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Qs An-Nur 2).
Hukuman terhadap pelaku perzinaan memang sangat keras, karena zina tak hanya dosa besar, tapi juga perbuatan keji (fahisyah) dan seburuk-buruk kelakuan (saa’a sabiilan). (Qs Al-Isra 32).
Betapa banyaknya penyakit menular akibat zina yang belum ditemukan penyembuhannya seperti HIV AIDS. Betapa banyak rumah tangga hancur berantakan gara-gara kasus zina dan perselingkuhan? Betapa banyak generasi yang rusak masa depannya karena perzinaan orang tuanya?
Bila pelakunya seorang gadis atau bujangan yang belum pernah menikah, maka hukumannya adalah dera seratus kali, sesuai dengan ayat tersebut.
Tapi bila pelakunya adalah pria atau wanita yang pernah menikah (muhshan/muhshanat), walaupun ia berstatus duda atau janda, maka berdasarkan hadits-hadits yang shahih, hukumannya naik menjadi rajam.
Apabila tindak perzinaan itu terbukti sah dan meyakinkan secara hukum, maka sanksi harus dilakukan tanpa belas kasihan: “…Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat…” (Qs An-Nur 2).
Dalam pelaksanaannya, agar sanksi perzinaan ini menimbulkan efek jera dan dampak sosiologis kepada masyarakat agar mereka membenci, menjauhi dan takut melakukan perzinaan, maka eksekusinya harus dilakukan di hadapan khalayak kaum mukminin:
“…Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Qs An-Nur 2).
Karena sanksi perzinaan itu sangat berat baik fisik maupun mental, maka persyaratan pelaksanaan hukumannya juga sangat berat dan ketat, yaitu benar-benar terbukti dengan dua pembuktian: 1) Pengakuan langsung dari pelakunya, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. 2) Kesaksian dari empat orang saksi mata yang Muslim, berakal, baligh dan adil.
Karena sanksi perzinaan itu sangat berat, maka aturan bagi orang yang menuduh perzinaan pun ketat. Bagi orang yang menuduh perzinaan tapi tidak terbukti di pengadilan, maka dia dihukumi sebagai fasik yang dijatuhi sanksi dera 80 kali (Qs An-Nur 4). Subhanallah!! Bagi orang berakal, betapa adil dan indah syariat Islam.
Kekejaman dan Kasih yang keliru dalam Syariat Bibel
“...Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat...”
Penggalan ayat Al-Qur'an surat An-Nur ayat 2 tersebut diperalat Pendeta Muhammad Bambang untuk menuding Islam sebagai agama yang tak mengenal belas kasihan:
“Tegasnya Hukum dan Syariat Islam itu bertentangan secara diametral dan antagonis dengan Hukum Kasih yang diajarkan oleh Yesus dalam Matius 22:39 yang berbunyi: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (hlm 39).
Padahal dalam ayat tersebut Allah melarang agar jangan meninggalkan perintah-Nya hanya demi rasa kasihan terhadap pelaku perzinaan. Tak boleh ada dispensasi hukuman atas alasan kasihan, simpati atau perasaan lainnya. Perasaan hati tak boleh mengalahkan hukum Allah.
Aneh memang, hanya dengan adanya ayat “janganlah belas kasihan kepada keduanya (kedua pezina, pen.),” Pendeta Bambang menuding Islam bukan agama kasih. Padahal dalam Bibel, Tuhan memerintahkan balas dendam dengan perintah membunuh dan menumpas secara sadis terhadap semua manusia dan binatang ternak tanpa belas kasihan sedikitpun:
“Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku akan mem¬balas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai”(1 Samuel 15:2-3, selengkapnya baca sampai ayat 9).
Jika Pendeta Bambang ingin menerapkan Hukum Kasih sesuai dengan ayat-ayat Bibel, maka dia akan mengalami kemusykilan. Karena dalam Bibel Yesus menerapkan hukum kasih dengan membebaskan wanita Yahudi yang tertangkap basah berzina, dari jeratan hukuman apapun termasuk rajam (Yohanes 8:1-11).
Penghakiman Yesus dalam ayat ini bertolak belakang dengan berbagai sabdanya dalam Injil, bahwa mata yang berbuat maksiat harus dicungkil dan dibuang.
“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua” (Matius 18:9, Matius 5:29).
Selain itu, dengan membebaskan perempuan yang tertangkap basah mela¬kukan zina (skandal seks) dari jeratan hukum, berarti Yesus telah melanggar Hukum Taurat tentang hukum rajam (dilempari batu) sampai mati (Ulangan 22:22-24). Bukankah salah satu misi Yesus bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17)?
Lebih jauh lagi, Pendeta Muhammad Bambang akan menemui banyak kesulitan jika ingin menerapkan Hukum Kasih dalam hal pelacuran. Karena di samping menetapkan hukum yang keras dalam pidana perzinaan, Perjanjian Lama banyak memberikan angin segar bagi perzinaan. Misalnya, Tuhan menyuruh Nabi Hosea untuk bercinta dan menikahi pelacur Gomer.
“Ketika Tuhan pertama kali berbicara kepada bangsa Israel dengan perantaraanku, Tuhan berkata, “Hosea, kawinilah seorang yang suka melacur, dan anak-anakmu juga akan menjadi seperti dia. Umat-Ku sama seperti istrimu itu; mereka tidak setia kepada-Ku, dan meninggalkan Aku” (Hosea 1:2-3, BIS).
Apakah atas dasar ayat ini, Pendeta Bambang ingin mengasihi pezina sehingga memprotes keras ayat Al-Qur'an yang menetapkan sanksi bagi pelaku perzinaan? Akankah Pendeta Bambang bersukacita jika di dunia ini tidak ada hukum yang menjerat para pezina dengan hukuman keras, sehingga perselingkuhan makin merajalela? Itukah makna kasih seorang pendeta bagi para pezina? []
A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]
Langganan:
Postingan (Atom)