Sabtu, 07 Mei 2011

Tips Memilih Sekolah

Tips Memilih Sekolah
PostDateIconMonday, 30 November 2009 11:09 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail

Lintas Berita

alt
Oleh: Erma Pawitasari, M.Ed

Assalamualaikum dan salam ukhuwah.

Bu Erma, Saya Ibu Inong dari Bengkulu. Saya adalah salah satu ibu yang sangat menyukai rubrik konsultasi pendidikan yang Ibu asuh di tabloid Suara Islam.

Begini Bu, saya mempunyai seorang anak laki-laki yang sekarang duduk di bangku kelas 9 SMP IT Iqro Bengkulu, yang tentu saja Insya Allah sebentar lagi akan menyelesaikan bangku sekolahnya, moga lulus ya Bu. Sebagai seorang ibu saya tetap ingin melanjutkan pendidikan anak saya ke sekolah yang menyelaraskan ilmu agama dan ilmu umum, tapi sekolah tersebut tidak ada di Bengkulu, yang ada baru setingkat SD dan SMP. Saya ingin arahan dari ibu agar tidak keliru dalam menjatuhkan pilihan nantinya karena yang saya tahu begitu banyaknya sekolah-sekolah Islam di Jakarta.

Atas petunjuk Ibu saya ucapkan terima kasih.

Bu Inong
HP.+62811730****

Wa’alaykum salam wr wb, Bu Inong.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia rubrik saya. Semoga bermanfaat untuk pendidikan putera/puteri Ibu dan semoga mereka selalu berada dalam bimbingan Allah SWT.

Ibu Inong yang dirahmati Allah,

Saya tidak bisa menyebutkan nama sekolah tertentu. Di samping tidak etis, saya tidak memiliki otoritas di ruang publik sehingga bisa membuka peluang pihak sekolah untuk memperkarakan saya. Oleh karena itu, saya hanya akan menyampaikan beberapa rambu-rambu penting dalam pemilihan sekolah putera Ibu.

1. Tujuan Orang Tua

Yang pertama harus diluruskan adalah tujuan kita, orang tua, dalam mendidik anak-anak. Secara umum, orang tua muslim di Indonesia bisa diketegorikan dalam 3 kelompok:
• Muslim KTP: mereka adalah orang tua yang memaknai “kesuksesan” anak-anaknya sebagai sukses secara duniawi (pendidikan agama sekedarnya/ikut-ikutan saja). Memang ada kalanya, anak-anaknya alhamdulillah tetap/kembali ke jalan yang lurus, tetapi itu bukan lantaran jalur pendidikan yang disiapkan orang tuanya.
• Muslim sekuler: mereka adalah orang tua yang hatinya terbelah, antara ingin kesuksesan duniawi dan ingin kesuksesan ukhrawi (akhirat). Kedua keinginan tersebut sama kuat dan mereka tidak bisa memprioritaskan salah satunya. Walhasil, anak-anaknya didorong untuk rajin ibadah ritual, tetapi dalam urusan duniawinya agama tidak lagi berperan. Contoh yang pernah saya angkat adalah orang tua yang bangga anaknya menjadi direktur utama sebuah bank ribawi karena tetap rajin sholat, pergi haji, dan membawa ayah-bundanya berhaji.
• Muslim sejati: mereka yang menjadikan akhirat sebagai satu-satunya tujuan, baik bagi dirinya sendiri maupun anak-anaknya. Bagi mereka, dunia hanyalah sarana menuju akhirat. Mereka mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa kesuksesan di dunia tidak lain hanyalah hasil dari ketaatan kepada Allah SWT. Orang tua muslim sejati tidak akan mengirimkan anak-anaknya ke sekolah yang masih tercampuri ajaran-ajaran menyimpang, seperti teori Asal Mula Alam Semesta yang menafikan peran Allah, dongeng-dongeng syirik, pluralisme dengan doktrin semua agama sama & demokrasi dengan doktrin semua manusia sama (baik terpelajar maupun kriminal) sehingga kebenaran bisa ditentukan oleh suara terbanyak. Anak-anak yang diinginkan oleh orang tua muslim sejati adalah anak-anak yang tidak pernah bimbang untuk memprioritaskan Allah di atas segalanya.

2. Kemampuan Orang Tua

Allah SWT berfirman, “... Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya....” (QS. Al Baqarah 233).

Demikian halnya dengan pendidikan anak, maka orang tua harus melihat kemampuannya, baik secara fisik maupun finansial. Orang tua yang tidak mampu secara fisik, tidak wajib mendidik sendiri anak-anaknya dan boleh menyerahkan pendidikannya kepada guru yang dianggap terbaik dari yang ada, sebagaimana bolehnya menyerahkan bayinya untuk disusui oleh wanita lain. Orang tua yang tidak mampu secara finansial tidak boleh memaksakan diri untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah mahal.

3. Kurikulum Sekolah

Orang tua harus memilih sekolah yang kurikulumnya didesain untuk mempelajari apa-apa yang diperintahkan Allah dan mengarahkan para pelajarnya untuk mencintai dan mentaati Allah dan rasulNya. Ibnu Taimiyah lebih menspesifikan lagi bahwa kurikulum seharusnya mengajarkan hikmah ilahiyah, baik dalam ilmu-ilmu ibadah maupun ilmu-ilmu umum. Ilmu agama yang diajarkan hanya sebatas penghafalan tanpa pemahaman tidak akan memberikan manfaat. Sedangkan dalam mempelajari ilmu-ilmu umum hendaklah dimulai dengan Al Qur’an dan Hadits serta penjabarannya terkait ilmu yang dipelajari agar anak didik bisa mendapatkan hikmah ilahiyah dan berperilaku sesuai ajaran Islam.

4. Pemilihan Guru

Orang tua harus memperhatikan guru yang dipilih (baik oleh dirinya sendiri maupun oleh sekolah) untuk mengajar anak-anaknya. Seorang guru yang baik adalah guru yang mempraktekkan ajaran Islam dalam kesehariannya, haus ilmu, tidak suka memaksa, dan bahu-membahu dengan orang tua murid melalui komunikasi yang berkesinambungan. Sebelum memasukkan anaknya ke sebuah sekolah, orang tua berhak untuk melihat CV/resume tiap-tiap guru yang dipekerjakan oleh sekolah untuk memastikan bahwa sekolah tidak sembarangan dalam merekrut tenaga pendidik. Salah dalam memilih guru bisa menjerumuskan anak-anak kita kepada kesesatan dan hal-hal yang dimurkai Allah SWT. Apabila orang tua mendapati pihak sekolah mempekerjakan guru yang tidak memenuhi syarat, maka orang tua berhak mengajukan keberatannya.

Demikian beberapa rambu-rambu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang terbatas ini. Silakan Ibu Inong datang dan mempelajari sekolah-sekolah yang dilirik untuk mencari sekolah yang terbaik bagi pendidikan putera Ibu.[]

Bahaya Pendidikan Multikultural

Bahaya Pendidikan Multikultural
PostDateIconTuesday, 28 September 2010 14:21 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail

Lintas Berita

alt
Oleh: Erma Pawitasari, M.Ed (Alumni Boston University AS, Kandidat Doktor di Universitas Ibnu Khaldun Bogor)

Assalamu’alaykum.
Bu Erma, sekarang ini sekolah kami mengadopsi kurikulum berbasis multikultural. Tujuannya untuk menciptakan kehidupan damai antar kelompok dan antar agama. Tetapi, saya pernah mendengar bahwa di balik kurikulum ini ada agenda yang merugikan umat Islam. Kami mohon penjelasan dari Ibu tentang pro kontra kurikulum ini.

Terima kasih,
Abdullah

Wa’alaykum salam wr wb.
Pak Abdullah serta para pembaca lainnya yang dirahmati Allah, kurikulum berbasis multikultural ini memang berasal dari Barat. Kurikulum ini pada awalnya bertujuan untuk mengatasi problematika perbedaan budaya yang terjadi di Barat.

Untuk mengingatkan kita semua, sejarah peradaban Barat sangat kental dengan diskriminasi, mulai dari diskriminasi gender, diskriminasi ras, warna kulit, hingga agama. Diskriminasi wanita, misalnya, ditandai dengan larangan bagi wanita untuk mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Elizabeth Blackwell (1821-1910), dokter Amerika wanita pertama, harus menghadapi cemoohan dan dikeluarkan secara paksa oleh mahasiswa sekelasnya (yang laki-laki semua), walaupun dia sudah setuju untuk duduk di bangku paling belakang. Margareth Ann Bulkley (meninggal 1865), dokter Inggris wanita pertama, harus berpura-pura menjadi sosok lelaki James Barry agar diijinkan belajar dan praktek sebagai ahli bedah.

Sejarah diskriminasi terhadap kaum kulit hitam juga berlangsung lama. Di Amerika, diskriminasi ini masih diakui secara legal hingga tahun 1964, yakni dengan disahkannya The Right Civil Act yang mengakhiri pemisahan kehidupan (segregrasi) antara kaum kulit putih dan hitam. Sebelumnya, fasilitas untuk kulit hitam dipisah lantaran mereka dianggap lebih rendah dari kaum kulit putih. Pemisahan ini terjadi mulai dari sekolah, restoran, taman, maupun penggunaan kursi bis. Fasilitas yang disediakan untuk kaum kulit hitam lebih jelek dan tidak layak. Misalnya: dari 32 kursi bis, kaum kulit hitam hanya diijinkan duduk di 5 kursi paling belakang. Jika penumpang berkulit hitam melebihi kapasitas, mereka hanya boleh berdiri di sekitar 5 kursi tersebut dan tidak boleh melewati garis batas yang memisahkan area ini dengan area kaum kulit putih. Boleh jadi kaum kulit hitam berdesak-desakan seperti kue lepet, sementara 3/4 bagian bis yang menjadi area kaum kulit putih kosong melompong.

Diskriminasi agama masih sangat menghantui Barat hingga saat ini. Contoh yang sedang hangat adalah penolakan pembangunan masjid dua blok dari Ground Zero (bekas the Twin Tower berdiri sebelum dihancurkan oleh konspirasi antara pemilik gedung dan pemerintah AS, dengan cara menyalahkan sekelompok muslim--konspirasi ini sudah banyak diangkat oleh para ilmuwan AS sendiri, terutama para insinyur sipilnya yang meragukan kemampuan terbakarnya pesawat untuk menghancurkan infrastruktur gedung).

Berbekal kondisi Barat yang rawan terhadap isu perbedaan kultur ini, maka para ahli pendidikan mencetuskan ide pendidikan multikultural. Namun, lantaran ide ini berasal dari pemikiran manusia, maka tidak ada petunjuk maupun batasan yang bisa disepakati. Walhasil, pendidikan multikultural melebar hingga memasuki ranah-ranah yang melanggar Islam.

Salah satu tema pendidikan multikultural yang berbahaya adalah penerimaan terhadap kebiasaan menyimpang homoseksual. Penyimpangan ini disebut sebagai perbedaan, sehingga posisinya disamakan dengan perbedaan budaya lainnya. Kehidupan homoseksual yang sesungguhnya membahayakan masyarakat sekitar, misalnya karena memperlebar penyebaran penyakit seperti AIDS, disembunyikan di balik sisi kemanusiaan, bahwa mereka adalah manusia “normal” yang bekerja keras untuk hidup, memiliki prestasi, memiliki kesedihan, dan ingin mendapatkan kebahagiaan sebagaimana manusia lainnya. Di Amerika sendiri, masuknya tema-tema homoseksual ke dalam buku-buku pelajaran sekolah masih menuai protes keras.

Tema lain yang tak kalah berbahaya adalah penempatan agama sebagai salah satu aspek kultur. Konsekuensinya, Islam tidak boleh diajarkan sebagai satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imron 85:
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu), dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Lebih jauh lagi, keyakinan untuk beragama disejajarkan dengan keyakinan untuk tidak beragama (atheisme) dan tata pelaksanaan agama disejajarkan dengan upacara adat. Artinya, menjadi atheis dianggap sebagai hak asasi manusia yang harus dihormati. Demikian pula upacara adat, walaupun mengandung kesyirikan, perlu dilestarikan.

Yang Diperlukan Adalah Kurikulum Pendidikan Islam

Sesungguhnya problematika diskriminasi telah diselesaikan oleh Islam sejak awal (abad ke-6), jauh sebelum Barat menyadarinya. Tidak ada keutamaan kaum kulit putih di atas kulit hitam, kaum lelaki di atas kaum wanita, maupun kaum berpunya di atas kaum miskin, kecuali mengikuti derajat ketaqwaannya. Salah satu firman Allah berkenaan dengan hal ini adalah QS. Al Hujurat 13:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Kurikulum Islam hanya mengikuti perintah Allah, dengan batasan-batasan yang sudah dijelaskan oleh Allah dan rasulNya. Dalam sejarah Islam, tercatat ketinggian nilai sahabat Bilal ra, seorang mantan budak hitam, sebagaimana juga menempatkan para sahabat wanita termasuk istri-istri Nabi sebagai ulama wanita yang didengar pendapat dan periwayatannya. Namun, Islam dengan tegas melarang aktivitas yang menjerumus kepada homoseksualitas dan dengan gigih pula senantiasa menyampaikan kebenaran Islam untuk menyelamatkan umat manusia dari kerusakan dunia dan akhirat. Islam tidak akan pernah sampai kepada kita seandainya Islam mengadopsi kurikulum multikultural yang memupus semangat dakwah dan penyebaran agama.

Oleh karena itu, yang selayaknya diperjuangkan menjadi kurikulum nasional adalah kurikulum Islam, bukan kurikulum multikultural. Allahu a’lam.

Proyek Menghadang Negara Islam

Proyek Menghadang Negara Islam
PostDateIconFriday, 06 May 2011 17:04 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail

Lintas Berita

alt
NII KW9 ternyata berhubungan dengan Pesantren Al Zaytun di Indramayu dan dengan pemimpin yang sama. Keresahan terjadi tapi kenapa polisi tak bertindak?

Dr Azhari, Noordin Muhamad Top, Dulmatin, atau sejumlah tokoh teroris lainnya mati ditembak Densus 88. Yang lainnya ditangkap, diadili, dan mendekam di penjara. Pendek kata, Densus 88 bukan main hebatnya. Hampir tak ada tempat yang aman bagi para penjahat untuk menyembunyikan diri.

Karena itu menjadi tanda tanya besar kenapa pemerintah tak berhasil membongkar jaringan Negara Islam Indonesia (NII)? Padahal NII telah meresahkan masyarakat karena diketahui melakukan cuci otak kepada para pelajar dan mahasiswa yang menjadi korbannya di berbagai daerah dan kota. Lebih meresahkan setelah ternyata Pepi Fernando, 32 tahun, sutradara film dan otak teroris bom buku dan perencana peledakan bom di dekat pipa gas di Serpong, Tangerang, pernah pula menjadi anggota NII.

Jaringan ini diketahui memeras, menipu, memoroti duit korbannya, dan itu menggunakan nama Islam. Sampai ada anak membenci atau melawan orang tua, remaja raib dan tak pulang ke rumah, dan banyak lagi cerita serupa lainnya. Yang menghebohkan adalah kasus Laila Febriani alias Lian, gadis yang ditemukan April lalu, dalam keadaan linglung di Masjid At-Taawun, Puncak, Bogor. Dia adalah korban cuci otak oleh NII.

Nama negara Islam, atau bahkan nama Islam itu sendiri sudah hancur-hancuran, babak-belur, paling tidak menjadi amat jelek, karena perbuatan NII. Sebentar lagi orang akan takut mendengar nama negara Islam, bahkan mendengar nama Islam itu sendiri.

Tapi mengapa pemerintah diam saja? Kenapa Densus 88 tak menunjukkan kebolehannya menyergap dan menembaki markas dan para anggota NII, seperti dilakukannya selama ini dalam memberantas terorisme?

Ternyata karena intelijen berada di belakang dan selalu melindungi NII. Itulah yang diungkapkan secara terbuka kepada wartawan oleh Al Chaidar, peneliti dan penulis sejumlah buku tentang NII. Menurut Al Chaidar masalah NII sebenarnya sudah cukup jelas sejak lama karena sejumlah pihak telah melakukan penelitian, termasuk penelitian oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa tahun yang lalu.

Dari penelitian itu diketahui bahwa NII KW 9 (Komando Wilayah 9) punya kaitan dengan Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, yang dipimpin A.S Panji Gumilang alias Abu Toto. ‘’Panji Gumilang itu adalah orang yang dilindungi pemerintah atau oleh oknum intelijen,’’ kata Al Chaidar yang beberapa kali pernah mengunjungi Pesantren Al Zaytun dan mewawancarai Abu Toto.

Dalam operasionalnya NII berusaha mengumpulkan duit sebanyak-banyaknya dari para simpatisan dan para korban (yang tertipu). Menurut Al Chaidar hanya sekitar 10% uang itu digunakan untuk keperluan pesantren. Sisanya dibagi-bagi, termasuk dengan para oknum intelijen.

Dengan cara seperti ini, Al Chaidar mengatakan bahwa tujuan NII ini (yang disebutnya gadungan) hanya untuk mencari duit dan sama sekali tak ada urusannya dengan rencana mendirikan negara Islam atau untuk kepentingan Islam lainnya.

Pada tahun 1999, Al Chaidar pernah bertemu Letjen Z.A. Maulani, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) – sekarang dikenal sebagai Badan Intelijen Negara (BIN). Ketika itu Z.A.Maulani berbicara untuk kepentingan Abu Toto alias Panji Gumilang, meminta agar Al Chaidar membatalkan rencana menerbitkan buku yang menyangkut Panji Gumilang. Tapi permintaan itu tak dipenuhi Al Chaidar. ‘’Kawan-kawan saya bilang, ditulis saja korbannya banyak, apalagi nggak ditulis,’’ kata Al Chaidar.

Al Chaidar malah pernah melaporkan Kepala BIN Hendropriyono ke Mabes Polri pada 2003, untuk perbuatan mengancam dan penghinaan. Pada 13 Mei 2003, Hendro mengunjungi Pesantren Al Zaytun dan berpidato di sana. "Dia bilang akan menghajar siapa saja yang melawan Al Zaytun,’’ kata Al Chaidar. Selain itu Hendro mengatakan bahwa orang yang menghujat Al Zaytun adalah iblis. Semua pernyataan Hendro itu terekam dalam VCD dan dijadikan Al Chaidar barang bukti kepada polisi. Tapi maklum sajalah: mana polisi berani mengusut seorang Kepala BIN.

RATUSAN MILYAR DI BANK CENTURY

Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin juga mengungkapkan bahwa pimpinan NII KW 9 dan pimpinan Pesantren Al Zaytun adalah orang yang sama. Dan selama 20 tahun beroperasi NII KW 9 dibiarkan saja oleh pemerintah. ‘’MUI sudah lama memberikan fatwa mau pun peringatan berdasarkan pengaduan banyak pihak yang menjadi korban. Dan itu disampaikan juga kepada pemerintah, namun tak ada tindakan pemerintah yang memuaskan,’’ kata Din.

Pembiaran itu menyebabkan NII kemudian menyebar dengan mudah sampai ke sekolah menengah mau pun perguruan tinggi. Maka Din berpendapat masyarakat harus mencegah penyebaran NII karena pembiaran oleh pemerintah. ‘’Kalau tak dicegah, NII itu hanya akan mendiskreditkan ummat Islam,’’ kata Din.

Hubungannya yang dekat dengan intelijen Indonesia menyebabkan Al Zaitun berkembang dengan cepat dan disebut-sebut sebagai pesantren terbesar di Asia Tenggara. Dan yang lebih menakjubkan ternyata pesantren itu atau NII amat kaya memiliki duit sampai puluhan milyar rupiah – sementara pesantren lain ngos-ngosan kesulitan dana.

Tatkala heboh kasus Bank Century, 21 Desember 2009, Kepala PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) Yunus Husein melaporkan kepada Panitia Khusus (Pansus) DPR tentang Bank Century bahwa seorang bernama Abu Maarik memiliki simpanan di bank itu sebesar Rp 46,2 milyar.

Abu Maarik diduga nama lain dari Panji Gumilang alias Abu Toto, pemimpin Pesantren Al Zaytun dan pemimpin tertinggi NII KW 9. ‘’Kita minta negara segera melumpuhkan jaringan yang merusak negara seperti NII. Apalagi setelah ditemukan dana milyaran rupiah di Bank Century. Kenapa itu tak terendus dari dulu?’’ kata Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua DPR.

Malah sebenarnya dana yang dimiliki NII KW9 pernah lebih besar lagi, mencapai ratusan milyar rupiah dan didepositokan di Bank Century Cabang Senayan, Jakarta. Dana itu berasal dari sumbangan para pendukungnya yang militan. Hal itu diungkapkan bekas Menteri Peningkatan Produksi NII KW9 Imam Supriyanto kepada wartawan Detik.Com.

Dari 1997 – 2003 yang menjadi Kepala Negara NII KW9 adalah Syamsul Alam yang diyakini oleh Imam Supriyanto tak lain dari Panji Gumilang, pimpinan Pesantren Al Zaytun yang dikenal sekarang. Pada 2002 terjadi gejolak internal ketika Syamsul Alam tak bisa mempertanggung-jawabkan dana yang ia gunakan. Saat itu sekitar separuh anggota NII keluar.

Lantas pimpinan NII membuat kewajiban bagi anggota untuk memberikan sumbangan dengan target tertentu. Sejak itulah menurut Imam Supriyanto, terdengar ada anggota NII yang melakukan pemerasan, penipuan, dan semacamnya, guna memenuhi target sumbangan yang telah ditentukan.

Begitu pun Al Zaitun tetap berkibar. Soalnya selain Hendropriyono, cukup banyak pejabat penting yang membekingnya. Presiden BJ Habibie, bekas Panglima TNI Wiranto, Wapres Jusuf Kalla, adalah nama-nama pejabat penting yang pernah mengunjungi Al Zaytun.

Karena itu sekali pun di berbagai tempat terjadi masalah tentang laporan anak sekolah atau mahasiswa yang dicuci otak, atau remaja yang menghilang, polisi tak bertindak ke Al Zaytun mau pun NII. Tampaknya menjadi jelas bahwa NII adalah proyek intel untuk menjelek-jelekkan Islam dan konsep negara Islam kepada rakyat.

Hanya sekali, ketika Irjen Pol Susno Duadji menjadi Kapolda Jawa Barat di tahun 2008, dia bekerja sama dengan MUI menggerebek sebuah upacara pindah warga negara dari warganegara Indonesia menjadi warganegara Negara Islam Indonesia (NII) yang dilakukan di sebuah tempat di Kabupaten Bandung. Sekitar 20 orang NII itu sedang dilantik dan langsung diringkus polisi. Mereka kemudian terbukti melakukan perbuatan makar di pengadilan.

Jumat, 22 April 2011

Ketahuilah Dunia Bukan Tempat Kenikmatan

Ketahuilah Dunia Bukan Tempat Kenikmatan

oleh Sheikh Yusuf Qardawi

Salah satu faktor yang membantu manusia memiliki sikap sabar, khususnya terhadap musibah dan kesulitan, adalah pandangannya terhadap dunia. Manusia yang memiliki pandangan yang jelas tentang dunia, maka ia akan menjadi manusia yang sabar.

Hakekatnya dunia bukanlah surga tempat kenikmatan dan juga bukan tempat yang abadi. Ia hanya berupa cobaan dan pembebanan (taklif). Manusia diciptakan di dalamnya untuk diuji guna memeprsiapkan kehidupan yang abadi di akhirat. Siapa yang telah mengetahui watak kehidupan dunia seperti ini, maka ia tidak akan dikejutkan oeh "malapetaka" dunia. Sesuatu yang datang dari dalam kehidupannya, maka tak asing lagi bagi kehidupannya.

Tetapi bagi orang-orang yang memandang kehidupan dunia ini sebagai jalan llyang penuh ditaburi bunga dan aroma, maka apabila ia tergelincir sedikit saja, akan dirasakannya sangat berat dan sulit, karena sebelumnya tidak pernah membayangkannya. Al-Qur'an mengisyarakatkan bahwa kehidupan manusia ini diliputi oleh berbagai kesengsaraan dan derita. Firman Allah SWT:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

"Sungguh Kami telah ciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. al-Balad [90] : 4)

Selain itu juga diisyaratkan bahwa watak kehidupan ini tida pernah konstan dalam suatu keadaan. Hari membawa kebaikan dan esok har membawa kesengsaraan.

Allah Ta'ala berfirman :

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

"Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat lukayang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran." (QS. Ali Imran [3] : 140)

Allah menciptakan kehidupan ini dengan memasukkan antara kesenangan dan kesengsaraan, antara kecintaan dan kebencian. Tidak ada kesenangan dan kenikmatan tanpa ada kesengsaraan dan kepedihan, tidak ada kesehatan tanpa diganggu rasa sakit, atau kebahagiaan tanpa kesedihan atau keamanan tanpa ketakutan. Sebab hal ini menyalahi kodrat kehidupan dan peranan manusia di dalamnya. Kenyataan inilah yang disadari oelh para filsuf, penyair dan pemikir sejak dahulu kala, sehingga banyak kita temui ungkapan mereka yang mengenai hal ini.

Ali bin Ali Talib pernah ditanya tentang dunia, kemudian menjawab, "Apa yang dapat aku katakan tentang dunia yang awalnya tangis, tengahnya kesengsaraan, dan ujungnya ketidak abadian ?"

Di dalam kitab Zadul Ma'ad, Ibn Qayyim menjelaskan tentang 'obat' panas dan sedihnya musibah :

"Diantara penyembuhannya ialah, hendaknya ia memadamkan api musibah itu dengan kesejukan meneledani orang-orang yang mengalami musibah. Hendaknya diketahui bahwa di setiap lembah itu mash terdapat orang-orang yang bahagia, tetapi hendaknya pula ia menoleh ke kanan melihat kesengsaraan yang ada dan menoleh ke kiri melihat derita yang menimpa. Kalau saja ia menjelejahi dunia, niscaya akan mendapati bahwa tidak ada orang yang luput dari cobaan. Baik dengan kehilangan kekasih maupn menderita sesuatu yang tidak disukai.

Sesungguhnya kebahagiaan dunia itu laksana mimpi orang-orang yang sedang tidur seperti bayangan. Jika membuatnya tertawa sejenak maka akan membuatnya bahagia sehari, maka akan membuatnya sengsara setahun. Jika menghiburnya sebentar, maka akan menyedihkannya secara berkepanjangan.

Berkata Ibn Mas'ud : "Setiap kebahagiaan pasti mengandung kesedihan, tidak ada kebahagiaan tanpa kesedihan."

Berkata Ibn Sirin : "Sesuatu yang berwujud gelak tawa semata, niscaya pada akhirnya membawa tangis."

Berkata Hindun binti Nu'man bin al-Mundzir (seorang raja Arab), "Kami pernah menjadi oran gyang paling berwibawa dan paling kuat pemerintahannya, tetapi sebelum matahari terbenam kami telah menjadi orang yang paling sedikit dan lemah. Sesungguhnya Allah tidak memberikan kemegahan kepada sesuatu negeri kecuali dijadikan sebagai pelajaran dan peringatan."

Pada suatu hari Hindun pernah ditanya tentang nasibnya, maka dia menjawab : "Sekarang tak seorangpun dari bangsa Arab yang berharap kepada kami bahkan tak seorang pun dari bangsa Arab yang mengasihi kami."

Tak ada yang kekal di dunia ini, dan yang kekal hanyalah Allah Azza Wa Jalla, setiap saat kehidupan ini berubah, dan selalu berganti-ganti. Adakalahnya sedih dan adakalnya bergembira. Kehidupan yang kekal hanyalah di akhirat. Janganlah terpedaya dengan kehidupan dunia yang palsu ini. Wallahu'alam.
Senin, 18/04/2011 13:58 WIB | email | print

Defeated Mentality (Mental Pecundang)

Defeated Mentality (Mental Pecundang)
Selasa, 19/04/2011 07:14 WIB | email | print

oleh Ihsan Tandjung

Salah satu penyakit menonjol kaum Muslimin dewasa ini ialah terjangkiti Defeated Mentality (Mental Pecundang). Tidak sedikit saudara muslim kita yang malu menampilkan identitas ke-Islam-annya di tengah masyarakat. Ia sangat khawatir bila dirinya memperlihatkan segala sesuatu yang terkait dengan nilai-nilai Islam maka ia akan diejek, dipandang rendah, diasingkan, dikucilkan, ditolak bahkan dimusuhi. Inilah yang menyebabkan tidak sedikit pegawai kantoran yang membiarkan dirinya menunda bahkan meninggalkan sholat bila mendapati dirinya sedang “terjebak” di dalam suatu meeting panjang. Tidak sedikit muslimah yang ragu untuk berjilbab karena tidak siap menghadapi “komentar negatif” orang-orang di sekelilingnya. Dan banyak daftar contoh lainnya. Padahal menampilkan identitas Islam merupakan perintah Allah سبحانه و تعالى :

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Ali Imran [3] : 64)

Keberpalingan orang lain dari agama Allah سبحانه و تعالى tidak berarti kitapun harus ikut-ikutan berpaling darinya. Berjalanlah di tengah masyarakat dengan identitas Islam yang jelas terlihat. Sebab menampilkan identitas Islam merupakan bukti seorang muslim siap beribadah kepada Rabbnya dalam situasi dan kondisi apapun. Di manapun dan di hadapan siapapun. Memperlihatkan perilaku dan akhlak Islam merupakan bukti seorang muslim meyakini bahwa sosok Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم merupakan teladan utama bagi dirinya yang perlu ia contoh begaimanapun situasi dan kondisi yang melingkupi dirinya. Seorang muslim tidak dibenarkan membiarkan dirinya berperilaku laksana bunglon. Berubah warna menyesuaikan diri dengan warna di sekitar dirinya. Warna Islam harus menjadi warna seorang muslim betapapun ramainya aneka warna lainnya di sekitar dirinya. Muslim yang tidak konsisten menampilkan identitas Islamnya merupakan orang yang memiliki mentalitas pecundang. Ia telah kalah sebelum bertarung.

Apa sebenarnya yang menyebabkan banyak muslim dewasa ini ber-mental pecundang? Banyak sebabnya. Di antaranya ialah:

Tidak memiliki keyakinan yang mantap bahwa sesungguhnya Allah سبحانه و تعالى pasti menolong orang yang menolong (agama) Allah سبحانه و تعالى. Dia ragu apakah benar jika dirinya tampil dengan identitas Islam ia bakal ditolong Allah سبحانه و تعالى? Sehingga akhirnya dia menawar dalam hal ini. Dia mulai mencari identitas lain yang dia sangka jika ia tampilkan –baik bersama dengan identitas Islam maupun tidak- maka manusia di sekitar akan memberikan apresiasi kepada dirinya. Ia akan dianggap sebagai orang yang lebih “mudah diterima”. Padahal jelas Allah سبحانه و تعالى berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47] : 7)
Dia silau melihat kaum kafir yang Allah sedang berikan kesempatan memimpin dunia dewasa ini di zaman yang penuh fitnah (baca: ujian) bagi kaum yang beriman. Lalu dalam rangka supaya bisa segera menyaingi keberhasilan kaum kafir, maka diapun mengikuti jejak langkah, tabiat dan kebiasaan kaum kafir. Jika kaum kafir bisa meraih kemenangan tanpa menghiraukan keterlibatan agama dalam urusan kehidupan sosial, politik dan ekonomi, maka iapun menganggap bahwa hal itu juga bisa diraih oleh ummat Islam jika paham sekularisme turut dikembangkan di tengah kaum muslimin. Akhirnya ia beranggapan bahwa identitas berdasarkan kesamaan bangsa lebih dapat diandalkan daripada identitas berdasarkan kesamaan aqidah dan ketundukan kepada Allah, Rabb Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam raya. Paham nasionalisme yang merupakan ideologi produk manusia dipercaya dapat “lebih menjual” daripada ideologi dienullah (agama Allah) Al-Islam yang bersumber dari Allah سبحانه و تعالى . Alhasil keyakinan bahwa Allah سبحانه و تعالى merupakan sebab bersatunya hati manusia digantikan dengan man-made ideologies sebagai sebab persatuan dan kesatuan umat manusia. Padahal jelas Allah سبحانه و تعالى berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًامَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Dan (Allah) Dialah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal [8] : 63)
Dia mudah terjebak oleh paham-paham sesat modern yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara ada sebagian ummat Islam bahkan tokoh Islam yang justeru mendukung paham-paham tersebut. Dukungan yang diberikan kadang-kala dijabarkan dalam tulisan-tulisan yang berdalilkan ayat dan hadits pula. Di antaranya adalah seperti paham Pluralisme, Sekularisme, Humanisme serta Demokrasi. Memang harus diakui bahwa jika seorang muslim tidak memiliki ilmu yang cukup dan rajin membaca berbagai tulisan para ulama dan pemikir Islam yang kritis membedah kesesatan paham-paham tersebut, niscaya dia akan dengan mudah menelan berbagai pandangan yang mendukung dan menjustifikasi keabsahan paham-paham tadi. Sebab media yang pada umumnya sekuler lebih condong memuat pendapat yang sejalan dengannya. Hanya sedikit sekali media Islam yang cukup cerdas membongkar bahayanya paham-paham tadi. Karena disamping kecerdasan juga diperlukan keberanian untuk menentang arus yang mengkampanyekannya. Itulah rahasianya Allah سبحانه و تعالى memerintahkan ummat Islam agar tidak mudah ikut arus yang ramai.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِإِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (QS. Al-An’aam [6] : 116)
Dia tidak cukup sabar meniti jalan sulit dan mendaki sesuai sunnah (tradisi) cara berjuang Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم untuk meraih janji kemenangan agama Allah سبحانه و تعالى di dunia. Dia mengira bahwa jadwal kemenangan ummat Islam mesti ditentukan oleh perhitungan akal dirinya sendiri. Padahal segala sesuatu memiliki dan mengikuti sunnatullah. Akhirnya demi segera tercapainya kemenangan ia rela berjalan dan berjuang tidak lagi mencontoh sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم Mulailah dia memandang para mujahidin yang sejatinya berada di atas jalan Allah سبحانه و تعالى justeru sebagai kalangan yang bodoh, tidak progressif dan tidak realistis. Sedangkan para kolaborator (baca: para pengkhianat) justeru dipandangnya sebagai kalangan yang berpandangan luas, progressif dan realistis dalam berjuang. Mereka lupa bahwa kalah dan menang merupakan tabiat hidup di dunia. Tidak mungkin ummat Islam terus-menerus meraih kemenangan di dunia sebagaimana tidak mungkin kaum kafir pasti selalu mengalami kekalahan di dunia. Allah سبحانه و تعالى menggilir masa kejayaan dan kemenangan di antara ummat manusia. Ada masanya ummat Islam berjaya, ada masanya ummat Islam terpuruk. Ada masanya kaum kafir terpuruk, ada masanya mereka diizinkan Allah meraih kemenangan di dunia.

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُوَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُواوَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran [3] : 140)
Yang pasti, hanya kaum beriman sejati sajalah yang selamanya akan berjaya dan bahagia di akhirat. Dan hanya kaum kafirlah —beserta kaum munafiq yang berkolaborasi dengan mereka— yang selamanya bakal merugi dan menderita kekalahan sejati di akhirat kelak nanti.

Begitu kita menyadari bahwa secara konteks zaman kita ditaqdirkan Allah سبحانه و تعالى lahir ke dunia di era dimana giliran kekalahan sedang menimpa ummat Islam dan giliran kejayaan sedang Allah taqdirkan berada di tangan kaum kuffar, maka kita segera sadar bahwa ini merupakan era badai fitnah (baca: badai ujian). Dengan legowo kita harus mengakui bahwa ummat Islam dewasa ini sedang babak belur dan kaum kafir sedang berjaya secara duniawi. Tapi itu bukan alasan untuk kemudian kita meniti kehidupan di dunia ini dengan defeated mentality (mental pecundang). Ini sama sekali bukan alasan ummat Islam untuk meninggalkan jalan hidup Islam dan malah mengadopsi jalan hidup kaum kuffar.

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3] : 139)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing,maka beruntunglah orang-orang yang terasing'." (HR. Muslim No. 208)

aib

Manusia memang tidak lepas dari salah dan lupa. Opsi terbaik saat kita khilaf adalah sesegera mungkin bertobat, bersungguh-sungguh menyesali dosa kita, tidak mengulanginya lagi dan banyak beramal saleh dengan harapan agar amal saleh tersebut dapat menghapus dosa yang pernah kita perbuat.

But, the problem is, kadangkala, ada seseorang yang dengan bangganya menceritakan kelamnya masa lalu atau aib yang pernah ia lakukan.

Mungkin kita pernah mendengar seseorang bercerita–dengan santai dan cekakak-cekikik- tentang list aib-aibnya, seperti kalimat di bawah ini:

“Saya pernah pacaran dengan si A dan si B lho, bla… bla… bla”. “Gue dulu suka minum miras, merk A dan merk B mah sudah jadi langganan Gue…”

Hei… bukankah pacaran dan mabuk miras itu dosa? Lantas kenapa mesti diceritakan dengan penuh kebanggaan? Bukankah dosa-dosa itu semestinya disimpan rapat, tak usah ada yang tahu. Jika perlu, simpan dosa-dosamu dalam brankas dan buang ke laut. Aneh bukan, bermaksiat koq bangga.

Ada aturan yang mesti kita pahami, bahwa dosa adalah hal yang memalukan jadi tak perlu ada “press conference”. Segatal apapun mulut kita ingin mengumbar dosa masa lalu, it’s enough, tidak layak kita ceritakan pada orang lain.

Banyak fakta menunjukkan si fulan melakukan dosa karena terinspirasi dosa orang lain, biasanya anak-anak kos yang gemar berbagi pengalaman. Misalnya, si A suka cerita pada si B tentang betapa serunya berpacaran, enaknya nyabu, dll dan lama-lama si B juga ingin mencoba pacaran dan nyabu, nah lho?

Tanpa kita sadari kita telah menjerumuskan orang lain ke jurang dosa gara-gara kita hiasi cerita dosa kita dengan kata-kata nan indah, sehingga bermaksiat jadi terlihat keren bin seru, naudzubillahi min dzalik.

Bila kita pernah khilaf, boleh saja kita menceritakannya. Tapi harus pada orang yang berkompeten, misal pada ustaz atau psikolog, semua dalam rangka mencari satu hal yakni solusi, sekali lagi solusi.

Jika kita telah bertobat, maka simpanlah kisah kelammu baik-baik, jika engkau ingin berbagi cerita bahwa engkau pernah salah dan agar orang lain mengambil ibroh (hikmah) dari ceritamu, maka ceritakan secara umum atau garis besarnya saja tanpa harus deti.

Misalnya, ”Saya juga pernah tergelincir, tapi Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan saya”, that’s all. Jika ada teman yang iseng bertanya tentang masa lalumu seperti kalimat ini “Idih, gimana ceritamu sama si A mantanmu dulu, masih ingat nda?”, tak usahlah diperpanjang, cukup katakan “Itu masa lalu kawan, aku telah bertobat dan telah membuka lembaran baru”.

Cukuplah hadis dari Abu Hurairoh bahwa Rasululloh bersabda:

“Semua ummatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali Mujahirin (orang yang memberitahukan kemaksiatannya pada orang lain). Dan sesungguhnya termasuk Al-majanah bila orang itu pada malam hari berbuat kejahatan, kemudian pada waktu paginya dia berkata, 'Wahai fulan, tadi malam aku berbuat demikian dan demikian' padahal malam harinya Robb-nya telah menutupi (aibnya tersebut), namun pagi hari dia sendiri yang membuka apa yang telah ditutup oleh Alloh," (HR.Bukhori 5/3254).

Bila Allah telah menutupi aib kita, maka tak perlu kita memberitahukan pada orang-orang. Bukankah malu adalah sebagian dari tanda orang beriman? So the points are; bertobatlah dahulu saat kita tahu bahwa kita berdosa, ceritakan saja kesalahan kita pada orang yang mumpuni agar kita mendapat bimbingan untuk menapaki jalan hidup yang lebih baik dan jika kita “sekedar” cerita pada orang lain tentang aib kita dan tidak akan ada manfaat bagi yang mendengarnya, tampaknya kita lebih baik diam.

Berkatalah yang baik atau diam. Jangan sampai ada yang mencontoh dosa kita hanya karena kita telah bercerita pada orang yang salah dan dengan cara yang salah pula.

Bermaksiat di masa lalu? Usai sudah, jangan berbangga atas kemaksiatan kita, apalagi jika kita telah bertaubat dan Allah telah menutupi aib kita dari orang-orang sedunia.

Rabu, 13 April 2011

Training ESQ

Training ESQ tenyata bukan sekedar training biasa. Lebih dari itu, ajaran ESQ yang dikembangkan Ary Ginanjar menawarkan sebuah jalan hidup melalui konsep yang disebut The ESQWay 165.

Syaifullah (27 tahun) tersentak kaget ketika membaca visi dan misi ESQ (Emotional Spiritual Quotient) di website resmi ESQ Leadership Center yang beralamat di www.esqway165.com.

Dalam website itu ditemukan bahwa misi ESQ adalah “menyebarkan dan menjadikan The ESQWay 165 sebagai jalan hidup terbaik di muka bumi”.

“Astaghfirullahal adzim, yang benar aja masa ajaran ESQ mau dijadikan sebagai jalan hidup terbaik?”, ucapnya saat itu.

Baginya kalimat itu sangat dahsyat. Lelaki yang juga aktivis gerakan Islam itu merasa bahwa misi yang dibuat oleh ESQ LC itu bertentangan dengan Al Qur’an, terutama Surat Ali Imran ayat 85. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Alumni ESQ Angkatan 52 itu sebelumnya hanya berpandangan bahwa kekurangan metode ESQ yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian adalah tidak sampainya materi pelatihan kepada syariat Islam. ESQ dia pandang hanya bisa menyadarkan orang untuk beriman. “Setelah orang beriman kepada Allah, Ary tidak mengajarkan bahwa konsekuensi keimanan itu adalah terikat dengan syariat Islam”, jelas Syaifullah.

Ia masih ingat betul saat mengikuti training ESQ di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada tanggal 5-8 Oktober 2006 silam. Bersama dua orang temannya, kala itu ia menjadi delegasi dari sebuah gerakan dakwah yang ia ikuti. Beberapa keanehan ajaran ESQ sebenarnya sudah dirasakannya, namun tidak sampai membuat ia mendalami. Tetapi ketika pertengahan Juni 2010 Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran, pedoman dan paham ESQ LC yang dipimpin Ary Ginanjar, Syaifullah pun tersadar. Bahwa ajaran ESQ memang benar-benar sesat dan menyesatkan.

Syaifullah menceritakan ketika mengikuti training empat tahun silam, saat pembukaan Ary mengumumkan bahwa trainingnya bukanlah ceramah agama, karena itu boleh-boleh saja semua penganut agama mengikuti trainingnya. Selain itu peserta juga tidak boleh mengajukan pertanyaan. “Tapi Ary selalu membawa ayat-ayat Al Qur’an, bahkan mengajak peserta agar meneladani sifat-sifat Allah (Asmaul Husna). Ini kan kacau”, ungkapnya.

Kesesatan ESQ

Jika diteliti secara mendalam, sebenarnya kesesatan ajaran lembaga yang beridiri sejak 16 Mei 2000 itu sangatlah banyak. Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP Hizb Dakwah Islam (HDI) Ustadz Bernard Abdul Jabbar mencatat setidaknya ada 38 poin kesesatan ESQ. Sementara peneliti aliran-aliran sesat Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menemukan setidaknya ada 27 penyimpangan. Catatan yang mereka berikan terhadap ESQ secara garis besar mirip dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Mufti Malaysia.

Misi ESQ yang dinyatakan dalam kalimat “menyebarkan dan menjadikan The ESQWay 165 sebagai jalan hidup terbaik di muka bumi”, dinilai oleh mantan misonaris itu sebagai upaya Ary untuk membuat agama baru yang bernama Agama ESQ 165. “Jalan hidup terbaik itu hanya Islam, kalau dia buat ESQ sebagai jalan hidup (way of live), apa bedanya ESQ dengan Ahmadiyah?”, ungkap Bernard lantang.

Bernard bahkan menyuguhkan fakta bahwa ajaran ESQ adalah sinkretistik yang mencampurkan antara ajaran Islam, Kristen dan Hindu. “ESQ itu ajaran gado-gado”, tegasnya.

Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaludin menyatakan bahwa ia telah melakukan penelitian terhadap ESQ sejak lama. Pada tahun 2009 lalu, Amin mengaku didatangi oleh tim dari Malaysia yang meminta penjelasannya seputar ESQ. “Saat itu saya sudah menyatakan bahwa ESQ memang menyimpang”, jelasnya di hadapan peserta Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK), di Jakarta, Kamis (29/10).

Menurut anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat itu, penyimpangan terbesar yang dilakukan oleh Ary Ginanjar adalah menafsirkan makna Asmaul Husna. “Karena ini adalah kunci dan inti buku ini. Dalam buku ini, masalah Asmaul Husna merupakan kesimpulan akhir”, katanya sambil mengangkat buku ESQ yang ditulis Ary Ginanjar.
“Sebagai contoh, Asmaul Husna “Al-Muqsith” diartikan saya adil dalam menghukum. Bagaimana mungkin menyamakan keadilan Allah dengan keadilan manusia?”, lanjutnya.

Ungkapan itu menurut Amin adalah penyimpangan yang ingin menyaingi Allah SWT. “Sama kayak HMA Bijak Bestari yang dulu sering tampil di televisi tiap Sabtu mengobati orang. Bijak Bestari mengaku dirinya tuhan tertinggi di atas Allahu Akbar. Allahu Akbar setingkat di bawah dia. Hampir sama ESQ dengan HMA Bijak Bestari”, jelasnya.

Pengasuh Kajian Tauhid Radio DAKTA Ustadz Farid Okbah berpendapat senada dengan Amin. Menurut Ustadz Farid, kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Ary Ginanjar adalah mendoktrinkan dalam buku maupun kajian yang ada di dalam forum itu supaya peserta mengikuti akhlak Allah.
Dalam setiap kesempatan, Ary memang selalu membawakan hadits “Takhallaquu bi-akhlaaqillaah”. Padahal menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Fawa’id itu adalah hadits palsu. Ungkapan tersebut bukanlah hadits Nabi, tapi ucapan Yahya bin Mu’adz. ”Karena ungkapan ini bukan hadits, maka tidak bisa dijadikan pedoman”, jelas Farid.

Kewajiban umat Islam adalah mengikuti akhlak Rasulullah. Mengikuti akhlak Allah adalah indikasi ajaran sufi. ”Inilah kesalahan dasar Ary Ginanjar yang harus diluruskan. Dan Ary Ginanjar harus melakukan koreksi total terhadap ESQ-nya sebelum menyebar lebih luas lagi”, tegas Alumni ESQ Angkatan 46 itu.

Sementara itu, meski belum sampai pada kesimpulan menyesatkan, Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat Dr. H. Anwar Ibrahim mengatakan bahwa ia mengkhawatirkan ajaran ESQ dengan sejumlah alasan. Diantaranya kelahiran ESQ 16 Mei 2000 lalu hampir bersamaan dengan kemunculan Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain itu Anwar juga mempertanyakan kemampuan Ary dalam penguasaan bahasa Arab (sebagai salah satu syarat untuk bisa memahami Al Qur’an) dan keahliannya dalam memahami literatur Islam.

”Gelagat Ary juga mencurigakan. Ia membaca Al Qur’an tapi bilang itu bukan dakwah. Lantas Al Qur’an ditempatkan dimana?, tanyanya.

Secara faktual, ajaran ESQ memang terpengaruh dari ajaran di luar Islam. Konsep ’Suara Hati’ jelas diambil dari kitab Injil (Yohanes 8:9, Matius 15:19), sementara konsep Zero Mind Process (ZMP) diambil dari ajaran Hindu yang dibawa oleh Swami Vivekananda. Konsep Spiritual Quotient (SQ) sendiri adalah temuan seorang Yahudi bernama Danah Zohar. Konsep God Spot yang dianggap sebagai dimensi spiritual manusia sendiri merupakan temuan VS Ramachandran dan timnya dari California University AS. Dalam ESQ, 99 Asma Allah (Asmaul Husna) direfleksikan pada God Spot sebagai Core Values (nilai inti).

Bukan hanya pengaruh dari agama lain, penulis buku ”Gerakan Theosofi di Indonesia”, Artawijaya, bahkan mensinyalir adanya pengaruh aliran kebatinan di dalam ESQ. Hal ini bisa diketahui dari pemakaian istilah dan isi dari Nilai Dasar ESQ yang disebut dengan 7 BUDI UTAMA. Tujuh Budi Utama ini di dalam ESQ merupakan nilai yang harus dipegang teguh dan tidak boleh dilanggar. Selain itu juga ada 7 Belenggu Pikiran dan Hati yang harus dibersihkan melalui Zero Mind Process (ZMP).

Bagi Arta, angka tujuh sangat berkaitan dengan ajaran aliran kebatinan yang disebut Martabat Tujuh yang disebarkan oleh aliran Wihdatul Wujud (salah satu aliran tasawuf yang menyimpang). Sementara kata BUDI UTAMA mengingatkan kita pada salah satu organisasi pergerakan yang didirikan para anggota Freemasonry di Indonesia, Boedi Oetomo. ”Kata itu dulu sangat dipersoalkan oleh tokoh-tokoh Islam. Karena terlalu mengagungkan budi”, jelasnya.

Dalam buku Bangkitnya Semangat Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, sebagaimana yang dikutip oleh Artawijaya disebutkan bahwa pada tanggal 21 April 1904, sebuah koran Melayu-Jawa bernama ”Darmo-Kondo” yang terbit di Surakarta memuat karangan tanpa nama penulis berjudul ”Hal Budi Manusia”. Dalam tulisan itu dibahas tentang pengertian Budi. ”Diantara keagungan yang ada di dunia, tidak ada yang lebih agung daripada ”Budi”...orang berbudi yang tertidur lebih mulia dari pada si dungu yang shalat”.

Dalam buku yang dikarang oleh Akira Nagazumi itu juga ditulis bahwa mereka yang menyebut ”Budi” sebagai puncak kegiatan moral manusia dan mengendalikan akal dan watak seseorang, adalah mereka yang mengamalkan kebatinan dan kejawen. Sementara para penganut kebatinan, pada masa itu, kerap melakukan pelecehan terhadap ajaran Islam.

Ary Ginanjar Membela Diri

Serangkaian aksi telah dilakukan oleh Ary Ginanjar dan timnya untuk menyelesaikan persoalan ini. Pada tanggal 13 Juli 2010, di Harian Umum Republika, Ary Ginanjar memasang iklan satu halaman penuh yang mengklaim bahwa ajarannya tidak menyimpang karena didukung oleh para tokoh agama di Indonesia dan Malaysia.

Untuk membuktikan klaimnya, pada halaman 25 koran nasional itu juga dipajang beberapa surat rekomendasi berbagai ormas yang menyatakan ajaran ESQ tidak sesat. Salah satu surat rekomendasi yang paling ditonjolkan adalah Surat Rekomendasi Dewan Dakwah Indonesia (DDII) Pusat. Belakangan diketahui bahwa surat rekomendasi DDII itu tidak sah mewakili sikap resmi DDII. Dalam pernyataan resmi yang ditandatangani Ketua Umum Syuhada Bahri dan Sekretais Umum Abdul Wahid Alwi, Jum'at (17/7), DDII membantah telah mengeluarkan surat rekomendasi yang mendukung ESQ Ary Ginanjar.

Dukungan MUI yang diklaim oleh Ary Ginanjar juga dibantah oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, Dr. H. Anwar Ibrahim. Menurut Anwar sampai saat ini MUI secara resmi belum mengeluarkan keputusan soal ESQ. “Jika dikatakan MUI mendukung ESQ, Itu baru pernyataan salah satu pengurus MUI”, ujarnya.

Selain itu, Ary juga menemui Amin Djamaludin. Pertemuan dilakukan pada hari Sabtu, 17 Juli 2010 pukul 10.00 WIB di Kantor LPPI. Kepada Amin, Ari mengaku menghargai dan berterima kasih atas saran yang diberikan secara langsung. ”Yang dikritisi oleh Pak Amin adalah buku ESQ bukan training ESQ”, ujar Ary.

Sementara pada Diskusi FKSK (29/7) Amin mengaku dalam pertemuannya dengan Ary ia menjelaskan tentang kesesatan ESQ berkaitan dengan Suara Hati dan Konsep Zakat serta meminta Ary agar mengumumkan kesesatannya itu di sejumlah media. ”Jadi saya bukan sekedar mengkoreksi kesalahan redaksional sebagaimana isi surat yang dikirimkan pada saya”, jelasnya. Amin juga ditawari untuk menjadi Tim Penyusun Buku ESQ untuk edisi berikutnya.

Pada hari Selasa (20/7) pukul 18.30 - 20.00 WIB di Meeting Room Radio DAKTA Jl. KH. Agus Salim Bekasi juga diadakan pertemuan antara Ary Ginanjar dengan Ustadz Farid Okbah. Dalam pertemuan itu Ustadz Farid juga mengungkapkan sejumlah kesesatan dalam ajaran ESQ. Menurut salah satu saksi yang hadir dalam pertemuan itu, Wildan Hasan, sangat jelas dan terang Ary Ginanjar menerima semua koreksi Ustadz Farid dan berjanji akan memperbaiki kekeliruan-kekeliruannya. Menurut Wildan, Ary juga menawarkan pada Ustadz Farid untuk berkunjung ke Amerika Serikat.

Selain bergerilya menemui tokoh-tokoh Islam, para alumni ESQ juga ramai-ramai membela bekas ’almamater’ mereka. ”Apa yang sesat dari ESQ, apa ada dari kami yang mengingkari sholat, tidak membayar zakat, dan tidak puasa?. Lagian itu kan hanya satu orang mufti, masih banyak mufti lain yang mendukung ESQ”, begitulah pembelaan mereka di forum diskusi FKSK, Kamis (29/7) lalu. Bahkan seorang anggota Dewan Penasehat FKA ESQ, Iskandar Zulkarnain, terang-terangan mengajak para peserta ESQ untuk mengikuti training ESQ secara gratis. Iskandar bahkan mendatangi host FKSK, Luthfie Hakim, agar mengumumkan hal itu kepada peserta. Kontan permintaan itu ditolak oleh Luthfie.

Ungkapan para Alumni yang membabi buta itu persis dengan pernyataan Ary Ginanjar dalam konferensi pers dengan sejumlah wartawan media Islam pada hari Sabtu (17/7) ketika ditanya tanggapannya tentang tudingan bahwa ESQ sesat ia menjawab:

”Kriteria sesat yaitu apabila mengubah, menambah, atau mengurangi Rukun Islam dan Rukun Iman. Di ESQ tidak ada perubahan sama sekali akan hal itu. Justru banyak orang yang tidak membaca syahadat, jadi bersyahadat. Yang tadinya tidak shalat dan puasa, jadi rajin shalat dan puasa. Yang mampu jadi rajin membayar zakat dan pergi haji. Shalat wajibnya tetap lima waktu, menghadapnya tetap kiblat, puasa wajibnya tetap di bulan Ramadhan, hajinya tetap pergi ke Mekkah. Semua sesuai aqidah dan syariah Islam”.

Tentu saja pernyataan ini sangat menggelikan. Rupanya ia tidak paham kritera sesat yang telah diumumkan. Sebab kriteria aliran sesat yang ditetapkan MUI, bukan soal ingkar terhadap rukun Iman dan rukun Islam saja, tetapi juga menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah tafsir. Soal kebenaran juga bukan soal angka, berapa lawan berapa, tetapi soal kekuatan hujah.

“Ingat, sedikit dan banyaknya orang tidak menjadi ukuran suatu kebenaran. Kata Ali bin Abi Thalib, “Ukuran kebenaran tidak diukur dengan banyaknya orang. Tapi kenalilah kebenaran, niscaya kamu akan tahu siapa yang di atas kebenaran itu”, kata Ustadz Farid Okbah.

Bukan Training Biasa

Training ESQ memang bukan training Sumber Daya Manusia (SDM) biasa. Training ini menawarkan jalan hidup. Bahkan jalan hidup itu akan disebarluaskan.”Setelah membaca buku ESQ ini secara jelas, saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa ESQ bukan model pelatihan SDM biasa”, ujar seorang penulis AM Waskito.

Warsito membuktikan pernyataannya didasarkan atas buku ESQ karya Ary Ginanjar halaman 14. Dalam buku itu Ary menulis: Di posisi inilah ESQ tampil menjawab permasalahan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep yang jelas dan pasti, adalah jawaban dari kekosongan batin sang jiwa. Ia adalah konsep universal yang mampu menghantarkan seseorang pada ‘predikat memuaskan’ bagi dirinya sendiri, juga bagi sesamanya. ESQ pula yang dapat menghambat segala hal yang kontra-produktif terhadap kemajuan umat manusia.”

Menurut Warsito, melalui kalimat itu Ary Ginajar seolah memiliki agenda untuk mereformasi ajaran Islam. Ajaran Islam dianggap membutuhkan konsep ESQ-nya, agar ia menjadi “The Way of Life” bagi kaum Muslimin. Padahal sejak lama, sebelum Ary menemukan hidayah, para ulama Islam sudah menyebut agama ini sebagai Minhajul Hayah (metode kehidupan manusia). ”Kalimat Ary Ginanjar itu sangat pekat bermakna: missi, arogansi, sekaligus penyesatan opini”, ungkapnya.

Karena itu, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH. Muhammad Al Khaththath menasehati agar Ary Ginanjar segera ruju’ ilal haq (kembali ke jalan yang benar) dan menghadapi segala kritikan dengan senyum. ”Kita mengkritik itu sebagai tanda sayang. Jangan sampai di akhirat kelak kita ditanya oleh Allah Swt, ini saudaramu sesat kok tidak kamu ingatkan. Ahmadiyah saja kalau ruju’ ilal haq kita terima, apalagi Ary Ginanjar”, ujar alumni ESQ Angkatan 36 itu.

Menurut Al Khaththath, mengakui kesalahan tidak akan merendahkan derajat dan martabat, sebaliknya akan mengangkat derajat. Ary Ginanjar hendaknya mencontoh seorang ulama madzhab Syafi’i yang bergelar Shultanul Ulama, Syaikh Izzudin Abdul Aziz bin Abdus Salam ketika suatu waktu memfatwakan sesuatu yang di kemudian hari keliru. Beliau kemudian mengkoreksi sendiri fatwanya itu di tengah-tengah kota Kairo. Untuk saat ini mengkoreksi ajaran yang menyimpang caranya jauh lebih mudah dibandingkan dengan jaman Syaikh Izzudin. "Mumpung nasi belum menjadi bubur", tutupnya. (shodiq ramadhan, dari berbagai sumber)