PostDateIconSunday, 12 December 2010 19:51 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail
* Lintas Berita
alt
Pendiri situs wikileaks ditahan dengan tuduhan hukum. Julian Assange yakin akan ada yang meneruskannya
"Kami tidak bisa menegakkan keadilan atas materi-materi yang telah kami publikasikan," ujar Julian Assange kepada media Jerman Der Spiegel. Kekhawatiran Assange benar belaka. Bahkan atas dirinya sendiri pun, keadilan tak berpihak.
Melalui situs Wikileaks, Julian Assange mengunggah ratusan ribu dokumen yang menurutnya bisa jadi bukti kekejaman Amerika dan sekutunya di Afghanistan. Misalnya pada awal 2010, Wikileaks meng-up load sekitar 77 ribu dokumen rahasia terkait agresi di Afghanistan, termasuk nama-nama informan setempat.
Minggu, 25 Juli 2010, Wikileaks kembali membongkar borok militer AS dengan mengunggah 90.000 dokumen rahasia militer AS di Afghanistan.
Wikileaks memberikan dokumen yang dimilikinya kepada The New York Times (Amerika), The Guardian (Inggris), dan Der Spiegel (Jerman). Situs itu juga mempersilakan kantor-kantor berita internasional mengutip dan menerbitkan dokumen tersebut, termasuk Al Jazeera yang menerbitkannya 22 Oktober lalu.
Menurut dokumen itu, 109 ribu orang telah tewas jadi korban invasi Sekutu pimpinan Amerika selama Maret 2003 hingga akhir 2009. Militer Sekutu membunuhi kaum perempuan dan anak-anak secara ugal-ugalan. Misalnya mengebom Desa Mudoh, yang menyebabkan lebih 100 dari 250 warga desa mati. Kebiadaban macam ini terulang lagi atas warga Desa Kakrakai.
Mereka juga mengorder pembunuhan dan pembantaian melalui pasukan khusus (Black Ops) terhadap orang-orang yang diduga sebagai pemimpin Taliban. Menurut saluran berita CNN, lebih dari 12.000 pejuang Taliban di laporkan tertangkap, tetapi hanya 3.400 sampai 4.000 yang hidup. Hal ini terjadi karena kapal yang digunakan guna mengirim mereka ke kamp tahanan tanpa memiliki ventilasi. Mereka mati tercekik kekurangan udara, kepanasan dan dehidrasi.
AFP 18 Agustus 2002 juga melaporkan, sekitar 1000 pejuang Al Qaedah mati setelah di tangkap di kota Konduz. Pasalnya, truk kontainer yang digunakan untuk mengangkut mereka tidak berventilasi.
Laporan media tahun 2002 menyebutkan, di kamp Guantanamo, terdapat 600 tahanan dari 42 negara yang statusnya tidak diakui sebagai tawanan perang. Posisi ini menyebabkan nasib mereka tidak menentu dan tak terlindungi hak-haknya.
Amerika tergopoh-gopoh menyanggah informasi tersebut. Departemen Pertahanan Amerika mengingatkan, pengungkapan dokumen rahasia itu bisa mengancam nyawa tentara Amerika dan sekutu mereka. Karena itu, Pentagon minta jangan diterbitkan.
‘’Musuh-musuh Amerika akan mempelajari dokumen itu bagi informasi mengenai tindakan dan prosedur militer,’’ ujar jurubicara Pentagon, Geoff Morrell.
Namun Julian Assange, seperti dikutip situs Gulf News, mengatakan bahwa ia masih punya ribuan dokumen militer rahasia lain yang siap diunggah ke situsnya dalam waktu dekat.
"Kami punya berkas-berkas yang menjadi keprihatinan setiap negara di dunia. Ribuan database dan berkas tentang berbagai negara," kata Assange (39), mantan hacker asal Australia.
Menurut Assange, dokumen rahasia di tangannya masih sekitar 15.000. Kebanyakan berupa laporan-laporan intelijen. Dalam keterangan persnya di London, Senin (26/7/2010) ia mengatakan bahwa dokumen-dokumen itu bisa menjadi bukti kejahatan perang Amerika.
Tapi, Assange mengaku tak mau menyerahkan dokumen-dokumen itu pada lembaga penyelidik kejahatan perang internasional. Bagi dia, mempublikasikan di situs internet dan media massa lebih efektif.
Badai teror segera menghantam Julian Assange. Perusahaan jasa keuangan Mastercard, Paypal, dan Visa, membekukan hubungannya dengan Wikileaks sehingga donasi publik tidak bisa disalurkan kepada situs web itu. Assange pun terpaksa menghijrahkan situsnya ke alamat baru.
Akhirnya, belum lama ini Julian Assange ditahan di London atas order Swedia. Kepolisian setempat berkilah, penahanan agar Julian Assange tidak kabur. Pria ini dituduh pemerintah Swedia telah melakukan kekerasan seksual terhadap relawan situsnya.
Menteri pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates, menyambut baik penahanan tersebut. ‘’Ini kabar baik,’’ ujar Gates, saat tengah mengunjungi Afghanistan beberapa waktu lalu.
Julian Assange bukan tak menyadari resiko terburuk yang bakal menimpanya. ‘’Anda tahu, sebagai organisasi yang serius kami kadang mendapat ancaman yang serius. Sehubungan dengan masalah ini, belum ada ancaman fisik. Sekarang, telah ada mata-mata, beberapa suara yang mengganggu yang keluar dari pemerintah AS,’’ katanya sebelum ditangkap.
Namun, ia yakin, kenekadannya tidak akan berhenti sampai dirinya sendiri. "Dari pengalaman kami, keberanian itu bisa menular," kata Assange, penyandang gelar Ph.D bidang Fisika. (nurbowo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar