Minggu, 12 Desember 2010

It’s not Over Assange!

PostDateIconSunday, 12 December 2010 19:51 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail

* Lintas Berita

alt
Pendiri situs wikileaks ditahan dengan tuduhan hukum. Julian Assange yakin akan ada yang meneruskannya

"Kami tidak bisa menegakkan keadilan atas materi-materi yang telah kami publikasikan," ujar Julian Assange kepada media Jerman Der Spiegel. Kekhawatiran Assange benar belaka. Bahkan atas dirinya sendiri pun, keadilan tak berpihak.


Melalui situs Wikileaks, Julian Assange mengunggah ratusan ribu dokumen yang menurutnya bisa jadi bukti kekejaman Amerika dan sekutunya di Afghanistan. Misalnya pada awal 2010, Wikileaks meng-up load sekitar 77 ribu dokumen rahasia terkait agresi di Afghanistan, termasuk nama-nama informan setempat.

Minggu, 25 Juli 2010, Wikileaks kembali membongkar borok militer AS dengan mengunggah 90.000 dokumen rahasia militer AS di Afghanistan.

Wikileaks memberikan dokumen yang dimilikinya kepada The New York Times (Amerika), The Guardian (Inggris), dan Der Spiegel (Jerman). Situs itu juga mempersilakan kantor-kantor berita internasional mengutip dan menerbitkan dokumen tersebut, termasuk Al Jazeera yang menerbitkannya 22 Oktober lalu.

Menurut dokumen itu, 109 ribu orang telah tewas jadi korban invasi Sekutu pimpinan Amerika selama Maret 2003 hingga akhir 2009. Militer Sekutu membunuhi kaum perempuan dan anak-anak secara ugal-ugalan. Misalnya mengebom Desa Mudoh, yang menyebabkan lebih 100 dari 250 warga desa mati. Kebiadaban macam ini terulang lagi atas warga Desa Kakrakai.

Mereka juga mengorder pembunuhan dan pembantaian melalui pasukan khusus (Black Ops) terhadap orang-orang yang diduga sebagai pemimpin Taliban. Menurut saluran berita CNN, lebih dari 12.000 pejuang Taliban di laporkan tertangkap, tetapi hanya 3.400 sampai 4.000 yang hidup. Hal ini terjadi karena kapal yang digunakan guna mengirim mereka ke kamp tahanan tanpa memiliki ventilasi. Mereka mati tercekik kekurangan udara, kepanasan dan dehidrasi.

AFP 18 Agustus 2002 juga melaporkan, sekitar 1000 pejuang Al Qaedah mati setelah di tangkap di kota Konduz. Pasalnya, truk kontainer yang digunakan untuk mengangkut mereka tidak berventilasi.

Laporan media tahun 2002 menyebutkan, di kamp Guantanamo, terdapat 600 tahanan dari 42 negara yang statusnya tidak diakui sebagai tawanan perang. Posisi ini menyebabkan nasib mereka tidak menentu dan tak terlindungi hak-haknya.

Amerika tergopoh-gopoh menyanggah informasi tersebut. Departemen Pertahanan Amerika mengingatkan, pengungkapan dokumen rahasia itu bisa mengancam nyawa tentara Amerika dan sekutu mereka. Karena itu, Pentagon minta jangan diterbitkan.

‘’Musuh-musuh Amerika akan mempelajari dokumen itu bagi informasi mengenai tindakan dan prosedur militer,’’ ujar jurubicara Pentagon, Geoff Morrell.

Namun Julian Assange, seperti dikutip situs Gulf News, mengatakan bahwa ia masih punya ribuan dokumen militer rahasia lain yang siap diunggah ke situsnya dalam waktu dekat.

"Kami punya berkas-berkas yang menjadi keprihatinan setiap negara di dunia. Ribuan database dan berkas tentang berbagai negara," kata Assange (39), mantan hacker asal Australia.

Menurut Assange, dokumen rahasia di tangannya masih sekitar 15.000. Kebanyakan berupa laporan-laporan intelijen. Dalam keterangan persnya di London, Senin (26/7/2010) ia mengatakan bahwa dokumen-dokumen itu bisa menjadi bukti kejahatan perang Amerika.

Tapi, Assange mengaku tak mau menyerahkan dokumen-dokumen itu pada lembaga penyelidik kejahatan perang internasional. Bagi dia, mempublikasikan di situs internet dan media massa lebih efektif.

Badai teror segera menghantam Julian Assange. Perusahaan jasa keuangan Mastercard, Paypal, dan Visa, membekukan hubungannya dengan Wikileaks sehingga donasi publik tidak bisa disalurkan kepada situs web itu. Assange pun terpaksa menghijrahkan situsnya ke alamat baru.

Akhirnya, belum lama ini Julian Assange ditahan di London atas order Swedia. Kepolisian setempat berkilah, penahanan agar Julian Assange tidak kabur. Pria ini dituduh pemerintah Swedia telah melakukan kekerasan seksual terhadap relawan situsnya.

Menteri pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates, menyambut baik penahanan tersebut. ‘’Ini kabar baik,’’ ujar Gates, saat tengah mengunjungi Afghanistan beberapa waktu lalu.

Julian Assange bukan tak menyadari resiko terburuk yang bakal menimpanya. ‘’Anda tahu, sebagai organisasi yang serius kami kadang mendapat ancaman yang serius. Sehubungan dengan masalah ini, belum ada ancaman fisik. Sekarang, telah ada mata-mata, beberapa suara yang mengganggu yang keluar dari pemerintah AS,’’ katanya sebelum ditangkap.

Namun, ia yakin, kenekadannya tidak akan berhenti sampai dirinya sendiri. "Dari pengalaman kami, keberanian itu bisa menular," kata Assange, penyandang gelar Ph.D bidang Fisika. (nurbowo)
ndikasi tukar guling kasus antara kedua kepentingan menunjukkan betapa bobroknya penegakan hukum di Indonesia… Semakin jelas bahwa Gayus dan Century Gate hanya merupakan alat untuk masing-masing pihak melakukan tukar guling kepentingan sesaat.

Dunia politik penuh dengan intrik, cubit sana cubit sini itu sudah lumrah… Mungkin bait lagu Iwan Fals inilah yang bisa menggambarkan betapa perseteruan dua elit politik negeri ini, Abu Rizal Bakrie (Ical) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang amat meresahkan kita rakyat yang menyaksikannya.

Perseteruan itu dimulai ketika SBY berpidato di tengah agenda penyerahan piala Citra Bakti Abdi Negara kepada Gubernur, Walikota dan Bupati, di Istana Negara, Jakarta Kamis, (11/2/2010). Pidato SBY dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa ada perusahaan yang harus membayar pajak tapi karena ada kongkalikong bisa tidak membayar, atau membayar rendah.

Terungkapnya tunggakan royalti dua perusahaan milik Ical, PT Kaltim Prima Coal (PT KPC) dari 2001 hingga 2007 menurut data dari Departemen ESDM nilainya cukup besar yakni mencapai US$ 127,1 juta. Sementara perusahaan Ical lainnya PT Arutmin Indonesia memiliki tunggakan sebesar US$ 75,4 juta dolar.

Mendengar pidato SBY yang dikutip berbagai media itu Ical meradang, Pernyataan SBY seputar kejahatan pajak diartikan Ical sebagai tekanan terhadap dirinya. Kemudian dengan sigap Ical segera menyandra orang dekat SBY di kabinet Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang kebetulan terlibat dalam Skandal Century (Century Gate) yang merugikan negara sebesar 6,7 triliun rupiah. Namun tensi terhadap Sri Mulyani maupun kasus pajak perusahaan-perusahan Ical belakangan menurun.

Telah menjadi rahasia umum bahwa SBY memberikan lampu hijau terhadap kemauan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical, agar Sri Mulyani tidak lagi menjabat posisi Menkeu. Namun di sisi lain, SBY meminta imbal balik, agar Fraksi Golkar di DPR tidak terlalu ngotot untuk melanjutkan proses politik Skandal Century. Beberapa sumber juga menyebutkan, SBY meminta Ical untuk melunasi seluruh hutang pajak dan royalti di atas 11 triliun rupiah.

Terakhir yang paling hangat adalah isu keterlibatan Partai Demokrat dalam Initial Public Offering (IPO) Krakatau Steel dan di sisi yang lain Partai Golkar sedang menghadapi isu pertemuan antara Gayus Tambunan dengan Ical. Namun belakangan tensi dari keberadaan kasus tersebut di tengah-tengah publik juga mulai diredam lewat pertemuan antara Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dengan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum di Hotel Mulia Jakarta, Kamis (25/11/2010). Ical dihadapan para wartawan mengungkapkan pertemuan ini untuk meredam isu di kedua partai tersebut.

Semua kasus yang melilit hubungan antara SBY-Ical kini Partai Demokrat-Partai Golkar menjadi fenomena politik yang harus dikritisi, indikasi tukar guling kasus antara kedua kepentingan menunjukkan betapa bobroknya penegakan hukum di Indonesia. Jangan sampai pertemuan tersebut menjadi transaksi problem hukum. Jika terjadi transaksi, maka keduanya dapat merusak tatanan hukum. Padahal penegakan hukum di Indonesia sedang mengalami masa-masa sulit. Dua kasus terakhir yang mendera kedua partai tersebut merupakan kejahatan dengan potensi kerugian negara besar.

Hubungan SBY, Ical dan Gayus

Hubungan SBY, Gayus dan Ical bukan tidak ada. Selama ini, Gayus mengakui dirinya mengemplang pajak dari sejumlah perusahaan milik Ical. Pengakuan tersangka mafia pajak Gayus Halomoan Tambunan ini terungkap ketika menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa AKP Sri Sumartini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Selasa, (3/8/2010) Gayus mengaku menerima uang 5 miliar rupiah dalam penanganan kasus pajak perusahaan miliknya PT KPC. Sejumput kisah itulah yang disinyalir menggiring isu Gayus sengaja ke Bali untuk menemui Bakrie.

Kini Gayus kembali jadi sorotan. Keberadaannya di Bali menjadi pembicaraan berhari-hari. Ical pun jadi sasaran dan kena getahnya. Gayus tentu bukan orang biasa. Walau hanya menjadi terdakwa kasus pajak, dia tetap dapat perlakuan istimewa sejak dibawa dari Singapura menuju Indonesia, Gayus tidak diborgol. Dia dibawa dengan santai. Bahkan di dalam pesawat, beberapa kali Gayus tersenyum, walau puluhan wartawan menjepretnya,. Dia seolah tanpa beban, meski menjadi buronan dan tertangkap polisi. Berbeda dengan tersangka teroris yang tertangkap polisi. Gayus diperlakukan istimewa sekali.

Sejak awal, terbongkarnya kasus Gayus dianggap karena berkat kepiawaian Satgas Anti mafia Hukum. Satgas bentukan SBY ini menjadi begitu ngetop seketika setelah kasus Gayus terbongkar. Namun masih tetap saja ada kurangnya, tertangkapnya Gayus di Singapura menjadi rebutan dan saling sikut Antara Satgas dan Mabes Polri, demi bisa membawa Gayus pulang ke Indonesia. Tapi deal kemudian terjadi. Satgas kebagian mengumumkan keberhasilan mereka menemukan Gayus berada di Singapura. Sementara Mabes Polri punya jatah membawa Gayus ke Indonesia. Dua belah pihak berhasil jadi berita utama. Inilah awal hubungan perselingkuhan Satgas Mafia Hukum bentukan SBY, Mabes Polri, SBY dan Ical. Semakin jelas bahwa Gayus dan Century Gate hanya merupakan alat untuk masing-masing pihak melakukan tukar guling kepentingan sesaat.

Berkaca Dengan Islam

Mari kita berkaca pada masa kejayaan Islam ketika ada seorang perempuan dari Makhzumiyah melakukan pencurian. Kasus ini menjadi perhatian besar kaum Quraisy. Mereka lalu berdiskusi untuk meminta keringanan dari Nabi Muhammad SAW agar wanita itu bebas dari jerat hukum. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengutus Usamah bin Zaid, orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah Saw. Usamah pun menyampaikan misinya.

Mendengar hal itu, Rasulullah berkata kepada Usamah, “Wahai Usamah, apakah engkau hendak meminta keringanan atas penerapan salah satu hukum Allah?” Beliau lantas berpidato di hadapan masyarakat, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena jika ada yang mencuri dari kalangan bangsawan atau pejabat mereka membiarkannya. Sebaliknya, ketika ada yang mencuri dari kalangan masyarakat lemah mereka menerapkan hukum dengan tegas. Demi Allah, andai saja Fathimah binti Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya.” (Imam al-Bukhari, Abu Dawud dan an-Nasai).

Merujuk pada hadist tersebut, setidaknya banyak pelajaran yang dapat kita petik. Pertama: kita perlu waspada, di Indonesia, hukum hanya berlaku bagi kaum papa. Pejabat yang merampok uang rakyat dalam kasus Century tetap bebas berkuasa, begitu pula dengan para pengusaha pengemplang pajak, mereka berkolaborasi melakukan tukar guling kasus sesuai kepentingan politik dan partainya. Sebaliknya, Nenek Minah yang mengambil tiga kakao seharga 1500 rupiah dijatuhi hukuman.

Kedua, Rasulullah SAW sangat keras menolak permintaan keringanan hukuman bagi pelaku kejahatan sekalipun dia keluarga pembesar Quraisy. Kalau hal demikian saja ditentang oleh Nabi Saw., apalagi makelar kasus alias markus.

Bahkan samapai Rasulullah SAW bersabda, “Penegak hukum itu ada tiga jenis; dua masuk neraka dan satu masuk surga. Penegak hukum yang menegakkan hukum yang tidak benar, padahal ia tahu, ia di neraka. Penegak hukum yang menegakkan hukum yang tidak benar, sementara ia tidak tahu sehingga terampaslah hak masyarakat, ia pun di neraka. Penegak hukum yang menegakkan hukum yang benar ada di surga.” (HR al-Baihaqi dan An-Nasa’i). (Jaka Setiawan)
JAKARTA (Arrahmah.com) - Tokoh pluralisme Ahmad Syafii Ma'arif, mantan Ketua Umum PP MUhammadiyah, yang selama ini mengecam kelompok Islam radikal sebagai "Preman Berjubah", kini sedang dirundung masalah. Darahnya "mendidih" saat membaca berita Tabloid Suara Islam edisi 101 (tanggal 19 November - 3 Desember 2010) halaman 13.

Dalam sebuah lead berita, Tabloid Suara Islam menulis: "Ada rekayasa terselubung dalam pemberian penghargaan (Award). Syafii Ma'arif bungkam tidak kritis lagi setelah menerima apartemen mewah senilai Rp. 2 miliar dari Aburizal Bakrie?"

Kemudian, dalam paragraf 13, juga menyatakan: "Di tengah perseteruan, kontroversi, dan penolakan oleh para sastrawan sampai cendekiawan atas penganugrahan Bakrie Award, belakangan nama sekelas Ahmad Syafi'I Ma'arif seorang cendekiawan sekaligus pendiri Ma'arif Institut cenderung bungkam. Menurut sumber Suara Islam, Syafi'I Ma'arif bungkam tidak kritis lagi setelah menerima apartemen mewah senilai 2 miliar dari Abirizal Bakrie."

Pemberitaan inilah yang membuat Buya -- demikian beliau disapa -- merasa risih dan tidak nyaman, Terlebih, telepon seluler miliknya telah kebanjiran SMS dari beberapa rekan sejawatnya untuk menanyakan kebenaran berita tersebut. Meski mengaku tidak tersinggung dan malas menanggapi "berita bohong" perihal dirinya, namun rupanya ia tak tahan juga saat nama baiknya dicemarkan oleh tabloid yang menjadi corong Forum Umat Islam (FUI).

Untuk menanggapi tulisan yang dianggap menyudutkan dirinya, Rabu (8/12) lalu, Syafii Maarif menggelar konferensi pers di Mayapada Tower lantai 5, jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Didampingi kuasa hukumnya Todung Mulya Lubis, pemilik apartemen Taman Rasuna M. Deddy Julianto, dan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Saleh P. Daulay.

Dalam konferensi pers tersebut, Syafi'I Maarif membeberkan kiriman SMS dari seorang wartawan Tabloid Islam bernama Abdul Halim untuk mengkonfirmasi, apakah benar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menerima hadiah dari pengusaha Bakrie Grup, Aburizal Bakrie berupa apartemen mewah senilai Rp. 2 miliar.

SMS yang dikirim itu sebanyak dua kali, yakni pada 24 dan 25 Sepetember 2010. SMS pertama berbunyi: "Mengapa menerima hadiah dari Aburizal Bakrie berupa apartemen mewah? Padahal beberapa tokoh, seperti Gunawan Mohammad dan Franz Magnis Suseno menolak penghargaan Bakrie Award. Apakah itu tidak mengganggu Anda yang guru bangsa? Apakah itu bukan suap?"

SMS kedua (tanggal 25) berisi: "Kalau dianggap salah, saya minta maaf dan saya cabut berita tersebut. Sebagai wartawan, saya bukannya mau fitnah, tapi tabayun terhadap berita tersebut. Bisa minta waktu buat wawancara? Kapan dan di mana?".

Entah kenapa, Syafii Maarif enggan menjawab pertanyaan wartawan tabloid Suara Islam untuk mengkonfirmasi? Dengan alasan malas, Syafii malah menyuruh asistennya di Maarif Institute yang bernama Asmul Khairi (berinisial MUL) untuk menjawab SMS tersebut.

"SMS itu tidak saya jawab. Saya malas melayani. Saya pikir karena dia sudah minta maaf, maka saya merasa tabloid itu tidak akan memberitakan. Tapi ternyata di edisi November, beritanya tetap ada," ungkap Syafii yang masih menyimpan rangkaian SMS itu di Black Berry-nya.

Dua setengah bulan kemudian, 7 Desember 2010, Syafii Maarif menerima SMS berikutnya dari wartawan tabloid Suara Islam Abdul Halim. Bunyinya adalah "...Hehehe, akhirnya marah juga'. Syafii Maarif pun tidak membalas SMS tersebut. Ia pikir tidak perlu baca tabloid itu.

Sebetulnya Syafii Ma'arif malas menanggapi berita yang dianggap merugikan dirinya tersebut. Namun karena dikompori kawan-kawan di Ma'arif Institut dan teman-teman sepilis lainnya, Syafii mengadu ke Todung Mulya Lubis sebagai kuasa hukumnya.

Suara Islam Tolak Minta Maaf

Akibat malas untuk menjawab konfirmasi wartawan tabloid Suara Islam sejak September, Buya Syafii Ma'arif baru merasakan dampaknya. Terlebih, kubu Syafii kerap menganggap remeh media Islam, seperti tabloid Suara Islam yang dinilainya beroplah kecil dibandingkan Majalah Sabili dan Hidayatullah. Padahal, dugaan itu salah. Tabloid Suara Islam kini beroplah 20 ribu eksemplar, mengalahkan Majalah Sabili yang akhir-akhir ini semakin menurun drastis oplahnya.

Ini bukan kali pertama Syafii Maarif kerap mengganggap remeh media Islam yang dinilainya beroplah kecil dan tidak punya pengaruh besar, sehinga ia merasa berhak untuk menolak untuk diwawancarai. Syafii adalah tokoh sepilis (sekuler, pluralisme dan liberalisme) yang alergi dengan kelompok Islam yang selama ini memperjuangkan syariat Islam. Syafii sering menyebut kelompok Islam yang sering mengkritiknya sebagai radikal. Itulah sebabnya, ia tidak suka dengan media Islam.

Setelah Syafii Ma'arif dan kuasa hukumnya menggelar jumpa pers. Kini giliran Tabloid Suara Islam (SI) menggelar konferensi pers di Kantor Luthfie Hakim & Partners di Jalan Jeruk No. 3, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/12) siang.

Hadir dalam jumpa pers tersebut, antara lain: Munarman (kuasa hukum SI), HM Luthfie Hakim (Wakil Pemimpin Redaksi SI), Wirawan Adnan SH (Legal officer SI), KH. Muhammad Al-Khaththath (Pemimpin Umum SI), Aru Syeiff Asadullah (Pemimpin Redaksi SI), Amran Nasution (Staf Ahli SI), dan Ahmad Sumargono (Dewan Redaksi SI).

Perlu diketahui, Tabloid Suara Islam merupakan corong Forum Umat Islam (FUI). Dewan Redaksi meliputi kalangan ulama, kiai dan pimpinan ormas Islam. Seharusnya Syafii Ma'arif tidak memandang sebelah mata media Islam manapun.

Dalam jumpa pers, kuasa hukum tabloid Suara Islam Luthfie Hakim SH yang juga Wapemred Suara Islam menegaskan, Ahmad Syafii Maarif seharusnya menjelaskan dengan gamblang: mengapa beliau menolak dikonfirmasi (istilah wartawan Suara Islam, tabayyun) tentang benar atau tidak telah memperoleh apartemen Rp. 2 miliar dari Aburizal Bakrie, pengusaha Bakrie Grup yang juga Ketua Umum Golkar?

Sesunguhnya, ada dua wartawan yang ditugaskan untuk mewawancarai Syafii Maarif, yaitu Abdul Halim dan Jaka. Halim sudah mencoba menghubungi Syafii Maarif melalui SMS pada tanggal 24 dan 25 September 2010, tapi tidak dijawab. Justru pada SMS tanggal 24 September dijawab oleh orang lain (asistennya) dengan initial MUL yang mengaku disuruh Syafii Maarif untuk menjawab SMS wartawan tabloid SI. Bukannya menjawab baik-baik, Mul malah mengancam Halim agar menarik SMSnya kepada Syafii Maarif. Jika tidak akan ada upaya hukum atas dirinya.

"Sungguh ganjil sekali dan aneh, jika wartawan tabloid SI cuma bertanya (tabayyun) kepada Syafii Maarif. Tapi mengapa yang harus menjawab orang lain, dengan ancaman pula?" kata Luthfie merasa geli.

Menurut Luthfie, Suara islam sudah melakukan kaidah jurnalistik yang benar, yakni membuat lead berita tersebut dengan kalimat tanda tanya? Begitu juga sudah melakukan konfirmasi, tapi Syafii menolak untuk sekedar menjawab ya atau tidak. Alasan menolak diwawancara, apakah karena Syafii memandang Tabloid Suara Islam hanya tabloid yang beroplah kecil yang hanya dibaca terbatas kalangan tertentu saja, sehingga tidak perlu diladeni? "Kami merasa tidak dihargai, dilecehkan dan dianggap nobody oleh Syafii Maarif.

Sebuah media online memberitakan, bahwa Syafii merasa diteror selama dua bulan sebelum diberitakan. Menjadi aneh, seorang yang berprofesi wartawan yang menghubungi narasumber untuk sekedar konfirmasi, oleh Syafii Maarif disebut menteror. Ini ancaman terhadap profesi wartawan.

Ingat, Syafii Maarif itu dibesarkan oleh pers. Tapi kenapa beliau melecehkan pekerjaan pers. Harian Kompas sampai menyebut Syafii sebagai guru bangsa. Jika dia seorang tokoh bangsa yang dibesarkan oleh pers, Syafii harusnya menghargai pekerjaan wartawan yang hendak melakukan cek dan ricek. Jadi, tidak ada istilah malas meladeni.

Soal Suara Islam akan diadukan Syafii maarif dan Todung Mulya Lubis ke Dewan Pers, seharusnya Syafii lebih dulu mengirim surat hak jawab. Saat ini belum ada hak jawab yang digunakan Syafii. Yang pasti, pihak Suara Islam mengaku tidak gentar, jika persoalan ini dibawa ke Dewan Pers, bahkan ke jalur hukum. Suara Islam juga menolak untuk minta maaf, seperti yang dituntut Syafii Maarif cs. Karena pihaknya merasa sudah melakukan kerja jurnalistik secara benar, dan tidak ada berita fitnah, seperti yang dituduhkan Syafii.

Munarman menyesalkan sikap Syafii dan Todung yang selama ini dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan anti kekerasan.Namun, dalam konferensi pers kemarin, ada "oknum" preman mengatasnamakan ormas Islam, menantang konfrontasi fisik dengan Suara Islam.

Semoga Syafii dan Todung Mulya Lubis yang selama ini mendukung kebebasan pers, tidak mengkriminalkan pers, untuk membawa tabloid Suara Islam ke meja hijau.

(ahmad zidan/arrahmah.com)


Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10223/syafii-maarif-vs-tabloid-suara-islam-syafii-maarif-pandang-sebelah-mata-med#ixzz17wUX7IqF
WASHINGTON (Arrahmah.com) - Korporasi AS disalahkan atas percobaan membungkam Wikileaks dan dijawab dengan adanya penyerangan cyber yang dilakukan oleh aliansi hacker global yang menamakan diri "Anonymous" dan melakukan pembelaan terhadap Julian Assange.

Saat pemilik Wikileaks, seorang editor in chief Australia berusia 39 tahun, Julian Assange tengah ditahan dengan tuduhan pelecehan seksual, para raksasa keuangan dan teknologi yang mendukung situs tersebut mendapat tekanan dari pemerintah AS dan menghantam situs dengan serangan cyber.

Perusahaan lainnya, PayPal, menegaskan bahwa mereka menghentikan donasi untuk Wikileaks setelah adanya intervensi dari Departemen Luar Negeri AS - memicu kecurigaan bahwa AS bersandar pada bisnis untuk mencekik dukungan terhadap website tersebut yang terlibat dalam kebocoran 250.000 kawat diplomatik AS.

Plot semakin menebal ketika Wikileaks mengungkapkan bahwa diplomat AS telah campur tangan untuk mencoba mengubah rancangan undang-undang melalui Duma (Rusia) yang akan menghantam Visa dan MAstercard. Satu jam sebelumnya, dua perusahaan telah mengumumkan mereka memutus hubungan dengan Wikileaks.

Sementara itu, Wikileaks sendiri masih dalam keadaan tidak stabil akibat serangan cyber, namun muncul "mirror website" yang memungkinkan pengguna komputer untuk melihat pengungkapan terbaru.

Bertindak untuk Assange, kelompok hacker global yang menamakan diri "anonymous" melumpuhkan situs Mastercard dengan luar biasa. Dalam pesannya mereka mengancam akan menargetkan situs jejaring sosial Twitter dalam rangka memprotes "sensor" dari papan diskusi kelompok atas permintaan AS.

Hacker juga menyerang situs pribadi pengacara Swedia yang mewakili dua wanita Swedia dalam kasus pelecehan seksual yang ditimpakan kepada Assange.

Serangan juga diluncurkan terhadap Sistem keuangan pos Swedia, PostFinance, yang baru-baru ini menutup akun Assange berisi dana sebesar 26.000 euro. (haninmazaya/arrahmah.com)

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10225/aliansi-wikileaks-lancarkan-serangan-cyber#ixzz17wTXFtMh
SAN'A (Arrahmah.com) – Dari perbatasan Saudi-Yaman hingga Somalia yang tak berhukum dan gurun pasir Afrika utara-tengah, militer AS lebih terlibat dalam konflik bersenjata di dunia Muslim daripada yang diakui secara terbuka pemerintah AS, menurut kabel yang dirilis oleh website WikiLeaks.

Pemerintah AS memiliki hubungan dengan rezim-rezim yang umumnya tidak dianggap sebagai sekutu dalam perang melawan terorisme, dan sementara bocoran kabel menunjukkan bahwa diplomat AS memperingatkan rezim-rezim itu untuk menghormati hukum perang, mereka juga menggarisbawahi bahaya menggunakan teknologi militer canggih di medan perang terpencil dan rumit dengan teman-teman yang terkadang licik.

Kabel-kabel yang dirilis minggu ini mengindikasikan bahwa AS:

- Menyediakan Arab dengan citra satelit untuk membantu mengarahkan serangan udara melawan pemberontak Syiah setelah serangan sebelumnya diklaim menimbulkan korban sipil.

- Berkolaborasi dengan pasukan Aljazair di tahun 2006 dan 2007 untuk menangkap militan yang diduga menuju Irak dan, yang paling baru, memperoleh izin untuk menerbangkan pesawat pengintai AS di wilayah udara Aljazair untuk memburu tersangka anggota Al Qaeda.

- Membunuh seorang pemimpin militan dalam serangan udara tahun 2008 di Somalia dan memenuhi permintaan pemerintah Somalia untuk menghabisi lebih banyak tersangka militan.

Para ahli mengatakan bahwa pengungkapan operasi rahasia Amerika di negara-negara Muslim bisa menjadi umpan bagi militan yang menuduh AS melakukan agresi terhadap kaum Muslim dan berpihak pada rezim otoriter dan tidak populer.

Pentagon belum mengakui perannya dalam pertempuran sporadis Arab Saudi melawan sebuah kelompok Syiah Yaman yang dikenal dengan nama Houthi.

Tapi sebuah kabel dari kedutaan AS di Riyadh mengatakan bahwa di bulan Februari, seorang petinggi pertahanan Saudi meminta kepada AS peta satelit dari perbatasannya dengan Yaman untuk membantu angkatan udara Saudi mengenai para pemberontak, dan duta besar AS James B. Smith setuju.

Serangan udara Saudi sebelumnya mengenai sebuah klinik media, sementara satu bom lainnya berbalik arah ketika para pilot mengetahui bahwa target yang dipilih oleh pemerintah Yaman ternyata bukan lokasi pemberontak melainkan markas lawan politik Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh.

Serangan-serangan itu dilakukan tanpa tingkat ketepatan yang diinginkan, ujar pejabat Saudi, Pangeran Khaled bin Sultan. Ketika Smith memproduksi sebuah citra satelit dari klinik yang rusak akibat bom itu, bin Sultan mengatakan bahwa angkatan udaranya membutuhkan pesawat yang lebih canggih.

"Jika kami memiliki Predator, mungkin kami tidak akan memiliki masalah ini," ujarnya, merujuk pada sebuah pesawat drone yang digunakan luar oleh AS dalam sejumlah serangan terhadap tersangka di Pakistan dan tempat lainnya. (sm/arrahmah.com)

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/10249/wikileaks-ungkap-campur-tangan-militer-as-di-dunia-muslim#ixzz17wSsf1Fi
Mewawancari seorang ‘alim-mujahid Palestina di tengah berkecamuknya Perang Gaza sungguh tidak mudah. Apalagi tokoh yang hendak diwawancarai adalah seorang yang pernah berkali-kali dipenjara dan disiksa oleh Israel, sampai buta total kedua matanya. Sampai sekarang, ia masih “mengantongi” vonis hukuman mati dari pengadilan militer Israel.

Majalah Suara Hidayatullah harus menyicil wawancara sampai tiga kali di tiga tempat berbeda, karena begitu padatnya kesibukan Syaikh Abu Bakar al-‘Awawidah (49). Namun, begitu wawancara sudah mengalir, suasana berubah menjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Pengawal dan asistennya yang setia menemani dengan senjata, juga ikut hanyut dalam suasana yang akrab dan bersahabat.

Ditemui di beberapa lokasi di Damaskus, ibukota Republik Arab Suriah, Syaikh Abu Bakar berkali-kali meminta maaf karena wawancara harus terpotong-potong. Anggota Rabitatul ‘Ulama Filistin (Perhimpunan Ulama Palestina) ini harus bergerak terus untuk menjelaskan kepada masyarakat luas pentingnya berjihad harta untuk membantu Gaza.

“Waktu untuk keluarga saja sudah hampir tidak ada, apalagi untuk Anda,” katanya kepada Suara Hidayatullah sambil tersenyum.

Sejak 1992, bersama istri dan delapan anaknya, Syaikh Abu Bakar terpaksa hidup di Damaskus, 200 km dari Dora, Khalil-Hebron, kota kelahirannya yang juga tempat bersemayamnya jasad Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihis-salam.
Tubuhnya yang jangkung selalu menunduk, bicaranya lembut, murah senyum, dan ke mana-mana lengannya harus dituntun karena matanya buta akibat dipukuli dan disetrum serdadu Zionis selama 54 hari berturut-turut, pada 1981.

Namun begitu, gelapnya dunia di mata Abu Bakar sama sekali tak mengurangi keteguhannya memberi penerangan ruhiyah dan ilmiyah kepada rakyat Palestina yang terusir dan harus bermukim di Suriah, jumlahnya sekitar setengah juta orang.

Perjalanan hidup Syaikh Abu Bakar adalah simbol ketangguhan dan kesabaran bangsa Palestina menghadapi penindasan dan perampokan Zionis Israel.

Silakan menyimak wawancara wartawan Suara Hidayatullah, Muhammad ‘Isa di tengah musim dingin Suriah yang menggigit.

Dari sudut pandang seorang ulama Palestina di luar daerah pendudukan, apa yang Anda rasakan selama hari-hari penyerangan terhadap Gaza tempo hari?

(Syaikh Abu Bakar memulai jawabannya dengan bismillah, alhamdulillah, dan shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (SAW)). Saya merasakan bahwa peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Gaza adalah akibat dari kelalaian umat Islam sedunia, termasuk para ulama, pemerintah Muslim, dan tentara Muslim di seluruh dunia..

Mereka mendiamkan embargo dan berbagai kejahatan terjadi atas Gaza dan Palestina, dan kemudian terjadilah penyerangan besar-besaran itu di depan mata mereka dan mereka tidak bisa berbut apa-apa.
Saya dan kawan-kawan di Rabithah Ulama Palestina akan terus menyerukan ajakan lewat pertemuan-pertemuan dalam bentuk apapun, agar tidak terjadi lagi apa yang telah terjadi di Gaza. Tidak ada jaminan bahwa ini tidak akan terjadi di tempat lain atas umat Islam.

Kezaliman seperti di Gaza terjadi juga di Somalia, Sudan, bahkan Myanmar. Mengapa jihad di Palestina dianggap lebih penting daripada di negeri lain?

Kedudukan jihad di dalam syariat Islam, di manapun terjadinya, memiliki kemuliaan yang sama. Ketika umat Islam diserang dan dizalimi karena keimanannya, maka kaum Muslimin yang ada di tempat itu atau yang terdekat dari tempat itu wajib berjihad. Pahala yang dijanjikan Allah Subhanu wa Ta’ala (SWT) juga sama mulianya.

Namun, Palestina adalah tanah di mana semua konflik yang terjadi berakar dari perselisihan akidah, bukan karena yang lain. Hal ini dimaktubkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an, juga di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah SAW melalui Hadits-haditsnya.

Selain itu, sepanjang sejarah, al-Aqsha adalah barometer kemenangan umat Islam sedunia. Ini adalah masjid ketiga yang disucikan dan terminal penting peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa yang diabadikan di dalam al-Qur’an dan berpengaruh besar atas akidah kita. Saya juga sedih setiap kali mendengar kaum Muslimin ditindas di Iraq, di Afghanistan, di Chechnya, di Kashmir, di Somalia, di Pattani, dan di Mindanao.

Namun, pada saat yang sama, berbagai peristiwa itu membuktikan bahwa umat ini sedang bangkit pelan-pelan melawan kebatilan. Semoga Allah SWT membimbing kita meniti tangga kemenangan lewat ketakwaan kita kepada Allah SWT. Tidak ada kemenangan tanpa ketaatan kepada Allah SWT.

Seandainya apa yang terjadi di Gaza menimpa bangsa Indonesia, belum tentu mereka sesabar Gaza. Apa yang telah diajarkan ulama Palestina sehingga lahir Gaza yang begitu tangguh?

Rahasianya, para ulama Gaza dan Palestina mengokohkan Masjid al-Aqsha sebagai bagian dari agama. Kalau Masjid al-Aqsha sampai dijajah musuh, maka umat Islam dalam keadaan terhina. Kalau umat Islam berhasil membebaskannya, maka ‘izzah (wibawa dan kemuliaan) umat Islam juga akan terangkat.
Nyawa adalah harta yang kami siapkan untuk membebaskan Masjid al-Aqsha. Ketika penjajahan atas Palestina dimulai tahun 1947, lalu diperluas tahun 1967, jutaan orang Palestina terus-menerus mengungsi meninggalkan Masjidil Aqsha dan Palestina. Waktu itu kami berjuang atas nama kebangsaan atau ke-Arab-an kami.

Alhamdulillah, sejak Intifadhah pertama, 21 tahun yang lalu, kami berjuang atas nama Islam, jihad fii sabiilillah, semata-mata mencari ridha Allah SWT, tak peduli apakah kami tetap hidup atau mati.
Sejak itu, tidak pernah tercatat ada orang Palestina yang kabur dari Palestina. Justru sekarang ribuan orang mengantri di Rafah untuk masuk ke Gaza, padahal mereka tahu masuk ke Gaza berarti masuk ke dalam lubang kematian.

Begitu banyak ulama, ustadz, dan murabbi di Indonesia, tapi kekuatan aqidah yang seperti itu belum terlihat. Belakangan malah ada kecenderungan berkompromi pada hal-hal yang syubhat, bahkan haram. Apa yang bisa diserukan oleh para ulama Palestina kepada para ulama Indonesia untuk diajarkan kepada umatnya?

Sebenarnya, tarbiyah yang diajarkan sama-sama bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah, namun ada titik perbedaan yang signifikan, yaitu keberkahan. Allah SWT hanya akan menurunkan keberkahan kepada suatu bangsa kalau bangsa itu hidup dengan al-Qur`an.

Al-Qur`an harus menjadi bacaan yang dicintai oleh semua orang dari taman kanak-kanak sampai para pejabat pemerintahan. Bukan saja mempelajarinya harus menjadi kegiatan terpenting, tetapi semua orang harus bergegas menghidupkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Ibu-ibu mengurus rumah dengan al-Qur`an. Anak-anak sibuk menghafal al-Qur`an. Pedagang berbisnis dengan cara al-Qur`an. Pejabat melayani masyarakat dengan akhlaq al-Qur`an. Polisi menjaga keamanan dan ketertiban dengan ketaatan kepada al-Qur`an.

Bagaimana ulama Palestina membangun kekuatan al-Qur`an itu di Gaza?

Kami mulai dari yang sederhana. Diusahakan di setiap rumah di Gaza harus ada minimal satu orang anak yang menghafal al-Qur`an. Jika ada satu rumah yang tidak ada satu orang pun yang menghafal al-Qur`an akan menjadi aib.

Dengan begini, otomatis, orangtuanya akan mendorong semua anaknya menghafal al-Qur`an. Bahkan orangtuanya sendiri juga mulai menghafal al-Qur`an.

Lalu di setiap masjid harus selalu ada daurah al-Qur`an, yang memberikan pemahaman yang benar mengenai isi al-Qur`an yang hebat itu.

Tahun lalu, para ulama mengadakan daurah al-Qur`an selama liburan musim panas dua bulan. Hasilnya, di akhir daurah itu diwisuda 5.000 orang hufazh al-Qur’an. Mudah-mudahan tahun ini juga bisa dilaksanakan.

Di Indonesia juga ada banyak ulama dan pesantren yang menghasilkan hufazh al-Qur’an, tetapi mengapa belum terasa ketangguhan generasi baru seperti di Gaza?

Di atas semua itu, yang paling penting, para ulamanya jangan hanya menceramahkan al-Qur`an. Tumpahkan darah kalian untuk al-Qur`an. Jangan berkompromi kepada kemaksiatan dan kemusyrikan. Jangan berkompromi pada kejahatan yang diarahkan musuh-musuh kepada umat yang Anda bimbing. Hanya dengan darah ulama keberkahan akan diturunkan Allah SWT.

Kami merasakan sendiri, bagaimana keberkahan perjuangan umat Islam di Palestina bertambah-tambah justru sesudah tertumpahnya darah Syaikh Ahmad Yasin, dr Abdul Aziz ar-Rantissi, begitu juga Dr Abdullah Azzam di Afghanistan. Termasuk dua ulama dan pemimpin kami di Gaza yang kemarin syahid, Sayyid Siyam dan Nizar Rayyan (Menteri Dalam Negeri Palestina di Gaza dan salah satu ulama dan Panglima Hamas).
Mereka tidak cuma membicarakan al-Qur`an, mereka mengorbankan darah mereka agar umat yang dibimbingnya bisa hidup dan mati selamat dengan al-Qur`an.

Di Indonesia, musuh yang secara terang-terangan menyerang umat Islam dengan senjata belum ada lagi. Mungkinkah ulama Palestina mengundang ulama Indonesia untuk menyaksikan langsung perjuangan di Gaza?

Undangan atau ajakan terbuka jangan hanya untuk ulama Indonesia, tetapi untuk semua unsur bangsa Indonesia. Para ulama Indonesia wajib mendatangi para pengambil keputusan di semua tingkat pemerintahan dan masyarakat. Beritahukan mereka bahwa terjadi kezaliman besar di Palestina, dan ini sudah berlangsung 60 tahun.

Apa yang terjadi di sini sama persis, dan bahkan lebih parah lagi, dari apa yang pernah dialami bangsa Indonesia selama 350 tahun. Tanah bangsa Indonesia dirampok dan dikuasai Belanda.
Seluruh tanah yang sekarang diakui sebagai negara Israel adalah tanah Palestina. Tanah orang Palestina dirampok. Para ulama kami dibunuhi dan disiksa di berbagai penjara.

Kebun-kebun kami dirusak. Pemuda-pemuda kami diculik dan dipenjara tanpa proses hukum. Lalu Israel mengumumkan kepada dunia bahwa orang Palestina adalah pengganggu keamanan negerinya.
Mereka sedang berusaha menghapus kejahatan mereka. Seakan-akan yang terjadi adalah konflik antara dua bangsa yang bertetangga, Israel dan Palestina.

Bukan! Ini bukan konflik dua bangsa yang bertangga. Ini adalah perampokan. Tanah dan rumah kami dirampok. Lalu perampoknya mengajak berdamai, dan menyuruh kami hidup di salah satu sudut tanah yang sempit bernama Gaza dan Tepi Barat. Sedangkan mereka ingin berkuasa atas seluruh tanah, air, laut, dan udara Palestina.

Apakah Indonesia mau menerima diperlakukan begitu oleh Belanda? Demi Allah, dan demi kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, kami juga tidak akan pernah menerima perlakuan seperti ini.

Hamas masuk sistem demokrasi dan ikut pemilu. Di Indonesia, masyarakat menyaksikan gerakan dakwah yang ikut pemilu banyak melakukan kompromi yang bersifat syubhat. Bagaimana Hamas menjaga agar tidak terjadi seperti ini di kalangan para kadernya yang terlibat demokrasi?

Tidak ada kata cukup untuk tarbiyah. Sebelum masuk parlemen kami mematangkan diri dengan 40 tahun tarbiyah di bidang dakwah dan tanzim dengan hanya berasaskan al-Qur`an dan as-Sunnah.
Bagi sebuah kekuatan tarbiyah yang sudah mengakar, kemenangan pemilu itu bukan barang istimewa. Itu mudah, dengan izin Allah SWT, dan jika memang diperlukan diambil.

Tapi, kemenangan pemilu bukan kemenangan sesungguhnya. Karena itu, kemenangan pemilu tidak boleh menjadi tujuan yang menghalalkan segala yang syubhat apalagi haram.

Misalnya, kami tidak pernah berkompromi mengenai tujuan Hamas untuk mengajak seluruh bangsa Palestina hidup mulia dengan syariat Islam, atau mati Syahid karena membela Islam. Ini harga mati.
Tidak mungkin kami berkompromi untuk menang pemilu dengan mengatakan, bahwa tujuan kami adalah membangun sebuah negara Arab Palestina yang sekular.

Kalau itu kami lakukan, perjuangan kami menjadi nisbi. Seperti debu yang langsung hilang begitu tertiup angin. Kelihatannya besar, padahal keropos di akar-akarnya. Kami bisa jadi banci.
Tarbiyah yang benar melahirkan para laki-laki sejati, yang ciri utamanya tidak akan berkompromi sejengkal pun bila sudah menyangkut syariat Islam. Apapun risikonya.

Dia boleh bekerja di bidang apapun, militer, media, parlemen, semua bergerak bersama tampil sebagai lelaki mukmin. Yang halal dikatakan halal. Yang haram dikatakan haram. Hanya dengan cara itu Allah SWT akan membantu.

Meskipun demonstrasi besar untuk mendukung Palestina sering terjadi di Indonesia, namun dukungan keuangan maupun politik belum seberapa. Apa usul Anda untuk meningkatkan dukungan itu?

Kami selalu berbesar hati melihat kecintaan rakyat Indonesia yang turun ke jalan membela Palestina. Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah pendekatan kepada media massa. Kalau lewat media massa bisa kita sebarluaskan informasi yang benar bahwa masalah Palestina adalah masalah akidah, bukan politik dan militer semata, maka akan sangat baik sekali.

Jadi lemahnya dukungan bangsa Indonesia kepada perjuangan membebaskan Masjidil Aqsha dan Palestina menunjukkan lemahnya ke-Islam-an mereka?

Saya tidak mengatakan agama umat Islam di Indonesia itu lemah. Yang terpenting bagaimana bangsa Indonesia semakin faham akan kebaikan-kebaikan al-Islam, sehingga tertarik hidup dan mati di atasnya.
Jika itu terus kita lakukan dengan segala cara, insya Allah akan banyak masalah bangsa Indonesia yang akan teratasi dengan sendirinya.

Tadi Anda katakan, sejak Intifadhah 1987 lebih banyak orang yang kembali masuk ke dalam Palestina, khususnya Gaza. Dalam situasi ekonomi yang berat, apakah para pendatang itu menjadi beban atau justru meringankan kesusahan rakyat Gaza?

Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita, “Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi hubbud-dunya wa karahiyatul maut (cinta kepada dunia dan benci kepada mati). Maka berlomba-lomba mendapatkan kekayaan dunia itu akan membinasakan kalian.”
Berapapun banyaknya orang datang ke Gaza, tidak akan membuat kita khawatir karena dua hal. Pertama, orang yang berani datang ke Gaza di saat negeri itu sedang dizalimi hanyalah orang yang benar-benar memahami masalah dan datang untuk membantu.

Kedua, sedangkan rakyat Gaza yang memang sudah berada di sana, mereka sudah begitu tangguh ditempa berbagai kesusahan dan kezaliman. Mereka makan apa yang mereka tanam, dan pakai apa yang mereka jahit. Yang terpenting, jari telunjuk mereka selalu terangkat ke atas (menunjukkan keyakinan dan prasangka baik kepada Allah Ta’ala). Jalan ke surga memang susah, dan rakyat Gaza yang ikhlas ada di depan kita beberapa langkah (tersenyum).

Jadi kalau ada bantuan untuk Gaza, akan diprioritaskan untuk apa?

Penting untuk kita catat bersama-sama, yang memenangkan perjuangan ini adalah ridha Allah SWT, bukan uang yang datang. Sedangkan ridha Allah SWT hanya turun karena ruhul ibadah dan ruhul jihad kita yang suci.

Jadi bagi kami, yang terpenting adalah, bagaimana mengubah semua dana bantuan yang datang menjadi pendorong semakin tingginya kualitas ruhul ibadah dan ruhul jihad. Itu prioritas.
Tidak boleh ada dana bantuan yang menyebabkan rusaknya ruhul ibadah dan ruhul jihad. Karena itu, kami tak pernah mempermasalahkan besar kecilnya bantuan. Meskipun bantuan dari rakyat Indonesia tidak sebesar dari saudara-saudara negeri lain, yang kami tunggu adalah keberkahan Allah SWT yang turun karena keikhlasan kalian (tersenyum). Dana yang datang ke Gaza diprioritaskan untuk membeli senjata, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

Langkah besar apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan di Gaza?

Sebagaimana dinyatakan oleh saudara kita, Khalid Misy’al (Kepala Biro Politik Hamas), perjanjian apapun yang tidak menyentuh soal dibukanya semua pintu perbatasan ke Gaza, pembebasan semua tahanan Palestina di penjara Israel, serta hak pulang rakyat Palestina ke tanah Palestina yang terjamin, akan kami tolak.

Jika perbatasan Gaza-Rafah dibuka saja, akan sangat meringankan beban rakyat Gaza. Waktu tahun lalu dinding pemisah dihancurkan rakyat, tidak satu pun dari mereka kemudian menetap di Mesir. Mereka hanya menyeberang sebentar membeli berbagai keperluan harian, lalu kembali ke Gaza. Meskipun menderita, mereka akan tetap menjaga ‘izzah-nya dengan tinggal di Gaza.

Secara ekonomi, kami sedang memulai Ekonomi Perlawanan (Iqtishadul Muqawwamah), di mana di setiap rumah di Gaza harus ada sedikit banyak barang yang dihasilkan untuk bisa dijual. Seberapapun kecil. Sebisa mungkin para pemimpin membantu permodalannya.

Ada kalangan yang menilai Hamas terlalu dekat bergaul dengan Iran dan Hizbullah yang Syi’ah. Kata mereka, “Tidak akan berhasil perjuangan mereka yang berteman dengan kaum yang mencela para sahabat dan isteri Rasulullah SAW (syi’ah).” Bagaimana Anda menjawab hal ini?

Orang Iran dan Hizbullah itu sudah tahu bahwa Hamas itu Sunni. Hamas juga menjaga hubungan baik dengan semua pihak selama mereka tidak mengganggu perjuangan Islam, sebagaimana Rasulullah SAW juga melakukannya.

Sebelum Khalid Misy’al berkunjung ke Iran, dia juga sudah menemui para pemimpin Syria, Qatar, Sudan, dan Turki, baru setelahnya ke Iran. Kelima negara ini merupakan yang paling jelas dukungannya kepada perjuangan rakyat Palestina. Kunjungan tersebut untuk menyampaikan terima kasih atas dukungan mereka selama ini, terutama saat terjadi pembantaian di Gaza.
Tolong sampaikan kepada saudara-saudara kita di Indonesia, tidak ada seorang pun yang syi’ah di Hamas. Semua Sunni.

Karena Hamas sedang sangat populer, boleh jadi ada orang yang menganggap kedekatan Hamas dengan Iran dan Hizbullah bisa mengaburkan problem akidah Syi’ah di mata awam?

Hamas menjalin kerja sama secara politik dengan pihak manapun, namun tidak ada satupun pihak yang dibiarkan mendominasi pengambilan keputusan di dalam Hamas. Tidak ada kerja sama secara akidah dengan Iran dan Hizbullah.

Venezuela dan Bolivia yang bukan negara Islam saja sangat mendukung perjuangan rakyat Palestina. Jadi, wajar sajalah kalau kami mengucapkan terima kasih kepada mereka, termasuk kepada Iran.
Komitmen Hamas, akidah dan syariat Islam yang sedang ditegakkan di Palestina, adalah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, yang tentu saja mengikuti manhaj Rasulullah SAW dan para Salafush Shalih.***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2009

Box

Buta tapi Selalu Bersyukur

Syaikh Abu Bakar memiliki 15 saudara dari dua orang ibu. Dari jumlah saudara itu, yang bersaudara seibu dengannya 6 laki-laki dan 4 perempuan.

Setamat SMA di Dora, ia melanjutkan belajar di Ma’had Syari’ah al-Quds untuk persiapan sebagai imam dan khatib tahun 1979. Pada masa itulah, ia berkenalan dengan gerakan dakwah Al-Ikhwanul Muslimun.
Bersama kolega belajarnya dan para ustadz di ma’had itu, mereka mempersiapkan diri berjihad di jalan Allah SWT merebut kembali tanah-tanah Palestina yang dirampas Zionis Israel. Keinginan mereka ditolak oleh faksi perjuangan Marxis dan sekular yang waktu itu menguasai sebagian besar struktur Palestinian Liberation Organization (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat.

Sambil terus belajar di ma’had itu, Abu Bakar mengikuti kuliah musim panas di Universitas Beirut jurusan filsafat dan sosiologi. Abu Bakar semakin aktif dalam kegiatan tarbiyah (pendidikan Islam) baik untuk dirinya sendiri, maupun membina pemuda-pemuda Palestina lewat daurah (kursus) al-Qur’an di masjid-masjid, ma’had-ma’had dan sekolah-sekolah.

Kegiatan-kegiatan itu dilakoninya sepanjang sepuluh tahun berikutnya. Berkali-kali pula ia harus keluar masuk penjara dan disiksa oleh Zionis Israel akibat kegiatannya itu.

Pada tahun 1981, misalnya, ia dipenjara dan disiksa selama 54 hari. Begitu juga tahun 1982 ia dipenjara selama 5 bulan. Tahun 1983 selama 15 hari, tahun 1988 selama 6 bulan, tahun 1990 ia ditangkap dua kali: pertama 37 hari, kedua 14 hari, dan tahun 1991 ia mendekam di penjara selama 5 bulan.
Belum lagi, di luar itu ia berkali-kali ditangkap dan disiksa oleh Israel selama beberapa jam.
Puncaknya pada tahun 1992, Syaikh Abu Bakar Al-’Awawidah ditangkap dan diusir ke Marj Az-Zuhur, daerah perbatasan antara Palestina dan Lebanon, bersama 414 orang mujahidin Palestina lainnya, di antara asy-Syahid dr Abdul Aziz Al-Rantissi.

Di tanah tak bertuan itu, mereka dipaksa kerja fisik siang malam di kawasan yang hampir selalu bersalju selama setahun. Sesudah setahun, yang dibolehkan kembali ke Palestina hanya 401 orang. Sedangkan 13 orang lainnya diusir ke berbagai negara, termasuk dirinya ke Suriah.

“Jika kami nekat masuk Palestina, mereka mengancam akan langsung membunuh kami,” tutur Abu Bakar.
Penangkapan yang pertama kali dialami Syaikh Abu Bakar Al-’Awawidah adalah yang paling fatal (1981). Selama 54 hari, ia tanpa henti disiksa dengan keras, tanpa proses pengadilan. Tubuhnya digebuki habis-habisan oleh empat atau lima orang serdadu Zionis sekaligus. Sasaran utama kepala dan alat vital.
“Sakitnya berlipat-lipat jika kita dipukul dan ditendang sambil tangan diikat ke belakang dan kepala saya ditutup dengan kantong plastik,” kenangnya.

“Sebagai manusia, saya hanya bisa bersabar waktu itu.”

Akibat dipukuli dengan balok kayu dan disetrum terus-menerus, kedua penglihatannya meredup dan lama kelamaan buta sama sekali, sampai sekarang.

Begitu juga punggungnya berkali-kali mengalami patah. Akibatnya, jika duduk di lantai atau karpet, Abu Bakar selalu harus mengubah posisinya beberapa kali karena menahan sakit.

Selain dipukuli, waktu itu ia baru berusia 21 tahun, jenggotnya dicabuti lalu disumpalkan ke mulutnya, dan dipaksa untuk menelannya.

“Waktu itu saya disiksa berempat dengan kawan saya, ditambah salah seorang ustadz di Ma’had Al-Quds,” kenang Abu Bakar.

Di waktu yang lain, tangannya diikat di belakang dan dipaksa berdiri terus menerus selama 7 jam. Abu Bakar merasa seluruh persendian dan kulitnya mati rasa, sampai-sampai ketika kencing di celana pun tak bisa dirasakan lagi.

Ia juga pernah dipenjara di ruang isolasi selama 25 hari tanpa cahaya sama sekali, hanya ada celah udara sedikit. Selama itu dia melakukan shalat tanpa berwudhu, hanya tayamum. Kalau tangan diikat, maka shalat pun dilakukan dengan berdiri.

Namun Abu Bakar bersyukur kepada Allah SWT atas pengalamannya dipenjara oleh Zionis Israel berkali-kali. Bersyukur? Betapa tidak, di penjara-penjara itulah justru ia menambah banyak ilmu karena koleksi bukunya yang lengkap.

Selain itu, ia juga berbulan-bulan ‘dipaksa’ tinggal dengan para ulama besar Palestina, di antara Asy-Syahid Syaikh Ahmad Yasin.

“Sebelum buta, saya hanya menghafal 4 juz al-Qur’an, sesudah dibikin buta oleh Israel saya malah bisa menghafal 20 juz,” katanya sambil tersenyum. ***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2009

Setelah APBA Meningkat, Korupsi di Aceh Pun Naik

Sunday, 12 December 2010 14:18 Nasional
E-mail Print PDF

Tercatat terjadi 122 kasus tindak pidana korupsi dalam kurun 2009-2010



Hidayatullah.com--Provinsi Aceh sepertinya menjadi “surga” bagi para koruptor. Setidaknya dalam rentang waktu dua tahun terakhir, 2009-2010, tercatat terjadi 122 kasus tindak pidana korupsi dalam wilayah hukum di provinsi berjulukan Serambi Mekkah ini.

Ironisnya, selama rentang waktu itu pula ada 13 terdakwa korupsi yang divonis bebas dan lima tersangka yang sudah mendekam di tahanan juga dikeluarkan atas perintah Pengadilan Tinggi Aceh.

“Ini fenomena yang sangat ironis,” kata Plt Koordinator Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani, Sabtu (11/12).

Menurut Askal, jika dibandingkan sebelumnya, tingkat korupsi di Aceh pada 2009-2010 jauh lebih tinggi, seiring meningkatnya anggaran APBA yang mencapai Rp 6-7 triliun lebih per tahun. “Potensi korupsi di Aceh jauh lebih meningkat dibandingkan pada saat Aceh dalam kondisi ‘miskin’,” katanya.

Disebutkan, berdasarkan hasil monitoring GeRAK, ke-122 kasus korupsi tersebut ditangani di berbagai tingkatan penegak hukum. Mulai Polres, Polda, Kajari, dan Kajati. Hasil monitoring tersebut juga mengungkapkan, ada 16 kasus korupsi yang divonis bebas pengadilan di seluruh Aceh selama tahun 2007-2010.

Perkembangan korupsi di Aceh ini memang diakui oleh Wakil Direktur Reserse dan Kriminal Polda Aceh, AKBP Dedy Setyo Yudho. Dia menyebutkan, kompleksitas perkara sering memerlukan pengetahuan penyidik yang komprehensif.

Dari rincian kasus yang ditangani Polda, kata Dedy, dari 7 kasus pada 2010, baru satu yang diselesaikan dengan jumlah uang yang berhasil diselamatkan Rp 3 miliar lebih. “Polisi saat ini juga kesulitan dalam mengungkap kasus korupsi karena faktor SDM dan jumlah penyidik yang minim,” katanya.

Sementara itu, Miswar Fuady dari Tim Anti-Korupsi Pemerintah Aceh (TAKPA) menyebutkan, pihaknya telah menyerahkan tiga laporan dugaan korupsi dana Otsus kepada Polda Aceh. Yakni pemalsuan tanda tangan pengamprahan dana pembangunan jalan Paya Ilang-Paya Tumpi, Takengon, Aceh Tengah 2009 senilai Rp 5,8 M.

Selanjutnya, pengadaan bibit kelapa sawit unggul di Nagan Raya 2009 senilai Rp 5,9 miliar dan dugaan korupsi pengadaan 2 juta bibit kopi di Bener Meriah 2009 senilai Rp 7,6 M. “Kami berharap Polda bisa menindaklanjutinya. Data dan bukti dari kasus ini juga sudah kita laporkan ke KPK,” tegas Wiswar.

Sementara itu, akademisi Unsyiah, Saifuddin Bantasyam menegaskan, pemberantasan korupsi sulit dilakukan jika tidak ada keseriusan pemerintah. Kondisi ini diperparah lagi kultur masyarakat yang permisif pada perilaku korup.
“Jika ingin berhasil dalam memberantas korupsi, maka keseriusan mutlak harus ditunjukkan. Perilaku korup dalam diri aparat penegak hukum juga harus diberantas,” ujarnya. [was/hidayatullah.com]