Ada seorang pengamat politik membuat analogi keadaan politik nasional kita dengan sebutan ‘politik buah manggis.’ Apa maksudnya? Politik tak lain mekanisme penyampaian kebijakan. Begitu rumusan elegannya. Walaupun dalam praktik terlihat, politik semata-mata menjadi taktik dan siasat untuk meraup kekuasaan dan menggunakannya untuk kekuasaan itu pula. Kalau ternyata dalam menggunakan kekuasaan itu memberi kemaslahatan kepada masyarakat, maka kejadian itu tak lain adalah efek samping yang tidak direncanakan. Betapa gawatnya. Mengapa? Karena politik sudah kehilangan roh etika di dalamnya. Padahal, politik menjadi layak dilibatkan dalam kehidupan sosial kita karena kandungan etikanya itu. Demikianlah orang Yunani dalam polis atau negara kota dulu – sekitar 6-5 abad sebelum Masehi – mensyaratkan tiga hal menjadi politikus; dewasa, warganegara dan tidak tercela. Ketiga syarat ini sesungguhnya berkaitan erat dengan etika; dewasa berarti bisa membedakan baik dan buruk perilaku, warganegara berarti mencintai polis atau negara kota, dan tidak tercela sudah tentu sepanjang hidupnya sampai dewasa telah teruji mengambil pilihan etika tentang baik dan buruk secara tepat.
Buah manggis? Mari saya tunjukkan sifatnya. Buah manggis berkulit tebal. Selain berkulit tebal, buah manggis juga menyebarkan aroma yang merangsang penciuman. Tidak peduli apakah setelah kulitnya dikupas akan kita temukan isi buahnya sudah rusak, tetapi buah manggis dengan kulitnya yang tebal itu tetap akan memancarkan bau harum yang menggoda. Bahkan, sering kali kita temukan, semakin harum kulit buah manggis itu semakin busuk pula isi di dalamnya. Apa artinya? Politik buah manggis, kata pengamat itu, adalah politik yang sedang kita alami dewasa ini. Artinya, semakin gagah berani politisi berbicara tentang keberpihakannya kepada kemaslahatan masyarakat, semakin kita amati dan dalami semakin ketahuan pula nafsu-nafsu kekuasaan yang bersembunyi di balik ucapan-ucapannya yang memikat itu. Tegasnya, politisi kita terjebak dalam budaya ‘lidah tak bertulang’ sehingga seperti dikatakan orang Belanda sana memang ‘spreken zonder blasting’. Karena lidah tak bertulang, dan juga karena sekadar berbicara tidak bayar pajak, maka parlemen (Latin: parlen, artinya berbicara) menebarkan harumnya.
Tetapi bagaimana dengan politik provokasi? Provokasi, propinquo, propinquus, artinya tak lain mendekati sehingga memihak. Itulah yang dilakukan ‘kelompok sembilan’ yang mengaku sebagai inisiator Pansus Bank Century. Mereka safari menyambangi Wiranto, Amien Rais, Ahmad Sjafii Maarif, boleh jadi juga Megawati, Aburizal Bakrie dan seterusnya, yang bertujuan semata-mata menarik dukungan dan menyeretnya masuk dalam jebakan ‘keberpihakan’. Politik sudah berubah menjadi alat untuk menajamkan konflik, memperuncing perbedaan, dan tidak peduli pada kebenaran yang sesungguhnya. Maka menjadi pertanyaan kita; etiskah tindakan itu? Apalagi segera pula muncul respon, ‘bongkar sampai ke akar-akarnya’, ‘harus punya rasa malu dan mundur saja’ dan seterusnya. Kata-kata dan kalimat menghakimi seolah-olah bentuk kegagahan, keberpihakan dan kepedulian pada kemaslahatan masyarakat. Benarkah? Jangan-jangan seperti buah manggis tadi; ranum dan harum semerbak, tetapi begitu dikupas kulitnya, kita kecewa karena isinya sudah lama membusuk.
Menjadi guru bangsa, negarawan, demokrat sejati, memang tidak gampang. Tidak pula sembarangan orang bisa begitu. Kalau mau fair kita katakan, Soekarno saja terjebak dengan ambisi dan watak megalomanianya. Tan Malaka juga tidak mampu ke luar dari kungkungan romantisme perjuangan bawah tanah. Tetapi segala kekurangan dan kelebihannya itu menjadi menarik dan mengharukan. Manusiawi. Maka kalau belajar menjadi guru bangsa, hemat saya, bukan dengan cara ikut berpihak, terprovokasi dan menghakimi, melainkan justru ke luar dari logika kolektif dan berpikir arif mencarikan solusi dari setiap kegentingan politik bangsa. Karena bukankah jabatan, seperti kata Abraham Lincoln(1809-1865) – terutama jabatan presiden – selalu penuh onak dan duri? Lalu, mana ada orang pantas disebut guru bangsa kalau ikut-ikutan mau jadi onak dan duri…ESM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar